Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Morning kiss


__ADS_3

Bram menjatuhkan tubuhnya ke ranjang hotel. Lelah tapi tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang membuncah malam ini. Dia mengambil ponsel di saku celananya dan mendapati banyak misscall dan notif pesan disana.


Sayang, kau sudah di hotel?~ Dhani


Mas apa kau sudah sampai di hotel?"~Dhani


Mas kau belum sampai? Kenapa tidak membalasku?" ~ Dhani


Mas apa kau baik-baik saja? Please jawab !~Dhani


Bram, jawab aku!~ Dhani


Bram tertawa tergelak. Mulai panggilan sayang sampai panggil dengan nama. Gadisnya itu sangat lucu dan menggemaskan. Lalu segera sadar , Bram menghubungi Dhani.


Secepat kilat panggilannya tersambung.


" Mas, apa kau baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab panggilanku?" Dhani muncul dengan wajah panik diujung sana.


" I'm fine baby, kenapa cemas begitu?" Bram tersenyum.dan menunjukkan seluruh tubuhnya dengan kamera ponsel ke Dhani. Meyakinkan gadis itu bahwa dia baik-baik saja." Percaya kan?"


Dhani mengangguk tapi kemudian wajah paniknya berubah kesal.


" Kenapa tidak menjawabku? kejarnya lagi


" Maaf honey dari acara tadi ponselku aku silent. Aku gak mau diganggu . Tapi selesai acara aku lupa mengganti modenya lagi. So sorry to make you worry ..." Bram menyesal sudah membuat gadis itu khawatir.


Dhani sudah lega. Kekesalannya pun sudah mereda dengan permintaan maaf Bram. Yang paling penting Bram baik-baik saja.


" Kenapa, sudah kangen lagi?" Bram menggoda gadis itu.


" Nggak,aku takut terjadi sesuatu yang tidak baik. Syukurlah semua baik-baik saja"


" Sayang, aku akan baik-baik saja. Aku belum menikah , belum mencicipi surga dunia..." Bram tergelak.


" Ish kau ini, pikiranmu selalu saja tak jauh-jauh dari itu mas.." Dhani mendengus kesal. Tapi tak urung senyumnya mengembang mendapati kembali wajah tampan calon suaminya itu.


Bram tergelak melihat wajah gadisnya merona. Gadis itu selalu merona setiap kali Bram merayu atau menggodanya dengan kata-kata sedikit vulgar. Dan itu malah membuat Bram gemas dan ingin terus menggodanya.


" Apakah perjalananmu lancar? Kenapa lama sekali tidak memberi kabar? Padahal jarak hotel tidak terlalu jauh. Tentu saja kau membuatku cemas sayang.."


" Iya maaf..maaf sayang. Memang agak lama soalnya tadi ban mobil sempat bocor. Makanya harus ganti ban dulu." Bram tidak ingin membuat Dhani khawatir.


" Tuh kan aku bilang apa? Aku punya firasat . Ternyata benar ada yang terjadi."


" Itu cuma ban bocor sayang. Siapapun bisa mengalaminya. Bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan." Bram menjelaskan dengan tenang.


" Di mana bannya bocor tadi? Jangan bilang di jalan raya didekat rumah kosong yang halamannya luas itu.." Wajah Dhani tampak bergidik.

__ADS_1


" Bagaimana kau tahu sayang? " Bram mengerutkan keningnya.


" Jadi benar di situ? Oh God, thats really happen again? Aku pernah kejebak juga mogok di situ mas? Kau percaya? Mungkin hanya kebetulan , tapi aku merasa ada semacam dark energy disana...haha.." Dhani menertawakan dirinya sendiri.


Bram kembali tergelak. " Are u sure for believe with something like that?"


" No..tidak seperti itu mas, mungkin hanya seperti sugesti saja..haha..tapi aku jadi ingin some day aku beli tempat itu dan kujadikan hotel atau semacamnya agar tempat itu ramai dan tidak seram lagi ." Dhani tersenyum matanya terlihat lelah dan mengantuk.


" Good idea...kita akan bangun hotel disana...haha...baiklah sayang,, sudah terlalu larut , sudah pagi ini. Apa kau tidak lelah? Tidurlah, besok aku akan menemuimu sebelum berangkat. Oke?" Bram menatap Dhani di ponselnya.


" Iya sayang...see you tomorrow. Oh iya hampir lupa. Papa bilang kita aja yang ke hotel. Beliau ingin bicara dengan papi. Aku akan pergi dengan papa ke hotel jadi kau tak perlu balik ke rumah." Dhani tersenyum.


" Oke, kita sarapan di hotel saja besok ya sayang.." Bram terlihat senang.


" Good night masku sayang.." Dhani melambaikan tangannya.


" Good night baby, have a nice dream" bisik Bram . Lalu gelap di layar. Dhani sudah menutup panggilannya.


Bram kembali merebahkan badannya. Tak sempat berganti pakaian apalagi mandi karena sekejap kemudian matanya sudah terpejam, dan kesadarannya telah terbang ke alam mimpi.


Esoknya jam tujuh pagi Baron dan Dhani telah sampai di hotel tempat Bram dan keluarganya menginap. Hotel yang nota bene milik bersama Dimas dan Baron itu tampak lebih ramai dari biasanya karena kedatangan keluarga sang Bos pemilik hotel.


Begitu turun dari mobil, Baron dan Dhani disambut manajer hotel di depan pintu lobby.


" Selamat pagi Tuan" Sapanya hormat


" Selamat pagi, apakah Tuan Dimas sudah bangun?"


Di sana sudah ramai para penghuni hotel yang sedang menikmati breakfast mereka. Baron dan Dhani segera menyapa Dimas dan Anna istrinya yang melambai pada mereka. Dhani tidak melihat Bram disana.


" Dimas Baron ayo sarapan.." Dimas menunjukkursi kosong disebelahnya setelah berpelukan dengan Baron. Dhani mencium tangan Dimas dan Anna. Sang manajer hotel dengan sigap menarik kursi untuk Baron dan Dhani.


Setelah keduanya duduk waitress datang dengan buku menu.


" Samakan dengan Tuan Dimas dan Nyonya Anna saja" titah Baron yang mendapat anggukan dari waitress.


" Mana Bram kangmas, kok tidak kelihatan?" Baron menatap Dimas sesaat.


" Tadi dia bilang sebentar lagi turun." jawab Dimas. Sebentar kemudian Baron dan Dimas sudah asyik mengobrol. Sesekali Anna menimpali obrolan mereka.


" Dhan, tolong kamu periksa masmu ya..jangan-jangan dia tidur lagi.." Anna meminta Dhani untuk memanggil Bram yang tidak juga turun.


" Baik mi, permisi.." Dhani segera mengambil ponselnya dan memanggil Bram. Dhani berdiri agak menjauh dari meja mereka.


Tidak ada jawaban. Akhirnya Dhani masuk ke lift dan memencet tombol teratas. Keluar dari lift Dhani segera menuju kamar Bram yang tadi sudah ditunjukkan Anna..


Saat Dhani hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Bram muncul disana .

__ADS_1


" Akhirnya bangun juga. Masih ngantuk mas?" Dhani tersenyum melihat wajah Bram yang tampak sedikit pucat. Matanya yang sipit tampak semakin kecil karena terlihat masih mengantuk.


Melihat Dhani, Bram sedikit kaget. Tapi tak lama karena wajah malas itu kini berubah cerah dan tersenyum.


" Sayang, kenapa ke atas?"


" Mami yang suruh, katanya mas mau turun tapi ditunggu nggak turun-turun. Takut ketiduran lagi. Nanti bisa telat ke bandara" .


Dhani mendekat ke Bram. Pintu kamar yang sudah terbuka tiba-tiba ditutup kembali oleh Bram setelah dia menarik tangan Dhani masuk ke kamar.


" Mas, ayo turun. Sudah ditunggu sarapan.." seru Dhani ketika Bram dengan agresif memeluknya.


" Sebentar,..salah sendri kamu ke sini, mas jadi pengen makan kamu saja..." bisik Bram.


" Mas jangan gila nanti kamu telat" seru Dhani


" Morning kiss." bisik Bram lalu menyandarkan tubuh gadis itu ke pintu dan menghimpitnya disana. Mengecupi seluruh wajah Dhani dengan gemas dan berakhir ******* bibir gadis itu dengan rakus. Mengulum, menghisap dan memagutnya bertubi-tubi.


Dhani tak kuasa menolak lelaki itu. Bibir lelaki itu seperti candu baginya. Terlalu sayang untuk ditolak dan dilepaskan. Dhani membalas ciuman penuh hasrat itu, menikmatinya sepenuh hati.


Ketika Bram berhenti, Dhani melepaskan diri dari himpitan Bram dan berbalik mendorong Bram ke dinding. Tanpa diduga Bram, Dhani kembali memagut bibirnya tak kalah rakus.


Sejenak Bram terkejut dengan ulah Dhani tapi kemudian yang terdengar adalah lenguhan-lenguhan keduanya disela decapan bibir dan lidah yang saling membelit. Mereka benar-benar menggila pagi itu. Tangan Bram kini sudah menjalar kemana-mana. Membuat Dhani semakin tak tahan mengerang dan mendesah. Tiba-tiba...


Dering ponsel Dhani menyadarkan keduanya.


" Papa..." bisik Dhani dengan nafas yang masih memburu. Dhani menatap Bram.


" Apa, jawab aja " Bram balik menatap Dhani.


Gadis itu mengarahkan matanya ke dadanya sendiri. Bram.mengikuti arah mata Dhani dan menyadari tangannya masih didada gadis itu. Buru-buru menurunkannya dan tertawa canggung.


" Tadi kamu menikmatinya" Bram masih tertawa .


Dhani menggelengkan kepalanya, merasa malu bagaimana dia bisa segila itu tadi. Setelah mengatur nafasnya Dhani menjawab panggilan dari Baron.


" Kalian berdua kok malah nggak turun? Semua sudah selesai sarapan." suara berat Baron.


" Kami sudah sarapan di kamar pa" Bohong Dhani. Bram terkekeh tanpa suara disampingnya sambil mengecupi pundak gadis itu.


" Baiklah kalau begitu, sebentar lagi kita ke bandara"


" Iya pa kami sudah siap kok" jawab Dhani lalu segera menutup panggilan . Dhani takut papanya mendengar suara-suara aneh dari Bram yang terus saja mengganggunya.


" Stop mas, atau kamu benar-benar ditinggalkan rombonganmu." Dhani berusaha melepaskan lengan Bram yang kini sudah melingkar di pinggangnya. Memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuk dan lehernya.


" Bentar lagi sayang..." bisik Bram tak peduli.

__ADS_1


Dhani akhirnya membiarkan Bram, tapi gadis itu beranjak ke pintu dan membukanya lalu keluar kamar. Refleks Bram melepaskan pelukannya . Dhani tertawa.


" Kamu tega banget sayang.." Bram merengut kesal. Dia mengambil koper yang sudah disiapkannya dan mengikuti Dhani keluar kamar dengan malas.


__ADS_2