Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Berdua


__ADS_3

" Kau mau langsung pulang sayang?" Bram menggenggam tangan Dhani lembut.


" Nggak mau pulang! " Dhani spontan


" Eh..apa? " Bram tertawa menggoda mendengar jawaban spontan Dhani.


" Ehh..itu maksudku bukan begitu..maksudku.." Dhani terbata-bata karena gugup.


" Apaaa? Hmm?" Bram menyentil ujung hidung Dhani.


Dhani memukul pelan lengan Bram. Percuma mengelak, sudah terlanjur malu. Nekat aja sekalian.


" Tolong telpon papa dan bilang kau mau mengajakku jalan-jalan sebentar."


" Ehh..kan kamu yang pengen jalan- jalan kok jadi aku?" Bram makin menggoda Dhani.


Aaaa...Bram apa kau tidak ingin lebih lama bersamaku?" ucap Dhani manja, menggelayut di lengan Bram. Sementara Bram sibuk menyembunyikan senyumannya.


Sebenarnya Bram sudah meminta ijin pada Baron untuk mengajak Dhani pergi malam ini. Tadi ketika Bram meminjam mobil untuk memberi surprisse pada Dhani. Tapi Bram ingin lebih lama menggoda Dhani.


" Kamu saja yang bilang om Baron...bilang kamu kangen Bram dan ingin menghabiskan malam ini bersamaku..hmm?" Bram sudah tak bisa lagi menahan tawa...


" Braaam....kau gila!.." Dhani merengut. " Malu tau..masa cewek yang ngajak jalan cowok? "


" Ya sudah kita pergi diam-diam saja.., mudah-mudahan papamu nggak marah" Bram meneruskan sandiwaranya.


" Oke..oke..aku yang bilang papa." Dhani mengambil ponselnya dengan malas. Lalu memencet nomor papanya.


" Papa..emm..Dhani boleh pergi sebentar sama Bram? "


" Apa? Sama Bram? Kemana?"


" Jalan- jalan pa.."


" Oke boleh, jangan terlalu malam pulangnya ya sayang? "Suara Baron diseberang.


" terima kasih papa.." Dhani setengah bersorak mendapat izin dari papanya.


" Kau sesenang itu jalan denganku sayang...? "Bram menggoda Dhani lagi


" Huhh..Ge er! Terserah..!" Dhani mengerucutkan bibirnya karena sudah merasa kalah bicara..kenyataannya dia memang sangat bahagia dengan kedatangan pria tampan disampingnya .ini.

__ADS_1


Bram dan Dhani segera memasang seat belt mereka kembali. Lalu Bram segera menjalankan mobil kembali. Tangan kanannya memegang kemudi sementara tangan kirinya tetap menggenggam tangan Dhani seakan tak ingin melepasnya. Sesekali diciumnya tangan Dhani dengan lembut.


" Bram"


"Emm.?


" Braam..Menyetirlah dengan benar" Mata Dhani mengerling ke arah tangan Bram yang masih menggenggamnya.


" Aku ini mahir sayang...jangan kuatir.."


" iya aku tahu tapi aku juga nggak mau kita celaka ..." Dhani gemas melihat Bram yang tak.menggubrisnya. Bahkan makin sering memainkan tangan Dhani dalam.genggamannya.


" Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sayang. Tapi agak jauh. Kamu mau kan? Biar makin lama berduaan." Bram mengedipkan sebelah matanya ke arah Dhani.


Dhani tersenyum malu-malu sambil membuang muka ke arah lain. " Terserah.." jawab Dhani asal.


Hari ini dia merasa Bram mengerjainya habis-habisan." Salahku sendiri yang tak bisa menahan diri memperlihatkan rasa senang bertemu Bram. "Batin Dhani. Tapi itu tak mengurangi kebahagiaannya bisa melepas rindu pada Bram.


"Tapi tolong menyetirlah dengan baik Bram. Jalanan makin ramai. Kau bisa meneruskan ini nanti" Dhani menunjuk Tangan Bram yang masih menggenggam tangannya dan sekarang meletakkannya di paha Bram.


Bram terkekeh." Iya sayang...apapun maumu tuan putri" Mencium punggung tangan Dhani dan melepaskan tangan Dhani. Buru-buru Dhani menarik tangannya.


Sekarang tangan kiri Bram sudah memegang kemudi. Dhani melihat gelang pemberiannya melingkar di tangan Bram ketika kemeja pemuda itu sedikit terangkat ke atas. Hiasan emas platinum gelang itu berkilat-kilat terkena cahaya dari luar mobil. Dhani lalu melihat ke tangannya yang juga mengenakan gelang yang sama.


" Kok senyum-senyum sendiri? Mikirin aku ya? " Bram melihat Dhani sekilas. Menangkap basah mata gadis itu yang tak henti menatapnya.


" Sudahlah Bram jangan mengejekku terus. Aku memang sangat merindukanmu...dan bahagia kau datang untukku..terserah kau mau bilang apa..puass?" Dhani memiringkan wajahnya ke arah Bram. Membuat Bram terkekeh geli melihat raut lucu gadis itu.


" Iya aku puas sekali sayang...menyenangkan sekali bisa menggodamu habis-habisan " Bram terkekeh. Dhani mencubit lengan Bram.." Auhh" Bram mengaduh tapi tetap tersenyum..


Dhani menciumi buket bunga pemberian Bram. Bibirnya tak henti tersenyum


" Bram papa begitu percaya padamu. Kenapa malah menjodohkanku dengan orang lain? "


" Entahlah..tanyakan sendiri pada om Baron...sini agak dekat" pinta Bram.


" Apa?" Dhani menggeser duduknya lebih dekat ke Bram.


" Nggak apa-apa...aku nggak ingin jauh darimu" Mata Bram menatap lembut Dhani sekilas..lalu kembali menatap jalanan kota J yang padat.


Lagi-lagi Dhani tersipu . Dia mendekap buket bunga dari Bram di dadanya. Tak lama terdengar hembusan halus nafasnya yang teratur tanda dia telah berada dia alam mimpi .

__ADS_1


" cih...bisa-bisanya dia tidur." Bram menggumam pelan. Tersenyum bahagia melihat pujaan hatinya terlelap dengan wajah yang juga tersenyum.


"Sayang...kita sudah sampai" Bram membelai lembut pipi Dhani.


" Eh udah sampai ya? aku ketiduran ya..? " Dhani mengerjap-ngerjapkan matanya.


" Dasar putri tidur,kapan kau tidak tidur saat aku menyetir?"


" Hehe..iya..." Dhani tertawa kecil. Dia mau membuka seat beltnya. Tapi karena baru bangun tidur dan kesadarannya belum pulih benAr, tangannya tampak kesulitan.


Bram yang sudah membuaka seat beltnya segera menggeser tubuhnya mendekat ke Dhani hendak membantu melepaskan seatbelt Dhani.


Dhani menahan nafas ketika tubuh dan tangan Bram begitu dekat di depannya.Apalagi wajah Bram yang melihat ke arah seatbelt disamping kiri Dhani seakan wajah itu akan menyentuh wajah Dhani. Tanpa sadar Dhani memejamkan matanya.


Dug-dug-dug!! jantungnya berdegup kencang. Dhani takut Bram mendengarnya karena begitu kerasnya.


" Sudah" ucap Bram setelah seatbelt Dhani sudah berhasil dilepaskannya.Bram meniup pelan wajah Dhani. Tertawa geli melihat Dhani memejamkan matanya. Harum nafas Bram dan aroma tubuh maskulinnya membuat Dhani merinding.


" Ish...!" Dhani membuka mata dan mendapati wajah Bram masih begitu dekat didepan wajahnya. Reflek Dhani mendorong pelan pipi Bram menjauh.


Bram.terkekeh. Segera turun dari mobil sambil Mengulum senyum misterius.


Dhani masih termangu di mobil , menenangkan hatinya yang kacau. Sampai Bram membukakannya pintu dari luar.


"Ayo sayang..." Bram mengulurkan tangannya, disambut Dhani dengan menggenggam tangan Bram.


Mereka berada di depan sebuah pelataran apartemen mewah di tengah kota.


" Aku tadi pagi diminta papa meresmikan apartemen ini. Papamu juga punya andil yang cukup besar disini. Ayo.." Bram membawa Dhani ke dalam lobby apartemen yang luas. Beberapa staff keamanan tergopoh menyambut Bram.


" Maaf Tuan muda , ada yang bisa kami bantu?"


" Tidak..silakan lanjutkan pekerjaan kalian." Bram melanjutkan langkahnya sambil tetap menggandeng Dhani. Menuju lift khusus di ujung ruangan.


Mereka menuju lantai paling atas. Lalu melanjutkan dengan tangga ke rooftop.


Bram.memeluk.pinggang Dhani lembut. Membawanya ke ujung beton pembatas. Hari beranjak petang. Matahari sudah mulai tenggelam, meninggalkan semburat jingga di ujung langit sebelah barat.


Dari atas sini Dhani bisa melihat hamparan seluruh kota J dengan jelas. Indah.


"

__ADS_1


"


__ADS_2