Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
# Musim bercinta


__ADS_3

Malam itu Dhani bergulingan di kasurnya yang empuk. Hatinya dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan yang bermekaran. Dia begitu bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan semua yang terbaik buatnya.


Papanya yang begitu mencintainya, dan sekarang kekasih yang begitu mencintainya dan dicintainya sepenuh hati ternyata adalah jodoh pilihan papanya


" Pa...papa ada didalam?" Dhani mengetuk pintu kamar papanya pelan.


" Masuklah sayang.." suara berat Baron menjawab Dhani dari kamar.


Dhani segera masuk dan menghambur ke pelukan papanya yang sedang duduk di tepi ranjang kayu berukir.


" Papa jahat banget sih, bersekongkol dengan Bram untuk membohongi Dhani. Disini yang anak papa siapa sih. Kenapa papa selalu saja malah bekerja sama dengan Bram untuk mengerjai Dhani.? Bukannya melindungi dan membela putrinya? "Dhani bersungut-sungut menumpahkan kekesalannya pada Baron.


Baron tertawa terkekeh melihat raut muka malu dan kesal di wajah putri cantiknya itu.


" Masa sih...tapi sekarang seneng kan?" Baron malah menggoda Dhani.


" Seneng apanya? Gara-gara papa aku di olok-olok semua orang. Papa keterlaluan!" Dhani merengut kesal."Bayangkan saja pa, mereka semua tahu kalau Bram itu anaknya Dimas Brotonegoro, orang yang dijodohkan denganku. Aku sendiri malah tidak tahu."


"Sebenarnya papa mau ngasih tahu kamu sebelum berangkat kemarin, karena papa tahu kalau kamu ke istana pasti semuanya akan terbongkar mengingat semua kerabat sudah tahu masalah ini. Tapi Bram bilang mau kasih kejutan ke kamu. Ya sudah papa nurut saja, yang penting kan anak papa sekarang bahagia." Baron memeluk sayang putrinya. Dhani mencubit kecil pinggang papanya.


" Aduh...sakit sayang..haha" Baron tertawa geli. Dhani tersenyum.dalam dekapan papanya.


" Rasanya aku ini seperti anak tiri saja. Aku bisa bayangkan bagaimana nanti Papa dan Bram akan mengerjaiku terus-terusan" Dhani bergumam masih kesal.


" Emmm..bisa jadi...papa kan nggak punya anak laki-laki. Mungkin nanti papa malah lebih sayang ke Bram daripada kamu Dhan.." Baron pura-pura serius.


" Papaaaaa...." Dhani menjerit tertahan sambil mencubit lengan papanya. Keduanya kemudian tertawa bahagia..


" Sudah malam.sayang. Tidurlah! Besok kau tidak akan sempat istirahat karena acaranya digelar marathon sampai malam. Tapi papa yakin kamu nggak akan bosan dan kecapekan..." Ucapan Baron menggantung membuat Dhani menatap Baron.


" Memangnya kenapa pa?"


" Kan ada Raden Mas Bramantyo yang siap disisimu. Kalau capek tinggal minta gendong..hahaha...." Baron tertawa berhasil menggoda Dhani. Sementara putri cantiknya itu memasang wajah cemberut. Wajahnya sudah merah merona.


" Ihh..papa...mulai deh..!" Rajuk Dhani lalu segera pergi meninggalkan kamar Baron setelah mencium pipi papanya penuh sayang.

__ADS_1


Di kamarnya Dhani segera berbaring untuk beristirahat. Dia harus mempersiapkan tenaganya untuk acara besok.


Pemangku adat istana sudah mengingatkan pada semua yang terlibat dalam acara mantu sinuwun raja besok. Bahwa acara itu akan berlangsung lama dan marathon seperti kata papanya tadi. Jeda istirahat hanya diberikan saat makan siang saja yang bertepatan acara makan di prosesi pernikahan.


Mata Dhani hampir terlelap ketika didengarnya ponselnya bergetar. Ada pesan Bram disana.


Sayang, aku merindukanmu..~Bram


Gombal..~Dhani


Sungguh, tadi belum puas.Masih kurang lama. Ketemuan lagi yuk..~Bram.


Jangan gila. Besok kita full boked seharian. Siapkan tenaga buat besok. Tidurlah Bram..~ Dhani


V Call bentar ya...~ Bram


Dhani belum menjawab tapi ponsel Dhani sudah bergetar dengan video call dari Bram. Dhani menggeser tombol video ke atas. Tampaklah wajah tampan Bram disana.


Keduanya tertawa ketika menyadari sama-sama sedang memeluk bantal couple Bram dan Dhani.


" Tidak ada, aku hanya ingin memandangi wajah cantik tuan putriku saja." Bram berbisik sambil tak lepas menatap lekat Dhani di layar ponsel.


"Kau ini...sudah ya...besok.kita ketemu seharian.." Dhani tersenyum sambil menempelkan jarinya ke ponsel. Lalu mematikan panggilan v call dari Bram.


Di ujung ponsel, Bram tersenyum sendiri. Jantungnya berdesir halus. " Kau benar sayang, besok kau tidak bisa melepaskanku ataupun sebaliknya" Senyum itu terbawa sampai ke mimipi Bram. Wajahnya terlelap dalam senyuman.


Jam setengah empat pagi Dhani terbangun oleh suara alarm ponselnya. Matanya masih setengah terpejam. Tapi dipaksanya tubuhnya turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Guyuran air shower yang dingin membuat mata dan tubuhnya segar kembali.


Dhani mengenakan dress simpel tanpa lengan berwarna pastel. Dress itu berkancing depan. Sengaja Dhani pakai karena nanti dia akan memakai dodot dan kain basahan ( sejenis kemben ,kain yang dililitkan diatas dada ) yang sudah disiapkan pihak Istana sebagai kostum wajib para pager ayu. Sehingga dressnya akan mudah dilepaskan.


Tepat pukul empat pagi pintu kamar Dhani sudah diketuk. Dhani segera membuka pintu dan mengikuti gadis muda yang bertugas menjemputnya.


Ruang rias di dekat bangsal timur itu sudah ramai. Para perias sudah mulai melakukan pekerjaannya untuk merias para pager ayu dan juga para petugas dan pegawai istana yang sudah mempunyai tugas masing-masing di acara hari ini.


" Sini Dhan!" Dhani menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dhani tersenyum dan melangkah ke arah Ajeng dan Niken di ujung ruangan.

__ADS_1


" Kalian sudah lama?" Sapa Dhani


" Belum. Nih pakai cleanser dan tonic dulu. Kita tunggu giliran," Niken mengangsurkan dua botol di tangannya.


" Aman gak?.Aku nggak pernah pakai produk kosmetik." Dhani ragu-ragu.


" Aman kok. Ini produk asli buatan para pakar kecantikan tradisional keraton ini. Bahannya alami dan digunakan turun-temurun kerabat istana juga. Besok kalau kamu nikah juga pakai ini" Ajeng mengerling menggoda Dhani.


" Nogomong-ngomong kapan nih diresmikan? Keburu diambil orang lhoo..kalau aku punya calon bagus uleng-ulengan ( ganteng banget..hehe) kaya mas Bram itu hari ini juga aku mau dikawinin" Tambah Niken tanpa sensor membuat Dhani semakin gerah.


" Dih..dasar centil..." Dhani mencubit kecil pipi Niken. " Masih lama kok. Aku mau selesaikan kuliahku dulu." Ujar Dhani sambil mengoleskan cleanser ke wajahnya. Rasanya dingin dan aromanya segar menenangkan.


" Eh ini adem banget di kulit ya Ken, Jeng" Seru Dhani.


" Iya kalau kau suka kau boleh minta ke bibimu. Kau kan cucu sinuwun. Punya hak memakai kosmetik keraton ini. Kalau aku yo ora wani( gak berani)...tapi kayanya kamu nggak perlu kosmetik lagi deh Dhan. Kamu itu sudah perfect. Kulitmu itu sudah mulus dari sononya. Nggak usah pake apa-apa lagi" Niken menatap Dhani penuh kekaguman.


Wajah Dhani memang halus dan mulus. Putih bersih tanpa cela sedikitpun. Ditambah garis wajahnya yang memang lembut dan jelita, rasanya tak berlebihan jika niken dan bahkan siapapun yang melihat Dhani akan meanganggapnya sempurna. Seperti jelmaan bidadari.


Akhirnya sekitar pukul delapan pagi, semua pager ayu selesai dirias dan mengenakan kain mereka. Para pager ayu mengenakan kain bermotif jumputan ( batik dengan sistem jumput dan celup) warna hijau tosca dengan ikat pinggang selendang berwarna gading .


Bahu mereka yang terbuka ditutup dengan selendang warna senada dengan kain dodot dan dikaitkan dengan bross keemasan didada.


Ketika Dhani dan teman-temannya keluar dari ruang rias dan berjalan pelahan ke arah pendopo tempat berlangsungnya acara, tak henti-henti tatapan mata mengarah ke Dhani. Bahkan teman-teman pager ayu Dhani seakan tersirap oleh kecantikan sempurna Dhani setelah dirias.


" Kamu nggak pernah dirias ya Dhan? " tanya Ajeng berbisik


" Nggak pernah. Baru kali ini" Jawab Dhani.


"Kenapa Jeng? Nggak pantes ya?" Dhani berbisik.


" O em ji Den Ayu...kamu itu cantik sekali. Manglingi (berbeda dari wajah aslinya dalam arti lebih cantik/indah). Aku takut pengantinnya kalah pamor dari putri domasnya" Bisik Ajeng


"Hussh!! Asal aja kamu kalo ngomong Jeng" Dhani tersenyum geli. Dhani memang tidak pernah merasa cantik. Padahal siapapun tahu dia sangat-sangat cantik


.

__ADS_1


__ADS_2