
Jantung Bram berdetak keras. Berita ini pasti sudah didengar Dhani dan keluarganya. Tiba-tiba Bram merasa panik.
" Dino, batalkan pertemuan dengan investor besok. Kita harus pulang. Carikan tiket pulang sekarang juga. Ya Tuhan mereka pasti sangat mengkhawatirkanku sekarang."
Bram kembali mengusap wajahnya kasar ketika melihat semua portal berita TV dan Internet meampilkan manifest penumpang pesawat dan ada namanya disana sebagai korban yang masih hilang.
" Baik Tuan" Dino segera menelpon anak buahnya agar segera mendapatkan tiket pesawat untuk Bram.
" Ya Tuhan, ponselku juga lupa tidak aku hidupkan dari pagi tadi. Mereka semua pasti cemas dan berpikir yang tidak-tidak sekarang.." Bram segera menghidupkan ponselnya.
Ada Ratusan panggilan tak terjawab dan ratusan lagi pesan ketika layar ponselnya mulai menyala. Bram semakin panik. Perasaan bersalah segera memenuhi pikirannya. " Maafkan aku !"
Bram segera menghubungi nomor Dimas, ayahnya. Panggilannya langsung dijawab.
" Bram! " Dimas tanpa sadar berteriak menyebut nama putranya ketika mendengar suara Bram.
" Iya pi...ini Bram. !" seru Bram
" Kau jangan bercanda. Siapa kau? Kami sedang berduka di sini jangan membuat masalah..." Dimas berteriak sambil menahan tangis. Bram bisa mendengar suara tangisan beberapa orang di ujung ponselnya.
" Papi..ini Bram pi.." Bram segera mengubah panggilannya menjadi video call.
Dan suara tangis histeris mami Bram segera terdengar ketika bisa dengan jelas melihat wajah putra kesayangannya di layar ponsel suaminya.
" Sayang, ini benar kamu nak? Kamu selamat sayang? " Anna merebut ponsel Dimas tak sabar. Wajah wanita paruh baya itu penuh air mata.
"Kamu sekarang dimana Bram? Kenapa di berita itu namamu masuk dalam daftar penumpang yang hilang?" Kali ini papi Bram yang bertanya.
"Ceritanya panjang pi. Sekarang Bram sedang berusaha cari tiket pulang, tapi sepertinya besok baru bisa dapat tiket pi."
" Ya Tuhan syukurlah kamu selamat nak." suara mami Bram disambut syukur semua yang hadir di rumah Dimas.
" Bram apa kau sudah menghubungi Dhani? "
" Belum pi. Seharian ini Bram sibuk sekali sampai lupa tidak menghidupkan ponsel sama sekali. Ini Bram baru saja menghidupkan ponsel dan langsung menghubungi papi."
"Segera hubungi Dhani dan papa Baron Bram. Mereka pasti juga sedih dan cemas seperti kami melihat berita- berita itu." Dimas mengingatkan Bram.
" Iya pi, Bram akan hubungi Dhani sekarang juga." Bram segera menutup panggilan papinya dan segera menghubungi nomor ponsel Dhani.
Tidak ada jawaban. Ponsel Dhani tidak aktif. Akhirnya Bram mencoba menghubungi nomor Baron. Langsung diangkat dan terhubung. Bram sengaja melakukan panggilan video karena takut hal yang sama terjadi saat dia menelpon papanya tadi yang tidak percaya bahwa yang menelpon adalah Bram.
__ADS_1
Tampak wajah calon mertuanya yang pucat di ujung ponsel. Wajah yang tampak sedih dan lelah itu langsung terbelalak menyadari siapa yang ada di layar ponselnya.
" Bram..benar ini kamu nak..?Ya Tuhan..apa aku bermimpi?" Baron tampak tak bisa menahan air matanya yang menetes. Antara bahagia dan tak percaya melihat Bram baik-baik saja di layar ponsel.
" Iya pa. Ini Bram. Bram selamat pa, bisakah saya bicara dengan Dhani ? Dia pasti sangat khawatir dan cemas dengan berita-berita itu pa.."
Baron mendesah, tidak menjawab pertanyaan Bram tapi langsung membawa ponselnya ke kamar Dhani. Mengarahkan kamera ponselnya ke tubuh Dhani yang meringkuk di ranjang dengan selang infus di tangannya.
" Dia tak mau makan dan minum sejak mendengar berita kecelakaan pesawatmu itu Bram. Kami terpaksa menginfusnya. Dia hanya menangis dan menyebut namamu tanpa mau membuka matanya." Baron mengusap matanya yang berair.
Hati Bram serasa berdenyut sakit, seakan lepas dari badannya. Air matanya ikut menetes melihat keadaan Dhani yang tampak lemah.
" Bisakah papa dekatkan ponsel ke Dhani. Siapa tahu Dhani mau bicara denganku pa." mohon Bram.
" Dia tidur Bram. Aku tidak tega membangunkannya. Seharian dia menangis. Segeralah datang nak. Obat sakit Dhani hanya kedatanganmu" Baron tampak menatap Dhani dengan pandangan mata yang penuh kekhawatiran.
" Baiklah pa. Besok Bram pasti datang.
*********
Dan disinilah Bram sekarang. Duduk menunggui Dhani di tepi ranjang. Tangannya menggenggam lembut tangan kekasihnya yang terbaring tak berdaya.
Bram tidak mau mengganggu tidur Dhani, jadi dia menunggu kekasihnya itu bangun.
Flash back off
" Sayang, kau sudah bangun?" bisik Bram lembut di telinga Dhani.
" Bram..." Dhani berbisik lirih tanpa membuka matanya.
" Iya sayang, ini aku Bangunlah! " Bram menggenggam tangan Dhani lembut.
" Tidak! Aku tidak mau bangun. Aku mau bermimpi seperti ini saja terus. Kalau aku bangun kamu pasti menghilang kan Bram?" Dhani mulai terisak tanpa membuka matanya.
" Tidak sayang, aku nggak akan menghilang. Bukalah matamu. Ini bukan mimpi." Bram mengusap lembut kedua pipi Dhani. Bram mendesah pelan. Wajah gadis itu tampak memilukan. Matanya bengkak Hidung dan pipinya memerah terlalu banyak menangis.
"Benarkah itu? Kau tidak bohong Bram? Dhani perlahan membuka matanya. Bulu mata lentik itu pelahan bergerak dan mencari-cari sesuatu.
Ketika matanya menangkap sesosok tubuh yang sedang duduk di tepi ranjang , Dhani sontak duduk. Di bukanya matanya lebar-lebar untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya adalah benar.
Itu Bram kekasihnya, calon suaminya. Dia masih hidup. Apakah ini mimpi? Apa ini di surga?
__ADS_1
" Ini bukan mimpi sayang, aku disini.." Bram meraih tubuh Dhani dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
Dhani membeku sesaat. Diangkatnya wajahnya menatap wajah tampan di depannya. Tangan Dhani terulur membelai lembut wajah Bram. Menelusuri wajah itu dengan kedua tangannya seakan meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi.
" Sayang, tolong cubit aku!" serunya pada Bram.
Bram tersenyum, meraih dagu Dhani dan mengecup bibir gadis itu lembut.
" Tidak Bram, aku tidak mau dicium. Ini pasti mimpi.. tolong cubit aku sekarang!" seru Dhani lagi.
Bram tertawa sekarang. Gadis itu benar-benar belum sadar dari tidurnya. Dengan gemas Bram mencubit hidung, pipi, dagu dan lengan Dhani.
" Aww...aww..aduh...sakit...sudah Bram...oke..oke...ini nyata..ini bukan mimpi...!" Dhani kembali terisak " Kau benar-benar kembali Bram..ini benar-benar Bramku?"
Dhani memeluk Bram erat. Menciumi wajahnya bertubi-tubi. Memeluknya lagi dengan erat. Menyusup ke dada bidang kekasihnya itu lalu menghirup dengan kuat aroma tubuh Bram dengan mengusap-usapkan hidungnya didada lelaki itu tanpa ampun. Tangannya erat memeluk pinggang Bram.
Bram merasa sesak oleh pelukan Dhani yang terlalu erat. Namun dia tak mau mengganggu Dhani. Dibiarkannya gadis itu menumpahkan segala beban dan luka hatinya karena merasa kehilangan dirinya akibat berita itu.
Bram merasakan baju dan dadanya basah. Dhani masih saja menangis. Bram semakin memeluknya erat. Bram baru melepas pelukannya ketika Dhani juga melepaskannya.
" Kau sudah puas menangis sayang? Lihat matamu hilang..maafkan aku..." Bram mengecup mata Dhani yang bengkak dan merah.
Dhani tersenyum mengerjapkan matanya. Dan setetes air mata kembali lolos dari sudut mata cantik yang kini bengkak itu.
" Sampai kapan kau mau menangis sayang?" Bram menghapus air di sudut kelopak mata Dhani sambil menatapnya lembut.
Bram mengajak Dhani duduk di sofa. Entah kapan jarum infus yang menancap di tangan Dhani lepas. Bram mengambil kapas di nakas dan menempelkannya di bekas jarum infus di tangan Dhani. Ada sedikit darah menetes disana.
" Aku panggil dokter ya, biar dipasang lagi infusnya " Bram hendak berdiri tapi Dhani menahannya.
" Aku nggak mau diinfus lagi. Aku mau makan. Lapar.." Dhani meraba perutnya.
Bram tertawa mendengar ucapan Dhani yang terdengar manja. Wajah gadisnya itu tampak menggemaskan. Diambilnya mangkuk bubur di nakas.
"Sini, mas suapin.." Bram menarik Dhani ke pangkuannya. Gadis itu menurut. Dhani membuka mulutnya ketika Bram mulai menyuapkan bubur.
" Kenapa memandangiku terus. Apa aku terlalu tampan? " Bram.menggoda Dhani ketika sadar gadis itu tak sedikitpun melepas pandangannya dari wajahnya.
" Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku.." mata Dhani berkaca-kaca lagi.
" Ish...stop. Jangan menangis lagi. Mas kan pergi kerja?" Bram mencubit hidung Dhani.
__ADS_1
" Bagaimana kau bisa selamat Mas?" Dhani mengusap pipi Bram lembut.
Bram menarik nafas panjang dan mulai menceritakan kejadian yang dialaminya pada Dhani. Tak ada yang terlewat sejak kepergiannya hingga kembali .