Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Mana tahan


__ADS_3

" Mas jangan marah ya..boleh nggak besok aku ketemu Luki?" tanya Dhani takut-takut.


Bagaimanapun Luki tidak bersalah. Satu-satunya kesalahannya adalah dia ingin menjadikan Dhani kekasihnya tanpa bertanya dan menyelidiki dulu apakah Dhani masih sendiri atau sudah punya kekasih.


Wajah Bram mendadak menegang. " Buat apa? Apa kamu menyesal mengecewakannya? Jangan-jangan memang kamu ada rasa sama dia?"


Dhani menepuk jidatnya sendiri. Heran dengan sikap Bram yang jadi seperti ABG labil kalau sedang cemburu. Hilang sudah Bram yang romantis, sabar, lembut dan selalu mengerti Dhani.


" Haduh kangmasku yang ganteng dewe (paling tampan..hehe..) Bagaimanapun dia itu rekanan kita lho sayang...dan dia nggak salah karena bener-bener nggak tahu kalau aku sudah punya kamu.." Dhani membelai lembut dua pipi Bram. Seperti seorang ibu membujuk anak lelakinya yang sedang merajuk.


" Kenapa kamu nggak beri tahu dia kalau kamu sudah punya pacar? Kamu sudah dijodohkan?" Bram menekankan kata-katanya seakan menuduh Dhani sengaja membiarkan Luki memiliki perasaan padanya.


Lagi-lagi Dhani menghela nafas.


" Dia nggak pernah tanya masku sayang...masa iya aku tetiba ge er bilang ke dia , hei Luki aku sudah punya pacar, jangan naksir aku...aneh kan? Mana aku tahu dia suka padaku? Gimana sih mas mikirnya?"


Bram tersenyum. Ah ya..ya...aku yang hilang akal. Aku yang terlalu cemburu. Padahal aku yakin Dhani nggak mungkin menggoda siapapun. Salah si Luki saja yang tergoda pada gadisku. Tapi kalau dipikir-pikir siapa yang tidak tertarik pada gadisnya ini?


Bram mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Diraihnya dua tangan Dhani yang membelai pipinya lalu dikecupnya punggung tangan gadis itu.


" Maafin masmu ini sayang. Kamu nggak tau rasanya ketakutan orang lain mendahuluiku melamarmu. Apalagi membayangkan kamu menerima lamaran orang itu di depanku..bisa mati berdiri aku "


Mengingat kekonyolannnya melamar Dhani tadi, Bram tertawa. Dhani juga ikut tertawa.


" Baiklah temuilah si Atmajaya itu sayang. Kasihan juga dia" Bram tertawa lagi. Kali ini tawa mengejek penuh kemenangan.


" Kamu jahat mas" Dhani menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Bram.


" Nggak lah...kalau aku merebut kekasihnya, itu baru jahat..aku kan melamar pacarku sendiri " Bram tertawa


" Iya tapi kamu menyabotase acara dinnernya..." Dhani tertawa tapi matanya menerawang iba membayangkan perasaan Luki saat itu.

__ADS_1


Bram tersenyum. Iya juga...pikirnya. " Jangan lama-lama ketemuannya ya..nanti dia baper lagi sama kamu." Bram lalu memeluk Dhani gemas.


" Eh mas, dilihatin tuh" Dhani berusaha melepas pelukan Bram. Dhani menunjuk beberapa pengawal dan security yang selalu siap berjaga di beberapa sudut rumahnya. Tapi Bram tidak mempedulikan kata-kata Dhani.


" Mereka harus mulai terbiasa melihat ini sayang, bahkan yang lebih dari ini.." Bram mengedipkan matanya menggoda Dhani.


" Eh mesum..kan belum sah mas?.." Dhani menyanggah Bram. Tapi tak urung membalas juga pelukan Bram.


Cuma pelukan erat. Lama dan penuh perasaan. Luapan kebahagiaan dan pelampiasan rindu yang telah mendapat restu. Sesekali Bram mengecupi puncak kepala Dhani penuh sayang.


Biarkan saja para pegawainya melaporkannya pada papa. Dhani akhirnya menyerah. Makin menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Bram.


"Mas, nanti kalau sudah menikah kamu tinggal di sini saja ya.." Dhani menatap Bram penuh harap.


" Entahlah sayang, aku harus membicarakan ini dengan papi dulu. Aku juga sadar, kamu nggak mungkin ninggalin om Bram eh maksudku papa sendiri. Sementara papi juga membutuhkanku. Yang pasti aku nggak mau pisah lagi sama kamu" Bram mencubit lembut ujung hidung mancung Dhani.


Dhani tersenyum bahagia.


" Nanti pegawaiku akan mengambil mobilku sayang" Bram menyerahkan kunci mobil ke Dhani. Dibalas anggukan Dhani.


Sepanjang perjalanan ke bandara Dhani dan Bram tak melepas genggaman tangan mereka. Rasanya masih ingin bercanda tawa berdua namun lelah dan kantuk yang melanda membuat keduanya terlelap sesaat dengan posisi saling menyandar.


" Tuan, ndoro ayu...kita sudah sampai di bandara" Suara pak Sukir sopir Dhani membangunkan keduanya.


" Eh iya pak.." Bram membuka mata dan melihat gadis cantiknya masih terlelap bersandar di bahunya.


" Sayang..ayo bangun. Sudah sampai ini" Bram mengelus pipi Dhani. Pipi kemerahan yang selalu membuatnya gemas ingin menciumnya.


" Ehh...sudah sampai ya..." Dhani mengerjapkan mata dan mendapati Bram yang menatapnya lembut.


"Sini, peluk masmu...buat sangu (bekal) pulang" Bram tersenyum membuat Dhani tersipu.

__ADS_1


Tanpa menunggu Bram sudah menarik tubuh gadis itu ke dalam rengkuhannya. Mengelus punggungnya, mengecupi rambut dan kepala gadis itu berulang-ulang. Seakan mengambil banyak-banyak aroma dan harum tubuh gadis pujaannya itu untuk dibawanya pulang.


Puas memeluk, Bram sedikit menjauhkan wajahnya dari Dhani, lalu tanpa aba-aba mengecup bibir Dhani lembut.


Dhani membeku sesaat. Ketika Bram hendak melepaskan kecupannya, entah mengapa Dhani malah membuka mulutnya dan melahap bibir Bram . Seakan tak rela Bram menyudahi ciumannya.


Sekarang Bram yang terkejut. Tapi itu tidak lama, karena dengan hasrat yang sama dia segera menyambut ******* Dhani di bibirnya. Keduanya berpagutan cukup lama. Saling menyusuri bibir satu dan lainnya. Bertukar nafas dan saliva. Menyatukan perasa dalam manis dan hangatnya hati mereka. Mengabsen jengkal bibir dan lidah mereka sebelum jarak memisahkan mereka dalam rentang rindu.


Pak Sukir seperti biasanya bermaksud membukakan pintu mobil untuk tuan putrinya. Saat pintu telah terbuka, pak Sukir buru-buru menutup kembali pintu mobil itu. Orang tua itu menutup matanya sambil membalikkan badan . "Ndoro ayuuuu...".rutuknya dalam hati melihat apa yang dilakukan tuan putrinya dengan tuan muda tampan itu.


Dhani dan Bram refleks melepaskan pautan mereka mendengar pintu mobil ditutup dengan keras. Rupanya karena terkejut pak Sukir membanting pintu mobil tanpa sadar.


Dhani dan Bram tertawa canggung. Wajah keduanya merona terbakar hasrat. " Maaf pak Sukir" batin Dhani ketika sadar apa yang terjadi. Sementara Bram tampak lebih cuek.


" Kamu sih mas....!" Dhani mendorong dada Bram.


"Eh..kamu yang mulai lho sayang.." Bram tertawa menggoda Dhani. Kenyataannya Dhanilah yang memulai ciuman panas mereka.


Dhani tersipu malu. Wajahnya makin merona. Dia berjalan cepat mendahului Bram yang masih tertawa-tawa. Aduh! Dasar mulut gak punya sopan-santun...bisa-bisanya dia menyerobot duluan bibir Bram tadi...mau ditaruh mana mukaku...Dhani menepuk-nepuk pelan bibirnya. Tidak tahu malu..rutuknya lagi.


Bram mengejar gadisnya yang sedang malu-malu itu. Bibirnya tak lepas dari senyum merekah. Merasa mendapat piala karena tanpa diminta, untuk pertama kalinya gadisnya itu berani berinisiatif memagutnya. Meski berakhir dengan insiden pintu terbuka dan membuat gadis itu malu setengah mati.


Bram menarik lembut pinggang Dhani saat berhasil menjajari langkah gadis itu.


" Sudah, gak usah malu. Lagian enak kok. Aku suka.." Bram.berbisik membuat Dhani makin salah tingkah.


" Mesum...!" Dhani berseru pelan.


" Kamu juga" Bram tergelak


Ini memang bukan ciuman pertama mereka, tapi pak Sukir ? Pasti dia terkejut mendapati ndoro ayunya dalam posisi dan adegan seperti itu.

__ADS_1


Di parkiran, pak Sukir meneguk air mineral sambil melamun . " Anak muda jaman sekarang, pacarannya seperti itu ya? Kalau aku dulu, baru ketemu saja sudah deg-degan, apalagi pegangan tangan ..terus apa itu tadi ****-emutan...Haduuuhh...jaman memang sudah benar-benar edan...pak Sukir memijit kepalanya sendiri...


__ADS_2