Jodoh Untuk Tuan Putri

Jodoh Untuk Tuan Putri
#Gagal Kabur


__ADS_3

Pukul tujuh malam, Dhani dan Baron sudah bersiap di bangsal tengah istana yang sudah disulap menjadi ruang untuk gala dinner . Dekorasi dan tata ruang tampak megah dan mewah namun tidak meninggalkan kesan tradisional di beberapa sudutnya.


Baron mengenakan setelan jas warna hitam yang menunjukkan aura ketampanan dan kewibawaan Baron.


Sementara sang putri Dhani tampak mempesona dengan kebaya modern lengan pendek warna gold yang dipadukan dengan kain panjang berbahan batik sutera halus berwarna coklat. Tidak tampak perhiasan ditubuh Dhani selain anting berlian dengan model sederhana di telinganya.


Rambutnya yang kecoklatan digulung sederhana dengan menyisakan sedikit sulur disisi telinganya. Riasan natural justru menampakkan kecantikannya yang alami yang membuat siapapun terpana.


" Ayo sayang " Baron mengangsurkan tangan yang disambut Dhani dengan melingkarkan tangan ke lengan kokoh Baron.


Mereka segera menuju meja yang sudah ditentukan sebelumnya.


Meja Dhani tepat bersebelahan dengan meja utama.


" Papa sebenarnya apanya sinuwun raja?Apa benar papa putra bungsu sinuwun. Jadi Dhani ini cucu raja dong?" Dhani berbisik dekat telinga Baron setelah mereka duduk.


" Apa itu penting sayang? Selama ini kamu tidak tahu dan itu tidak jadi masalah kan? " jawab Baron.


" Saat kita jauh memang tak berpengaruh pa, Yang jadi masalah jika kita berada disini dan Dhani tak tahu apa-apa sama sekali. Dhani cuma takut akan membuat papa dan sinuwun malu karena ketidak tahuan itu"


" Maafkan papa sayang..,nanti papa akan cerita semuanya ke kamu. Jangan sekarang ya..nggak akan cukup waktunya.." Baron tersenyum dan dijawab anggukan maklum Dhani.


Setelah Baron dan Dhani duduk tak lama kemudian tampak sosok yang tak asing bersama sepasang suami istri paruh baya menuju meja mereka.


" Bram.." bisik Dhani menatap tak berkedip ke arah Bram yang berjalan gagah ke arah mejanya.


" Sugeng dalu ( selamat malam) om.." Bram mengangguk sopan ke arah Baron. Disambut senyuman Baron. Bram lalu mendekati Baron dan mencium punggung tangannya. Baron memeluk dan menepuk pelan punggung Bram.


Lalu Bram menatap Dhani sekilas. " Den ayu..." ucapnya samar sambil tersenyum.


Dhani tergagap " Eh iya selamat malam" menjawab sapaan Bram.


" Dimas(adik) Baron apa kabar? " seru pria paruh baya yang tak lain ayah Bram, Dimas. Sementara di sebelahnya seorang permpuan paruh baya yang masih tampak cantik, Ana tersenyum di seberang Dhani dan Baron . Kedua orang tua yang memang bersahabat itu kemudian berpelukan erat beberapa saat.

__ADS_1


" Baik kangmas (kakak), mbak yu ( kakak) silakan pinarak ( duduk)." Baron dan Dhani berdiri menyambut kedua orang tua Bram.


Dhani berjalan ke arah kedua orangtua Bram lalu mencium tangan keduanya. " Om , Tante, salam kenal. Saya Dhani putri papa Baron" ucap Dhani takzim.


" Kau cantik sekali sayang..." Bisik Anna sambil mengusap pipi Dhani . Sementara Dimas mengusap punggung Dhani.


Selesai memberi salam, Dhani kembali ke tempat duduknya dekat Baron. Bram duduk diantara Dhani dan Anna .


Dhani merasakan dadanya berdesir. Rupanya begini rasanya ketemu calon mertua untuk pertama kali. Rasanya malu, canggung dan deg-degan jadi satu. Bahkan Dhani sekarang cuma bisa menunduk di kursinya. Tak berani mengangkat kepalanya yang pasti akan langsung bersitatap dengan kedua orang tua Bram.


Untunglah suasana canggung itu tidak.terlalu lama dirasakan Dhani. Tak lama sudah terdengar obrolan Baron dan kedua orangtua Bram. Kadang disertai canda dan tawa ringan. Sesekali Bram dan Dhani ikut dalam pembicaraan itu karena orang tua mereka bertanya atau menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan mereka.


Di tengah obrolan mereka, Dhani terkejut ketika tangannya dibawah meja terasa digenggam . Reflek Dhani menoleh ke arah Bram di sebelahnya. Tapi Bram tidak memalingkan wajahnya. Tetap memandang ke depan.


" Bram..." Dhani menarik tangannya agar terlepas dari Bram , tapi Bram malah semakin mempererat genggamannya.


" Nanti jadi kabur ya.." bisik Bram


" Kayanya gak bisa. Gimana caranya? " balas Dhani


" Kalian bisik-bisik apa? " tanya Anna yang melihat Bram dan Dhani bicara berbisik-bisik dan nampak gelisah.


" Nggak kok mi..." Bram menjawab cepat tak ingin maminya curiga.


Tapi ketiga orang tua itu sebenarnya tahu apa yang sedang Dhani dan Bram rasakan. Mereka malah sengaja menggoda dua sejoli yang sedang kasmaran itu.


" Jangan coba-coba mengajak Dhani kabur Bram.." goda Anna yang sukses menbuat wajah Bram dan Dhani merah padam. Bagaimana mereka tahu?


" Siapa bilang kita mau kabur?" Bram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dhani cuma terseyum malu sambil menunduk. Rencana kabur mereka sudah bocor.


Baron dan Dimas terkekeh melihat ekspresi kedua putra putri mereka. Akhirnya Anna, Bram dan Dhani pun ikut tertawa.


Dhani merasa sangat malu. Tapi melihat keramahan dan sikap familiar kedua orang tua Bram, perasaan canggung itu pelahan menghilang berganti rasa bahagia karena sikap mereka yang tampak sudah akrab dengannya meskipun baru pertama bertemu. Bahkan Dhani dapat merasakan kasih sayang tulus Dimas dan Anna ketika menatap dan mengajaknya bicara.

__ADS_1


Acara gala dinner dimulai beberapa saat setelah sinuwun dan keluarga mempelai hadir di tempat itu. Semua undangan berdiri dan memberi hormat.


Para tamu segera duduk kembali begitu sang raja duduk.


Dhani melihat ke meja utama. " Apa benar sinuwun itu kakekku.? Kenapa papa tidak pernah cerita tentang keluarga dan kerabatnya? " Dhani bergumam dalam hati lalu mengalihkan pandangannya ke Baron. Papanya tampak tenang.


" Kenapa? " tanya Baron melihat wajah aneh Dhani.


" Enggak pa...emh apa Dhani harus mengikuti acara ini sampai akhir pa? Dhani capek banget.." ucap Dhani


" Ini acara terakhir kita sayang. Dan kamu tidak boleh melewatkannya. Kamu itu putri papa, pemgganti mama. Apa kamu tega membiarkan papa sendirian di meja ini? Belum nanti ada sesi photo pasti sinuwun akan mencarimu karena kamu cucunya termasuk keluarga inti kerajaan" Baron menjelaskan dengan nada pelan.


Dhani mengangguk lemah. Gimana mau kabur kalau begini caranya, batinnya. Dilihatnya Bram , kebetulan saat itu Bram.jiga melihat ke arah Dhani. Keduanya bertatapan sejenak.


" Jangan mimpi mau kabur..haha.." Dhani tertawa kecil. Bram.cuma mendengus sebal.


Acara dinner dimulai dengan doa bersama. Kemudian sambutan dari sang raja.


Setelah itu hidangan mulai mengalir ke meja para tamu. Dimulai makanan pembuka, makan besar dan terakhir dessert.


Semua makanan adalah makanan tradisional yang sebagian besar adalah makanan khusus yang dulu konon hanya bisa dinikmati oleh kerabat istana terurama raja-raja. Bahkan banyak makanan yang Dhani belum pernah makan ataupun melihat, mengingat Dhani tidak pernah tinggal diistana.


Dhani yang semula merasa malas, jadi tertarik dan malah aktif bertanya pada papanya dan orang tua Bram. Mereka menjelaskan semua yang ditanyakan Dhani.


Sementara itu,Bram yang sekarang merasa diabaikan semakin bosan dan menggerutu kesal.


" Jangan cemberut aja sayang...jadi jelek tuh.." Goda Dhani yang melihat wajah gusar Bram.


Mendengar panggilan sayang Dhani, wajah Bram seketika berbinar. Wajah kesalnya memudar berganti senyuman penuh cinta untuk gadisnya.


" Gitu dong, kan tambah ganteng.." bisik Dhani lagi membuat senyum Bram semakin lebar.


" Kau menggodaku tuan putri? " gumam Bram pelan.

__ADS_1


Dhani tersenyum simpul sambil melihat sekilas ke arah Bram. Keduanya kemudian saling tersenyum. Dia tahu Bram pasti kesal karena rencana kabur mereka gagal total. Tapi setidaknya mereka masih bisa duduk berdekatan, saling menatap, saling bicara dan menggoda..sesekali saling menggenggam jemari mereka dibawah meja.


Duh gini amat yang mau melepas rindu...rutuk hati Bram dan Dhani bersamaan...


__ADS_2