
" Dari mana saja kalian?" Baron menyambut Dhani dan Bram di depan pintu.
" Antar teman-teman pulang pa" jawab Dhani
" Hm...sudah pulang semua? " tanya Baron lagi
" Sudah pa" Dhani menjawab singkat.
" Saya juga sekalian pamit balik ke hotel pa.." Bram menatap Baron lalu mengangsurkan tangannya menyalami calon mertuanya itu dan mencium tangan Baron.
" Seharusnya tadi mami dan papimu menginap disini saja jadi kamu nggak usah bolak-balik ke hotel. Aku masih kangen sama papimu " Baron memeluk Bram erat.
" Tidak enak dengan saudara yang lain pa, kalau kami menginap di sini dan yang lain di hotel. Sedangkan kalau menginap di sini semua pasti tidak akan cukup kamar.
Baron mengangguk maklum. Budaya dan adab jawa memang penuh ewuh pakewuh (rasa segan dan sungkan). Apalagi kerabat yang ikut dalam rombongan dari kota S banyak yang sudah berusia lanjut atau usianya diatas Dimas, pasti papi Bram merasa sungkan meninggalkan mereka di hotel.
"Kamu bawa mobil sendiri Bram? " Baron mencari-cari mobil Bram.
" Iya pa, tadi bawa mobil hotel. Bram pamit pa...Sugeng dalu ( selamat malam)" Bram menundukkan kepalanya hormat.
" Hmm...hati-hati Bram. Atau kalau kamu ngantuk biar diantar sopir saja?" tawar Baron merasa khawatir.
" Nggak kok pa, Bram nggak ngantuk. Sudah biasa tidur pagi." Bram tersenyum meyakinkan Baron bahwa dia masih sanggup membawa mobil ke hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh.
" Syukurlah kalau begitu. Papa cuma mewakili Dhani saja, dia pasti khawatir calon suaminya mengemudi sendiri dini hari begini.." Baron mengerling ke arah Dhani. Gadis itu jadi salah tingkah digoda papanya.
" Papaaa..kok jadi Dhani sih?" Dhani memukul lengan papanya manja.
Bram dan Baron tertawa. Dua orang pria yang sangat mencintai Dhani itu tampak semakin akrab belakangan ini. Dan itu membuat Dhani merasa sangat bahagia.
"Papa istirahat dulu ya..." Baron meninggalkan Bram dan Dhani.
Di kamar, Baron menelpon seseorang, " Kamu kawal calon mantuku sampai kehotel. Pastikan dia selamat dan masuk hotel dengan aman!" Baron menutup panggilan dan segera berbaring untuk beristirahat.
Hari yang melelahkan namun penuh kebahagiaan. Baron tersenyum dan menatap foto besar Stella yang tergantung di kamarnya.
" Dhani kita sudah dewasa , sayang. Mungkin sebentar lagi dia pun akan meninggalkanku. Tapi aku bahagia karena berhasil membesarkan Dhani kita dengan baik. Dia akan bahagia dengan lelaki pilihanku yang juga pilihannya. Bukankah itu sempurna honey? " Baron mengusap matanya yang berair.
Baron mengambil frame foto kecil di nakas. Dhani kecil tertawa riang dalam pelukan Baron di sana. Dipeluknya foto itu lalu memejamkan mata dan terlelap dalam senyum bahagia " Berbahagialah sayang" bisik Baron pelan sebelum kesadarannya menghilang.
Di depan rumah, dua anak manusia yang tengah berbahagia itu berjalan ke arah tempat parkir mobil.
__ADS_1
Seperti biasa tangan Bram sudah otomatis melingkar di pinggang Dhani. Kalau ada yang lengket tapi bukan perangko itu adalah tangan Bram di pinggang Dhani...hehe..
" Pinggangku atau tanganmu yang ada lemnya mas?" Dhani menggoda Bram. Dia mulai terbiasa dengan sikap posessif dan romantis calon suaminya itu. Ehm...termasuk mesumnya..aduh!
" Hatiku, jadi pengennya nempeel terus ke kamu sayang" Bram menempelkan pipinya ke pipi Dhani.
" Gombal teruus..." Dhani tertawa. Tak urung hatinya berbunga-bunga.
" Kau harus mempersiapkan dirimu..." Bram menggantung ucapannya
" Untuk..?" Dhani menatap Bram.
" Mendengarku memujamu setiap hari. Aku nggak mau kamu sering pingsan karena tidak mampu menahan beratnya cinta dan rindu yang akan selalu kuberikan padamu..." Bram menatap Dhani lembut.
" Toloong...ini aku sudah mau pingsan mas..." Dhani menjatuhkan dirinya ke pelukan Bram. Wajahnya merona. " Dari mana kau dapat gombalan maut seperti itu sayang?"
Dhani menatap wajah tampan Bram yang kini sudah memeluknya erat. Bram juga menatapnya penuh cinta.
Lelaki itu lalu mengusap-usapkan hidung bangirnya ke kepala, rambut, punggung dan pundak Dhani. Kembali memeluk erat gadis itu dan membawanya berputar pelahan.
Diam dalam hening, gadis itu menikmati pelukan dan desah nafas hangat kekasihnya. Beberapa lama seakan lelaki itu tak akan melepas pelukannya.
" Hm...." gumam Bram
" Apa kamu mau balik lagi aja ke kamarku?" Dhani menggoda Bram yang seakan berat melepas pelukannya.
Keduanya tertawa.
" Yuk! Kayanya dicoba dulu nggak pa-pa deh, kan sudah pasti nikah ini?" tanpa disangka Bram menarik lengan Dhani dan berjalan berbalik ke arah rumah utama.
" Maaasss...." Dhani memukul lengan Bram. "Enak aja, emang beli parfum, bisa dicoba dulu ?" Dhani mendengus.
Bram tekekeh. Lelaki itu kemudian memeluk Dhani lagi dengan gemas. Mengangkat tubuh ramping sang gadis dan memutarnya diudara.
Dhani berteriak tertahan sambil tertawa-tawa. Tangannya memeluk erat leher Bram karena takut jatuh.
" Sudah mas..turunin aku.." Dhani berseru
Bram menurunkan tubuh Dhani tanpa melepas pelukannya lalu mendaratkan kecupan singkat di kening dan kedua pipi gadis itu.
" Sudah, cukup, kalau dilanjutkan pasti nggak jadi pergi" seru Dhani membuka pintu mobil dan mendorong pelan tubuh Bram duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
Bram tersenyum sambil menutup pintu mobil.
" Ilove you" bisiknya pelan.
Dhani meraih pipi Bram lembut lalu mengecup bibir kekasihnya sekilas dari luar pintu mobil.
" I love you too sayang" bisik Dhani mengakhiri drama perpisahan dini hari itu.
Tangannya melambai, Bram juga melambaikan tangannya. Mata Dhani mengikuti mobil yang membawa kekasihnya hingga menghilang dari pandangannya. Barulah gadis itu melangkah pulang ke rumah.
Di jalan yang lengang, Bram mengemudikan mobil dengan santai menuju hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh. Bibirnya tak lepas dari senyum. Bayangan Dhani yang tersenyum bahagia memenuhi ingatannya. Saat tiba-tiba Bram merasakan mobilnya berjalan tidak stabil.
" Shit! Pasti kempes ini bannya" Keluh Bram kesal lalu beranjak turun dari mobil.
Benar saja salah satu ban bagian depan mobil tampak kempes kehabisan udara.
Baru saja Bram hendak mengambil dongkrak dan ban cadangan, dari belakang mobil Bram tampak dua orang berbadan tegap menghampiri Bram.
" Ada apa Den mas? Bisa kami bantu? " tanya salah seorang yang datang.
" Oh ya, terima kasih. Ban mobil saya kempes, mungkin kena paku" jawab Bram senang, merasa lebih tenang karena ada yang menemani di tempat sepi yang tidak begitu dikenalnya.
Bram tidak tahu bahwa dua orang itu adalah para pengawal yang ditugaskan Baron untuk melindunginya.
" Den mas duduk saja, biar kami yang ganti bannya." Lelaki tegap itu menunjuk kursi taman di pinggir jalan.
" Sebentar, kalian ini siapa? Kok panggil saya den mas, kalian kenal saya?" tanya Bram heran.
" Tenang saja den mas, kami pegawai di rumah Den ayu Dhani. Kebetulan kami lewat sini sepulang bertugas tadi" lelaki itu menjelaskan sambil mengganti ban mobil dengan cekatan. Mereka sengaja tidak mengatakan bahwa sebenarnya mereka mengikuti Bram.
" Syukurlah." Bram lalu duduk sambil memperhatikan dua lelaki yang sudah hampir selesai mengganti ban mobilnya.
Tak lama" Sudah beres den mas, monggo(silakan).." kedua lelaki itu mempersilakan Bram naik ke mobil.
" Terima kasih ya, maaf kalian jadi terlambat pulang" Ujar Bram tulus.
" Kami senang bisa membantu den mas " kedua orang itu membungkuk hormat.
Bram segera melanjutkan perjalanannya. Dia tidak tahu bahwa kedua orang yang sudah membantunya itu masih mengikuti mobilnya hingga sampai di hotel. Ketika melihat Bram memasuki lobi hotel, barulah kedua orang itu memutar mobilnya menjauh.
.
__ADS_1