Kaisar Langit

Kaisar Langit
Perang 2.


__ADS_3

Tak berselang lama, ledakan demi ledakan terdengar disetiap sudut hutan. Wajah Ling Yuan seketika berubah menjadi serius.


"Tuan muda, mohon uluran tangan anda," ucapnya dengan hormat.


Luo Jian mengangguk dan menangkupkan tinjunya dihadapan Ling Yuan bersama dengan Shui Long.


"Baik senior," ucap mereka berdua.


Swuuuuush!


Pedang besar bergerigi yang merupakan pedang tingkat normal yang merupakan senjata kebanggaan milik Ling Yuan ia keluarkan. Sama halnya dengan Shui Long. Namun berbeda dengan Luo Jian yang mengeluarkan suling berwarna keemasan yang diukir dengan motif tidak jelas namun terlihat elegan ia keluarkan.


"Tuan muda apakah anda tidak memiliki pedang?" Tanya heran Ling Yuan.


"Senior setumpul apapun senjata, dan terlihat selemah apapun yang dilihat, belum tentu lemah, bisa jadi senjata itu merupakan artefak mematikan, jadi jangan dilihat dari tampilannya saja," ucap Luo Jian sambil tersenyum.


Ling Yuan yang merasa umurnya lebih tua tersenyum canggung. Ia sendiri tahu jelas apa arti ucapan Luo Jian yang memasuki telinganya.


"Hehehe..." Ling Yuan tertawa kecil.


Suuuiiiiiiiittttt! Suuiiiiiittttt!


Namun tiba tiba, pekikan suara burung Phoenix menggema diatas langit. Tidak hanya satu atau dua, suara Phoenix yang menggema terdengar lebih dari seratus ekor.


"Sepertinya peperangan benar benar telah pecah, senior mari..." Ucap Luo Jian kemudian keluar dari tenda utama dan menatap kearah gerbang kerajaan Ming.


Wajah Luo Jian seketika berubah melihat bala bantuan tentara yang dibawa oleh Kerajaan Ming. Karena dari atas punggung Phoenix, terdapat lebih dari seratus murid yang menungganginya. Dan Phoenix itu memang benar ada lebih dari seratus Phoenix yang siap mendarat didepan pertahanan Kerajaan Ming.


"Longer, bantu mereka namun jangan terlalu jauh dari keberadaan ku," ucap Luo Jian.

__ADS_1


"Baik saudara," ucapnya.


Swuuuuush!


Shui Long, Ling Yuan, dan Luo Jian melesat kearah pasukan utama yang dipimpin oleh Ling Huan. Terlihat, Ling Huan sedang kesusahan menghadapi gempuran dua tetua tingkat tinggi milik sekte Elang Darah.


Luo Jian melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sangat gesit dengan cara zig zag dan mendekat kearah pasukan Kerajaan Ming yang jumlahnya lebih banyak.


Hanya sekali pukulan menggunakan sulingnya, Luo Jian telah membunuh prajurit Kerajaan Ming dengan mudahnya, suling yang hanya memiliki panjang tiga puluh centi meter itu terus memakan korban disaat Luo Jian mengayunkan dengan mudahnya.


Aksi Luo Jian sesekali dilirik oleh Ling Huan, dan Ling Yuan. Wajah mereka sangat terkejut dengan cara bertarung Luo Jian yang menurut mereka sedikit asing. Namun tidak dengan Shui Long yang tidak ingin menjadi beban. Ia terus fokus dalam pertarungan melawan prajurit yang setingkat didekatnya.


Memutarkan tubuhnya, Luo Jian tersenyum melihat Lin Yue yang mengembungkan pipinya karena saat ini ia hanya menonton.


"Tuan kapan aku beraksi jika kau menggunakan senjata butut itu!" Gerutu Lin Yue dipikiran Luo Jian.


Luo Jian sedikit menahan tawanya disaat suara Lin Yue menggema dipikirannya. Dengan segera tangan kirinya ia angkat.


Swuuuuush!


Dari jarak seratus meter, semua orang yang sedang berperang benar benar merasakan kuatnya aura mematikan yang berasal dari pedang hitam ditangan Luo Jian.


Swuuuuush!


Luo Jian melemparkan pedangnya keatas langit, setelah itu pedang hitam bergetar hebat mengambang diatas kepala Luo Jian.


"Mati!" Ucap Luo Jian kemudian berdiri tegak dan meniup sulingnya.


Seketika pedang hitam melesat, yang diiringi alunan nada yang cukup membuat hati siapapun tersentuh oleh alunan nada suling tersebut. Hitam pedang yang melesat tanpa tuan juga terus menebas tubuh prajurit, dan murid sekte Elang Darah yang terus berdatangan.

__ADS_1


Wajah Ling Yuan, dan Ling Huan menegang melihat hal yang baru pertama kali mereka lihat. Bahkan mereka tidak tahu sosok Luo Jian menggunakan sihir apa untuk mengendalikan pedang tersebut. Yang pasti, mereka hanya menebak pedang hitam dikendalikan oleh suling yang ditiup Luo Jian.


Alunan nada yang terdengar sedih itu mampu membius semua orang dalam hati yang ragu untuk berperang, bahkan mereka yang berasal dari aliran hitam atau sekte Elang Darah. Wajah mereka terlihat kebingungan, ingin membunuh lawan didepannya atau hanya diam menunggu untuk dibunuh.


Disisi lain, Shui Long yang sudah terbiasa bertarung tiba tiba dihadang oleh satu tetua tingkat tinggi yang memiliki ranah kultivasi Langit tiga, dan hal itu membuatnya panik sejadi jadinya.


Luo Jian yang merasakan bahaya mengancam Shui Long. Ia segera mengarahkan target lawan Shui Long menggunakan nada yang sangat kacau.


Ngiiiiing!


Nada itu cukup membuat pasukan sekte Elang Darah, dan Kerajaan Ming meledak menjadi kabut darah pada area seratus meter dijangkauan Luo Jian. Sedangkan target pada sosok yang melawan Shui Long, tetua itu hanya merasa gendang telinganya pecah dan setelah itu mengeluarkan darah dari telinganya. Namun berbeda reaksi dengan pasukan kelompok Pedang gurun. Mereka memang merasakan rasa sakit di gendang telinga mereka. Namun itu tidak terlalu parah dari pada murid, tetua dan prajurit lawan mereka.


"Ternyata sejak awal pertarungan ku, saudara Jian benar benar membantuku," ucap semangat Shui Long.


Shui Long yang sudah memastikan Luo Jian selalu membantunya, kini ia tidak terlalu ragu untuk bertarung dengan lawan yang lebih kuat darinya.


Disisi lain, dibalik tembok pertahanan Kerajaan. Ming Zhao, Ming Lao, dan dua tetua tingkat tinggi Elang Darah panik melihat keberadaan Luo Jian. Bahkan caranya membunuh bisa dikatakan mudah dan tidak terlalu membuang tenaga. Meskipun mereka panik, tentunya mereka memiliki sifat keserakahaan yang tinggi.


"Bocah itu benar benar sangat mengerikan," ucap Ming Lao.


"Kakak benar..."


"Ming Lao, lebih baik kita bunuh dia secara bersamaan dan rampas artefak yang dimilikinya, aku rasa setelah kita membagi rata harta besar miliknya kita akan menjadi orang terkuat di Benua Merah ini..." Timpal tetua lainnya dengan mata keserakahannya.


Namun Ming Lao yang sudah merasakan kekuatan Luo Jian masih terlihat ragu.


"Ucapanmu memang benar, tapi yang harus kau tahu kita sama sekali bukan lawannya. Kecuali kita harus menunggu hingga ia telah membuang energi Qi yang cukup banyak, mungkin kita dapat mengambil kesempatan itu untuk membunuhnya," ucap Ming Lao serius.


Sedangkan Ming Zhao hanya menyimak, karena hanya ia saja yang terlemah dari tiga tetua tersebut. Namun yang pasti ia harus melihat kematian Luo Jian didepan matanya, meskipun bukan ia sendiri yang membunuhnya.

__ADS_1


"Benar juga katamu Lao, tapi bagaimana kita harus melaporkan Master jika salah satu dari kita ada yang mati dan pembunuhnya hanya menyisakan mayat saja? Karena tentunya hal itu membuat kita terkena hukuman yang berlaku," timpal lainnya.


__ADS_2