
"Tuan memang berapa biaya yang harus kami tanggung untuk menyebrang kekota sebelah?" Tanya Luo Jian.
"Tuan biayanya hanya sepuluh koin bintang untuk perorangan sekali menyebrang ke kota Shing." Ucap ramah salah satu pria paruh baya.
Luo Jian mengeluarkan dua puluh koin bintang tanpa ragu, setelah itu keduanya membawa Luo Jian dan Shui Long menuju ke tempat perahu besar yang mereka miliki.
Setibanya.
"Tuan, silahkan."
Luo Jian dan Shui Long mengangguk, setelah berada diatas kapal yang cukup besar itu. Luo Jian menaikan alisnya karena merasakan kapal yang ia tunggangi ini memiliki keanehan yang tidak biasa.
"Aura kematian disetiap sudut ini terlalu besar."
"Sepertinya kedua orang ini perampok," gumam Luo Jian lagi.
"Saudara Jian, apa yang membuatmu melamun?" Tanya heran Shui Long.
"Longer, tidak apa apa hanya saja kita harus berhati hati dengan kedua orang ini," ucap pelan Luo Jian.
Swuuuuush!
Kedua pria itu memberikan energi Qi mereka kearah mesin utama kapal tersebut. Lima detik kemudian, kapal langsung melesat menuju kearah kota Shing yang berada diseberang danau Ping.
Shui Long yang mendapat peringatan kecil dari Luo Jian meningkatkan kewaspadaannya. Sedangkan Luo Jian sendiri mengeluarkan sulingnya dan mulai memainkan alunan nada yang cukup membuat hati siapapun yang mendengarnya itu terbawa suasana.
"Saudara, sepertinya dia orang yang kaya, lihatlah sulingnya saja terbuat dari emas," telepati rekannya.
"Benar kita sungguh tidak menyangka mendapatkan buruan sebesar ini," balas rekannya.
Lin Yue yang mengetahui rencana mereka ingin segera menghajarnya, namun dengan isyarat dari kedipan mata Luo Jian. Membuat sosok roh penunggu pedang hitam itu mengurungkan niatnya.
Lima belas menit berlalu, tiba tiba.
Swuuuuuush! Swuuuuuush!
Lima panah yang sengaja ditutupi oleh pemilik kapal mengarah pada Luo Jian, dan Shui Long. Luo Jian masih asik memainkan suling emasnya. Sedangkan Shui Long meningkatkan kewaspadaannya.
"Bocah sekarang serahkan hartamu, atau kau akan mati," ucap pria yang juga telah mengeluarkan pedang dari dalam cincin ruangnya.
"Ciiih! Jangan harap!" Ucap Shui Long melesat sambil mengeluarkan pedangnya.
Swuuuuush! Tiiiiing! Dhuuaaar!
__ADS_1
Shui Long seketika terpental setelah salah satu rekannya melepaskan tinju kearah perut Shui Long.
"Akkhhh! Sangat cepat!" Ucap Shui Long meningkatkan kewaspadaannya.
Luo Jian kembali memasukan sulingnya kedalam cincin ruang. Setelah itu ia menatap tajam kedua pria tersebut.
"Tuan, sepertinya kalian salah target," ucap tenang Luo Jian membantu Shui Long berdiri.
Kedua alis pria itu menyatu. Dan sekilas berpandangan, mereka tiba tiba tertawa kesetanan.
"Hahahahahaha! Salah target? Lihatlah anak buahmu yang lemah. Tidak seharusnya kau mengatakan hal yang tidak mungkin dapat kau lakukan. Karena kau sendiri itu tidak memiliki Kultivasi bocah."
"Ooh begitukah...," Ucap dingin Luo Jian.
Swuuuuuush!
Tangan kanannya ia renggangkan, muncul pedang hitam digenggaman Luo Jian yang membuat kedua pria itu meningkatkan kewaspadaannya.
"Longer, hati hati panah yang mengarah ke tubuh kita berisi racun," ucap telepati Luo Jian.
Shui Long mengangguk, setelah itu Luo Jian menyunggingkan senyumnya.
"Apakah ada kata terakhir untuk kalian sampaikan pada kami?" Tanya Luo Jian.
Swuuuuush! Swuuuush!
Lima mesin panah akhirnya diluncurkan dari tiap sudut kapal. Anak panah itu melesat menuju kearah Luo Jian dan Shui Long. Sunggingan kecil yang diperlihatkan oleh Luo Jian kini menjadi wajah datar tanpa ekspresi sambil menghindari anak panah yang kini terus mengarah padanya.
"Ternyata bocah itu pandai dalam menggunakan ilmu beladiri, tapi dia tidak memiliki ranah Kultivasi sama sekali," ucap perampok itu heran.
"Karena kalian bodoh!" Ucap tiba tiba Luo Jian yang muncul dibelakang mereka tanpa sepengetahuan mereka.
Slaaaaash! Slaaaaaash!
Kedua perampok itu akhirnya mati oleh mata pedang milik Luo Jian. Setelah membunuh mereka dengan mudah, Luo Jian melepaskan pedang hitam agar menghancurkan lima mesin panah yang terus mengarah pada Shui Long.
Dhuuuuaar! Dhuuuaaar!
Mesin panah meledak setelah pedang hitam memotong tiap bagian mesin itu. Shui Long menghela napas sejenak.
"Longer bagaimana keadaanmu," ucap Luo Jian.
"Saudara aku baik baik saja. Namun bagaimana saudara tahu bahwa mereka bukan orang yang baik?" Tanya heran Shui Long.
__ADS_1
Luo Jian tersenyum kearah Shui Long. Setelah itu Luo Jian membuat segel tangan yang sangat cepat.
Swuuuuuung!
Segel yang tadinya sekecil piring makan, tiba tiba membesar menyelimuti kapal. Dengan mata Shui Long sendiri, ia melihat aura kematian pekat yang ada disetiap sudut kapal yang ia tunggangi.
Swuuuuush!
Segel itu menghilang, dan Shui Long tidak melihat aura kematian yang ia sendiri baru menyadari bahwa aura kematian dapat dilihat dengan mata.
"Saudara Jian, kau sungguh hebat," kagum Shui Long.
"Longer aku tidak berani mengambil kata katamu," ucap Luo Jian.
"Saudara maksud anda?" Tanya Shui Long heran.
Luo Jian menatap langit cerah pada sore hari itu dengan rasa yang nyaman.
"Alam semesta sangatlah luas, seperti Benua yang saat ini kau pijaki, bukankah luas? Tentu kau juga belum mengetahui kekuatan besar di Benua yang kau tinggali ini. Dan diluar sana masih banyak Benua lain yang berisi Kultivator lebih kuat. Karena itu, aku tidak berani mengambil kata kata hebat sebagai pujianmu," ucap Luo Jian yang sebenarnya hanya merendah.
"Saudara benar, meskipun kau masih muda dan mampu mengalahkan lawan yang ada dihadapanmu berkali kali. Tapi mereka hanyalah sebagian kecil dari Kultivator yang kita temui di Benua ini. Dan selama perjalanan kita kali ini pasti kita akan menemukan lawan yang lebih kuat," ucap Shui Long bertambah kagum dengan pikiran Luo Jian.
Luo Jian mengangguk, kemudian ia menendang kedua mayat perampok itu dengan santai hingga keluar dari kapal dan mengambang di atas permukaan air danau Ping.
"Saudara aku ingin bertanya, siapakah orang terkuat di alam semesta ini? Apakah anda bisa mengetahui jawaban dari pertanyaanku kali ini?" Tanya Shui Long bercanda.
Luo Jian kembali menatap langit sore hari itu dengan tenang.
"Tentu alam semesta itu sendiri," jawab Luo Jian.
Shui Long melongo mendengar jawaban Luo Jian yang menurutnya sangat konyol.
"Saudara bukankah yang terkuat itu para Dewa?" Tanya Shui Long.
Luo Jian menggelengkan kepalanya. Dan setelah itu ia menunjuk kearah bawah air danau yang tenang.
"Lihatlah air yang tenang ini, meskipun terlihat tenang. Tapi didalamnya terdapat arus yang cukup besar. Dan kamu lihat sekelilingmu mengenai alam semesta. Mereka sangat tenang, tapi mampu menghancurkan apa yang mereka inginkan," ucap Luo Jian santai.
"Maksud saudara seperti angin yang mampu menghancurkan pepohonan? Dan gunung memuntahkan api panasnya akan melelehkan apa yang ia inginkan?" Tanya Shui Long.
"Benar, kau tentu tahu energi langit dan bumi yang kau gunakan itu untuk memperkokoh kekuatan jiwamu bukan?" Tanya Luo Jian lagi
sambil membuat angin dari energi langit dan bumi disekitarnya.
__ADS_1
###