
Melihat bahwa kondisi Luo Jian memang baik baik saja, Dai Mubai kemudian mengeluarkan pedangnya. Wajahnya sedikit ragu, tapi pada akhirnya ia mengajarkan beberapa teknik pedang yang sering ia gunakan untuk bertarung.
"Langer gerakan yang akan aku berikan ini bertumpu pada ketegasan serangan yang terarah ke satu titik. Jadi kau harus memfokuskan pikiranmu untuk menggunakan teknik ini," ucap Dai Mubai kemudian membuat segel tangan lalu menutup area sekitarnya dengan pelindung buatannya sendiri.
Setelah itu, Dai Mubai memperlihatkan teknik berpedangnya, setiap gerakan yang diperagakan oleh Dai Mubai kini dipahami oleh Luo Jian sebaik mungkin. Sepuluh menit berlalu, kini giliran Luo Jian yang memperagakan teknik pedang milik Dai Mubai dengan ingatannya.
Tiga jam telah melatih teknik pedang milik Dai Mubai. Dai Mubai hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perkembangan yang sangat mengerikan ditunjukan oleh Luo Jian. Bahkan ia sendiri untuk menguasai teknik dengan sempurna memerlukan waktu satu tahun lamanya. Tapi kini Yin Lang pendatang yang entah berasal dari mana mampu menguasai tekniknya hanya dalam kurun waktu tiga jam lamanya.
"Langer sepertinya kau terlalu jenius, bahkan bisa dianggap sosok monster," ucap jujur Dai Mubai.
Luo Jian diam dan hanya bisa menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Merasa tidak ada yang dapat diajarkan lagi oleh Dai Mubai. Luo Jian akhirnya melatih teknik elemen cahanya untuk membantunya dalam pertarungan jarak jauh maupun dekat. Teknik bertarung yang diberikan oleh Zhi Yu maupun Dai Mubai, Luo Jian yang jenius menambahkan kelemen cahayanya disetiap teknik yang ia pelajari. Dan hal itu membuat kecepatannya dalam bertarung semakin cepat.
"Bocah ini hilang ingatan, tapi kejeniusannya sangat mengerikan, jika puncak lain tahu bahwa puncak ini memiliki sosok monster seperti Yin Lang aku rasa mereka sangat iri dengan guru," ucap dalam hati Dai Mubai yang akhirnya pergi bersama istrinya memasuki kediamannya.
Malam harinya.
"Sepertinya aku harus mencoba menghancurkan segel yang mengekang ingatanku," gumam Luo Jian yang merasa tertekan karena hanya seperempat ingatan yang dapat ia ingat.
Swuuuush!
Rohnya muncul tepat di lautan Dantiannya sendiri, beberapa saat menatap rantai emas yang beberapa diantaranya seukuran pohon berapa ribu tahun tuanya. Luo Jian menembakan bola elemen cahaya kearah rantai tersebut.
Dhuaaaar! Dhuaaaaar!
Hal itu menyebabkan lautan dantian yang tadinya tenang kini menjadi bergejolak setelah elemen cahaya milik Luo Jian meledak saat menabrak puluhan rantai emas yang saling berkaitan diatas dinding dantiannya.
"Akkkkkh!" Disaat itu juga, tubuh Luo Jian merasakan efek yang cukup parah.
Melihat kondisi fisik nyatanya terluka parah, Luo Jian segera kembali mengambil alih kesadaran tubuhnya.
"Ternyata tidak bisa memaksa," gumam Luo Jian mencoba menetralkan auranya yang begitu agung menjadi kacau seperti aura kekacauan ditanah abadi.
Tak terasa Luo Jian membutuhkan waktu seminggu untuk menetralkan aura kacau yang terus merembes keluar dari tubuhnya.
"Langer," ucap dari balik pintu kamar Luo Jian suara Dai Mubai memanggil.
__ADS_1
Luo Jian kemudian menyudahi penetralan auranya dan bergegas menyambut Dai Mubai. Saat keduanya bertemu, Dai Mubai menaikan kedua alisnya.
"Auranya terasa agung namun begitu kacau," ucap dalam hatinya.
"Langer apakah kamu sedang terluka?" Tanya Dai Mubai khawatir.
Luo Jian hanya menyunggingkan senyum kecilnya dan segera menggelengkan kepalanya. Dai Mubai mengangguk, setelah itu ia segera memberikan sumber daya berupa air abadi yang didapatkan oleh Weng Lao.
"Nanti sore kau akan keluar dari puncak ini, ingatlah pesanku jangan terlalu pasif, dan buat beberapa tetua dari puncak lain menginginkanmu," ucap Dai Mubai kemudian mengajak Luo Jian untuk mengisi perutnya.
Setelah mengisi perut, dan Luo Jian juga sudah siap untuk melakukan misinya. Dai Mubai memberikan sebuah buku untuk mencatat keperluan yang dibutuhkan Luo Jian dalam mengumpulkan beberapa informasi sekaligus kekuatan milik She Yin yang tersembunyi.
"Langer, kau akan keluar dari puncak ini bersama Zhi Yu. Jadi tetaplah berhati hati," ucap Dai Mubai memutuskan untuk meninggalkan Luo Jian.
Didalam pikirannya sendiri.
"Sekte aliran hitam ya, cukup mengesankan kalian ingin mempermainkanku menjadi bidak catur," ucap dalam hati Luo Jian sambil tersenyum kecut.
Sore harinya, Luo Jian yang sedang bersantai didepan kediaman milik Dai Mubai, Luo Jian merasakan bahwa aura Zhi Yu mendekat kearahnya.
Swuuuush!
Luo Jian hanya mengangguk tanpa menjawab, tentunya ia masih bersikap sebagai Yin Lang yang pendiam dan tidak banyak berbicara. Melihat jawaban Luo Jian, Zhi Yu kemudian mengeluarkan pintu portal dimensi yang menghubungkan ke sekte utama yang diisi oleh murid luar dan dalam.
Setelah mereka keluar dari puncak Api Dewa. Tepatnya didepan gerbang sekte Darah Iblis yang memiliki aura kematian dan hawa yang berlawanan dengan Luo Jian.
Swuuuuush!
"Siapa kalian!" Bentak murid luar dengan sikap arogan yang tidak mengenali keduanya.
Plaaaaaak!
Tanpa menjawab, Zhi Yu segera menampar wajah murid itu dengan keras hingga membuat beberpaa gigi depannya rontok.
"Bersikaplah sopan sebelum aku membunuhmu...," Ucap dingin Zhi Yu mengeluarkan plat emas sekte milik puncak Zhi Yin.
__ADS_1
Hal itu membuat tubuh murid luar itu gemetaran. Karena ia tahu jika seseorang memiliki plat emas dari puncak yang tersembunyi milik Darah Iblis maka mereka adalah murid elite.
"Kedatanganku kemari hanya ingin mengantarkan murid baru untuk mengembangkan dirinya di sekte ini, jadi kau antarkan dia dengan baik."
Swuuuuush!
Zhi Yu memandang Luo Jian dan segera menghilang dari kehampaan. Murid yang ditampar oleh Zhi Yu yang tadinya ketakutan kini merubah wajahnya menjadi tatapan menghina kearah Luo Jian.
"Hehehehe! Kau murid baru ya? Baiklah ikuti aku, karena aku akan mengantarkanmu ketempat asrama," ucap pemuda itu tersenyum misterius kemudian memimpin Luo Jian untuk menunjukan arah asrama.
Luo Jian hanya diam, tapi ia sendiri sudah tau maksud dan arti dari senyuman tengil murid yang menunjukan jalan didepannya itu. Lima belas menit berjalan melewati banyaknya murid luar yang sedang beraktivitas. Tiba tiba pemuda itu mengambil jalan kearah kiri, tanpa curiga. Luo Jian mengikutinya dengan tenang sambil diam diam mempelajari keadaan sekte utama yang terlihat begitu kacau.
"Sekte utama? Bukankah ini lebih buruk dari tempat pembuangan sampah," ucap dalam hati Luo Jian hingga ia menghentikan langkahnya disaat pemuda itu juga menghentikan langkahnya.
"Senior, aku memiliki satu murid baru, hei bocah sapa seniormu dan perkenalkan dirimu!" Ucap arogan pemuda itu.
Luo Jian hanya bisa diam dan menatap remeh pemuda yang mengenakan jubah murid dalam sedang duduk diatas kursi dengan tatapan menghina kearahnya.
"Ohh apakah aku harus melakukannya didepan sampah seperti dia?" Tanya Luo Jian yang membuat urat wajah murid luar yang ada disekitarnya menjadi memerah.
"Kau..." Murid luar semuanya tercekat.
Swuuuuush!
Tapi berbeda dengan pemuda yang ternyata ia adalah adiknya Bao Wei. Bao Ling itu kini melesat kearah Luo Jian dan mencengkeram erat baju milik Luo Jian.
"Bocah keberadaanmu disekte ini hanya sampah, berlututlah dan meminta maaf atas apa yang kau katakan tadi, maka aku tidak akan membuat perhitungan padamu?"
"Ohh beginikah caranya! Cuiiiih!" Luo Jian meludah kearah wajah Bao Ling.
Bao Ling tentu seketika sangat marah, tanpa basa basi ia segera melancarkan serangan tinjuannya kearah Luo Jian. Tapi sayangnya, Luo Jian dengan sangat mudah memblokir tinju dari Bao Ling dan kini telah menggenggamnya dengan erat.
Baaaaaams!
__ADS_1
Yang minta crazy upp mana nih, sore ini author mau nulis banyak, dan author berharap yang janji kasih vote setelah crazy up menepati janjinya :V