
"Dia saudaraku..., Dan apa hakmu melukai seenak jidatmu...," Ucap penuh nada dingin Luo Jian.
Swuuuuush!
Pedang hitam kembali digenggamannya. Tiga tetua itu tidak memperhatikan Luo Jian, malahan mereka menjilat bibirnya melihat sosok wanita cantik berada disebelah Luo Jian.
"Dia milikku!"
Swuuuuush!
Salah satu tetua yang terpukau itu malah melesat kearah Ling Hua. Ling Hua seketika menatap kearah Luo Jian.
"Lumpuhkan saja," ucap Luo Jian mengerti.
"Baik," jawab Ling Hua.
Swuuuush!
Sekali kedipan mata Ling Hua telah tiba didepan tetua dan bersiap melepaskan tinjunya.
Baaaaaamss!
Tetua itu terpental sambil menggosok pipinya yang telah memerah.
"Hebat juga kau ******!" Ucapnya kesal.
Luo Jian menaikan kedua alisnya melihat kebodohan tetua itu.
"Tidak tahu kemampuan diri!"
Swuuuuush!
Luo Jian mendahului Ling Hua sambil menggenggam pedang hitamnya. Meskipun ranah Kultivasi Luo Jian hanyalah berada ditingkat Fondasi Yuan, Luo Jian tak gentar sama sekali terhadap tiga tetua yang memiliki ranah Fondasi Tao lima.
"Gerakan Cahaya! Pedang Langit Tingkat Satu!" Teriak Luo Jian melesat sambil memutarkan tubuhnya.
Swuuuuuuush!
"Xian Zhu hati hati!" Teriak salah satu tetua.
Luo Jian menyunggingkan senyum kecilnya. Gerakannya terlihat sederhana tapi yang pasti kecepatannya sangat luar biasa.
Slaaaaaash!
Xian Zhu, tetua sekte Tapak Api akhirnya tewas dengan luka goresan pedang yang dalam diarea lehernya. Melihat kematian Xian Zhu, wajah keduanya semakin waspada.
"Kau bagaimana bisa..." Ucap mereka menyelidik.
"Simplenya aku seorang Kultivator yang mengandalkan kecepatan," jawab Luo Jian tenang kemudian melirik Ling Hua yang tetap tenang.
__ADS_1
"Ling Hua, bantu saudara Long," ucap telepati Luo Jian.
Ling Hua mengangguk, hanya menjentikkan jarinya saja, ia kemudian muncul disamping Shui Long lalu kembali ketempat yang tadinya ia berada.
Melihat Shui Long aman, Luo Jian yang belum mengerti akal permasalahannya menghilangkan pedang hitam dari kehampaan.
"Tetua kenapa anda menyerang saudaraku?" Tanya Luo Jian.
Keduanya menaikan alisnya, namun tetap mereka memendam kebencian terhadap Luo Jian yang telah membunuh rekan mereka.
"Itu karena saudaramu tidak tahu diri!" Ucapnya kesal.
Giliran Luo Jian yang menaikan kedua alisnya.
"Tetua mohon jelaskan," ucap Luo Jian.
"Baiklah karena kamu juga akan mati hari ini, aku akan menjelaskannya. Aku diperintahkan oleh tuan muda Zhong untuk membunuhnya karena Dao Yun terus memikirkannya."
Luo Jian mengangguk.
"Saudara Jian, jangan melawan, sekte mereka salah satu sekte terbesar, jika anda menyinggungnya aku takut..." Ucap telepati Shui Long terhenti.
"Longer tenanglah, aku tahu batasanku, tapi ini masalahmu maka akan menjadi masalahku juga," balas telepati Luo Jian.
"Sepertinya tetua ini suka bercanda," ucap Luo Jian tenang.
"Bocah tak tahu diri! Saudara Li lebih baik bunuh cecunguk ini dahulu!" Ucap Yan.
"Berani menyinggung sekte kami maka kau harus mati!" Teriaknya murka.
Swuuuuuuush!
Dua tapak api muncul dari kehampaan. Luo Jian yang bersiap menghindar mengurungkan niatnya. Karena bagaimanapun jika ia berhasil menghindari serangan dua tapak api itu, kapal yang mereka tunggangi akan hancur. Dan tentunya mereka harus menyebrangi danau dengan cara berenang.
"Saudari Hua sekarang," ucap telepati Luo Jian.
Swuuuuush!
Ling Hua yang mengerti maksud Luo Jian segera muncul dan memblokir dua tapak api itu.
Dhuuuuuuaaar!
Ledakan yang membuat gelombang air danau membesar terjadi. Terlihat Ling Hua dengan santainya menepis kedua tapak api dengan satu tangannya. Sedangkan dua tetua itu melongo melihatnya.
Melihat kebodohan mereka yang membuat celah, Luo Jian segera melesat dan mengeluarkan pedang hitam lalu menyabetkan kearah Li.
"Saudara Li hati hati!" Pekik Yan melihat gerakan yang sangat cepat pada Luo Jian mengarah pada Li.
Klaaaaaaaang!
__ADS_1
Li yang belum siap segera mengeluarkan pedang tingkat rendahnya mencoba memblokir serangan pedang yang mengarah kearah lehernya. Namun sayangnya, pedang hitam menghancurkan pedangnya hanya sekali benturan saja. Dan hal itu membuat Li dan Yan menjadi pucat pasi.
"Si-siapa sebenarnya kalian..." Ucapnya gelagapan.
"Oooh aku hanya seorang bocah yang baru menginjak dunia persilatan yang seenaknya kau bully, tapi tenang saja setelah kejadian ini. Kalian bisa tanyakan namaku kepada raja neraka...," Ucap dingin Luo Jian kemudian menghentakan kakinya membuat kapal yang ditunggangi berat sebelah.
Swuuuuuush!
"Gerakan Cahaya! Pedang Langit Tingkat Satu!"
Teriak Luo Jian kembali mengeluarkan jurusnya. Luo Jian kemudian memperlihatkan kecepatannya sebagai pengguna elemen cahaya. Kecepatan yang hanya terlihat seperti cahaya keemasan terus bergerak menjauh dan mendekat.
Luo Jian kemudian bergerak zig zag membuat kedua tetua itu kebingungan mencari titik lesat keberadaan Luo Jian.
"Sangat cepat! Bahkan kecepatannya menyerupai kecepatan milik tetua Agung," ucap Yan yang disetujui oleh Li.
"Sedang bertarung tapi masih saja bisa berdiskusi!" Ucap Luo Jian tiba tiba sudah ada disamping Li dan pedang hitam siap menebas leher Li.
Slaaaaaash!
"...." Li yang ingin meminta pengampunan akhirnya telah mati. Sedangkan Yan termundur dari tempatnya melihat Luo Jian menyeringai kearahnya.
"Bo-bocah lepaskan aku, maka kau tidak akan terkena masalah," ucapnya penuh khawatir.
"Lepaskan? Masalah? Heeem sepertinya itu tidak berlaku padamu, karena rekanmu saja sudah mati," ucap tenang Luo Jian.
"Bo-bocah jika kau membunuhku, maka kau tidak akan bisa hidup tenang. Karena sekte kami tidak pernah mentolelir siapapun yang menyinggung sekte kami," ucapnya serius mencoba meyakinkan.
Sebuah ide terlintas dipikirannya, setelah memikirkannya dengan matang. Luo Jian menganggukan kepalanya membuat Yan benar benar merasa senang.
"Kau boleh pergi dari sini hidup hidup, asalkan berikan cincin ruangmu padaku," ucap Luo Jian tenang.
"Ba-baik tuan," tanpa membantah, Yan memberikan cincin ruangnya. Setelah itu Yan pergi dengan cara berenang kearah sekte Tapak Api.
Melihat kepergian tetua itu, Luo Jian memungut dua cincin tetua yang telah ia bunuh. Lalu mayatnya ia buang ketengah danau dengan santainya.
"Saudara Jian, apakah ini tidak menjadi masalah membiarkannya pergi," ucap penuh khawatir Shui Long.
"Longer tenanglah, aku sudah memiliki rencana. Jadi kau tidak perlu khawatir, oh iya telanlah pill ini," ucap Luo Jian memberikan pill penyembuh kepada Shui Long.
Shui Long menerimanya dengan senang hati, setelah menelannya. Shui Long kemudian berlutut dihadapan Luo Jian.
"Saudara Jian, terimakasih."
"Longer berdirilah, aku tidak pantas menerima penghormatan darimu," ucap Luo Jian tulus.
Ling Hua hanya terdiam melihat sosok Kaisar Langit yang sangat merendahkan dirinya. Bahkan pikiran lalu saat Kerajaannya hancur telah ia buang sepenuhnya.
"Ooh iya, Longer kenalkan dia Ling Hua, saudariku. Ling Hua dia Shui Long, saudaraku juga," ucap Luo Jian memperkenalkan Ling Hua.
__ADS_1
Setelah memperkenalkan keduanya. Dan Shui Long yang tersadar bahwa Ling Hua sangatlah cantik tiba tiba salah tingkah.
"Saudari Hua terimakasih telah membantuku tadi," ucap Shui Log.