
Luo Jian yang tidak tahu tentang keberadaan Weng Lao berada dikamarnya itu kembali melakukan hal yang sama. Tepatnya setelah menghancurkan beberapa rantai emas yang mengekang pikirannya itu, Luo Jian telah menambah sekitar dua puluh persen ingatan tambahan yang ia ketahui. Ingatan itu berdasarkan rentetan peristiwa selama ia menjadi Kaisar Langit pada masa pemberontakan yang dilakukan oleh seseorang yang telah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Kejadian selama dua minggu itu juga membuat Weng Lao begitu kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Luo Jian. Terlihat seperti meditasi, tapi beberapa waktu aura kekacauan terus merembes pada tubuh Luo Jian. Dan hal itu yang menyebabkan kerisauan, karena ia tidak tahu tujuan yang akan dilakukan oleh Luo Jian.
"Sampai saat ini, Dai Mubai masih belum kembali untuk mencari identitasnya di klan Cahaya."
Karena ia sendiri tahu, besok adalah turnamen akan dimulai, Weng Lao akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari kamar Luo Jian. Lima murid yang juga tidak mengetahui akan adanya sosok Weng Lao itu akhirnya memutuskan untuk membangunkan Luo Jian dari pelatihan tertutup yang membuat mereka gelisah.
"Tuan Lang, bangun turnamen sebentar lagi akan dimulai," ucap salah satunya memberanikan diri.
Luo Jian yang terhanyut dalam pikirannya itu seketika mengambil alih kesadarannya. Perlahan matanya terbuka, tapi sangat jelas bahwa matanya itu memerah seperti mengalami kesedihan yang tidak berujung. Hanya dia yang tahu apa yang ia rasakan.
"Teman, terimakasih telah menjagaku," ucap Luo Jian tersenyum ramah.
Setelah berterimakasih dan berbincang dengan ramah. Kelimanya akhirnya tahu sedikit tentang sifat Luo Jian yang ternyata tidak sekejam perilaku atau pertarungan yang mereka lihat ketika dilapangan pelatihan. Ketika kelima murid itu keluar dari ruangan karena ingin mengisi perut mereka, tiba tiba Luo Jian tersadar, bahwa jubahnya saat ini terdapat banyak noda darah yang telah mengering.
"Ini..." Ucapnya tercekat.
Karena tidak ingin menjadi perhatian lebih saat keluar dari kamar, Luo Jian memutuskan untuk mengganti jubahnya, dan setelah itu ia segera keluar dari asrama untuk mencari Yang Shen.
Tiga puluh menit mencari Yang Shen, akhirnya Luo Jian menemukan Yang Shen berada disebuah tempat yang sepi.
"Saudara Shen," sapa Luo Jian kemudian menghampiri Yang Shen.
Seketika Yang Shen membalikan tubuhnya, senyuman manis sebagai rasa saudara ia sunggingkan dengan tulus.
"Saudara Lang ternyata telah keluar dari pelatihan tertutup," ucap Yang Shen.
__ADS_1
Luo Jian hanya menganggukan kepalanya, kemudian keduanya berbincang sejenak. Dari perbincangan yang mereka bicarakan itu, Luo Jian cukup terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Yang Shen. Terdapat tiga informasi yang saat ini situasinya sedang memanas.
"Yang pertama namamu kini telah tersebar dikalangan sekte utama," ucap Yang Shen.
"Yang kedua, tiga murid urutan teratas kini mulai mencari identitasmu, dan karena itu bawahan mereka atau aliansi mereka kini mulai bergerak mencarimu untuk memberikanmu pelajaran."
"Yang ketiga, ketua puncak Ling secara pribadi ingin mengangkatmu sebagai muridnya," ucap lagi Yang Shen yang membuat Luo Jian itu terkejut.
Tentu Luo Jian sangat terkejut, bukan perihal tiga murid teratas yang ingin memberinya pelajaran. Tapi She Yin tiba tiba memintanya secara pribadi mengangkatnya sebagai murid tanpa harus mengikuti turnamen.
"Saudara sepertinya kau sudah memutuskan jalan yang akan kau tempuh bukan? Tapi kita sepertinya akan berpisah, karena bagaimanapun..." Ucap terhenti Yang Shen terpotong oleh Luo Jian.
"Kau datang kesekte ini hanya untuk membalaskan dendam adikmu, dan kini kau telah menyelesaikan tugasmu."
"Saudara maafkan..."
Pembicaraan keduanya terus berlanjut hingga pada tengah malam. Setelah memberikan plat emas milik keluarga Yang, Yang Shen yang akan segera keluar dari sekte itu akhirnya kembali keasramanya sendiri.
"Saudara jika kau ada waktu senggang, jangan lupa datang ke klan kami, karena aku akan selalu menyambutmu dengan baik," ucap Yang Shen kemudian menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Merasa tidak ada kegiatan, Luo Jian memutuskan untuk berlatih ditempat itu seorang diri. Teknik berpedang yang diberikan oleh Weng Lao terus ia pelajari, hingga pada pagi harinya.
"Sepertinya turnamen akan dimulai," gumam Luo Jian merasakan banyak aura para murid yang bergerak kearah selatan.
Swuuuuush!
Luo Jian menghentakan kakinya dan segera pergi kearah selatan, yaitu panggung turnamen pemilihan murid dalam. Setibanya.
__ADS_1
"Sangat ramaii," ucap Luo Jian merasa malas untuk mengantri.
Tapi disaat ia melangkahkan kakinya untuk melakukan pendaftaran, para murid luar yang mengetahui identitasnya segera minggir dan memberikan tempat mengantri mereka dengan suka rela. Mendengar nama Yin Lang mendaftar pada pemilihan murid dalam, murid luar seketika minggir dari tempat mengantri mereka dan membuka jalan.
Hal itu menyebabkan Luo Jian begitu senang, karena tanpa mengantri ia telah mendapat nomor punggung tiga puluh dua. Setelah mendapatkan nomor punggung, Luo Jian kemudian memasuki sebuah portal dimensi yang dijaga oleh beberapa tetua.
Swuuuuush!
Tubuh Luo Jian muncul di dunia buatan milik Weng Lao. Terlihat sangat ramai para murid yang menonton pemilihan murid dalam itu. Luo Jian yang menjadi peserta itu akhirnya mencari bangku kosong untuk menunggu turnamen dimulai. Lima belas menit mencari bangku, akhirnya ia mendapatkannya.
Matanya yang tajam menatap kearah bangku para tetua sekte utama. Tapi yang pasti, Luo Jian hanya mencari keberadaan She Yin. Setelah melihat She Yin duduk bersebelahan dengan Weng Lao. Luo Jian tidak sengaja menatap tiga murid dengan mengenakan jubah dalam yang juga menatapnya dengan tajam.
"Sepertinya mereka yang diceritakan oleh Yang Shen," gumam Luo Jian masih bersikap santai padahal ketiga murid itu terus menatapnya dengan tatapan merendahkan.
Disisi lain tepatnya ketiga murid yang merupakan tiga peringkat besar pemenang dalam turnamen murid dalam itu yang menatap tajam Luo Jian kini terlihat seperti tidak tertarik sama sekali.
"Sepertinya aku tidak pantas melawannya," ucap Tang Wei sedikit menggunakan nada merendahkan.
Ruo Gu dan Mu Lei yang merupakan peringkat satu dan dua itu hanya diam, mereka juga tidak tertarik dengan Yin Lang yang dikatakan sedang naik daun itu. Tiga jam menunggu, akhirnya turnamen dimulai. Yin Kun yang merupakan wakil pemimpin sekte itu hadir ditengah lapangan menjelaskan aturan demi aturan. Ia juga menjelaskan bahwa setiap murid boleh menyerah sebelum bertanding. Karena disaat pertandingan dimulai, membunuh sesama murid itu diperbolehkan.
Swuuuuuush!
muncul papan peringkat diatas langit sesuai nomor punggung setiap peserta. Setelah munculnya papan peringkat, Yin Kun kembali membuat segel tangan dan setelah itu setiap nomor punggung itu akan dipertemukan dengan nomor punggung lainnya.
"Nomor satu melawan nomor tiga puluh dua!" Ucap menggema Yin Kun.
Hal itu membuat semua penonton dan juga peserta mencari kedua sosok itu. Saat mereka tahu bahwa nomor tiga puluh dua adalah Yin Lang. Semua penonton dan juga pesertsa bersorak untuk mendukung Yin Lang.
__ADS_1