
Yi Shi yang terpana dengan jurus milik Shui Long meningkatkan kewaspadaannya. Tombak yang melesat membuatnya harus menghindar kesana kemari, bergerak zig zag untuk menghindari tombak yang terus mengikuti langkahnya.
"Tombak ini dikendalikan oleh pemilik, maka kelemahannya hanyalah sang pemilik!" Ucap Yi Shi bergerak kearah Shui Long sambil menghindari tombak yang terus mengejarnya.
Hingga tepat tiga meter didepan Shui Long. Yi Shi melepaskan serangan selendangnya tepat dijantung Shui Long. Sedangkan tombak Shui Long bergerak lebih cepat dan akhirnya tiba dipunggung Yi Shi mendahului gerakan selendangnya.
"Kamu kalah!" Ucap Shui Long.
Yi Shi menghentikan laju selendangnya dan menatap kebelakang tubuhnya kearah tombak milik Shui Long.
"Saudara aku mengaku kalah!" Ucap Yi Shi sadar akan kekalahannya.
Shui Long mengendalikan tombaknya kearahnya sendiri dan ia tancapkan diatas panggung. Setelah itu, Shui Long dikatakan sebagai pemenang yang menunjukan teknik tombaknya yang cukup membuat siapapun terkagum kagum, bahkan ayah Dao Yun tidak dapat mempercayainya. Luo Jian yang melihat kemenangan Shui Long menganggukan kepalanya.
"Peningkatan yang cukup drastis," ucap Luo Jian bangga.
Karena hari telah beranjak sore, turnamen sesi kedua diberhentikan dan akan dilanjutkan pada besok harinya.
Di penginapan.
"Saudara Long kau sungguh sangat keren!" Puji Ling Hua.
"Hehehe saudari bakatku tidak seberapa dengan bakat saudara Jian dan anda," ucapnya merendah.
Luo Jian mengangguk puas dengan sifat Shui Long yang tidak selalu merasa bangga. Karena itu ia yakin, suatu saat Shui Long dapat membantunya membantai para Dewa jika waktu itu sudah tiba.
"Saudara gelas pertama ini untuk merayakan kemenanganmu!" Ucap Luo Jian meneguk araknya.
"Saudara Long! Semoga kau bertambah hebat!" Ucap Ling Hua juga meneguk arak gelas pertamanya.
"Saudara, saudari aku ucapkan terimakasih," balas Shui Long juga menenggak araknya.
Tak berselang lama, pintu kamar diketuk oleh Yan Long dan Fang Lao. Tentu Shui Long sendiri yang membukakan pintunya sebagai tanda hormat, dan ia sendiri telah bersumpah untuk menjadi murid disekte Naga Langit sebelum turnamen dimulai.
"Guru!" Sapa Shui Long.
"Hehehehe! Bocah kau sungguh menunjukan bakatmu yang luar biasa, jika boleh tau kau menggunakan jurus apa?" Tanya Yan Long penasaran.
Shui Long yang kebingungan menjawab menatap Luo Jian untuk meminta jawabannya. Namun Luo Jian hanya menaikan kedua bahunya sebagai balasan.
__ADS_1
"Hehehe Senior disaat perjalanan menuju kemari, aku, saudara Jian dan Hua menemukan kitab tingkat tinggi, jadi karena kitab itu cocok padaku. Mereka berdua memberikannya padaku," alasan Shui Long.
Yan Long menatap Luo Jian dan Ling Hua secara bergantian seakan akan mereka meminta jawaban atas ucapan Shui Long.
"Itu benar senior," ucap Luo Jian.
Yan Long akhirnya mempercayai ucapan Shui Long, sesaat setelah itu keduanya ikut minum arak untuk merayakan kemenangan Shui Long. Namun disela sela itu, Yan Long menatap Luo Jian dengan serius.
"Tuan aku rasa masalah anda, sekte Tapak Api dan juga keluarga Gao Xhuan tidak akan baik baik," ucap Yan Long.
"Aku tahu itu, dan sepertinya anda tidak perlu ikut campur urusan ini, karena dari kekuatan mereka mungkin akan lebih besar dari sekte anda." Jawab Luo Jian tenang.
"Ta-tapi..."
"Senior aku sudah punya rencana tersendiri, jadi tenanglah," ucap Luo Jian meyakinkan.
Pada akhirnya Yan Long mempercayai Luo Jian meskipun ia sendiri masih belum percaya bahwa Luo Jian mampu menghadapinya sendiri.
Arak yang telah habis, diartikan perayaan tersebut telah selesai. Karena itu Yan Long dan Fang Lao kembali kekamar mereka masing masing.
Pagi harinya.
"Anakku, aku khawatir Shen Long akan membuat kekacauan yang lebih parah lagi. Ingatkah kematian kami berdua?" Tanya ayahnya.
"Luo Jian mengingatnya ayah," balas Luo Jian sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Ayah dan ibunya kemudian memberikan ingatan penting tenang keduanya yang rela menyatu dengan alam Dewa.
"Ayah jadi waktu lalu saat pertempuran Surgawi ibu dan ayah..." Ucap Luo Jian tercekat mengingat bahwa kehidupan kedua orang tuanya untuk menyatu dengan alam Dewa bukanlah alasan yang biasa.
"Itu benar anakku, mungkin Shen Long telah termakan omongonannya, jadi dia berani mengkhianatimu."
"Ayah tapi kelakuan mereka tidak bisa aku maafkan!" Ucap kesal Luo Jian.
"Segala sesuatu ada sebab dan akibat anakku, tugasmu saat ini sangat berat. Dan mungkin perang Surgawi akan segera terjadi lagi jika kau kembali ke alam Dewa. Karena itu, ayah memintamu untuk selalu hati hati dalam melangkah," ucap ibunya membuka suara.
"Baik ibu, Luo Jian akan mengingatnya," ucap Luo Jian kemudian berlutut didepan kedua orang tuanya.
Setelah berlutut, ayah dan ibunya kembali memberikan pencerahan yang membuka pikiran Luo Jian dari yang tadinya ingin menjadi kuat untuk balas dendam, kini menjadi sebuah kelembutan dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Ayah tapi ..."
"Nak kelembutan memang sangat lucu jika digunakan untuk membunuh, tapi kelembutan itu sendiri adalah senjata mematikan dari mereka yang berasal dari sifat yang lembut."
"Ayah aku masih belum mengerti," ucap Luo Jian.
"Kau akan mengerti disetiap perjalananmu menjadi abadi anakku, ingatlah kami menunggumu tiba di alam Dewa untuk membawa kembali kedamaian," ucap ayahnya kemudian menghilang bersama ibunya.
"Ayah... Ibu..." Teriak Luo Jian sambil berteriak terbangun dari tidurnya.
"Saudara..." Ucap terkejut Ling Hua.
"Tidak apa apa saudari, aku hanya bermimpi tentang kedua orang tuaku saja," ucap Luo Jian.
Ling Hua mengangguk, dan kemudian Luo Jian mencari keberadaan Shui Long yang tidak ada dikamar.
"Saudari Hua dimana saudara Long berada?" Tanya Luo Jian.
"Saudara, Shui Long telah keluar dari penginapan untuk persiapan turnamen," jawab Ling Hua.
Luo Jian mengangguk, setelah itu ia memikirkan rencana terhadap Bao Yun yang bisa dikatakan harus matang. Karena Bao Yun sendiri mungkin sudah bisa menebak bahwa ia adalah reinkarnasi Kaisar Langit.
"Saudari, apakah kau mau membantuku?" Tanya Luo Jian.
"Saudara tentu," ucap Ling Hua.
Luo Jian akhirnya bisa merasa sedikit tenang, kemudian ia memberikan rencanannya yang akan ia lakukan dibalik kekacauan yang akan segera terjadi.
"Apakah saudari paham?"
"Paham, dan bagaimana jika Bao Yun menyadarinya?" Tanya Ling Hua.
"Yang hanya saudari lakukan hanyalah menyamar menjadi diriku saja, sedangkan masalah itu aku bisa atasi sendiri," ucap Luo Jian kemudian memberikan teknik penyamar tubuh.
Ling Hua kemudian mempelajari kitab itu dengan tenang. Sedangkan Luo Jian meminta stempel darah milik Ling Hua.
Swuuuuuush!
Tubuh Luo Jian berubah menjadi Ling Hua. Entah dari wajah hingga seluruh tubuhnya, tidak hanya fisik melainkan suara dan tingkahnya pun Luo Jian mencoba membiasakannya.
__ADS_1
"Saudari, sudah saatnya kita beraksi, ini stempel darahku, ingatlah lakukan dengan hati hati," ucap Luo Jian.