Kaisar Langit

Kaisar Langit
Leluhur


__ADS_3

"Naif!" Ucap Luo Jian kemudian melepaskan pedang hitam dengan menggunakan energi Qinya.


Swuuuuuuush!


Dewi Yuan seketika membelalakan matanya disaat pedang hitam melesat dengan kecepatan yang ia sendiri tidak dapat mengikutinya.


Slaaaaaash!


Pada akhirnya, Dewi Yuan tewas terjatuh kearah tanah. Chi Yue yang telah membunuh Dewi Yuan itu kembali kearah Luo Jian, pedang itu berdengung seolah olah sedang berbicara dengan tuannya.


"Apakah kalian masih ingin bersikap bodoh dan naif? Aku beri waktu tiga menit untuk segera keluar dari sekte ini!" Ucap menggema Luo Jian yang membuat para murid dan beberapa tetua segera terbang lari terbirit birit keluar dari sekte utama.


Setelah waktu yang ditentukan telah usai, dan hanya tersisa puluhan anggota klan Cahaya yang masih tersisa itu, tiba tiba keseimbangan Luo Jian mulai goyah lalu terjatuh dari atas langit.


Swuuuuuung!


Chi Yue yang masih menjadi pedang hitam itu segera melesat dengan sendirinya menopang tubuh Luo Jian, setelah menurunkannya tepat dihadapan Luo Zhang. Luo Jian yang merasa tidak bisa menggerakan tubuhnya akibat kekuatan yang sangat besar itu kemudian menyunggingkan senyumnya dan seketika tak sadarkan diri.


Tujuh hari berlalu, Luo Jian akhirnya terbangun di atas tempat tidur yang sangat asing baginya.


"Aku dimana," gumam Luo Jian lalu terkejut disaat pedang hitam yang tak lain Chi Yue berada disampingnya.


"Tuan, akhirnya kau sadarkan diri setelah tujuh hari berlalu," ucap Chi Yue yang membuat Luo Jian terkejut.


"Lalu aku berada dimana?"


Chi Yue menjelaskan bahwa mereka saat ini berada ditempat klan Cahaya yang hanya tersisa ratusan anggota saja. Tidak hanya itu, Chi Yue menjelaskan alasan kenapa Luo Zhang membawanya ke klan cahaya dan merawat Luo Jian selama tak sadarkan diri.


"Baiklah, apakah kamu ingin..."

__ADS_1


"Tidak tidak, lebih baik aku menjadi pedang hitam yang selalu kau bawa disamping pahamu dari pada berada didalam cincin ruang busuk itu," ucap potong Chi Yue dengan cepat.


Luo Jian hanya bisa menyunggingkan senyumnya melihat Chi Yue yang merasa bosan berada didalam cincin ruangnya selama ia hilang ingatan. Ditengah percakapan mereka, tiba tiba pintu kamar terbuka. Muncul Luo Zhang dan beberapa tetua yang menghampiri Luo Jian.


"Bocah bagaimana kondisimu?" Luo Zhang menghampiri Luo Jian dan segera memeriksa kembali tubuh Luo Jian dengan teliti.


"Aku tidak menyangka ternyata iblis itu juga tidak mengambil nyawamu setelah membunuh Weng Lao," ucap Luo Zhang kemudian berterimakasih pada Luo Jian yang ia sendiri belum mengetahui identitas yang sebenarnya dimiliki oleh Luo Jian.


"Nak siapa namamu? Setelah kamu sembuh dari luka dalam ini bagaimana jika aku sendiri yang mengantarkanmu pulang?" Tanya Luo Zhang.


Sambil memberikan senyuman tulusnya. "Senior aku Luo Jian dan sepertinya itu tidak perlu senior lakukan, karena aku..." Ucap Luo Jian terhenti.


"Kau bermarga Luo?" Tanya Luo Zhang kemudian menatap para tetua dengan tidak yakin.


Swuuuuush!


Ditengah kebingungan Luo Zhang, tiba tiba Luo Lang muncul dan kemudian membenarkan ucapan Luo Jian berkat giok jiwa milik tetua yang telah bersekutu dengan iblis sembilan kepala memberikan sebuah pesan menggunakan kekuatan jiwa sebelum mereka dihancurkan oleh Luo Jian.


"Leluhur maafkan kelancangan kami," ucap Luo Lang membuat para tetua lainnya kebingungan.


Luo Jian hanya bisa melototkan matanya, mungkin benar ia pantas menjadi leluhur mereka, tapi saat ini keadannya sungguh berbeda dengan kenyataan saat ini. Melihat para tetua dan Luo Zhang tidak berlutut, Luo Lang memberikan pesan dari tetua yang mengorbankan diri mereka.


"Ini nyata atau..." Ucap tercekat Luo Zhang kemudian segera berlutut yang diikuti oleh para tetua lainnya.


"Leluhur maafkan ketidak sopanan kami!" Ucap mereka kompak.


Luo Jian menghela napas sejenak. "Lebih baik kalian panggil saja namaku, karena saat ini aku bukan siapa siapa lagi, jadi kalian tidak perlu sungkan," ucap Luo Jian.


Mereka semua masih berlutut dan tidak berani menatap wajah Luo Jian sama sekali.

__ADS_1


"Aiiish kenapa identitasku terbongkar secepat ini," ucap dalam hati Luo Jian kemudian ia menghampiri Luo Zhang dan merangkulnya dengan hangat agar mereka tidak terlalu sungkan padanya.


Luo Jian yang tidak bisa menyangkal lagi akhirnya menjelaskan bahwa ia adalah anak dari Luo Ling yang merupakan patriak terdahulu sejak generasi awal patriak klan Cahaya di Benua Api. Hal itu cukup membuat mereka semua merasa bersalah, akibat generasi mereka. Klan Cahaya saat ini telah hancur, melihat raut wajah mereka yang merasa bersalah Luo Jian jadi tidak enak hati.


"Kalian mungkin bukan generasiku, tapi kalian tetaplah saudaraku, sahabatku, rekanku dan tentunya keluargaku. Karena itu mulai hari ini kalian bersikaplah seperti biasa padaku, karena aku sangat risih jika kehadiranku ini akan menjadi perbedaan derajat kalian. Dan satu lagi, aku ingin kalian dapat membangkitkan klan Cahaya ini dengan baik," ucap Luo Jian.


"Baik Luo..." Ucap mereka kebingungan.


"Jian," jawab Luo Jian memberikan senyumnya.


Mereka mengangguk, dan kini mereka saling membagikan cerita mereka masing masing. Merasa Luo Jian orang yang terbuka membuat mereka nyaman ketika berbincang dalam bercerita satu sama lain.


"Saudara Jian, menurutmu apakah aku harus mengganti aturan klan?" Tanya Luo Zhang.


"Itu tidak perlu, yang harus kalian lakukan hanyalah mengembangkan aturan klan menjadi menarik, sehingga anggota klan akan merasa senang dan tentunya akan menjadi motivasi kehidupan mereka," jawab Luo Jian.


"Saudara benar, lalu jika boleh tau kenapa saudara turun ke alam fana, dan kekuatan saudara..." Ucap Luo Zhang yang sangat penasaran.


Luo Jian yang sebenarnya tidak ingin mengingat peristiwa kelam yang terjadi dialam Dewa kemudian menceritakan inti permasalahannya. Bahkan ia menceritakan tentang Luo Ling, orang tuanya yang telah mati akibat menyatu dengan alam Dewa setelah peperangan dengan klan Iblis. Tentu mereka terkejut, karena yang mereka tahu alam Dewa sangatlah damai, dan tidak kacau. Namun kenyatannya alam Dewa itu sama saja dengan alam fana.


"Jika begitu maka saudara..." Ucap mereka tersadar akan sesuatu.


Luo Jian menganggukan kepalanya sambil tersenyum hangat.


"Setinggi apapun yang telah kau raih itu hanya bersifat sementara. Karena pada dasarnya Dewa, Kultivator hanyalah sebuah kertas," ucap Luo Jian membuat mereka sangat penasaran.


"Maksud saudara?"


"Ingatlah waktu tetap berputar, dan takdir selalu menentukan nasib, benar kita adalah kertas. Karena apa yang saat ini kalian raih, dan setinggi apapun yang telah kalian capai, jangan pernah kalian pamerkan atau sombongkan. Ingatkah fungsi dari kertas itu sendiri?" Tanya Luo Jian.

__ADS_1


"Kertas adalah media untuk menulis ataupun menyampaikan pesan secara lisan," ucap Luo Zhang masih sedikit heran.


"Benar, dan posisi kita sendiri itu hanyalah selembar kertas, disaat pena yang disebut dengan takdir bergerak, maka apapun kehendaknya pasti akan terjadi. Apakah kalian sudah tau tentang hal ini," ucap Luo Jian tenang.


__ADS_2