Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 10 : Perkenalan Albern dan Evans.


__ADS_3

Evans membawa Elena masuk ke dalam rumah sembari berlari tergopoh-gopoh. Di belakangnya, Lily dan Anna mengikuti langkah sang tuan muda.


Sesampainya di kamar sang adik, Evans langsung merebahkan tubuh gadis itu di ranjang dan membuka topinya.


"Apa kita harus menelepon Tuan dan Nyonya, Tuan Muda? Ahh, atau kita bawa saja langsung ke rumah sakit!" seru Lily panik.


"Tidak perlu. Dia hanya kelelahan. Tolong, gantikan pakaiannya dan lap dengan air hangat," titah Evans.


"Baik, Tuan. Pekerjaan yang masih tersisa biar saya dan Anna yang selesaikan. Tuan bisa beristirahat saja."


Evans mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Elena, setelah menatap gadis itu sekali lagi.


...***...


Di dalam kamar, Evans tak bisa berhenti memikirkan kondisi adiknya tersebut. Rasanya, semenjak dia pulang ke rumah, ada saja hal aneh yang tampak dari sikap Elena.


Evans benar-benar tidak mengerti mengapa Elena bisa seperti itu.


Keanehan yang terjadi pada diri sang adik, membuat Evans sedikit mengkhawatirkannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Bodoh!" maki Evans dalam hati. Pria itu refleks menggelengkan kepalanya, demi mengenyahkan pikiran-pikiran menyebalkan yang baru saja hinggap di dalam otaknya.


...***...


Sementara itu, Elena tiba-tiba tersadar setelah Lily selesai membuka pakaian atasnya.


"Loh, kok, aku di sini?" tanya Elena kebingungan.


"Nona tadi pingsan karena kelelahan. Sekarang, lebih baik Nona istirahat dulu. Anna dan saya yang akan melanjutkan pekerjaan sisanya," jawab Lily.


"Pingsan?" gumam Elena sembari mengingat-ingat hal tersebut. Namun, Elena benar-benar tidak ingat apa yang menyebabkan dirinya jatuh pingsan.


"Lalu, kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Elena lagi.


"Tuan Muda yang menggendong Anda sampai kemari, Non. Beliau terlihat sangat panik tadi."


Mendengar jawaban Lily, Elena menatap tidak percaya. Bagaimana bisa orang yang selalu membuat dirinya menangis, tiba-tiba merasa khawatir? Itu hanya kamuflase. Evans hanya tak ingin orang-orang tahu sifat aslinya.

__ADS_1


Tak ingin memikirkan hal tersebut, Elena bergegas bangun dari ranjang.


"Eh, Non, jangan bangun dulu," sergah Lily.


"Aku sudah tidak apa-apa. Tubuhku kotor semua dan aku ingin mandi. Jangan lupa, tolong ganti sprei-nya," titah Elena setelah menyadari bahwa ranjang tidurnya kotor oleh beberapa potongan rumput yang masih tertinggal di tubuh gadis itu.


"Baik, Non." Tanpa diminta dua kali, Lily segera mengambil sprei baru dari dalam lemari Elena.


...***...


Hampir menjelang malam, Albern datang ke rumah keluarga Wileen untuk mengunjungi Elena.


Semula, pria itu menelepon sang kekasih untuk mengajaknya jalan-jalan sore sekaligus makan malam di luar. Namun, begitu mengetahui Elena dalam kondisi yang kurang baik, Albern bergegas menbatalkan rencananya dan pergi ke sana.


"Sayang, kau benar sudah tidak apa-apa? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Kau bilang, akhir-akhir ini kepalamu sering sakit" Albern memasang mimik khawatir.


Elena tersenyum. "Aku sudah tidak apa-apa. Cuaca tadi siang sangat terik, jadi kepalaku mendadak pusing. Soal sakit kepala, mungkin karena aku terlalu sibuk memikirkan hari kelulusan saja," jawab gadis itu, berusaha menenangkan hati sang kekasih.


"Kau memang tidak boleh berada di bawah panas matahari langsung, Sayang. Itu tidak bagus untuk kulitmu," kata Albern.


"Aku serius, kau malah tertawa!" seru Albern seraya bersungut-sungut.


"Iya, iya, Tuan William. Terima kasih atas nasihat dan perhatiannya." Sebuah kecupan singkat dari Elena, mendarat pada pipi Albern.


Albern tertawa kecil. Mereka pun menghabiskan waktu di kamar Elena dengan menonton televisi, seraya menikmati kudapan yang dibeli Albern untuk sang kekasih.


"Jangan sakit lagi, kau membuatku panik," ucap Albern seraya mengeratkan dekapannya pada tubuh Elena yang tengah bersandar padanya. Pria itu melancarkan kecupan-kecupan manis pada telinga, pipi, dan leher gadis itu.


"Baik, Mr. William," jawab Elena. Gadis itu terkikik geli akibat perlakuan usil yang diberikan sang kekasih. Elena mengusap lembut pipi Albern dan menoleh padanya.


Jarak mereka yang sangat dekat membuat Albern tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraup bibir tipis kekasih hatinya tersebut.


Elena sontak memutar tubuhnya menghadap Albern, dan mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.


Bibir mereka saling memagut mesra. Begitu pula dengan l1d4h mereka yang saling membelit satu sama lain, hingga keduanya benar-benar kehabisan oksigen untuk dihirup.


"Aku mencintaimu, El," ucap Albern parau. Pria itu mencium Elena kembali, dan menggigit-gigitnya gemas.

__ADS_1


"Aku juga," jawab Elena dengan wajah memerah, ketika berhasil melepaskan diri. Meski mereka sering bermesraan, Albern dan Elena tidak pernah berbuat lebih jauh. Keduanya memang hidup di negara bebas, tetapi Albern sudah berjanji pada Elena untuk tidak melakukan hal-hal lebih dalam, sebelum mereka bertunangan kelak.


...***...


Evans yang hendak turun ke lantai bawah tanpa sengaja berpapasan dengan Albern dan Elena di depan tangga. Pria muda itu berniat untuk pulang ke rumah.


Melihat sang kakak, mau tak mau Elena memperkenalkan mereka. Dia tak mungkin diam saja, sebab Albern sama sekali tidak mengetahui konflik yang terjadi di antara mereka berdua.


"Al, kenalkan ini kakakku, Evans," ujar Elena pada sang kekasih. Matanya kemudian beralih pada sang kakak. "Kak, ini Albern, kekasihku."


Albern memasang senyum terbaiknya dan mengulurkan tangan pada Evans terlebih dahulu.


Evans menyambut uluran tangan Albern dan mengangguk singkat.


"Salam kenal, Kak Evans. Semoga ke depannya, kita bisa saling mengenal lebih dekat. Jangan sungkan untuk menegurku, jika aku berbuat salah pada adikmu," ujar Albern penuh sopan santun.


"Ya." Hanya itu jawaban yang dikeluarkan Evans. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia pun segera turun ke bawah duluan.


Mendapati sikap kakak dari kekasihnya terasa dingin, Albern merasa sedikit tersentil.


Perkenalan tersebut membuat Albern sudah dapat menebak, bagaimana karakter pria tampan bertubuh atletis tersebut.


Elena yang merasa tidak enak hati sontak memegang tangan Albern. "Sayang, tolong jangan pedulikan kakakku ya? Mohon dimaklumi saja, dia memang orang yang sangat dingin dan sedikit tertutup," kata Elena lirih.


"Tidak apa-apa Sayang, aku mengerti. Kalau begitu, aku pulang dulu. Tak perlu mengantarku sampai ke bawah. Istirahatlah." Albern memeluk Elena dan mencium bibirnya lembut.


Elena membalas ciuman Albern singkat dan mengecup pipi pria itu juga.


"Sampaikan salamku pada mama dan papamu," pesan Albern.


Elena mengangguk. "Sampaikan salamku untuk keluargamu juga." Elena melepaskan pelukan sang kekasih dan melambaikan tangannya.


Gadis itu memperhatikan Albern yang turun ke lantai bawah dan pergi keluar rumah, dengan di antar salah seorang maid, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar lagi.


"Ada masalah apa sih, orang itu? Tingkahnya sangat-sangat menyebalkan. Aku ... digendong olehnya? Ha ha ha, dasar manusia bertopeng. Dia hanya tak ingin image-nya buruk saja di mata orang lain!" seru Elena ketus, seraya membanting pintu kamar.


"Dasar br3ngsek!"

__ADS_1


__ADS_2