
Sepulang dari kafe, Evans langsung sibuk berkutat di dapur untuk memasak makan malam. Dia memang sengaja tidak menunggui kafe hingga tutup, karena Elena terus saja membuntutinya. Pria itu juga risih dengan beberapa orang warga yang menanyakan identitas Elena setiap bertemu dengannya, terutama laki-laki.
Bahkan, ada yang terang-terangan meminta izin pada Evans untuk bisa mengenal Elena lebih jauh.
Evans tentu saja menolak keras, dengan mengatakan bahwa dia telah memiliki tunangan.
Kini, pria yang sedang serius berada di depan kompor, seketika dikejutkan dengan ulah Elena yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang, seperti tadi pagi.
"Lepas!" titah pria itu dingin.
"Jadi, siapa tunanganku, yang kau maksud?" tanya gadis itu.
Evans menghela napasnya. "El ...,"
Elena memajukan bibirnya beberapa centimeter. Sembari menahan kekesalan, dia melepaskan pelukannya dari belakang. Namun, bukannya pergi, gadis itu malah menyusupkan tubuh mungilnya ke depan tubuh Evans.
Evans yang tengah berdiri di hadapan kompor, refleks mematikan api.
"Apa-apaan kau! Aku sedang masak! Tubuhmu bisa terkena api!" hardik pria itu.
"Biarkan saja!" seru Elena tak mau kalah.
Kesal dengan tingkah gadis itu, Evans pun berbalik menuju meja pantry.
Tak ingin menyerah begitu saja, Elena kembali menyusupkan tubuhnya di antara meja pantry dan tubuh Evans. Dia bahkan naik ke atas meja agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah pria itu.
"Elena!" hardik Evans.
Elena tersenyum manis.
Melihat itu, Evans pun menghela napasnya. Rasanya percuma memarahi gadis itu, jadi lebih baik dia diamkan saja.
Evans pun memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, baru saja dia hendak berbalik pergi, Elena sudah mengalungkan tangan dan kakinya di tubuh pria itu.
Dalam sekali hentakan, dia bahkan sudah berada dalam gendongan Evans.
Evans sendiri sama sekali tidak menyentuh tubuh Elena, dan membiarkan gadis kecil itu berusaha mempertahankan berat tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Berhenti bersikap seperti ini El! Inikah yang kau lakukan pada setiap pria, untuk menarik perhatian mereka?" ujar Evans tajam.
"Hanya padamu!" Hafal dengan perkataan tajam pria itu, Elena tak lagi merasa sakit hati.
"Lepaskan aku, El!" seru Evans tegas.
"Sudah aku bilang, jangan pernah berani-beraninya mengusirku, kalau tidak ingin kucium lagi!"
"Ak—" Belum sempat Evans menyuarakan kekesalannya, Elena sudah meraih bibir Evans dan mengecupnya mesra.
Kaki gadis itu bahkan semakin erat membelit pinggang Evans. Sementara tangannya, memeluk erat leher pria itu.
Evans yang semula terdiam karena terkejut, kini berusaha menurunkan tubuh gadis itu ke atas meja pantry. Dia memang menurutinya, tetapi setelah duduk di sana, Elena kembali memagut mesra bibir Evans dan menggigitnya sesekali.
Demi menahan berat badannya, kedua tangan Evans refleks berpegangan pada meja pantry di sisi kiri dan kanan Elena.
"Ini tidak benar!" hardik Evans dalam hati. Dia berusaha tidak membalas perlakuan Elena seperti tadi pagi. Namun, nalurinya sebagai laki-laki tidak mengizinkan Evans untuk menolak. Terlebih ingatan akan kemesraan mereka di masa lalu mulai berseliweran memenuhi isi kepalanya.
"Tidak! Aku bukan lagi Leon dan dia bukan lagi Iris!" bantah Evans dalam hati. Urat-urat di tangan pria itu mulai terlihat, karena dia berusaha untuk menahan kedua tangannya, agar terus berpegangan pada meja pantry dan tidak memeluk Elena.
Seolah tak menyadari tingkah Evans, Elena dengan penuh kelembutan terus memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir pria itu, sembari sesekali memagutnya mesra.
"Pulanglah bersamaku besok." Entah apa yang ada di benak Elena, dia tiba-tiba mengajak Evans untuk kembali pulang.
"Ini rumahku," jawab Evans singkat.
"Aku tahu. Aku hanya ingin kau menemui Papa dan Mama sebentar saja. Beritahu mereka bahwa kau masih ada. Baru setelah itu, kau bebas melanjutkan jalan hidupmu sendiri. Setidaknya, biarkan mereka kalau kau masih sehat dan kini sudah hidup bahagia. Aku yakin, mereka pasti mengerti," ujar Elena kembali.
"Lalu, kalau mereka mengerti, bagaimana dengan dirimu?" Evans balik bertanya.
Elena terdiam sejenak. "Antara kau dan orang tua kita, dengan kau dan aku, tentu berbeda. Kau pasti memahami maksud perkataanku."
Evans tertawa sinis mendengarnya. "Jangan keras kepala, El. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Kau orang lain bagiku, begitu pula sebaliknya. Aku bahkan tak mengingat jelas seperti apa kehidupan kita dulu!"
"Jangan berbohong!" seru Elena.
"Terserah, aku tak pernah memintamu untuk percaya! Besok kau akan pergi. Jadi, pergilah dan jangan pernah kembali!" kata pria itu dingin. Dia pun menegakkan tubuhnya, hendak pergi meninggalkan Elena.
__ADS_1
"Aku akan kembali dalam beberapa hari. Aku akan mengatakan pada bahwa kita akan hidup bersama!" seru Elena.
Evans berbalik dan memelototi Elena. Dia melarang gadis itu untuk tidak mengatakan apa pun pada kedua orang tua mereka.
"Ingatan itu membuat otakmu rusak El, dan jangan suka mengambil keputusan sendiri!"
Elena tidak peduli. Dia bahkan mengancam akan membawa mereka ke sini jika pria itu menolaknya
Mereka berdebat sengit selama beberapa saat, sebelum akhirnya, Evans dengan kejam mengatakan sesuatu yang menyakiti Elena.
"Berhenti bersikap menjijikan, Elena! Aku tidak ingat siapa dirimu di masa lalu, dan aku tidak pernah menginginkan hubungan ini! Sikapmu benar-benar membuatku muak! Enyahlah dari sini, karena aku benar-benar membencimu!"
Mata Elena membola ketika mendengarnya. Suasana di antara mereka berubah menjadi lebih pekat dan menyesakkan.
" ... karena aku benar-benar membencimu!"
Perkataan terakhir Evans kontan menghantam telak hati gadis itu. Seolah menyadarkannya, bahwa tak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk mengulang kisah di masa lalu, karena kebencian kini tertanam dalam diri Evans.
Tanpa banyak bicara, Elena pun turun dari meja dan pergi melewati pria itu.
Evans dapat melihat setetes air mata mengalir membasahi pipi Elena.
Di dalam kamar, Elena hanya bisa menangis tersedu-sedu. Evans begitu berbeda dengan Leon. Pria pemberani yang tidak akan mudah menyerah pada kesulitan yang mereka lalui.
Leon yang sekarang hanyalah seorang pria pengecut yang gemar berkata keji, demi membuatnya terluka.
"Dasar pria brengsek! Kau memang bukan Leon!" pekik Elena seraya menghapus air matanya kasar.
Tak sampai lima menit, Elena kembali turun ke bawah dengan membawa seluruh barang-barangnya.
Gadis itu berniat pergi dari rumah Evans detik itu juga. Tak ada yang perlu dipertahankan lagi. Usahanya tak lebih dari sikap menjijikan di mata pria itu.
Evans hanya bisa terdiam sembari menatap kepergian Elena, tanpa berusaha mencegahnya sedikit pun.
Suara pintu pun tertutup.
Evans membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman bersoda. Dengan sekuat tenaga, dia meremukkan kaleng tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Sial!"