Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 17 : Tak Dianggap.


__ADS_3

"Bagaimana pekerjaan kalian anak-anak? Apakah semua berjalan dengan lancar?" tanya Simon pada kedua anaknya di sela-sela makan malam mereka.


Sebelum menjawab pertanyaan sang ayah, Elena terlebih dahulu melirik sosok Evans yang duduk di seberangnya dengan wajah datar. "Berjalan dengan lancar, Pa. Kakak juga sangat baik sekali membimbingku, walau aku harus mengeluarkan seluruh tenaga dan pikiran ekstra untuk bekerja." Seulas senyum terpatri di wajah cantik Elena.


Evans mengangkat kepalanya dan hanya menganggukkan kepala.


Melihat reaksi Evans yang seolah-olah tidak merasa bersalah, Elena menggenggam garpunya sekuat tenaga.


"Baguslah. Papa harap kalian bisa dekat dan saling menyayangi satu sama lain, karena kalian sudah terlalu lama tinggal terpisah. Dengan begitu hati Papa dan Mama juga akan tenang." Nasihat sang ayah membuat Elena sedikit pilu. Rasanya keinginan beliau tak akan pernah terwujud sampai kapan pun.


"Benar. Kalian harus saling berpegangan tangan, karena Papa dan Mama tidak pernah tahu sampai kapan harus mendampingi kalian terus." Samantha menimpali nasihat sang suami, sekaligus memberi pesan tersirat untuk Evans.


"Iya, Pa, Ma," jawab Elena sembari pura-pura sibuk dengan makanannya kembali. Sementara Evans mengangguk patuh.


...***...


Elena turun dari lantai dua rumahnya dengan terburu-buru. Biasanya gadis itu akan berangkat ke kantor bersama dengan sang kakak. Namun, karena kesiangan, Elena harus pasrah berangkat sendirian setelah ditinggal pergi duluan oleh pria itu. Menerima telepon dari Albern sampai jam tiga pagi membuat Elena bangun terlambat. Maklum saja, Albern sedang ikut ayahnya dinas ke luar kota.


"Aku berangkat, Ma!" teriak Elena sembari menggigit roti gandum dengan selai kacang yang baru dibuat sang ibu.


"Hati-hati, Sayang!" balas Samantha. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


Bergegas Elena mengambil mobilnya dan berangkat ke kantor. Sejak dulu, gadis itu paling malas membawa mobil, tapi mau bagaimana lagi, keluarga mereka hanya mempunyai dua supir pribadi dan semua sudah diambil alih oleh ayah dan kakaknya.


Sesampainya di kantor, Elena segera bergegas ke lantai sepuluh, tempat di mana rapat pagi ini akan diadakan.


Saat dalam perjalanan, Jemima sudah meneleponnya dan memberitahu gadis itu, bahwa Evans menyuruhnya untuk langsung menuju lantai sepuluh dan menyiapkan ruangan, sebab rapat akan dimulai setengah jam lagi.


"Nona Elena, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang Office Girl bernama Emma.


"Rapat akan segera dimulai sebentar lagi, kan?" Elena balik bertanya.

__ADS_1


"Iya, Non, saya dengar ruangan ini akan dipakai," jawab Emma.


"Baiklah." Tanpa basa-basi Elena mulai menata kursi-kursi yang ada di atas meja dan mengambil air mineral di pantry. Emma menawarkan diri untuk membantu, tetapi gadis itu langsung menolaknya.


"Baiklah, saya akan bertugas di ruangan sebelah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk memanggil saya ya, Non?" kata Emma ramah.


"Oke." Elena tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.


Setelah meletakkan botol air mineral sesuai dengan jumlah kursi yang ada, Elena mulai memfotokopi lembaran file yang akan mereka bahas untuk ikut diletakkan berdampingan dengan air mineral.


Tak lupa, dia juga mengatur suhu air conditioner, mengecek layar monitor, dan juga mikrofon.


Elena membiarkan pintu ruangan terbuka, dan menunggu di sana untuk menyambut atasannya dan beberapa anggota rapat.


...***...


"Kabari mereka jika meeting akan diadakan di lantai 12. Jangan lupa beritahu semua! " titah Evans tiba-tiba, saat Jemima memberitahunya bahwa Elena sudah selesai menyiapkan ruangan.


"Jangan membantah, Jem," ujar Evans dingin.


Jemima hanya bisa menghela napas pasrah. "Baiklah, kalau begitu saya akan menelepon Elena dulu," kata wanita itu kemudian.


"Tidak perlu, nanti juga dia tahu sendiri."


Mendengar perkataan sang atasan, Jemima hanya bisa mengelus dada. Perlakuan Evans terhadap adiknya sendiri sungguh keterlaluan dan sudah di luar batas.


Mudah-mudahan saja dia tidak berdiam diri di sana dan bisa berpapasan dengan karyawan lain.


...***...


Sudah sepuluh menit Elena menunggu di depan ruangan, tetapi tak ada satu pun para anggota rapat atau sosok sang kakak yang muncul di hadapan gadis itu.

__ADS_1


Elena menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah lewat dari waktu yang telah ditentukan, dan mereka sama sekali tidak terlihat di mana pun.


Elena mencoba menunggu di depan lift, tetapi lagi-lagi dia tidak dapat bertemu siapa-siapa. Maklum, lantai sepuluh hanya berisi ruangan-ruangan kosong yang diperuntukkan untuk rapat dan acara-acara tertentu saja.


Elena terpaksa menunggu kembali di ruangannya. Sepuluh menit kemudian, beberapa orang karyawan muncul dari dalam lift, tetapi mereka ternyata berjalan menuju ruangan lain, yang berarti mereka bukan bagian dari anggota rapatnya.


Elena mencoba menghubungi Jemima beberapa kali. Namun, Jemima tak pernah mengangkat atau membalas pesan singkat yang dia kirimkan.


"Ke mana, sih, mereka?" tanya Elena jengkel.


Tiba-tiba, Emma masuk ke dalam ruangan yang ditunggui Elena. Dia menatap atasannya tersebut dengan pandangan iba.


"Nona Elena," panggil Emma.


"Ya, ada apa Emma?" Elena yang sedang bertopang dagu di meja, sontak mengangkat kepalanya.


"Emm, itu Nona ... saya barusan kembali dari lantai dua belas dan berpapasan dengan Nona Jemima. Beliau menitip pesan pada saya, bahwa Tuan Evans ternyata memindahkan ruangan meeting ke sana secara tiba-tiba." Emma mengucapkan sebaris kalimat tersebut dengan nada sangat hati-hati.


Elena yang mendengar perkataan Emma tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut nyeri seketika. Dadanya sesak bukan main. Jelas-jelas pria itu yang menyuruhnya untuk menyiapkan ruangan rapat. Lalu mengapa tiba-tiba dia memindahkannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?


Apa maksud dari Evans berbuat demikian? Apa karena dia datang telat ke kantor? Kalau memang iya, bukan kah itu sangat keterlaluan, mengingat dia hanya telat lima menit. Terlebih, meeting belum diadakan pada saat dia datang ke sana, yang berarti, seharusnya dia tidak terlambat.


Sebisa mungkin, Elena tetap terlihat tersenyum. Gadis itu tak ingin terlihat mengenaskan di mata orang lain.


"Baiklah. Mungkin aku yang lupa kalau ternyata kakakku sudah memberitahu tadi."


Gadis itu pun pamit undur diri. Tak lupa, dia meminta tolong Emma untuk membereskan ruangan tersebut.


"Baik Nona, biar saya saja yang rapikan kembali," ujar Emma.


"Terima kasih, kau baik sekali." Elena menepuk pundak Emma satu kali dan bergegas pergi menuju lantai dua belas.

__ADS_1


"Jangan menangis, Bodoh! Jangan menangis!" Batin Elena.


__ADS_2