Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 37 : Cinta Sejati?


__ADS_3

"Jangan cemberut begitu. Mukamu jadi semakin kusut dan jelek!" ejek Jenny. Keduanya kini tengah menunggu kedatangan Evans di lobby mall. Pria menyebalkan itu baru saja menelepon dirinya dan memaksa untuk menjemput kedua gadis tersebut di sana.


Elena mau tidak mau menerima tawaran itu, karena Evans sama sekali tidak menerima penolakan.


"Itu bukan tawaran namanya, tapi perintah!" celetuk Elena saat masih berada dalam sambungan telepon. Sementara Evans yang mendengar celetukan sang adik hanya mengeluarkan tawanya.


Tak butuh waktu lama, sebuah mobil Rolls-Royce hitam memasuki mall dan berhenti tepat di hadapan mereka. Tanpa turun dari mobil, Evans mempersilakan keduanya untuk langsung masuk ke dalam.


Elena masuk ke dalam mobil Evans dengan wajah masam. Sapaan sang kakak bahkan tidak dihiraukan gadis itu sama sekali.


Wajahnya tentu berbanding terbalik dengan Jenny yang tampak senang-senang saja di kursi belakang. Dia memang menunggu momen-momen seperti ini. Gadis itu bahkan sempat berbisik pada Elena akan menikmati perjalanan bersama sang kakak, dengan menatap wajah tampannya puas-puas dari pantulan spion tengah.


Mendengar itu Elena sontak mendelik tajam. Hal itu membuat Jenny tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Evans begitu menyadari raut wajah sang adik yang kurang bersahabat.


"Kau sudah tahu jawabannya, jadi tidak perlu bertanya lagi!" sahut gadis itu ketus.


Evans mencibir lalu mengangkat bahunya. Pria itu kemudian menoleh ke belakang dan menyapa Jenny ramah. Selama dalam perjalanan, keduanya asyik berbincang tanpa mempedulikan raut kekesalan Elena yang semakin bertambah-tambah.


Meski sadar diri akan darah yang mengalir dalam tubuh mereka, Elena tetap tidak dapat menghilangkan rasa cemburunya. Apa lagi, Jenny secara terang-terangan menabuh genderang perpecahan dengan mengagumi sosok Evans.


Tingkah Jenny menyebabkan Elena sesekali menoleh ke belakang, sembari mencubit gemas kaki sahabatnya tersebut.


Butuh waktu satu jam bagi Evans untuk sampai di rumah Jenny. Pria itu memang berbaik hati menawarkan diri untuk mengantar sahabat dari adiknya tersebut sampai ke rumah, alih-alih ke halte bus, seperti yang Jenny minta.


"Terima kasih ya, Kak, El-ku Sayang," ucap Jenny ramah. Gadis itu menawarkan mereka untuk mampir dulu seraya minum teh, tetapi Evans menolak.


"Sama-sama Jen, sampaikan salamku pada Uncle Roy dan Aunty Sarah," ucap Elena yang wajahnya tak lagi semasam sebelumnya. Biar bagaimana pun mereka sudah lama bersahabat dan keduanya tak pernah benar-benar saling bermusuhan. Lagi pula, dia tahu Jenny hanya bergurau.


"Oke. Hati-hati di jalan ... dan kau jangan banyak-banyak cemburu, El! Nanti rambutmu bisa memutih!" Jenny menjawil dagu Elena dan mundur dua langkah. Gadis itu tertawa saat melihat raut kepanikan sahabatnya.


Jenny pun melambaikan tangan tatkala dua kakak beradik itu mulai pergi meninggalkan kediamannya, menuju rumah utama keluarga Wileen untuk mengantar Elena pulang.


Di sepanjang perjalanan, Elena menyadari gerak-gerik aneh sang kakak yang selalu mencuri-curi pandang ke arahnya.

__ADS_1


"Ada apa sih, Kak? Kenapa sorot matamu aneh sekali?" tanya gadis itu tanpa repot-repot menyembunyikan rasa tidak nyamannya.


"Tidak. Aku hanya penasaran pada apa yang Jenny katakan tadi," jawab Evans jujur.


"Tadi? Yang mana?" Elena malah balik bertanya dengan wajah bingung.


"Soal cemburu itu. Kau cemburu pada siapa? Albern? Bukankah hubunganmu dengan pria itu sudah selesai? Kalau iya, kenapa kau masih cemburu padanya?" Berbagai macam pertanyaan terlontar dari mulut Evans.


"Pertanyaanmu terlalu banyak, aku tak mengerti." Elena melipat kedua tangannya.


"Kau masih mencintai Albern?" tanya pria itu tiba-tiba.


Elena terdiam sejenak. "Bohong kalau aku bilang, aku sudah tidak mencintainya," jawab gadis itu.


"Lalu, mengapa berpisah? Apa lagi, kalian memutuskan berpisah tepat setelah lamaran pertunangan itu? Aku tidak tahu, kau tipe gadis nak4l yang pandai mempermainkan hati pria."


Mendengar perkataan sang kakak, hati Elena terluka. Terkadang, Evans memang suka kembali bersikap seperti Evans yang dulu, yaitu seorang pria bermulut pedas yang gemar mencemoohnya.


"Jangan bicara sembarangan! Kau tidak tahu apa-apa!"


Evans tertawa kecil. Mimik wajahnya terlihat sangat menyebalkan di mata Elena.


Elena terdiam. Dia sedang menimbang-nimbang antara ingin bercerita atau tidak. Hubungan mereka tidak sedekat itu untuk saling mencurahkan isi hati.


"Semua kulakukan demi kebaikan Albern. Di sini, aku lah yang bersalah." Sepenggal kalimat akhirnya terucap dari mulut gadis itu.


"Salah yang bagaimana?" Evans semakin penasaran akan apa yang dikatakan Elena.


Embusan napas keluar dari mulut Elena. "Kak, pernahkah kau menjalin hubungan dengan seorang wanita?" Gadis itu malah balik bertanya.


"Kenapa menanyakan hal seperti itu? Bukankah yang kita bahas saat ini adalah dirimu?"


"Ingin tahu saja." Jawab Elena sekenanya.


Evans menghentikan mobilnya di trafic light. "Aku pernah mencintai seorang wanita saat tinggal di sana. Ia bahkan pernah aku anggap sebagai cinta sejatiku, sebab hubungan kami berjalan hampir enam tahun lamanya. Namun, siapa sangka jika cinta sejati itu harus kandas, ketika aku mengetahui bahwa ia ternyata telah hamil anak pria lain." Sorot mata Evans berubah sendu.

__ADS_1


"Dari situ lah, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan siapa pun lagi, entah sampai kapan."


Mendengar perkataan Evans, Elena sedikit terperangah. Dia sempat berpikir bahwa Evans merupakan pria dingin yang gemar bermain wanita. Namun ternyata, dia memiliki kesetiaan yang jarang dimiliki pria-pria modern lainnya.


"Kau masih mencintainya?" tanya Elena kemudian.


Evans menjalankan mobilnya kembali. "Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan seseorang, tetapi yang jelas, kebencianku semakin hari semakin bertambah."


"Bukan wanita itu cinta sejatimu, Evans!" Batin Elena.


Suasana di dalam mobil mendadak senyap dan sedikit tidak nyaman.


"Lalu, siapa yang kau cemburui seperti yang Jenny katakan, dan apa yang terjadi padamu dan Albern?" Evans kembali membahas topik semula.


"Jangan dengarkan Jane, dia memang seperti itu! Soal Albern, aku hanya masih mengingat seseorang yang pernah kusukai saja. Tidak masalah, aku akan mengajaknya bicara empat mata nanti."


Elena menyadari kesalahannya. Maka dari itu, dia memang berniat untuk mengajak Albern berbicara baik-baik.


Tak ingin membahas lebih jauh, Elena mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaan. Rencananya, minggu depan mereka akan pergi keluar kota untuk melihat proyek pembangunan kantor cabang Wileen Group.


"Persiapkan dirimu, ini adalah perjalanan pertama kita," kata Evans.


Elena menganggukkan kepalanya.


...***...


Albern mengelus pigura foto yang ada di kamarnya. Foto tersebut adalah foto pertama kali dia berkencan dengan Elena. Waktu itu, sikap Elena masih sangatlah manis dan manja.


Dia terlihat begitu memuja dan menyukai Albern. Bahkan, sebelum sampai kecelakaan tersebut terjadi, Elena masih lah tetap gadisnya manis nan manja.


Elena tak pernah lupa menyematkan kata-kata cinta pada setiap ucapan mau pun pesan singkat yang dia kirimkan. Namun, kini semua hanya kenangan saja.


Saat gadis terbangun dari tidur panjangnya, disaat itu lah semua berubah.


Hingga kini, Albern sebenarnya masih bertanya-tanya, apakah ada hubungannya dengan perubahan sikap seseorang saat terbangun dari koma?

__ADS_1


Namun, dia sama sekali tidak menemukan jawaban yang pasti.


Albern tertawa sinis. Pria itu mengambil cincin pertunangan miliknya yang teronggok di dalam laci, tepat bersebelahan dengan cincin pertunangan milik Elena.


__ADS_2