
Suara napas seseorang yang terengah-engah, diiringi derap langkah kaki yang terdengar brutal, merusak kesunyian hutan malam hari ini.
Tak peduli tubuhnya sempat terjatuh bangun dan kaki mulusnya sudah dipenuhi d4r4h akibat luka gores, wanita bersurai keemasan itu tetap berlari tunggang langgang demi menghindari kejaran beberapa orang-orang yang sedang menunggangi kuda.
Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuh si wanita, walau cuaca malam sebenarnya sangat dingin. Belum lagi, degup jantungnya yang semakin berdetak tak karuan.
Meski begitu, dia masih bisa bersyukur, sebab mereka menemukan dirinya saat malam hari tiba.
Iris menoleh ke sana kemari demi mencari tempat persembunyian agar terbebas dari para prajurit suruhan yang sedang mengejarnya.
Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama Iris mengalami kejadian seperti sekarang. Dia sudah pernah melewati kejadian serupa hingga empat kali. Namun, biasanya Leon, sang suami, yang akan menghadapi dan melindungi wanita itu. Namun, karena Leon saat ini sedang pergi selama beberapa hari untuk berburu, Iris mau tidak mau harus menghadapi kejaran mereka seorang diri.
"Hei, berhenti di sana!" Teriakan seorang pria membuat Iris semakin panik.
Secercah harapan hadir di ambang jerat keputusasaan, tatkala mata gadis itu mendapati sebuah goa yang tertutup beberapa pohon tinggi dan semak belukar.
Sejenak Iris merasa ragu untuk bersembunyi di sana. Sebab, mungkin saja ada banyak binatang yang akan menyerangnya. Dia tentu saja tidak ingin lari dari serbuan macan dengan memasuki kandang harimau.
Akan tetapi, derap langkah kaki kuda dan suara teriakan para prajurit yang mengejarnya, terdengar lebih menakutkan wanita itu.
Bergegas, Iris berlari ke arah semak belukar dan bersembunyi tepat di mulut goa. Semak belukar yang tumbuh lebat sedikit membantu Iris untuk menyembunyikan diri.
Suara derap kaki kuda tiba-tiba berhenti tepat di depan goa. Para prajurit saling berteriak memanggil nama Iris, sembari menoleh ke sana kemari.
"Princess Airlea!"
Iris yang tengah ketakutan semakin menyusupkan diri dalam-dalam. Dia tak akan membiarkan seujung rambut pun terlihat oleh mata para prajurit itu. Namun, tiba-tiba wanita itu dikejutkan oleh desisan seekor ular berbisa. Ular tersebut muncul tepat di atas mulut goa dan memandang tajam ke arah matanya.
Wajah Iris memucat. Sekuat mungkin dia membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan. Wanita itu bahkan sampai menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak berteriak, saat ular tersebut menjulurkan lidahnya yang bercabang.
Tak hanya itu saja, ular berbisa tersebut kemudian merayap mendekati Iris hingga berhenti tepat di hadapan wajah wanita itu. Iris mundur selangkah, tetapi nahas kakinya tersandung sebuah batu hingga membuat suara berisik terdengar.
Suara itu lah yang memancing para prajurit berkuda untuk datang menghampiri goa.
"Turun! Periksa tempat itu!" titah salah seorang prajurit berpangkat lebih tinggi, pada temannya.
Tanpa pikir panjang, prajurit bawahannya itu turun dan menghampiri semak belukar tersebut.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak mengetahui, bahwa ada seekor ular berbisa yang sedang bertengger di sana.
"Aaargghh!" teriak sang prajurit sembari berlari kembali ke arah rekan-rekannya.
"Ada apa?" tanya prajurit yang memberi perintah tadi.
"U–ular!" jawab ia sebelum tumbang dengan wajah membiru. Tak sampai satu menit, prajurit itu akhirnya tew4s dengan mulut berbusa.
"Dasar bodoh!" seru temannya yang lain, ia pun memerintahkan mereka untuk segera pergi dari sana dan mencari ke tempat lain. "Dia pasti tidak akan berada di tempat berbahaya seperti itu."
Iris bernapas lega ketika suara derap kaki kuda semakin menjauh dan akhirnya hilang.
Iris bergegas keluar dari dalam goa. Ular tersebut masih berada di sana, tetapi anehnya ia sama sekali tidak bergerak, seolah mempersilakan Iris untuk pergi.
"Terima kasih," ucap Iris.
...***...
Sosok Leon dengan pakaian biasa tiba-tiba terpampang nyata di hadapan wanita itu. Senyumnya yang merekah, membuat Iris kontan terkesima.
Namun, lama kelamaan wajahnya mulai mengalami perubahan, begitu pula dengan cara berpakaiannya. Pria yang sehari-hari memakai topi jerami dan pakaian sederhana berbahan linen atau kain perca, tiba-tiba memakai pakaian yang Iris sendiri tak tahu.
"Elena,"
Iris mengernyitkan matanya begitu mendengar nama gadis asing yang diucapkan oleh sang suami.
"Leon!" panggil Iris sekali lagi.
"Elena! Elena! Elena!"
...***...
Elena sontak mengerjap-erjapkan matanya begitu terbangun dari tidur. Gadis itu kemudian terduduk di atas ranjang.
Mimpi aneh tentang wanita bernama Iris kembali datang. Namun, sebuah nama baru tiba-tiba muncul mengusik batinnya.
"Princess Airlea? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu beberapa kali, tapi di mana ya?" gumam gadis itu bingung.
__ADS_1
Namun, yang lebih membingungkan adalah, bagaimana bisa pria bernama Leon itu memanggil namanya.
"Kenapa tiba-tiba pria itu memanggil namaku? Bagaimana bisa namaku ada di sana?"
Suara ketokan pintu membuyarkan lamunan Elena. Setelah dipersilakan masuk, rupanya sang ibu lah yang muncul seraya membawa nampan makanan.
Elena sontak mengangkat kepalanya dan menatap jam dinding. Matanya kontan terkesiap begitu menyadari jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Maaf, Ma, aku terlalu lelah sampai tak sadar sudah tidur terlalu lama," ucap Elena menyesal.
"Tidak apa-apa Sayang. Ini, Mama buatkan makan malam untukmu." Samantha memberikan nampan ke atas pangkuan Elena.
Elena berusaha tidak meringis kesakitan ketika nampan tersebut menyentuh lukanya. Dia tak ingin sang ibu sampai tahu.
Gadis itu pun dengan lahap memakan masakan buatan Samantha sembari berusaha mengabaikan rasa nyeri.
"Boleh Mama tanya ada apa denganmu sampai pulang ke rumah dalam keadaan marah?" tanya Samantha hati-hati.
"Tidak apa-apa Ma. Hanya sedikit kesalahpahaman dengan Kakak, tapi aku sudah merasa lebih baik," jawab Elena.
Samantha menatap sang anak lebih dalam guna mencari kebohongan di mata putrinya.
"Benar?" tanya wanita itu.
"Iya, Ma. Hanya, aku memang merasa Kak Evans benar-benar membenci diriku. Sejak kecil aku seperti tak pernah terlihat di matanya." Elena meletakkan garpunya dan menghela napas pasrah.
"Sikap Kak Evans membuatku berpikir bahwa kami mungkin bukanlah kakak beradik. Bagaimana tidak, aku tak pernah sekali pun melihat seorang kakak menyakiti adiknya sedemikian dalam."
Mendengar perkataan Elena, Samantha tersentak. Wajah wanita itu tiba-tiba pias.
"Kau jangan bicara sembarang Sayang. Kalian kakak beradik kandung. Kak Evans hanya tak bisa menunjukan kasih sayangnya padamu. Wajar saja lelaki bersikap seperti itu."
Elena terdiam. Dia hendak membantah, tetapi melihat raut wajah sang ibu, Elena mengurungkan niatnya.
Justru yang dia tahu, memiliki seorang adik perempuan bagi laki-laki adalah suatu kebahagiaan tak terkira. Mereka pasti akan melindungi sang adik dari apa pun dan tak akan pernah menyakitinya.
Hal itu sangat berbanding terbalik dengan sikap Evans.
__ADS_1
Meski begitu, Elena cukup sedikit tercengang dengan perbuatan Evans tadi saat mengobati lukanya. Entah itu memang dari hati atau takut dimarahi orang tua mereka.karena sudah menyebabkan sang adik terluka, Elena tetap merasa sedikit tersentil.