
Bagi Elena, hidupnya kini tak lagi sama seperti dulu. Dalam dua tahun dia harus rela kehilangan tiga orang terpenting dalam hidupnya. Tak ada lagi yang dapat Elena lakukan setelah kehilangan Albern, pria yang pernah sangat dicintainya, tetapi ternyata merupakan sosok reinkarnasi seseorang yang sangat dia benci. Setelah itu, dia harus melepaskan Jenny, sahabat baiknya yang kini harus menempuh pendidikan di luar negeri.
Namun, yang lebih menyakitkan dan membawa dampak paling hebat dalam dirinya adalah, sosok Evans yang kini tak bisa lagi dia temui. Terlebih ketika dia mengetahui fakta soal identitas Evans yang ternyata bukan anak kandung dari kedua orang tuanya.
Semula, fakta mengejutkan tersebut membawa guncangan hebat dalam diri Elena. Rasa kecewa, bingung dan marah ditumpahkan Elena pada Simon dan Samantha. Dia merasa ditipu dan dipermainkan selama puluhan tahun.
Elena menangis meraung-raung dan sempat mengurung diri selama berhari-hari setelahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, gadis itu dapat memahami alasan kedua orang tuanya menyembunyikan fakta tersebut.
Pantas saja, sewaktu dulu Evans begitu sangat membenci dirinya dan tidak pernah berlaku selayaknya seorang kakak yang baik. Pria itu menjauhkan diri justru karena merasa, bahwa dia hanya lah orang lain yang hidup menumpang di sana.
Demi memuluskan niatnya, Evans sengaja hidup jauh mungkin dari keluarga Wileen dengan membawa sejuta kebencian pada Elena. SampI ketika kembali ke tanah air, dia berusaha sekuat tenaga untuk menanamkan kebencian di hati Elena, agar Simon dan Samantha marah. Dengan begitu, dia harap kedua orang tua angkatnya akan membuang pria itu karena telah menyakiti putri mereka.
Namun, nyatanya tidak demikian.
Mengetahui cerita ini, Elena pun seolah tersadar mengapa Evans bisa pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pamit.
Dia yakin Evans juga telah mendapatkan ingatan masa lalu mereka. Oleh sebab itu, dia dengan lugas mengarang sebuah cerita soal sepasang kakek nenek yang hidup di masa lalu dan bereinkarnasi, sebab pria itu menganggap, bahwa ingatan merupakan sebuah kutukan yang harus dipatahkan.
Fakta bahwa mereka bukanlah kakak beradik kandung membuat Evans takut untuk terus berada di dekat Elena. Itu lah mengapa dia memilih pergi menjauh. Mungkin dengan cara seperti ini, takdir pahit mereka tidak akan terulang kembali.
Namun, Elena tidak peduli pada takdir kejam yang mengikat mereka. Janji tetaplah janji. Meski harus melewati seribu kali reinkarnasi dan kisah menyakitkan, dia akan tetap bersama dengan Evans. Sebab gadis itu yakin, bahwa pasti ada satu waktu Tuhan merasa cukup, dan akhirnya memberi kesempatan pada mereka untuk mengukir kisah manis di akhir cerita.
Elena sangat meyakini itu. Maka dari itu, Elena tak pernah menyerah menunggunya. Meski hari-hari yang dia lewati tanpa pria itu berubah menjadi minggu. Minggu yang dia lewati tanpa pria itu pun berubah menjadi bulan, dan bulan pun kini berubah menjadi tahun, dia tetap menunggu kedatangan Evans.
Tak jarang Elena bahkan mendatangi apartemen Evans dan tertidur di sana demi menunggu kepulangan pria itu. Namun, tak pernah sekali pun Evans muncul di sana.
Tak hanya di sampai di sana, dia juga masih sering mengunjungi tempat-tempat yang Evans biasa kunjungi hanya untuk menunggunya.
Dibantu Jemima, dia bahkan rela merogoh koceknya sendiri untuk mencari keberadaan Evans, walau saat ini tidak membuahkan hasil apa pun.
Hingga detik ini Elena tak pernah menyerah. Dia yakin bahwa Evans tidak pergi jauh, dan suatu saat nanti mereka akan kembali bertemu.
Dulu, sewaktu mereka masih menjadi Leon dan Iris, pria itu dengan sabar menunggu dirinya keluar dari istana. Kini, dia yang akan dengan sabar menunggu.
...***...
Elena membungkukkan badannya pada para pemegang saham. Rapat umum pemegang saham yang diadakan enam bulan sekali telah selesai diadakan. Kendati CEO mereka merupakan seorang gadis muda, tetapi Elena berhasil memimpin perusahaan dengan baik.
__ADS_1
Semua itu tak lepas dari peran Jemima. Wanita itu tadinya didapuk oleh Elena untuk menggantikan Evans sampai dirinya siap. Namun, Jemima menolaknya halus. Dia menyatakan akan mendampingi Elena seperti dia mendampingi Evans dulu.
Para petinggi pun tidak keberatakan dengan keputusan Simon untuk menyerahkan perusahaan pada putri bungsunya, setelah putra sulungnya pergi meninggalkan tanah air untuk hidup bebas.
Hanya itu lah alasan yang dapat keluarga Wileen berikan pada mereka atas kepergian Evans yang terkesan mendadak.
Elena pun dengan penuh kesantunan mempersilakan para pemegang saham dan jajarannya untuk keluar terlebih dahulu, sebelum dirinya. Beberapa di antara mereka ada yang mengajak Elena berbincang untuk memuji kepiawaiannya dalam memimpin rapat penting ini.
Setelah semuanya pergi, barulah Elena keluar dari ruangan rapat menuju ruangan kerjanya.
"Makan siang di sini atau di luar Nona?" tanya Jemima.
"Kak!" Lagi-lagi Elena menegur Jemima yang bersikap formal saat sedang berdua. Padahal dia selalu mengingatkan wanita itu untuk bersikap biasa saja ketika mereka sedang berdua.
"Iya, El. Kau mau makan apa dan di mana?" tanya Jemima dengan suara lebih santai.
"Di sini, dan apa saja." Jawab Elena wajah sumringah.
Jemima pun mengangguk dan segera memesankan makan siang dari restoran terdekat.
"Terima kasih, Kak," ucap Elena seraya menerima makanan tersebut dari Jemima. Wangi harum yang menguar dari makanan itu membuat perut Elena semakin keroncongan.
"Selamat makan." Sesuap pasta keju yang masih mengepul langsung mendarat di mulut gadis itu setelah meniup-niupnya.
Hal yang sama dilakukan oleh Jemima.
Keduanya menikmati makan siang tersebut sembari mengobrol ringan soal rencana mereka, yang akan mengunjungi pembukaan pabrik baru di luar kota, dua hari lagi.
Elena yang merupakan CEO Wileen Group, diharuskan pergi ke sana untuk meresmikan pabrik otomotif tersebut.
Tiba-tiba, suara ponsel Jemima berbunyi. Wanita itu pun menghentikan makannya sejenak untuk melihat ponselnya.
Tawa kecil yang keluar dari mulut Jemima membuat Elena menoleh.
"Apa?" tanya gadis itu ketus, tatkala mendapati raut wajah Jemima yang menurutnya sangat menyebalkan.
Biasanya, jika Jemima tiba-tiba seperti itu, ada saja sesuatu yang sedang dia rencanakan.
__ADS_1
"Dia mau menemuimu besok di Jasmine Restourant, dan aku sudah mengiyakannya!"
Benar, kan! Mendengar perkataan Jemima barusan, kontan saja membuat Elena berteriak. "Kenapa tidak kau saja, sih, yang kencan buta? Aku masih muda dan masih memiliki banyak waktu!" pekiknya kesal.
"Tentu aku juga kencan buta, tapi tak perlu kuceritakan padamu! Sudah, datang saja besok. Ini hanya kenalan biasa saja."
Elena memutar bola matanya. Sejak beberapa waktu lalu semuanya memang hanya kenalan biasa, dan itu tak pernah berakhir baik.
Entah atas dasar apa, Samantha tiba-tiba menyuruh Jemima untuk mencarikan seorang pria yang cocok untuk dirinya. Jemima yang semula merupakan menjadi sekretaris pribadinya, kini mulai memiliki profesi ganda sebagai agen biro jodoh. Ini sudah kali keempat dia harus menjalani kencan buta dengan seorang pria pilihannya.
Hasilnya? Nihil. Tak ada satu pun pria yang mampu mengalihkan pikirannya dari pekerjaan dan ... Evans.
"Aku malas!" Elena melipat kedua tangannya dan menatap Jemima sinis.
"Baiklah, aku akan menelepon ibumu sekarang juga." Jemima sengaja memperlihatkan ponselnya dan mencari kontak sang ibu.
Ancaman Jemima sama sekali tidak membuat Elena takut. Gadis itu malah mencibir dan menatapnya sembari berkata, "coba saja!"
Jemima yang merasa diremehkan pun, menjawab tantangan Elena santai. Dia menekan tombol 'call' dan menyalakan loud speaker-nya.
Elena melipat bibirnya. Wajah gadis itu mulai terlihat agak panik.
Benar saja! Begitu sang ibu mengatakan halo, dia pun dengan cepat mengambil ponsel Jemima.
"Halo, Jem." Suara sang ibu terdengar dari balik telepon.
"Ah, ini aku, Ma. Ponselku mati, aku hanya ingin memberitahu bahwa rapat hari ini berjalan dengan baik ... ha ha ha." Mata gadis itu memicing sinis pada Jemima.
"Syukurlah,"
"Baiklah, sudah dulu ya Ma, masih ada pekerjaan yang harus kulakukan. Sampai bertemu di rumah," pamit gadis itu terburu-buru.
"Iya, Sayang, sampai jumpa."
Begitu Elena menutup teleponnya, Jemima pun tertawa.
"Tertawa sepuasmu sana!" hardik gadis itu.
__ADS_1