Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 2 : Kepulangan Evans.


__ADS_3

"Terima kasih, Sayang," ucap Elena saat mereka sudah tiba di depan rumah keluarga Wileen. "Kau tidak mampir dulu?" tanya gadis itu kemudian.


"Sudah terlalu sore dan kau belum istirahat. Sampaikan salamku pada papa dan mama saja." Albern mengusap kepala Elena dan memagut bibirnya mesra.


Wajah Elena sontak memerah. Dia selalu saja terbuai dengan perlakuan pria pujaan hatinya itu. Terlebih, Albern memang pria yang lembut dalam bersikap dan bertutur kata.


Selama hampir satu tahun berpacaran, Albern tidak pernah bersikap dan berkata yang menyakiti dirinya. Pergaulannya di kampus pun termasuk baik. Maka tak heran, jika Elena sangat tergila-gila pada pria itu.


Perkenalan mereka memang cukup singkat dan sedikit memalukan, sebab Elena menumpahkan minuman dinginnya pada kemeja Albern, saat dia dan Jenny baru saja datang ke kafe dan hendak mencari tempat duduk.


Hanya butuh tiga kali pertemuan, Albern langsung menyatakan perasaannya dan mengajak Elena menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih.


"Aku turun dulu. Telepon aku jika sudah di rumah," pesan gadis itu malu-malu.


Albern melempar senyum tipis pada kekasihnya, lalu mengangguk singkat.


Elena membuka pintu mobil dan menurunkan satu kakinya. Namun, sebelum dia benar-benar ke luar dari dalam mobil, Elena kembali masuk dan menarik kerah kemeja Albern untuk mendaratkan ciumannya.


Albern tertawa kecil. Pria yang selalu terbuai dengan manisnya bibir sang kekasih itu langsung membalas ciumannya mesra.


Keduanya baru sama-sama saling melepaskan diri ketika oksigen yang mereka hirup hampir habis.


...***...


"Aku pulang!" seru Elena sumringah sembari berlari masuk ke dalam rumah.


Sang ibu yang sedang menikmati secangkir teh dan cookies, menyambut kedatangan putri bungsunya itu.


"Sepertinya putri Mama sedang senang sekali. Pasti karena pujaan hati ya?" tukas Samantha, nama wanita itu, pada Elena. Beliau itu memang sangat senang menggoda anak gadisnya yang sedang kasmaran.


Elena tersenyum malu-malu. "Ahh, Albern menitipkan salam padaku untuk Papa dan Mama," katanya.


Samantha mengangguk. "Suruh dia main lagi ke sini."


Elena mengangguk semangat, sebelum kemudian berpamitan pada sang ibu untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


...***...


Sementara itu, jauh di tempat lain, seorang pria berwajah tampan dan berpenampilan rapi, tengah berdiri sembari memandangi hamparan laut dari atas gedung kantornya.


Pria itu tampak termenung, seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Tuan Evans, semua sudah siap. Pesawat akan berangkat pukul setengah delapan malam. Kita sudah harus sampai di bandara setidaknya setengah jam sebelum pesawat take off." Seorang wanita berpenampilan modis dengan surai pendek datang dan menghampiri Evans.


Helaan napas keluar dari mulut Evans. Meski berat, mau tak mau dia harus menuruti perintah sang ayah untuk meninggalkan negara yang sudah lima belas tahun ditinggali.


Kalau saja sang ayah tidak sakit, dia mungkin akan menolak mentah-mentah dantidak akan pernah kembali ke sana. Adanya seseorang membuat pria itu lebih memilih menetap di luar negeri dalam waktu yang sangat lama.


Dia kemudian berbalik badan dan mulai berjalan menghampiri Jemima, orang kepercayaannya yang sudah bersama pria itu selama hampir tujuh tahun.


...***...


Elena hampir saja menyemburkan makanannya ketika mendengar kabar dari Simon, sang ayah, jika saja Samantha tidak memelototi gadis itu.


Wajahnya yang semula penuh dengan keceriaan mendadak suram.


Semula, Evans sempat bimbang. Namun, berkat desakan pria itu, sang anak akhirnya mau kembali dan meninggalkan karirnya yang cukup sukses di sana, sebagai direktur sebuah bank.


Selain karena penyakit, Simon juga ingin kedua anaknya memiliki hubungan yang harmonis. Sebab, Evans lah yang akan bertanggung jawab atas Elena saat mereka tiada kelak.


"Sayang," panggil Samantha saat Elena bangkit dari kursi makannya.


"Aku sudah kenyang, Pa, Ma. Aku ingin ke kamar untuk beristirahat." Elena mengulas senyum tipis dan bergegas pergi dari sana.


Samantha menatap cemas anak bungsunya.


"Aku tak yakin ini pilihan terbaik Sayang," kata wanita itu pada sang suami.


"Aku tahu, tetapi aku benar-benar tak rela perusahaan yang kubangun selama puluhan tahun harus jatuh ke tangan orang lain." Simon memegang tangan sang istri dan menepuknya halus. "Evans sudah dewasa, dia pasti sudah lebih mengerti. Percayalah hubungan mereka akan baik-baik saja."


...***...

__ADS_1


Elena menutup pintunya dan bergegas naik ke atas tempat tidur.


Gadis itu terlihat sedih dan takut. Pasalnya, orang yang paling membenci dirinya akan pulang ke rumah setelah belasan tahun tinggal di luar negeri.


Sejak Elena kecil, dia tak pernah sekali pun merasakan kehadiran kakaknya.


Kenangan bersama pun, Elena sepertinya tak dapat mengingat. Maklum saja, sebab sejak usia Elena tiga tahun, mereka sudah hidup terpisah. Jarak usia mereka pun terbilang cukup jauh, yaitu 12 tahun.


Elena yang sudah semakin besar, baru menyadari sikap sang kakak, ketika mereka sekeluarga beberapa kali menjenguk pria itu.


Tiga kali Elena datang, Evans tidak pernah bersikap baik padanya. Bahkan, pria itu cenderung menganggap Elena seperti orang lain.


Itulah yang menjadi alasan cukup bagi Elena, untuk tidak pernah lagi ikut kedua orang tuanya ke sana.


Elena bukannya tidak pernah menanyakan sikap Evans pada kedua orang tuanya. Namun, mereka sendiri juga tak mengetahui alasan Evans sebenarnya, sampai bisa membenci adik kandungnya sendiri.


Elena mengacak rambutnya frustrasi. Hidup seperti apa yang akan dia alami saat pria itu tiba di sini nanti?


...***...


Jenny menatap Elena perihatin. Gadis bersurai keemasan itu menepuk punggung sang sahabat, guna membantu menenangkan kerisauan yang hinggap di hati Elena saat ini.


Kedekatan mereka membuat keduanya tak pernah menyembunyikan apa pun satu sama lain, termasuk aib keluarga masing-masing.


"Benar kata ayahmu, El, mungkin Kak Evans sudah berubah. Buktinya, dia mau pulang ke rumah dan berkumpul bersama," kata Jenny mencoba berpikir positif.


"Itu karena sakit ayahku, bukan karena aku, Jen," sahut Elena lesu. Gadis itu bertopang dagu di atas tumpukan buku matematika miliknya.


"Ya sama saja, El. Kalau Kak Evans masih membencimu, dia pasti akan memberi banyak alasan atau mungkin tidak akan menetap lama di sini."


Elena mengembuskan napasnya keras-keras. Gara-gara memikirkan hal tersebut, membuat gadis itu tak dapat tidur semalaman. Ajaibnya lagi, dia sampai tidak tertidur di kelas.


"Semoga saja apa yang kau katakan benar, karena kalau tidak, aku mungkin akan meminta ayah dan ibu melepaskanku untuk tinggal sendirian di luar. Lagi pula, usiaku sudah delapan tahun dan akan lulus sekolah."


Mendengar itu, Jenny mengangkat bahunya santai. "Terserah kau saja," ujar gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2