Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 68 : Perjodohan.


__ADS_3

Suasana di ruang keluarga Kerajaan Oswald sedikit memanas, kala Airlea, putri bungsu kerajaan tersebut menatap tajam sang ayah sembari berdiri dari sofa.


Airlea memang gadis berbeda dengan sang kakak, Leanor, yang memiliki sifat sangat pendiam dan selalu menuruti apa pun kemauan kedua orang tuanya. Akan tetapi, bukan berarti Airlea tidak menjunjung tinggi adab perilaku pada mereka. Kesamaan keduanya adalah sangat menghormati Raja Galadriel dan Ratu Levania, kedua orang tua mereka.


Hanya saja kali ini Airlea benar-benar melupakan hal tersebut, ketika Raja Galadriel baru saja mengatakan bahwa dia harus bersanding dengan Prince Deshington dari Kerajaan Lagarde.


Hubungan pertemanan yang terjalin selama hampir tiga dekade membuat Raja Galadriel dan Raja Mevolery berkeinginan untuk menjodohkan anak mereka.


Pilihan Raja Galadriel jatuh pada Airlea, sebab Leanor sendiri telah memiliki kekasih dari kerajaan lain yang sudah disetujui kedua belah pihak keluarga.


"Aku tidak bisa Ayah!" Airlea menegaskan penolakannya sekali lagi. Tatapan matanya sama sekali tak terlihat gentar, meski kini sang ayah membalas tatapannya dua kali lipat lebih dingin.


"Apa alasanmu hingga berani menentang Ayah, Airlea?" tanya Raja Galadriel tanpa menurunkan intonasi suaranya. Ratu Levania yang duduk di sebelah menyentuh lembut lengan sang suami, sedikit memperingatinya bahwa yang sedang diajak bicara adalah putri mereka sendiri.


"Aku tidak akan berlembut hati lagi pada anak yang tidak mau menghormatiku sebagai orang tua sekaligus raja di sini!"


Mendengar perkataan sang suami, Levania hanya bisa menghela napas pasrah. Wanita anggun itu kemudian menoleh pada Airlea dan memberi isyarat pada sang anak untuk mengalah.


Airlea semula enggan melakukannya, tetapi melihat tatapan memohon sang ibu membuat dirinya luluh juga.


"Aku tidak bisa Ayah. Aku juga ingin seperti Leanor yang dapat memilih pasangan hidup sendiri," jawab Airlea. Raut wajah gadis itu tak lagi memandang tajam sang ayah dan nada suaranya pun tak sedingin sebelumnya.


"Tapi selama ini kau tak pernah berusaha berbaur dengan keluarga kerajaan lain. Bagaimana bisa kau memilih pasangan hidup?" Melihat sang anak tak lagi bersikap kurang ajar, Raja Galadriel pun turut melakukan hal yang sama.


Selama ini Airlea memang lebih senang berbaur dengan rakyat biasa dari pada dengan keluarga kerajaan lainnya. Hanya Leanor lah yang sering ikut kedua orang tuanya, karena dia merupakan calon pewaris tahta Kerajaan Oswald.


"Aku memiliki kriteria sendiri!" seru Airlea sembari mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Gadis itu kemudian menyibakkan gaunnya dan kembali duduk di sofa.


Raja Galadriel tertawa kecil. "Seperti apa? Biar ayah dan ibumu ini mendengarnya."


Airlea terdiam. Ingatannya langsung tertuju pada Leon yang notabene hanyalah seorang rakyat biasa dan pekerja serabutan. Selama mengenal Leon, Airlea hanya tau bahwa pria itu tak memiliki keahlian lain selain berburu dan pandai menggunakan senjata. Hidup nomaden memaksa Leon untuk sigap menghadapi bahaya. Maka dari itu dia banyak berlatih menggunakan senjata, terutama belati dan memanah.

__ADS_1


"Mmm ... aku tidak bisa mengatakannya saat ini, yang jelas aku memiliki kriteria sendiri dan itu tidak ada pada Prince Deshington, Ayah!" tegas sang putri.


Mendengar jawaban tak jelas dari anak bungsunya tersebut membuat Raja Galadriel tertawa meremehkan. "Kau itu masih hijau soal pria." Pria paruh baya itu kemudian berdiri dari kursinya. "Ayah tidak mau tahu, minggu depan keluarga mereka akan datang untuk makan malam di sini, dan—"


"Tidak, Ayah! Aku—"


"—jangan bertingkah, apa lagi sampai mempermalukan keluarga ini!"


Sedetik setelah mengatakan demikian, Raja Galadriel pun pergi meninggalkan ruang keluarga.


Airlea berusaha menghadang kepergian sang ayah, tetapi Levania, ibunya, menahan gadis itu.


"Bu, tolong aku," pinta Airlea dengan mata memerah, menahan tangis.


Levania menatap Airlea penuh kasih sayang. Tangannya pun mengelus lembut surai panjang putri bungsunya.


"Kali ini saja, cobalah untuk tidak membantah kemauan ayahmu, Sayang," ujar sang ibu.


"Bu!" seru Airlea. "Aku dan Deshington sudah saling mengenal sejak lama, jadi aku tahu benar seperti apa pria itu!" sambungnya.


Levania berusaha menenangkan kegundahan hati Airlea, sebelum akhirnya pergi menyusul sang suami.


Sepeninggal orang tuanya, Airlea bergegas pergi menuju kamarnya dan merebahkan diri di ranjang mewah miliknya.


Kedekatan di antara ayah mereka membuat Airlea cukup mengenal pribadi Deshington. Apa lagi mereka sering dipertemukan sejak kecil. Deshington yang usianya hanya terpaut dua tahun darinya dikenal sangat arogan dan egois. Dia memang pangeran yang baik bagi rakyatnya, tetapi tidak bagi kolega mau pun kerabat kerajaan.


Belum lagi sifat serakahnya. Deshington akan rela melakukan apa pun untuk mendapatkan yang dia inginkan, dan Airlea tak ingin bersanding dengan pria seperti itu.


Airlea menutup wajahnya menggunakan lengan kiri. Bayang-bayang akan sang kekasih hati, Leon, menghiasi isi kepala gadis itu.


Dia tahu benar hubungannya dengan Leon pasti tidak akan pernah berjalan mulus. Bahkan, bisa jadi sesuatu akan terjadi pada Leon jika sang ayah mengetahui hubungan mereka.

__ADS_1


Airlea menghela napas kasar. Dia pun memutuskan untuk tidur untuk menghilangkan beban pikirannya saat ini.


...***...


"Ups!" seru Leon sembari menahan pijakannya agar tidak terjerembab, saat Airlea tiba-tiba menerjang dan memeluknya seerat mungkin.


Keduanya saling membalas pelukan selama beberapa saat demi melepaskan rindu karena sudah berhari-hari tidak bertemu, sekaligus menghilangkan ingatannya pada acara makan malam yang baru saja keluarganya lakukan dengan keluarga Kerajaan Lagarde kemarin.


"Aku merindukanmu," ucap Airlea begitu mereka melepaskan pelukannya satu sama lain.


Leon tersenyum simpul. "Aku juga," jawab pria itu.


Tanpa aba-aba, Airlea melayangkan kecupan ringan terlebih dahulu ke bibir Leon.


Leon tertawa kecil dan membalas ciuman Airlea dengan panas.


Airlea kontan saja terlena. Dia pun dengan mesra melingkarkan kedua kakinya di pinggang Leon, dan mendekap pria itu erat.


Leon menahan tubuh Airlea dengan memegang pahanya. Gaun yang dipakai gadis itu tak menyulitkan Leon untuk berjalan menuju hutan lebih dalam.


Keduanya baru mau melepaskan pagutan ketika masing-masing dari mereka kehabisan oksigen.


Leon baru saja hendak menurunkan Airlea, tetapi Airlea menolak.


"Biarkan seperti ini dulu," ucap gadis itu sembari memeluk Leon kembali dan meletakkan dagunya di pundak sang kekasih.


Mendapati perlakuan tak biasa dari Airlea, Leon mengernyitkan dahinya. "Ada apa? Apa tengah terjadi sesuatu denganmu?" tanya Leon tanpa basa-basi.


Airlea menggelengkan kepalanya. "Aku hanya rindu padamu. Memangnya tidak boleh?" Airlea balik bertanya.


"Bukannya tidak boleh, hanya saja sikapmu sedikit berbeda kali ini. Kupikir, sedang terjadi sesuatu dengan dirimu atau keluargamu," terka Leon.

__ADS_1


Airlea memejamkan matanya sejenak. Meski terlihat biasa-biasa saja, dia dapat mengetahui bahwa Leon merupakan pria cerdas.


"Apa lagi kalau bukan sikap ayahku yang selalu mengelu-elukan putri sulungnya yang sangat anggun itu!" kilah Airlea. Untuk saat ini, Airlea memutuskan tidak mengatakan apa pun soal perjodohan yang tengah dirancang keluarganya terlebih dahulu pada Leon, sebab dia tahu, Leon pasti akan dengan senang hati mengalah dan melepaskan dirinya.


__ADS_2