Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 59 : Firasat.


__ADS_3

Elena baru saja tiba di kota tempat tinggalnya, setelah menempuh perjalanan selama empat jam menggunakan pesawat komersil. Dan dia masih harus menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam untuk sampai ke rumahnya, dengan menggunakan taksi.


Elena sengaja tidak memberitahu kepulangannya yang mendadak pada Jemima, atau pun pada sang ibu.


"Tolong, Paramount street, Wileen Mansion, Pak," ujar gadis itu pada sang supir taksi.


"Baik, Nona," jawab supir tersebut.


Di sepanjang perjalanan, gadis itu hanya bisa terdiam sembari menatap jalanan yang sudah sepi dari lalu lalang para pengendara.


Maklum saja, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, dan hanya terdapat beberapa kendaraan saja yang terlihat melewati taksi Elena.


Elena mengembuskan napasnya yang masih terasa sesak. Untuk saat ini, dia memutuskan menenangkan diri terlebih dahulu.


Entah bagaimana hubungan mereka ke depannya, gadis itu tak ingin memikirkannya dulu. Kalau memang Evans benar-benar membencinya dan tidak menginginkan hubungan ini ... mungkin, akan lebih baik jika dia menyerah dan pergi menjauh.


Meski berat dan kecewa, Elena tak bisa memaksakan perasaannya lagi pada pria itu.


Di satu sisi, dia tak ingin menjadi gadis egois, kendati keegoisannya tersebut merupakan salah satu cara, agar janji yang pernah terucap bisa terealisasi.


Namun, di sisi lain, Elena sangat ingin hidup bersama Evans. Tak peduli jika mereka harus terus mengulang kematian tragis tersebut, seperti yang sudah-sudah.


"Yang mana saja asal bisa bersamamu, aku tidak keberatan, Bodoh!" ucap Elena sembari mengelus foto Evans di ponselnya. Foto yang sengaja dia ambil diam-diam, ketika mereka berada di kafe semalam.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Evans Bodoh!" hardik gadis itu sembari terus mengelus foto Evans. Tindakannya berbanding terbalik dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


"Ada apa dengan mobil itu?" Suara sang supir tiba-tiba mengalihkan pikiran Elena sejenak. Gadis itu refleks menoleh ke depan.


Sang supir ternyata tengah membunyikan klakson mobilnya berkali-kali.


"Apa ya—" Belum sempat Elena berbicara, seberkas cahaya terang yang begitu menyilaukan, tiba-tiba menghalangi pandangan mata gadis itu.


Hanya dalam waktu beberapa detik, suara hantaman benda keras pun terdengar seketika.


Tubuh Elena sontak berguncang hebat. Taksi yang dia tumpangi saat ini ternyata bertabrakan dengan sebuah mobil SUV yang sejak tadi bergerak tak tentu arah.

__ADS_1


Sang supir taksi yang menyadari keanehan mobil tersebut, sempat menghindar jauh. Akan tetapi, mobil SUV itu tiba-tiba membanting setirnya ke lawan arah dan langsung menabrak mereka.


Taksi yang dikemudikan Elena kemudian terpental dan berguling-guling selama belasan meter, sebelum akhirnya berhenti menghantam sebuah pohon dengan posisi terbalik.


Ponsel Elena terjatuh tak jauh dari tubuhnya dalam keadaan retak. Kendati begitu, layar ponsel masih dalam kondisi menyala.


Seatbelt yang menahan tubuh gadis itu, membuatnya berada dalam posisi terbalik.


Dengan sisa-sisa tenaga, Elena berusaha menggapai ponselnya, sembari menatap foto Evans yang masih terpampang jelas di sana.


"Lupakan janji itu! Takdir kita tak akan pernah berubah jika terus bersama. Kau sudah hampir celaka karena perbuatan Albern."


Elena tersenyum. Dia masih mengingat betul perkataan Evans kemarin.


"Meski gagal, kita tidak tahu bagaimana ke depannya! Jangan keras kepala, hidupmu akan dipenuhi luka saat bersamaku!"


Tangan Elena mulai terkulai. "Belum bersamamu saja, aku sudah mengalaminya. Jadi, ketakutanmu itu sangat tidak masuk akal."


Darah segar mulai mengucur dari kepala Elena. Sayup-sayup, gadis itu juga dapat mendengar suara-suara sirine mobil yang mulai berdatangan.


...***...


"Elena!" Evans berteriak sekeras mungkin, sembari terbangun dari tidurnya.


Napas pria itu tampak terengah-engah, dengan kondisi tubuh yang sudah basah oleh keringat.


Mimpi yang baru saja dia alami tentang Elena benar-benar menakutkan. Pria itu seolah sedang berada di sana dan menyaksikan sendiri, bagaimana taksi yang ditumpangi Elena terlibat dalam sebuah kecelakaan mengerikan.


Evans kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, guna mencari nomor ponsel Elena. Pria itu berniat menghubungi sang adik demi memastikan kondisinya.


"Sial! Sial!" umpat Evans seketika. Pasalnya, dia baru teringat bahwa nomor ponsel Elena sudah lama dihapus. Dia bahkan sengaja mengganti nomor ponselnya sendiri, agar keluarga Wileen tidak dapat menghubunginya lagi.


Evans mengacak rambutnya frustrasi. Pengalaman akan peristiwa Albern dua tahun lalu, membuat pria itu tidak bisa begitu saja mengabaikan mimpi tersebut.


...***...

__ADS_1


Simon, Samantha, dan Jemima tiba di rumah sakit satu jam setelah polisi menelepon mereka.


Dengan wajah berlinang air mata, Samantha terduduk di depan ruang operasi bersama Jemima. Sementara Simon berbincang terlebih dahulu dengan dua orang polisi yang memang menunggu mereka di sana.


Dari keterangan yang diberikan perawat UGD kepada pihak kepolisian, Elena mengalami pendarahan hebat di otaknya. Beberapa luka terbuka juga terdapat di tubuh gadis itu.


Beruntung, dua mobil polisi sedang berpatroli saat kecelakaan tersebut terjadi. Alhasil, Elena dan sang supir taksi pun bisa dengan cepat mendapat pertolongan.


Seatbelt yang digunakan Elena juga bekerja dengan baik menahan tubuhnya. Jika tidak, dia mungkin akan terpental keluar mobil hingga ke badan jalan.


Sebelum pergi dari sana, salah satu polisi memberikan ponsel milik Elena yang penuhi oleh bercak darah.


Simon berterima kasih pada dua orang polisi tersebut.


Samantha menerima ponsel milik putrinya dari tangan sang suami. Melihat kondisi ponsel Elena yang lumayan mengenaskan, wanita itu kembali menangis.


"Ya Tuhan," gumamnya lirih sembari mengelus ponsel tersebut.


Sentuhan itu ternyata membuat ponsel Elena menyala.


Samantha sontak mengerutkan keningnya, tatkala mendapati foto seorang pria berjanggut dan berkumis tipis, menjadi wallpaper ponsel tersebut.


Wanita yang baru saja bersandar dalam pelukan sang suami, kembali menegakkan tubuhnya.


"Sepertinya, pria ini tampak tidak asing."


Mendengar perkataan Samantha, Simon dan Jemima lantas ikut menatap ponsel milik Elena.


Jemima terkesiap seketika. Dia yang telah hidup bersama dengan Evans selama tujuh tahun, tentu tahu betul seperti apa rupa sang tuan ketika memiliki janggut dan kumis. Sebab Evans pernah dua kali menumbuhkannya dulu.


"Ini Tuan Evans, Nyonya!" ungkap wanita itu tanpa keraguan.


Simon dan Samantha kontan saja terkejut. Mereka pun sekali lagi meminta Jemima untuk melihat foto tersebut dengan lebih jelas.


"Iya, Tuan, Nyonya, saya yakin ini adalah Tuan Evans!" serunya penuh keyakinan. Berapa kali dilihat pun, Jemima dapat memastikan bahwa sosok pria yang ada di foto tersebut adalah mantan atasannya.

__ADS_1


Selain itu, ada satu hal lagi yang dapat Jemima pastikan, yaitu tempat di mana foto tersebut diambil.


__ADS_2