
Evans terdiam cukup lama di dalam mobil, sembari memandangi sebuah bangunan klasik yang tampak sudah cukup tua.
Tepat di halaman bangunan tersebut, terrdapat banyak anak-anak kecil yang sedang asyik berlarian ke sana kemari.
Panti Asuhan Maria Joseph, itulah nama bangunan yang sangat Evans kenali tersebut.
Panti asuhan tempat di mana Evans berasal. Pria itu sebenarnya sama sekali tidak pernah mengingatnya, sebab dia hanya beberapa hari berada di sana sebelum akhirnya diangkat sebagai anak oleh kedua orang tuanya yang sekarang.
Dari yang pernah Samantha dengar, Evans merupakan bayi yang dititipkan seorang wanita tunawisma di sana, dan tidak pernah diambil lagi.
Saat pertama kali Simon dan Samantha melihat sosok mungil dirinya, Samantha langsung jatuh hati. Apa lagi, mereka memiliki warna mata yang serupa.
Tanpa basa-basi, Simon dan Samantha langsung membawa Evans pulang hari itu juga. Baru setelahnya, Simon mengurus surat-surat agar hubungan mereka sah secara hukum.
Tiba-tiba, suara ketukan kaca mobil menyadarkan lamunan Evans seketika. Tampak seorang gadis bermata jade menatap pria itu dari balik kaca dengan sorot mata polos.
Evans membuka kaca mobilnya dan tersenyum ramah. "Hai," sapa pria itu.
"Hai, Tuan. Maaf, sejak tadi aku memperhatikan mobil Tuan di sini dan tidak bergerak sama sekali. Jadi aku kira, pemilik mobil ini sedang mengalami kesulitan," kata gadis kecil tersebut.
Mendengar perkataan penuh sopan santun dari seorang anak kecil, sontak membuat Evans mengulas senyum simpul. Dia pun turun dari mobil dan berjongkok di hadapan sang gadis.
"Siapa namamu?" tanya Evans kemudian.
"Cecilia. Usiaku 7 tahun dan aku adalah anak tercantik di panti asuhan ini," jawab Cecilia antusias.
Evans tertawa kecil dan mengacak rambutnya pelan.
"Jadi, mengapa Tuan berhenti di sini?" tanya Cecilia penasaran. Rupanya dia masih ingin tahu alasan Evans berhenti di sana.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memperhatikan kalian yang sedang asyik bermain di halaman," jawab Evans.
"Kenapa melihatnya dari jauh? Tuan bisa masuk ke dalam dan menyapa kami."
Evans meringis, Cecilia benar-benar seorang gadis kecil yang sangat kritis dan tidak akan menyerah jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
Baru saja Evans hendak menjawab, tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dan menegur gadis itu
"Cecil, jangan mengganggu Tuan itu," kata sang wanita.
"Maaf Madame, aku hanya penasaran mengapa Tuan tampan ini tidak masuk ke dalam panti."
wanita itu tiba di hadapan Evans mengusap kepala Cecilia, dan meminta gadis itu untuk kembali bermain dengan saudara-saudaranya.
"Baiklah. Dah, Tuan tampan!" seru Cecilia sebelum berlari menuju saudara-saudaranya.
"Maafkan kelakuan anak itu. Dia memang anak cerdas dan sedikit cerewet. Para suster di sini sering dibuat pening." Wanita itu tertawa renyah.
"Tidak apa-apa." Jawab Evans tersenyum.
"Ahh, maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Maria, pemilik panti asuhan ini. Ada yang bisa saya bantu?" Maria mengulurkan tangannya pada Evans.
Evans menatap wanita itu dalam-dalam. Maria adalah nama pemilik panti sekaligus wanita pertama yang memeluknya, saat pria itu dititipkan ke sana pertama kali.
Evans menyambut uluran tangan Maria. "Apa kabar Madame Maria?"
Maria mengerutkan keningnya dalam-dalam, begitu mendengar sapaan Evans. Dia seperti tengah mengingat-ingat sesuatu.
Mendengar hal itu, Maria sontak terkejut. Keluarga Wileen merupakan donatur terbesar panti asuhan miliknya, sebelum kemudian diambil alih oleh pemerintah setempat.
Dengan mata basah, Maria menelisik fisik Evans yang tampak gagah dengan setelan jasnya. Ada rasa kebanggan yang tersirat di diri wanita itu, tatkala menyadari sang bayi kecil kini sudah tumbuh besar dan sukses.
Maria pun mempersilakan Evans untuk mampir dan masuk ke dalam panti.
Melihat kedatangan pria tampan ke sana, anak-anak panti yang sedang bermain langsung mengerubunginya untuk berkenalan.
Setelah puas bercengkerama dengan anak-anak panti dan berkenalan dengan para pengurus lain, Evans dan Maria masuk ke dalam ruangannya.
Di sana Maria memperlihatkan dua lembar foto Evans, saat dia baru saja dititipkan.
"Hanya ini foto yang aku miliki. Wanita yang aku kenal sebagai ibumu, tak pernah lagi terlihat sejak saat itu. Ada kabar mengatakan, bahwa dia dipindahkan ke panti sosial. Namun, ada juga kabar lain yang mengatakan ... ibumu sudah meninggal."
__ADS_1
Evans mengambil foto tersebut dari tangan Maria. Dia yang memang tidak pernah mengenal siapa ibunya, memilih untuk tidak berkomentar. "Boleh aku menyimpan foto ini?"
"Tentu saja. Simpanlah baik-baik."
Evans menatap foto tersebut dengan saksama. Matanya menatap lekat-lekat sesosok wanita bermantel tebal yang wajahnya tertutupi kupluk dan syal.
Maria kemudian mengajaknya berbincang-bincang mengenai panti asuhan tersebut, sekaligus kebaikan Keluarga Wileen yang sudi menolong mereka disaat panti berada di ujung tanduk.
"Jika bukan karena mereka, panti ini mungkin sudah tutup saat itu juga," kata Maria.
Wanita berusia hampir 70 tahun itu kemudian memegang tangan Evans dan menepuk-nepuknya lembut. "Berbahagialah dengan keluargamu, Nak Evans. Kau adalah segalanya bagi mereka."
Evans tertegun sejenak mendengarnya.
...***...
"Kau habis dari mana Sayang, sampai pulang malam begini?" tanya Samantha saat Evans baru saja pulang ke rumah dan menghampiri dirinya di dapur. Pria itu juga mencium pipinya lembut.
"Aku baru saja mengunjungi panti, Ma," jawab Evans jujur.
Samantha yang sedang sibuk mengaduk makanannya di panci, kontan menghentikan kegiatan memasaknya. "Mama sudah lama sekali tidak ke sana lagi. Apa panti dalam keadaan baik? Bagaimana dengan Madame Maria?" Pertanyaan beruntun lantas terlontar dari mulut wanita itu.
Evans tersenyum simpul. "Panti dalam keadaan baik, Ma. Beliau pun terlihat sangat sehat." Jawab pria itu.
"Syukurlah. Kapan-kapan ajak Mama berkunjung lagi ya, Sayang?"
Evans menganggukkan kepalanya.
Saat keduanya tengah asyik membicarakan panti asuhan, tiba-tiba suara Elena menyapa indera pendengaran mereka.
Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah, sementara di belakangnya, Lili dan Anna tengah sibuk membawa tas besar dan beberapa paper bag berisi oleh-oleh.
Elena mencium pipi Samantha, dan menyapa Evans biasa. Namun, pelototan sang ibu membuat gadis itu akhirnya mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi sang kakak juga.
"Banyak sekali oleh-olehnya," tukas Samantha saat Lily selesai mengangkat seluruh paper bag ke atas meja dapur.
__ADS_1
"Aku bingung memilihnya, jadi kubeli saja apa yang ada. He he he ...." Elena menggaruk pipinya yang tak gatal.
Samantha menghela napas pasrah sembari menggelengkan kepalanya. Dia pun menyuruh kedua putra-putrinya untuk mandi dan berganti pakaian. "Baru setelah itu, kita makan malam bersama. Tidak perlu menunggu Papa. Papa ada janji makan malam dengan temannya."