Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 28 : Terikat Janji Masa Lalu.


__ADS_3

...Perhatian:...


...Harap bijak dalam menanggapi isi cerita. Scene ini dibutuhkan demi kelangsungan cerita agar dapat berjalan dengan baik dan saling berkesinambungan....


...Terima kasih....


.


.


.


Dengan kasar, para anak buah Benjamin menyeret Leon dan Iris masuk ke dalam bagian Hutan Maxwell yang dikenal sebagai hutan mati. Kebakaran hutan yang pernah terjadi beberapa tahun silam membuat para mahluk hidup enggan masuk ke dalam sana. Sebab, berbagai rumor menyeramkan beredar dari mulut ke mulut, salah satunya adalah api abadi yang akan membakar siapa pun yang berani masuk ke dalam bagian hutan tersebut.


Mereka mengikat mulut Iris dan Leon guna mencegah teriakan yang menggema memenuhi hutan belantara itu.


Benjamin menyuruh anak buahnya berhenti, ketika mereka telah sampai di sebuah tepi jurang gelap.


Lolongan serigala membuat suasana hutan semakin mencekam.


Benjamin membuka ikatan mulut sepasang suami istri tersebut. Mereka ditelungkupkan dengan wajah menghadap jurang.


"Lihat jurang itu!" Benjamin menjambak kepala Iris. Berbekal satu cahaya obor yang dibawa salah satu anak buah Benjamin, mereka dapat melihat dengan jelas, bagaimana menyeramkannya jurang tersebut.


"Kalian akan mati jika tidak menuruti perintahku!" ancam pria bertubuh gemuk itu sekali lagi.


"Lakukan saja, aku tak peduli!" seru Iris.


"Iris!" hardik Leon dengan suara tersendat. Dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Tendangan anak buah Benjamin membuat dadanya terasa sangat sakit.


"Besar sekali nyalimu, wanita j*l4ng!" Kemarahan tercetak jelas di wajah Benjamin. Dia pun dengan beringas menyiksa Iris dan membuka seluruh pakaiannya.


Melihat itu, Leon meronta-ronta. Ikatan tangan dan kakinya yang melonggar membuat Leon dapat melepaskan diri. Namun, kondisinya yang sudah babak belur tidak membawa keberuntungan pada diri pria itu. Dengan mudah Leon dapat dibekuk kembali. Bahkan mereka memukuli kaki pria itu hingga patah.


Para bed3bah kurang aj4r itu tertawa terbahak-bahak dan bersiul-siul, ketika tubuh polos nan mulus Iris terpampang di sana.


Benjamin menyeringai senang. Dengan wajah menjijikan dia menjilat bibirnya sendiri.

__ADS_1


Iris menangis terisak-isak. Teriakannya bahkan tak lagi keluar karena tenaganya sudah di ambang batas.


Anak buah Benjamin menjambak kepala Leon, dan memaksanya untuk melihat perbuatan keji yang dilakukan bos mereka pada wanita muda itu.


Leon berteriak. Hati pria itu hancur sejadi-jadinya melihat sang istri digag4hi pria brengsek di depan matanya sendiri.


"Lepaskan dia! Bunuh aku saja brengsek! Jangan sakiti istriku!" teriak Leon. Namun, teriakannya sama sekali tidak dihiraukan Benjamin.


Tak tahan dengan pemandangan tersebut, Leon berteriak hingga suaranya tak lagi dapat terdengar. Sementara Iris kini tampak terdiam. Sorot mata wanita itu berubah kosong dan kelam. Tak ada lagi cahaya yang pernah terpancar di mata indah sang istri. Semua seakan sirna dalam sekejap.


Setelah Benjamin selesai melakukan perbuatan bej4tnya, dia pun segera menyuruh para anak buahnya untuk menghabisi Leon saat itu juga.


"Tuan, biarkan kami menikmati wanita ini juga!" pinta salah seorang anak buah Benjamin.


"Tidak ada yang boleh menikmati wanita itu, kecuali m4y*tnya!" tegas Benjamin, yang langsung mendapat gumaman rendah dari mereka.


Leon berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tangannya guna membelai wajah cantik Iris.


"Aku mencintaimu, Iris," ucap Leon dengan susah payah.


"Aku juga mencintaimu." Setetes air mata mengalir membasahi wajah Iris.


Iris berteriak tanpa suara. Tangan Leon yang semula tengah membelai wajahnya, kontan terkulai jatuh ke tanah.


Air mata Iris semakin deras mengalir, tatkala menatap wajah pucat pasi sang suami. Tangan halusnya yang gemetaran kemudian menggapai wajah Leon dan membelainya lembut.


"Aku mencintaimu, Leon," ucap Iris lirih. "Aku membiarkan Tuhan menghinakan kehidupan kita di masa ini. Namun, aku berjanji dengan seluruh darah yang telah ditumpahkan secara kejam hari ini, bahwa kita akan hidup bahagia pada kehidupan mendatang."


Iris terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak dar4h dari mulutnya.


Mata wanita itu terpejam sejenak, sebelum akhirnya terbuka kembali dan melanjutkan perkataannya. "Kita akan terus terlahir kembali sebagai sepasang kekasih yang selalu saling mencintai ... dan setiap kesempatan itu tiba, aku tak akan pernah membiarkan Tuhan mengambil ingatan pahit ini dari kita sampai kapan pun." Iris tersenyum lembut.


"Bvnvh dia!"


Terdengar perintah Benjamin pada anak buahnya untuk menghabisi nyaw4 Iris.


Iris yang sudah siap menyusul sang suami mulai memejamkan matanya. Seulas senyum simpul untuk Leon dihadiahkan Iris sebagai salam perpisahan.

__ADS_1


Kapak mengayun di atas kepala Iris dan mengambil ny4w4nya dalam sekejap.


Setelah itu, tubuh tak bernyaw4 Iris dan Leon dilempar begitu saja ke dalam jurang.


...********************...


Elena tak lagi berada di ruang ICU. Kini, gadis itu langsung pindahkan ke ruang perawatan President Suite, setelah diubah sedemikian rupa agar dapat menunjang kebutuhan medisnya.


Samantha menolak mentah-mentah usulan pihak rumah sakit untuk melepas semua alat-alat penunjang kehidupan Elena, dan membiarkan sang putri pergi dengan damai.


Wanita itu dengan tegas meyakinkan sang suami dan anak sulungnya, bahwa Elena akan terbangun kembali cepat atau lambat.


Demi menghindari perdebatan, Simon pun mengalah. Pria paruh baya itu yakin bahwa sang istri hanya membutuhkan waktu sedikit lebih banyak untuk menerima kenyataan pahit tersebut.


...***...


Evans yang baru pulang dari kantor bergegas datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Elena, sekaligus menggantikan Samantha yang telah berjaga selama semalaman. Jika terus dibiarkan, sang ibu pasti akan tetap berada di sana dan enggan pulang ke rumah.


Butuh sedikit usaha agar sang ibu mau menuruti perintah anak sulungnya tersebut.


"Tolong, antar ibuku pulang," pinta Evans pada Jemima, sekretaris pribadinya, yang turut ikut ke sana.


"Baik Tuan. Anda juga harus pulang nanti," ujar Jemima sembari menyerahkan goodie bag berisi pakaian Evans yang memang sengaja dia bawa sejak pagi.


"Mama harus beristirahat dan makan." Evans mengalihkan pandangannya pada Samantha.


Samantha menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu membelai wajah putra sulungnya dengan penuh sayang. "Maafkan Mama ya, Nak. Akhir-akhir ini Mama selalu mengabaikan dirimu dan hanya memikirkan adikmu. Mama harap kau mengerti ya, Sayang?"


Evans mengambil tangan Samantha dan menciumnya lembut. "Aku mengerti, Ma."


Setelah berpamitan dan memastikan kedua wanita itu telah pergi, Evans langsung menghampiri ranjang Elena dan mengecup singkat keningnya. "Kakak pulang," bisiknya lirih, sebelum kemudian beranjak pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri dan berganti pakaian.


Selesai mandi, Evans menghabiskan waktunya dengan berbincang-bincang ringan dengan sang adik. Meski Elena tidak dapat merespon setiap obrolannya, Evans tetap berceloteh membicarakan segala hal.


Seakan teringat sesuatu, Evans kemudian tertawa kecil. " ... karena kau, aku jadi banyak bicara," katanya jenaka.


Pria itu lalu memegang tangan Elena dan menciumnya beberapa kali. "Tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Itu lah mengapa aku juga memiliki sedikit harapan, bahwa suatu saat nanti kau akan membuka mata lagi, cepat atau lambat. Jika demikian, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Elena. Tak akan kubiarkan kau menangis lagi. Maafkan aku."

__ADS_1


Sebaris janji beserta maaf terucap dari mulut Evans, sebelum pria itu menyamankan diri dengan bersandar pada sofa dan memejamkan mata.


__ADS_2