
"Selamat datang Tuan Evans." Joe, pria bertubuh tinggi tegap yang sudah menunggunya sejak tadi, segera membungkuk hormat ketika melihat kedatangan Evans. "Saya Joe, yang akan menjadi supir pribadi Tuan mulai saat ini."
Evans mengangguk singkat. Joe kemudian membukakan pintu mobil guna mempersilakan Evans dan Jemima masuk.
Tak ada perbincangan di sepanjang perjalanan. Sejak awal keberangkatannya, hingga sampai di tempat ini, Evans berubah menjadi sosok yang lebih dingin dan pendiam.
Jemima sebenarnya tahu apa yang menyebabkan Evans berlaku demikian. Bamun, wanita itu tak ingin ikut campur pada kehidupan pribadi tuannya tersebut.
"Tuan, Anda ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, atau langsung pulang?" tanya Joe tak lama kemudian.
Evans menatap jam tangannya sejenak. "Antar aku ke kantor dulu," jawab pria itu datar.
"Baik, Tuan." Joe menganggukkan kepalanya.
...***...
Hari ini Elena tiba di rumah tepat waktu. Albern yang sedang sibuk dengan tugasnya, tidak bisa menjemput Elena di sekolah. Alhasil, gadis itu tidak memiliki alasan lain agar bisa pulang terlambat demi menghindari seseorang, yang mungkin saja sudah tiba di rumah.
Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan cara mengendap-endap.
"Nona El," sapa Lily, salah seorang maid yang paling sering melayani kebutuhan pribadinya, dari mulai bangun tidur, hingga tidur kembali.
"Ssstt!" Elena meletakkan jari telunjuknya ke bibir. "Sepi sekali? Kakakku sudah datang?" tanyanya sembari berbisik.
Lily menggelengkan kepalanya. "Nyonya bilang, Tuan Evans mampir ke kantor terlebih dahulu. Nyonya baru saja menyusul ke sana. Beliau menitip pesan pada saya untuk disampaikan pada Nona."
"Pesan apa?" tanya Elena dengan suara biasa. Wajahnya yang semula takut kini terlihat sedikit lega.
"Anda diminta menyusul ke kantor," jawab Lily.
Mendengar jawaban gadis itu, Elena sontak menolak. "No! Lebih baik aku tidur saja. Kalau mamaku menelepon, bilang saja aku tengah berhibernasi hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan!" serunya dengan mematri wajah seketus mungkin.
Tanpa bicara apa-apa lagi, Elena lantas melenggang santai melewati Lily, menuju lantai dua.
"Tapi Non—"
Perkataan Lily terhenti saat Elena mengangkat tangannya ke atas sembari mengepal. Tanda bahwa dia menyuruhnya untuk diam.
Sesampainya di kamar, Elena langsung membasuh diri dan berganti pakaian. Melalui interkom, dia juga meminta Lily untuk mengantarkan makanan ke kamar.
Sembari menunggu makanan datang, Elena memilih menonton televisi.
__ADS_1
...*************...
Hamparan ladang gandum membentang luas bak permadani indah di salah sudut desa terpencil itu. Seorang wanita muda sedang duduk dengan tenang di atas papan beroda yang ditarik oleh pria pujaan hatinya.
Mulut wanita itu bersenandung, mengiringi langkah kaki si pria yang sesekali tampak menoleh ke belakang dan tersenyum padanya.
Tak butuh waktu lama, keduanya tiba di depan sebuah bangunan rumah sederhana, yang semuanya tersusun dari papan dan batu saja.
Wanita muda itu turun dari atas papan beroda sembari membawa dua buah kantong perca berisi sayur dan buah, yang baru saja mereka tukar dengan dua helai pakaian.
Tak ada yang istimewa dari interior rumah tersebut. Lantainya hanya beralaskan tanah padat, sementara toilet terpisah di luar. Di dalamnya hanya ada satu buah papan berkaki yang dipakai mereka sebagai tempat tidur, dan sebuah perapian kecil yang dipenuhi beberapa gerabah untuk memasak.
Meski hidup serba kekurangan, sepasang suami istri muda itu tampak sangat bahagia. Mereka terlihat saling membantu dan saling menguatkan satu sama lain.
...***...
Suasana gelap lantas tergantikan saat sang suami berhasil menyalakan obor untuk penerangan rumah mereka.
Keduanya kini tengah duduk di atas tempat tidur sederhana milik mereka, sembari berpelukan untuk menghalau dingin yang mulai menerpa.
"Sudah lebih hangat?" tanya sang suami pada wanita muda itu.
Sang wanita mengangguk semangat. "Terima kasih," ucapnya riang.
Hampir setiap malam pria itu akan memeluk sang istri, demi memberikan kehangatan sampai ia tertidur.
"Terima kasih," ucap si pria lirih, sembari mengeratkan pelukannya.
"Untuk apa?" tanya wanita muda itu.
"Segalanya. Meski terkadang aku malu, karena telah membawamu dalam kehidupanku yang penuh dengan berbagai kepedihan ini."
"Tidak, Sayang. Bukan kau lah yang membawaku, melainkan aku yang mengikutimu." Wanita muda itu mengelus pipi sang suami lembut.
"Berjanjilah Iris, bahwa kita akan terus bersama," ujar si pria.
Iris mengangguk mantap. "Meski bumi terbelah dua, dan semesta hilang di peraduannya, aku akan selalu mencintaimu, Leon." Matanya menatap sang suami penuh cinta.
Leon tersenyum, tangannya terulur memegang dagu Iris, dan mulai mengecupi seluruh wajahnya dengan gerakan selembut mungkin.
Mata mereka saling terpejam satu sama lain. Tak ada satu kata pun lagi yang terucap dari kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu. Mereka seolah saling berbicara melalui bahasa tubuh masing-masing.
__ADS_1
Iris menyampirkan surai keemasannya, ketika bibir halus Leon sampai pada tulang selangka wanita itu.
Leon mengg*git, mengh*s4p dan membelai tubuh Iris menggunakan l*d4h dan bib1r tipisnya. Tak lupa, dia juga membuat tanda kepemilikan di sana, sebelum kemudian beralih pada dua bu@h aset Iris yang hanya tertutupi sebagian oleh selimut tipis milik mereka.
Iris menggigit bibirnya sendiri, saat bibir Leon mulai menyapu seluruh tubuh bagian depannya. Tangan wanita muda itu bahkan mulai mencengkeram erat, selimut yang membalut tubuhnya.
Perlahan, sang suami merebahkan Iris dan mulai membuka seluruh kain yang ada di tubuh wanita tercintanya.
"Hmm!"
"B*n*h dia!"
Tiba-tiba terdengar suara bariton seorang pria.
Iris sontak membelalakkan matanya ketika sebuah kapak besar berada persis di atas kepala Leon, dan hendak berayun.
"TIDAAAK!"
...*************...
"TIDAAAK!"
Elena terbangun dari tidurnya dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin juga terlihat membasahi seluruh tubuh gadis itu.
Wajah gadis itu benar-benar ketakutan saat mengingat sebuah kapak besar hendak menghant4m kepala seorang pria di dalam mimpinya.
"Apa itu?" gumam Elena dengan sorot mata horor. Lagi-lagi, dia memimpikan gadis bernama Iris itu.
Elena memeluk kedua bahunya sendiri. Napasnya bahkan terdengar sedikit memburu, karena mimpi yang baru saja terjadi terasa lebih nyata dari pada sebelum-sebelumnya.
Elena sontak memegang tulang selangkanya.
"****!" umpat gadis itu seketika.
Suara ketukan pintu terdengar tak lama kemudian. Lily masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makan siang dan segelas jus dingin untuk Elena.
"Lama sekali, sih! Aku sampai ketiduran tahu!" ketus Elena.
"Ma–maaf, Nona, saya harus menerima telepon dari Nyonya Samantha terlebih dahulu. Beliau juga sudah saya beritahu perihal keengganan Nona pergi ke kantor."
"Baiklah, kau boleh pergi." Elena mengambil nampan tersebut dari tangan Lily. Maid muda itu pun pergi meninggalkan nona majikannya.
__ADS_1
Tak ingin memikirkan mimpi aneh tersebut, Elena bergegas mengganti pakaiannya yang kini basah oleh keringat, sebelum menyantap makanan yang dibawa oleh Lily.