
Jalanan yang sudah mulai sepi tak menyurutkan keinginan Elena untuk terus berjalan seorang diri menuju halte bus. Sembari menangis, dia sibuk menyumpah-nyumpahi Iris yang kini bersemayam dalam dirinya.
Wajar saja, sebab sebelumnya, dia begitu mencintai Albern dengan setulus hati. Seuntai angan untuk hidup bersama dengan pria itu setelah selesai menempuh pendidikan, hancur seketika setelah Iris datang dan memberinya ingatan ini.
Namun, di sisi lain Elena tak rela jika harus kembali berpisah dengan suami masa lalunya.
Kehidupan pahit mereka di masa lalu, hingga kematian tragis yang menimpa dirinya dan Evans dulu, membuat Elena berjanji untuk merubah takdir hidup mereka di kehidupan mendatang.
Iris pernah mengatakan, bahwa mereka merupakan reinkarnasi ketiga. Dua reinkarnasi sebelumnya tak mampu merubah takdir mereka dan berakhir dengan cara yang nyaris sama.
Mendengar itu, Elena tentu saja tak ingin membiarkan hal yang sama terjadi di masanya.
Iris berhasil membuatnya mengingat semua. Itu berarti, janji terikat yang dia ikrarkan telah direstui oleh semesta.
Hatinya kini tengah berusaha keras mencari cara, agar Evans dapat mengingat semua kenangan mereka sebagai Leon dan Iris, entah bagaimana pun caranya.
Elena menatap jam tangan yang dipakainya. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, yang berarti bus terakhir akan segera tiba. Semoga saja dia belum terlambat saat sampai di halte bus.
Gadis itu menghapus jejak-jejak air mata yang masih mengalir dan mulai mempercepat langkahnya.
Sesekali, dia terlihat menoleh ke sana kemari hanya untuk memastikan tidak ada orang asing yang mengikutinya, mengingat jalanan dimana dia berada saat ini, jarang sekali dilalui kendaraan atau orang-orang pada malam hari.
Maklum, kawasan itu adalah kawasan konstruksi yang sudah dua tahunan dikosongkan dan belum dibangun. Entah terhalang dana atau sesuatu.
Bus saja hanya memiliki jadwal tiga kali di sana, yaitu pukul setengah tujuh pagi, pukul empat sore, dan pukul sepuluh malam. Namun, terkadang saking sepinya, bus malam tidak akan datang.
Elena sedikit hafal tempat tersebut karena dulu, saat masih duduk di tingkat menengah pertama, dia sering kali minta diantar sampai ke sana hanya untuk berangkat sekolah bersama teman-temannya menggunakan bus.
Saat sedang asyik-asyiknya mengingat masa sekolah, Elena dikejutkan oleh suara gesekan benda yang terdengar persis di belakangnya.
Gadis itu kontan saja berhenti dan segera berbalik badan. Namun, dia tidak dapat menemukan apa pun atau siapa pun di sana.
Mencoba mengabaikan hal tersebut, Elena kembali melanjutkan langkahnya, tetapi kali ini dengan tempo yang sedikit lebih cepat. Tak dapat dipungkiri, suasana yang sepi membuat nyalinya ciut juga.
Tak berapa lama, lagi-lagi dia mendengar suara yang sama.
Takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Elena pun mulai berlari. Secepat mungkin dia harus sampai di halte bus yang jaraknya sekitar 200 meter lagi. Sebab, di sana terdapat CCTV dan tombol darurat yang dapat membantu Elena menghubungi polisi.
Dia memang membawa ponselnya, tapi tetap saja akan lebih aman jika gadis itu sampai di halte.
Namun nahas, tepat ketika Elena akan melewati satu-satunya minimarket yang sudah tutup, seseorang tiba-tiba saja membekap mulut gadis itu dan menyeretnya masuk ke dalam gang sempit, di sebelah minimarket.
__ADS_1
Elena tentu saja tak tinggal diam. Dia memberontak sekuat tenaga dan terus memukuli orang tersebut menggunakan tasnya.
Beruntung, dia berhasil lepas dari cengkeraman orang itu dan segera melarikan diri menuju mulut gang.
Sambil berlari, Elena mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi seseorang.
Satu-satunya orang yang terlintas di benak gadis itu saat ini hanyalah Evans.
Elena bernapas lega setelah berhasil keluar dari gang sempit tersebut. Namun, saat dia hendak menekan tombol 'call' pada ponselnya, tiba-tiba saja rambut Elena ditarik dan diseret paksa ke dalam gang sempit itu kembali.
Di sana, Elena dibanting ke aspal dan tubuhnya diduduki.
Pria yang Elena taksir berusia 30 tahunan itu kemudian merampas tasnya dan mengambil seluruh uang yang ada dalam dompetnya. Ia juga mengambil ponsel dan jam tangan milik gadis itu.
Elena pikir, pria itu akan langsung pergi setelah merampok seluruh harta bendanya. Namun, ternyata tidak. Dengan beringas pria asing itu mulai mengoyak pakaian Elena dan menyumpal mulutnya.
Elena sontak tak dapat berteriak atau melarikan diri seperti tadi, karena kedua tangannya juga diinjak oleh pria tersebut.
"Jarang-jarang ada wanita cantik yang berani melewati kawasan ini seorang diri. Sayang sekali rasanya kalau aku tidak memanfaatkan kesempatan ini!" seru pria tersebut seraya mengelus wajah Elena.
Dengan suara tertahan, Elena mulai menjerit-jerit keras.
"Tak ada yang mendengar suaramu, Manis," ucap si pria. Dia bersiap menyerang Elena yang sudah memejamkan mata sembari menangis sesenggukan. Namun, tiba-tiba saja tubuh pria itu terjatuh ke samping sambil menjerit kesakitan.
Evans membuka jaketnya dan memakaikan jaket tersebut ke tubuh sang adik, yang hanya terbalut pakaian dalam saja.
"Kau baik-baik saja?" tanya Evans pada sang adik.
Elena tidak bisa menjawab. Dia hanya memegangi kedua lengan Evans dan mencengkeramnya kuat-kuat.
Evans langsung memeluk Elena dan berusaha menenangkannya. "Kau aman sekarang."
Tak ingin berlama-lama di sana, Evans pun memutuskan untuk menggendong sang adik dan membawanya pergi dari sana.
Elena mengalungkan tangan dan menyembunyikan kepalanya di leher Evans guna menenangkan diri.
Saat keduanya sudah berada di mulut gang sempit tersebut, tubuh Evans seketika tersentak dan nyaris roboh. Elena refleks memeluk leher sang kakak erat.
"Kak, ada apa?" tanya gadis itu khawatir.
Evans menggeleng seraya meringis. Dia kemudian menurunkan Elena perlahan dari gendongannya.
__ADS_1
Elena terkejut saat mendapati sebuah bel4t1 tertancap di punggung sang kakak. Pria jahat tersebut ternyata bangkit kembali dan berlari menghampiri mereka untuk menusuk Evans, sebelum melarikan diri.
Evans segera berbalik dan memandang dingin pria tersebut, yang hendak menghilang di balik tikungan.
Elena dapat melihat sorot mata Evans yang sedikit berubah. Tanpa pikir panjang, pria itu segera mencabut b3l4t1 yang tertancap di bahunya. Tak ada raut kesakitan di wajah Evans seperti sebelumnya.
Seolah tak terjadi apa-apa, dia malah membidik ke arah si penjahat dan melempar b3l4t1 tersebut hingga tepat menancap ke lehernya.
Gerakan Evans barusan tentu saja membuat Elena terkejut setengah mati.
"Leon!" gumam gadis itu.
Jeritan kesakitan menggema dari arah si penjahat, sebelum suara berdebum terdengar kemudian.
"Akhh!" pekikan Evans menyadarkan Elena kembali. Gadis itu dengan sigap memeluk tubuh sang kakak dan kembali menangis.
Evans membalas pelukan Elena. Pria itu kemudian meminta Elena menghubungi polisi menggunakan ponselnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note :
Fantasi merupakan sebuah genre fiksi, yang menggunakan bentuk sihir atau kejadian supranatural (salah satunya adalah reinkarnasi) sebagai salah satu elemen plot, tema dan seting dalam sebuah cerita.
__ADS_1
Genre cerita ini adalah Romansa Fantasy, dan saya mengambil tema reinkarnasi, jadi harus dibaca pelan-pelan supaya dapat memahami isi cerita. Antara kenyataan dan mimpi, hanya saya jelaskan melalui narasi, dan kebanyakan cerita fantasy tidak bisa dijelaskan secara logika.