Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 18 : Pertengkaran.


__ADS_3

Belasan pasang mata yang menghadiri meeting pagi ini, menatap Elena dengan pandangan aneh, tatkala mendapati gadis itu tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka.


Evans yang sedang melakukan presentasi di hadapan para anggota rapat kontan menghentikan pembicaraannya. Pria itu menatap Elena sejenak sebelum kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya.


Dengan gerakan canggung, Elena berdiri di sebelah Jemima.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu," ucap Jemima penuh sesal.


Elena tersenyum simpul. "Tidak apa, Kak. Aku memahami kesulitanmu," tukasnya menenangkan.


Baru saja dia mengeluarkan buku catatannya, tiba-tiba Evans sudah menutup rapat hari ini. Pria itu mengucapkan kata-kata terakhir sebelum menyuruh para anggota rapat untuk membubarkan diri.


Elena hanya bisa menghela napas pasrah. Dia pun menutup kembali bukunya.


"Kau bisa mempelajarinya dari catatanku, sekalian aku ajarkan caranya membuat laporan hasil meeting," kata Jemima.


"Terima kasih, Kak, aku merasa sangat terbantu."


Jemima mengulas senyum ramah.


...***...


Satu minggu merupakan hari yang sangat berat bagi Elena di kantor. Evans sama sekali tidak pernah melibatkan dirinya secara langsung sebagai sekretaris. Perannya tak lebih dari seorang pelayan saja.


Bagaimana tidak, hal-hal yang menyangkut pekerjaan, Elena tak pernah diberi kesempatan oleh Evans untuk mencoba mengerjakannya. Namun, jika menyangkut yang lain, pria itu pasti akan menyuruhnya. Seperti membuatkan kopi, membeli makanan, fotokopi dokumen, sampai membersihkan ruangan Evans, dan membuang sampah. Elena benar-benar merasa kehadirannya di kantor tak lebih dari seorang asisten rumah tangga saja.


Tak tahan dengan perlakuan Evans, kali ini Elena membanting makanan yang baru saja dia beli dengan susah payah, hingga nyaris celaka.


Wajar saja, untuk menyambut kolega Evans, Elena harus mencari kudapan kesukaan kolega pentingnya tersebut menggunakan taksi. Sejak awal perjalanan ke sana membutuhkan waktu empat puluh menit, yang artinya, gadis itu harus menempuh perjalanan selama delapan puluh menit untuk sampai kembali ke kantor.


Namun, begitu dia kembali, kolega mereka ternyata baru saja pergi meninggalkan kantor. Semula, Elena tidak marah dengan kepergian orang itu, tetapi setelah melihat kudapan yang sama berada di atas meja tamu, Elena sontak naik pitam. Ketika dia menanyakannya pada Jemima, ternyata kudapan tersebut juga dijual tak jauh dari kantor mereka.


"Dia memang hanya menyukai kudapan yang kau beli, tetapi kita tidak bisa membiarkan orang itu menunggu selama lebih dari satu jam," kata Evans tak acuh.


Air mata mengalir membasahi pelupuk mata Elena. Selain butuh waktu untuk sampai ke sana, dia juga harus mengalami insiden kecil saat menyebrang jalan.


Saking takutnya terlambat, saat berangkat tadi Elena memilih mencari taksi ke seberang jalan agar tidak perlu memutar lagi. Alhasil, dia terserempet motor hingga membuat lengan kemejanya sobek dan lututnya berdarah.

__ADS_1


Evans mendapati tubuh Elena gemetaran seperti menahan sakit. Matanya sontak terkesiap begitu mendapati d4r4h mengalir dari balik rok selututnya.


Setelah membanting makanan yang dia bawa ke lantai, tanpa bicara apa-apa, Elena berbalik dan melangkah pergi keluar ruangan.


Evans memicingkan matanya saat melihat Elena meremas erat lengan kemejanya, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


Merasa terusik, dia pun memutuskan pergi menyusul sang adik.


Sebelum membuka pintu, Evans dapat melihat tangisan Elena dari balik jendela ruangannya. Gadis itu mengangkat roknya sedikit dan mengambil sapu tangan yang dia bawa, untuk membalut lututnya yang terluka.


Tak lupa, dia juga memakai blazer-nya guna menyembunyikan kemejanya yang tampak sobek.


Elena menangis sesenggukan sembari mengusap-usap pahanya agar rasa sakit yang didera lututnya bisa berkurang. Jemima sedang pergi memenuhi undangan seminar untuk menggantikan Evans, jadi, mau tak mau dia harus melalui semua ini sendirian.


Saat sedang menangis, tiba-tiba Evans datang menghampirinya sembari membawa sekotak obat. Elena yang terkejut dengan kehadiran Evans sontak berusaha menyembunyikan kakinya yang terluka. Namun, dengan sigap pria itu menepis tangan Elena kasar dan mengangkat roknya hingga sebatas paha.


"Mau apa kau! Menjauh dariku!" sentak Elena keras.


Evans tidak menghiraukan amarah sang adik. Dia membuka sapu tangan yang membelit lututnya, dan mengobati lutut gadis itu menggunakan antiseptik sebelum menutupnya dengan perban.


"Lepaskan aku!" sentak Elena.


Evans tak menghiraukan pemberontakan Elena. Dia terus memaksa gadis itu untuk membuka blazer yang dipakainya.


"Lepaskan tidak!" teriak Elena kemudian.


"Bisa diam tidak!" Evans membalas teriakan sang adik dengan bentakan keras.


Bentakan tersebut membuat beberapa karyawan yang lalu-lalang di sana sontak terkejut. Meski penasaran, tetapi mereka sama sekali tidak berani mendekat.


Evans menoleh ke arah karyawannya yang terdengar berbisik-bisik.


Melihat sang atasan mengetahui keberadaan mereka, kontan saja para karyawan tersebut langsung kocar-kacir meninggalkan tempat.


Elena sendiri yang mendapat bentakan dari sang kakak malah semakin mengeraskan tangisannya. "Tentu saja aku tidak bisa diam! Apa, sih, maksudmu? Sedetik tadi kau menginjak-injak harga diriku! Sekarang kau sok berlaku baik padaku! Perlakuanmu sama sekali tidak mencerminkan sosok seorang kakak!"


Elena bahkan berani membentak balik Evans.

__ADS_1


"Aku ini adik kandungmu, tetapi kau sama sekali tidak pernah menyayangi dan menganggapku ada, atau jangan-jangan kita memang bukan kakak beradik!"


Teriakan Elena yang berikutnya membuat Evans sontak terkejut. Jantung pria itu tiba-tiba berdetak kencang.


Tanpa tedeng aling-aling, dia menghempaskan tangan Elena dan menatap gadis itu dingin.


Mulut pria itu beberapa kali terlihat hendak mengatakan sesuatu. Namun, dia seperti menahannya sekuat tenaga.


Cukup lama Evans bergeming, sebelum akhirnya pergi meninggalkan sang adik seorang diri, yang masih menangis terisak-isak.


...***...


Di dalam ruangan kantornya, Evans hanya bisa terduduk sembari memejamkan mata. Entah mengapa, kata-kata Elena begitu menusuk hati pria itu.


Satu sisi dia merasa pilu dan tersakiti dengan kata-kata sang adik, tetapi di sisi lain, Evans merasa bahwa tindakan adalah sebuah pembenaran.


Sikap keras kepala ayah dan ibunya membuat Evans mencari cara lain agar mereka mau melepaskannya, dan inilah yang terjadi.


Evans refleks memegang dadanya. Samar-samar, ada segelintir rasa nyeri yang entah mengapa tak bisa dia abaikan begitu saja.


...***...


Simon dan Samantha terkejut saat mendapati Elena masuk ke dalam rumah dengan wajah dingin.


Tanpa menyapa kedua orang tuanya terlebih dahulu, gadis itu langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Tak berselang lama, Evans menyusul masuk ke dalam rumah.


Melihat kedatangan anak sulungnya tersebut, Samantha segera menghampiri dan menanyakan keadaan mereka berdua.


"Sayang, kenapa adikmu pulang-pulang seperti itu? Apa kalian baru saja bertengkar?" tanya sang ibu.


Evans menganggukkan kepalanya. "Aku yang salah, Ma. Maafkan aku," ucap pria itu sembari pamit untuk beristirahat.


"Tidak makan malam dulu, Sayang?" teriak Samantha ketika Evans sudah menaiki anak tangga ke lima.


"Aku tidak lapar," sahut pria itu dari tangga.

__ADS_1


__ADS_2