
Hari-hari selanjutnya dijalani keluarga Wileen seperti biasa. Kondisi kesehatan Simon, sang kepala keluarga, juga sudah mulai membaik setelah operasi bypass jantung dilakukan. Simon terpaksa melakukan operasi tersebut setelah diketahui bahwa ada lebih dari satu pembuluh darah jantung yang mengalami penyumbatan, sehingga bilik jantung kiri yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh tidak berfungsi secara normal.
Pria berusia 60 tahunan itu sekarang telah dipindahkan ke ruang perawatan setelah dua hari sempat menginap di ruang ICU. Rehabilitasi jantung juga sudah dilakukan sejak hari pertama pindah ke ruang perawatan. Jika kondisi terus membaik, Simon akan dipulangkan tujuh sampai sepuluh hari setelah operasi dilakukan.
Namun, dia masih belum boleh melakukan aktifitas secara normal, sebab waktu pemulihan yang dibutuhkan sekitar enam minggu sampai tiga bulan.
Sementara itu, Evans dan Elena tetap menjalani aktifitas seperti biasa. Setiap hari mereka akan berangkat ke kantor dan pulang dari sana bersama.
Elena juga sering menghabiskan waktu dengan Evans di luar jam kantor. Mereka akan makan bersama di salah satu restoran favorit Elena, atau pria itu akan memasakkan makan malam untuk sang adik di apartemen.
Kendati perlakuan Evans terlihat sangat manis, tetapi gadis itu menyadari betul ada sesuatu yang berubah dari diri sang kakak.
Jika dilihat dari luar, hubungan mereka memang terlihat semakin dekat. Namun, entah mengapa, tidak bagi Elena. Pria itu seperti tengah berusaha menjaga jarak darinya.
Evans tak lagi seterbuka sebelumnya dan jarang berbicara basa-basi. Namun, dia juga tak lagi berkata kejam.
Beberapa kali Elena pernah menanyakan tentang perubahan sikapnya yang aneh tersebut, dan Evans akan selalu menjawab, bahwa dia baik-baik saja.
Kini keduanya tengah berada di apartemen Evans. Elena sengaja meminta makan malam di sana alih-alih di luar, agar tidak ada yang mengganggu karena dia hendak menanyakan sesuatu pada pria itu.
Kali ini Evans yang mengajukan diri untuk memasak makan malam mereka. Sementara itu Elena mandi dan berganti pakaian. Seringnya intensitas gadis itu datang ke rumah membuat Elena menyimpan beberapa setel pakaiannya di apartemen sang kakak.
Malam ini malah Elena berencana menginap di sana, karena rumah terasa sepi tanpa kedua orang tuanya.
Makanan sudah siap terhidang di meja makan saat Elena keluar dari kamar mandi. Dia pun bergegas duduk di meja makan dan menanti sang kakak yang kini bergantian menggunakan kamar mandi.
...***...
__ADS_1
"Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Evans tiba-tiba, saat mereka sedang sibuk dengan makanan masing-masing.
Mendengar pertanyaan yang diajukan Evans membuat Elena hampir tersedak makanannya. Buru-buru dia menandaskan segelas air putih miliknya.
"Sok tahu sekali!" serunya.
"Hampir sepuluh detik sekali kau selalu melirik ke arahku. Jangan kira aku tidak menyadarinya." Evans menoleh ke arah sang adik dan menatapnya datar.
Sadar bahwa dia tak dapat berkilah lagi, Elena pun memutuskan menyudahi makan malamnya dan bertanya.
"Aku tahu Kakak sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Boleh aku tahu, apa itu?" tanya Elena.
"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu?" tanya Evans tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.
"Raut wajahmu terlihat jelas," jawab Elena.
"Kini giliran kau yang sok tahu!" celetuk Evans.
Beberapa kali Elena terlihat menarik napas untuk menahan kesabaran menghadapi sang kakak.
"Sepertinya aku tak pernah bisa berbincang secara normal dengannya!" gerutu gadis itu dalam hati.
"Jangan suka mengambil kesimpulan sembarangan, aku hanya terlalu lelah memikirkan pekerjaan dan kondisi Papa," kilah Evans seraya berdiri dari kursi makannya. Pria itu membereskan piring makan mereka dan mencucinya.
Seperti biasa, pembicaraan pun terputus begitu saja. Elena tak pernah berusaha memaksa Evans untuk memberikan jawaban. Setidaknya, dia tahu bahwa sang adik menyadari sikapnya yang berbeda.
Setelah makan malam, Elena memutuskan menonton televisi. Sementara Evans melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sesekali, pria itu meminta Elena untuk ikut mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
"Pelajari semua ini, dan bawa berkasnya sebagai bahan materi ketika rapat lusa nanti," ujar Evans pada Elena.
Tak ada sahutan dari sang adik membuat Evans mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
Kepalanya menggeleng seketika, tatkala mendapati Elena ternyata sudah tertidur tepat di sebelah dirinya.
Pria itu menutup laptop dan memutar tubuhnya menghadap Elena. Dengan gerakan hati-hati, dia menggendong tubuh gadis itu menuju kamar tamu.
Perlahan, Evans meletakkan Elena di atas ranjang lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Tak lupa, dia juga mengatur suhu air conditioner agar tidak terlalu dingin.
"Leon!"
Evans terkesiap. Baru saja dia hendak beranjak dari sana, panggilan Elena membuatnya tak mampu bergerak.
"Leon!"
Evans kembali duduk di sebelah Elena. Pria itu memperhatikan sang adik, yang ternyata sedang mengigau memanggil-manggil namanya dengan mata terpejam.
Semula, Evans hendak membangunkan Elena, tetapi perkataan Elena selanjutnya, membuat jantung Evans kontan bergemuruh.
"Aku akan menepati janjiku."
Evans terdiam sejenak di sana. Ditatapnya lekat-lekat wajah Elena yang kini berubah menjadi wajah Iris.
"Berjanjilah Iris, bahwa kita akan terus bersama."
"Meski bumi terbelah dua dan semesta hilang di peraduannya, aku akan selalu mencintaimu, Leon."
__ADS_1
Segelintir perbincangan mereka di masa lalu tiba-tiba memenuhi isi kepalanya.
Seolah tengah terhipnotis, tanpa sadar Evans mendekatkan dirinya ke wajah gadis itu, dan menciumnya lembut.