Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 63 : Apartemen.


__ADS_3

Tanpa diketahui keduanya, Elena ternyata tengah bersandar di depan kamar Evans dan mendengar semua pembicaraan mereka.


Helaan napas keluar mulut mungil gadis itu kemudian. Tangan halusnya pun mengusap setitik air mata yang menggenang di sudut pelupuknya.


Tak ingin berlama-lama berada di sana, dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya lagi.


...***...


Evans menambah waktunya di sana selama beberapa hari lagi sebelum kembali ke Ocean Blue City.


Selagi di sana, Evans berusaha sebisa mungkin mengurus Elena dengan baik, dari gadis itu terbangun dari tidur hingga kembali memejamkan mata.


Jujur saja, kenangan masa kecil yang tidak mereka miliki satu sama lain cukup menyulitkan Evans untuk membantu memulihkan ingatan Elena. Dia tidak mungkin menggunakan cerita Iris dan Leon dalam melakukan upayanya. Bisa-bisa gadis itu akan menganggap dirinya gila.


Alhasil, Evans hanya melakukan pendekatan biasa selayaknya orang baru dikenal. Bersamaan dengan itu, dia juga berencana mencetak banyak momen di antara mereka. Dengan demikian, ingatan Elena tentang dirinya diharapkan dapat kembali.


"Maaf, aku pasti telah menyakiti perasaanmu," ujar Elena penuh penyesalan.


Ini sudah ketiga kalinya Elena mengatakan permintaan maaf tersebut sejak dua hari yang lalu, setiap mengingat cerita Evans.


Tanpa berniat ditutup-tutupi, Evans menceritakan dengan jujur tentang siapa dirinya di dalam keluarga Wileen.


Kenyataan bahwa tak ada pertalian darah di antara mereka membuat Elena merasa bersalah atas perkataannya sewaktu di rumah sakit soal anak tunggal.


"Tidak apa-apa. Kau hanya lupa. Aku memakluminya," balas Evans santai.


Keduanya kini tengah menikmati suasana sore di halaman rumah, dengan secangkir teh rosella dan kudapan manis buatan sang ibu.


"Mengapa kau memutuskan tinggal di luar negeri, padahal waktu itu kau masih berusia 15 tahun? Kita jadi tidak bisa memiliki banyak kenangan bersama, kan?" tanya Elena ingin tahu.


Mendengar pertanyaan yang diajukan gadis itu, Evans terdiam sejenak. "Tak ada alasan lain, aku hanya ingin hidup mandiri saja," jawab pria itu asal.


"Hebat sekali di usia 15 tahun sudah memikirkan hidup mandiri." Elena mengangkat alisnya. Dia pun mengambil teh rosella miliknya dari atas meja dan menyeruput sedikit, sebelum melanjutkan pembicaraan. "Keinginan hidup mandirimu itu, malah membuat waktu kebersamaan kita jadi terkikis lama."


Evans tidak menjawab. "Tapi kita memiliki kenangan yang lain." Sambung pria itu dalam hati.


Setelah menghabiskan teh buatan sang ibu, pria itu pun mengajak Elena masuk kembali ke dalam rumah, sebab dia berencana akan pergi keluar sebentar.


"Pergi ke mana?" tanya Elena.

__ADS_1


"Aku ingin melihat apartemen sebentar." Jawab Evans.


"Aku ikut!" seru gadis itu tiba-tiba.


"Tidak! Kondisimu masih belum pulih benar. Kapan-kapan saja aku akan mengajakmu ke sana," sergah Evans tegas.


Mendapat penolakan seperti itu, Elena terlihat kesal. Dia memaksa sang kakak untuk mengajaknya serta ke sana.


"Aku penasaran seperti apa tempat tinggalmu. Mungkin saja aku dapat mengingat sesuatu tentangmu saat berada di sana," ujar Elena penuh harap.


Evans tetap menolaknya.


Penolakan tersebut sama sekali tak menyurutkan niat Elena untuk ikut. Dia terus membuntuti pria itu hingga masuk ke kamarnya.


Melihat tingkah Elena, kontan saja membuat Evans menghela napas gusar. Sepertinya, meski dalam kondisi apa pun, sikap keras kepala gadis itu tidak akan pernah berubah.


Demi menghindari perdebatan tak berarti, Evans pun memilih mengalah dan mengizinkan sang adik untuk ikut bersamany ke apartemen.


"Terima kasih, Kak!" Dengan hati riang gembira, Elena tanpa sadar menghamburkan diri ke pelukan pria itu dan menciumnya.


Evans sontak terpaku. Tanpa menghiraukan sikap sang kakak, Elena bergegas meninggalkannya untuk berganti pakaian.


Dia sama sekali tidak mengetahui, bahwa pipi Elena kini juga sudah memerah.


...***...


Tak butuh waktu lama, keduanya telah tiba di apartemen milik Evans.


"Kata Mama, kau yang rajin membersihkan apartemenku dan menambah kunci pintu. Kau mengingatnya?" Evans mengalihkan pandangannya pada Elena yang sedang mematung sejenak.


"Ada apa?" tanya pria itu kemudian.


"Ah ... emm ... anu ... tidak apa-apa, aku hanya sedang berusaha mengingat-ingat," jawab Elena.


"Lalu?" Evans mengangkat alisnya, berharap gadis itu dapat mengingat sesuatu.


Namun, Elena ternyata malah menggelengkan kepalanya sembari meminta maaf.


"Tidak perlu meminta maaf." Evans tersenyum.

__ADS_1


Pria itu kemudian meminta Elena duduk di salah satu sofa, sementara dia sendiri mulai membersihkan apartemennya.


Samantha bilang, terakhir Elena membersihkan apartemennya adalah sehari sebelum berangkat ke Ocean Blue City.


"Mau aku bantu?" Elena menawarkan diri. Rasanya cukup bosan kalau hanya duduk-duduk saja dan menonton aksi sang kakak membersihkan rumah.


"Duduk saja di sana. Ini tidak akan lama hanya menyedot debu yang mulai terlihat saja. Kau bisa menolongku dengan memesan makanan cepat saji," ujar pria itu sembari membersihkan seluruh lantai dengan mesin penyedot debu.


"Baiklah." Elena mengambil ponselnya dan mulai menelepon restoran cepat saji untuk memesan makanan.


Selesai membersihkan seluruh lantai apartemen dan mengganti karpet, sprei, dan gorden, mereka pun makan malam bersama.


"Kau benar tak ingin kembali ke rumah ini? Papa dan Mama pasti sedih." Elena membuka suaranya di sela-sela makan malam mereka.


"Aku bukan tak ingin. Hanya sulit meninggalkan apa yang sudah kubangun di kota itu. Namun, bukan berarti aku tak ingin kembali." jawab Evans, merujuk pada kehidupannya di Ocean Blue City saat ini.


"Jawabanmu berputar-putar dan membingungkan. Langsung saja, mau atau tidak? Kata Mama, kau juga mengganti identitasmu, kan?" desak gadis itu.


"Soal identitas, aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu." Evans menandaskan air minumnya.


"Memastikan apa?" tanya Elena penasaran.


Pertanyaan-pertanyaan yang gadis itu ajukan membuat kepala Evans pening bukan kepalang. Jika kondisi Elena sedang baik-baik saja, mungkin Evans sudah melontarkan kalimat-kalimat pedas seperti biasa.


"Habiskan makananmu, setelah ini kita pulang ke rumah." Hanya itu yang dapat Evans katakan, seolah enggan menjawab pertanyaan gadis itu.


Elena terlihat sedikit kesal, tetapi dia berusaha menahannya dan memilih menghabiskan makanan tersebut.


...***...


Selesai menghabiskan makan malam mereka, Evans mengajak Elena untuk menonton film terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


Hal itu tentu saja hanya alasan Evans agar kebersamaan mereka tak segera berakhir.


"Apa yang ingin kau tonton?" tanya Evans sembari mengutak-atik list film yang ada di smart tv miliknya.


"Kau yang mengajakku menonton, tetapi kau juga yang bertanya!" celetuk Elena.


Mendengar celetukan Elena, Evans pun memilih sebuah film thriller dan ikut duduk di sebelah gadis itu.

__ADS_1


Ditemani beberapa kaleng minuman bersoda, mereka menikmati alur film dalam suasana penuh ketegangan.


__ADS_2