Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 46 : Vonis Albern.


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Kini, Albern tengah duduk di kursi pesakitan menunggu vonis hakim. Evans juga sebenarnya sempat didakwa atas tuduhan pembobolan rumah disertai penyerangan. Namun, untunglah hakim bersikap adil dan memutuskan bahwa langkah yang Evans ambil merupakan salah satu bentuk dari tindakan penyelamatan darurat sekaligus pembelaan diri.


"Terdakwa atas nama Albern Danish William, terbukti secara hukum melakukan Tindak Pidana Penculikan, Penyekapan, dan Percobaan Pemerk0s44n terhadap Elena Odelia Wileen, hingga menyebabkan trauma psikologis pada diri korban. Mempertimbangkan tindakan-tindakan yang telah Anda lakukan membawa kerugian bagi korban dan keluarganya. Maka, terdakwa dihukum 10 tahun penjara tanpa pembebasan bersyarat. Setelah bebas, terdakwa juga tidak akan pernah diperkenankan untuk berdekatan dengan korban, dan akan diasingkan di suatu tempat yang jauh dari korban."


Palu hakim berbunyi setelahnya. Elena, Evans, dan Samantha yang hadir menonton saling berpelukan. Mereka cukup puas dengan vonis hakim, terutama pada poin terakhir. Setidaknya, Elena tak perlu lagi bertatapan muka dengan pria yang pernah dicintainya itu.


Sementara itu, Sam dan Lidya, kedua orang tua Albern tampak bersedih. Lidya bahkan sampai menghampiri Samantha untuk mengajukan keringanan hukuman pada Albern.


Demi mendapat belas kasihan, wanita itu juga sempat rela bersujud di kakinya.


Samantha yang merasa tidak nyaman sontak meminta Lidya berdiri.


"Tolong aku, Samantha. Kau pasti merasakan hal yang sama denganku, bukan? Kita adalah teman Samantha." Sembari menangis, Lidya terus memohon belas kasih dari wanita itu.


"Kita memang teman, Lidya, tetapi itu dulu, sebelum semua ini terjadi. Aku merasakan betul apa yang kini kau rasakan, oleh sebab itu, aku tak akan melakukan apa pun. Semua sudah diputuskan oleh hakim." Setelah berkata demikian, Samantha pergi meninggalkan ruang sidang tanpa menoleh lagi ke arah Lidya.


Elena dan Evans turut mengikuti langkah ibu mereka. Namun, Lidya dengan sigap memegang lengan Elena.


"Elena, Aunty tau kau masih sangat mencintai Albern. Dia melakukan ini semua karena perasaan cintanya padamu. Aunty mohon, El, kita bisa perbaiki semuanya!" seru Lidya.


Elena meminta Lidya untuk melepaskan dirinya, tetapi wanita itu malah semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Elena.


Tak tinggal diam, Evans dengan sedikit kasar membantu melepaskan tangan Lidya dan menghempaskannya. Tanpa berkata apa-apa, mereka pun pergi meninggalkan wanita bertubuh sintal itu begitu saja.


Bak orang gila, Lidya berteriak memanggil-manggil nama Elena.


Elena berusaha tidak peduli, meski air mata mengalir membasahi pipinya.


Melihat kesedihan sang adik, Evans pun menggenggam tangan gadis itu dan berjalan bersama menuju pintu keluar.

__ADS_1


Sesampainya di luar gedung pengadilan, Elena langsung memeluk Samantha dan saling menguatkan. Melihat kerapuhan sang ibu membuat Elena berjanji bahwa dia akan menjadi gadis yang kuat dan pemberani mulai saat ini.


"Aku juga berjanji akan hidup bahagia setelah ini, Ma," ucapnya.


Samantha mengangguk haru. "Iya Sayang, kita akan hidup bahagia."


Selesai sudah satu masalah besar ini. Kini, mereka bisa fokus dengan kondisi kesehatan Simon sepenuhnya. Sang suami benar-benar tidak diberitahu soal Albern. Beberapa kali dia memang sempat menanyakan perkembangan hubungan Elena dan Albern.


Elena hanya bisa menjawab, bahwa hubungan keduanya telah usai karena tak ada lagi kecocokan di antara mereka.


Kendati sempat kecewa karena pria itu cukup menyukai sifat Albern, tetapi Simon tak dapat turut campur akan keputusan yang diambil sang putri. Elena berhak atas jalan hidupnya sendiri.


Elena melepaskan pelukannya padang sang ibu, sebelum kemudian bersiap masuk ke dalam mobil, karena Joe, supir pribadi mereka, sudah menunggu. Namun, Evans meminta izin pada sang ibu untuk membawa adiknya jalan-jalan dulu. Mereka memang datang terpisah dengan Evans, sebab pria itu berangkat ke pengadilan dari apartemennya langsung.


"Iya Sayang, bersenang-senang lah kalian. Mama tunggu di rumah saat makan malam ya?"


"Iya, Ma." Elena dan Evans bergantian mencium pipi sang ibu. Mereka pun menunggui beliau di sana hingga mobil yang dikendarai Joe pergi meninggalkan area parkir.


"Terserah kau saja," jawab Evans acuh tak acuh.


"Baiklah, ajak aku ke tempat yang mahal ya?" Elena menatap sang kakak dengan penuh harap.


"Jangan terlalu banyak berharap. Aku tidak bertanggung jawab jika kau kecewa," celetuk Evans sembari berlalu pergi meninggalkan adiknya menuju ke mobilnya.


...***...


Evans sama sekali tidak merasa terganggu dengan raut wajah masam Elena dan lirikan mautnya. Pria itu tetap menikmati sandwich tuna dan telur, sembari sesekali menyeruput minuman dinginnya dengan tenang di kursi taman.


"Sudah kubilang jangan terlalu berharap. Aku hanya ingin menikmati makan siang di sini," kata Evans santai, yang bagi Elena terdengar sedang mengejeknya.

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Elena memilih membuang mukanya ke arah lain seraya menggigit besar-besar sandwich miliknya.


"Bisa tidak jika sudah berbaik hati padaku, terus bersikap demikian? Rasanya kebaikanmu itu seperti penyakit kambuhan saja!" celetuk Elena ketus. Dia kembali memakan sandwich-nya dalam gigitan besar.


Evans tersenyum simpul ketika melihat tingkah sang adik. Tangannya kemudian mengambil sapu tangan dari kantong celana untuk membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut bibir Elena.


"Habiskan dulu makanmu, baru mengomel!" seru pria itu setengah jengkel.


"Mood-ku keburu hilang kalau sudah kenyang!"


Mendengar itu, Evans tak bisa menahan tawanya.


Keduanya pun menikmati makan siang sederhana mereka dalam diam.


Setelah selesai makan, keduanya mengobrol ringan soal pekerjaan dan hal-hal kecil lain, sebelum akhirnya, Evans memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sudah mengganjal di hatinya selama beberapa hari terakhir ini.


"Memang kenapa kau ingin tahu sebesar apa kepercayaanku akan sebuah reinkarnasi?" Bukannya menjawab setelah mendengar pertanyaan Evans soal reinkarnasi, Elena malah balik bertanya.


Evans terdiam sesaat demi mencari alasan yang tepat. "Aku baru saja membaca sebuah buku di perpustakaan kota soal teinkarnasi, sebab kulihat kau begitu bersemangat setiap kali membahasnya."


Elena sontak mengangguk-angguk. Tampaknya dia cukup menerima alasan asal yang Evans berikan.


"Aku tidak tahu seberapa besar, tetapi yang pasti aku sangat mempercayainya. Kau si manusia skeptis tidak akan mungkin bisa memahami maksudku," ujar Elena.


Evans terdiam. Suasana hening sejenak sebelum Evans kembali membuka suaranya.


"Aku pernah membaca sebuah buku fantasi, berisi tentang sepasang kakek dan nenek penebang kayu yang hidup susah di jaman dahulu. Setiap hari si kakek dan nenek hanya mengandalkan hidup sehari-hari mereka hanya dari kayu-kayu yang mereka jual. Hingga akhirnya, si kakek tertangkap tangan menebang kayu ilegal dan dihukum mati di hadapan warga."


Mendengar cerita Evans, Elena sontak menutup matanya. "Lalu?"

__ADS_1


Evans mengembuskan napasnya sejenak, sebelum memulai cerita kembali.


__ADS_2