Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 20 : Tragedi.


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Elena dan Evans benar-benar tidak pernah saling berkomunikasi. Keduanya bak orang tak saling kenal dan hanya mau berkomunikasi saat berada di hadapan orang lain, atau sang ayah saja.


Elena tak ambil pusing dengan semua itu, justru dia senang karena Evans tak lagi memperlakukannya semena-mena.


"Ini laporan perjanjian kerja sama dengan Emerson Company." Elena meletakkan dua buah maps berwarna kuning di atas meja Evans.


"Ok, terima kasih," ucap Evans datar.


"Sama-sama, Pak. Saya permisi." Elena mundur satu langkah sebelum pergi meninggalkan atasan sekaligus kakaknya tersebut.


Begitu lah cara mereka berkomunikasi setiap harinya. Ketika jam istirahat pun, Elena akan lebih memilih makan seorang diri di kantin karyawan atau pergi ke restoran terdekat bersama mereka.


...***...


Elena tersenyum sumringah ketika mendapati kekasih hati berdiri di depan kantor. Pria muda itu sengaja menjemput Elena ke kantor karena ingin mengajak gadis itu makan malam di salah satu restoran favorit mereka.


"Padahal aku ingin mandi sebelum pergi. Kalau begini, aku terlihat kusut sekali." Elena memegang rok dan blouse-nya dengan raut wajah memelas.


"Bagaimana pun dirimu, kau tetap cantik di mataku," puji Albern sembari mengulas senyum. Pria itu kemudian membukakan pintu mobil untuk mempersilakan Elena masuk.


Namun, kehadiran Evans bersama Jemima membuat Albern menghampiri kakak dari kekasihnya tersebut terlebih dahulu.


Melihat itu, Elena memilih masuk ke dalam mobil seorang diri.


"Kak," sapa Albern sembari mengulurkan tangannya.


Evans menyambut uluran tangan Albern. Keduanya pun berbincang sejenak sebelum akhirnya pria itu meminta izin untuk membawa Elena pergi.


"Silakan. Berhati-hatilah," jawab Evans ramah.


"Baik. Kakak juga hati-hati di jalan." Albern membungkukkan badannya.


...***...


Dua jam kemudian, Albern dan Elena tiba di salah satu restoran ternama yang letaknya tepat di pinggir pantai.


"Pantas kau tak ingin menungguku pulang dulu," ujar Elena.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak kemari." Albern keluar dari mobil dan membukakan pintu Elena. Mereka berjalan sembari bergandengan tangan menuju restoran tersebut.


Elena memilih duduk di luar untuk menikmati hawa dingin dan deburan ombak yang terdengar merdu.


Aroma pasir pantai dan angin yang berhembus membuat Elena mampu melupakan masalah dan kesedihan-kesedihannya sejenak. Terutama masala yang terjadi di antara dirinya dan sang kakak.


Sementara itu, Albern sibuk melihat-lihat buku menu untuk memesan makanan. Tanpa bertanya pada sang kekasih, dia pun menyebut makanan kesukaan gadis itu.


"Ada lagi Tuan?" tanya sang pramusaji setelah mencatat dan mengulang pesanan mereka.


"Nanti saja, terima kasih," jawab Albern.


"Baik. Mohon tunggu paling lama sepuluh menit lagi. Saya permisi." Pramusaji itu pun pergi meninggalkan meja mereka.


Elena tersentak begitu menyadari tangan Albern tiba-tiba menyentuh tangannya.


Pria itu menggenggam tangan sang kekasih dan menciumnya lembut. "Ada apa? Sepertinya pikiranmu sedang tidak berada di tempat ini," terka pria yang minggu lalu baru menginjak usia ke-21 tahun itu.


"Tidak. Aku hanya sedang menikmati suasana yang menyejukkan ini ... sambil memikirkan pekerjaan." Tak ingin membuat Albern curiga, Elena sengaja berbohong padanya.


"Pasti berat?" tanya Albern lembut.


"Mungkin karena lingkungan kerja terdapat lebih banyak orang dewasa. Bertahanlah. Setelah masuk kuliah nanti, fokusmu akan terbagi dan kau bisa bergaul dengan teman sebayamu."


Suara Albern yang menenangkan membuat Elena terenyuh.


Tepat sepuluh menit kemudian, makanan yang mereka pesan akhirnya datang.


Seperti biasa, Albern akan membantu Elena memotong steak miliknya, agar memudahkan gadis itu makan. Elena sebenarnya bisa melakukan hal tersebut sendiri, tetapi rasanya lain jika bisa bermanja dengan sang kekasih.


...***...


Keesokan harinya, Elena bangun kesiangan dan terpaksa harus pergi ke kantor seorang diri. Maklum saja, dia baru saja sampai di rumah hampir pukul sebelas malam dan baru bisa tidur pukul satu pagi.


Gadis itu pergi menggunakan taksi karena mobilnya sedang berada di bengkel sejak kemarin. Rencananya, sepulang dari kantor Elena akan langsung mampir ke bengkel untuk mengambil mobilnya.


...***...

__ADS_1


"Anda tidak ingin pulang bersama kami, Nona?" tanya Jemima saat mereka bertiga sampai di lobby kantor.


"Aku ingin mengambil mobil di bengkel dulu. Kakak pulang saja duluan," titah gadis itu.


"Bengkelnya di mana Nona? Mau saya antar sekalian saja, agar Anda tidak perlu susah-susah mencari taksi." Wanita itu menawarkan bantuan pada gadis itu.


"Tidak perlu. Bengkelnya tidak terlalu jauh dan berlawanan arah dari Kakak." Elena menolak halus ajakan sekretaris utama Evans tersebut. Sementara Evans sendiri tampak tidak peduli dan memilih untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu." Jemima membungkukkan badannya dan pergi menuju mobilnya sendiri. Wanita itu memang tidak pernah berkunjung ke rumah utama, dan Evans juga berusaha untuk menjaga jarak dari sekretaris yang usianya empat tahun lebih tua itu.


Elena melambaikan tangannya sebelum kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman. Biasanya, ada beberapa taksi yang sengaja berhenti di halaman kantor Wileen Group, tetapi kali ini tak ada satu pun taksi terlihat di area parkir.


Tak ingin menunggu di sana terlalu lama, Elena pun berinisiatif untuk keluar dari kantor dan menunggu di pinggir jalan.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Elena sontak menawarkan tumpangan mereka, tetapi Elena dengan ramah menolaknya.


...***...


Mobil Evans yang dikendarai Joe berputar arah setelah keluar dari area kantor.


"Nona Elena sepertinya belum mendapatkan taksi, Tuan," beritahu Joe setelah melihat sosok Elena berdiri di seberang jalan.


"Biarkan saja," ujar Evans tak ambil pusing. Pria itu hanya menatap sosok Elena dari balik kaca mobil dengan wajah datar, sampai mobil mereka berhasil melewati gadis itu.


BRAAK!


Suara hantaman keras terdengar tak sampai sepuluh detik kemudian. Joe refleks menginjak pedal rem dan menoleh ke belakang, begitu pula dengan Evans.


Tepat di seberang mereka, tempat di mana Elena sedang berdiri tadi, sebuah mobil SUV hitam naik ke atas trotoar dan mulai terbakar.


Jantung Evans kontan berdetak kencang. Tanpa basa-basi pria itu keluar dari dalam mobil dan berlari menuju seberang jalan.


Pria itu menerobos kerumunan dan menemukan Elena tergeletak tak jauh dari posisi mobil.


D4r4h segar memenuhi seluruh wajah gadis itu.


Evans menghampiri sang adik dan memangku kepalanya dengan sangat hati-hati. Pria itu bahkan berteriak pada orang-orang yang berada di sana untuk menelepon ambulance.

__ADS_1


"El, bertahanlah!" seru Evans sembari menyingkirkan rambut sang adik yang menutupi wajahnya. Pria itu sama sekali tidak peduli pada kemejanya yang mulai terkena noda d4r4h.


Mengetahui tak ada respon sama sekali dari Elena membuat Evans gemetar ketakutan.


__ADS_2