Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 32 : Percaya Reinkarnasi?


__ADS_3

"Terima kasih Tuan Evans, maaf mengganggu hari libur Anda. Saya tak ingin perjalanan bisnis saya yang lain membuat kerjasama kita terbengkalai. Oleh sebab dari itu, saya ingin menyelesaikannya saat ini juga." Mr. Thomas, selaku pemilik dari salah satu agensi terkenal di tanah air, Two Size Entertainment, berdiri dari kursinya sembari mengulurkan tangan.


Evans menyambut uluran tangan Mr. Thomas. "Suatu kehormatan bagi saya bisa bekerja sama dengan Anda," ucapnya santun.


"Putra Mr. Simon memang yang terbaik, begitu juga dengan putri cantiknya," ujar Mr. Thomas seraya menepuk-nepuk lengan Evans, kemudian mengalihkan pandangannya pada Elena yang berdiri tak jauh dari mereka.


Pria itu berjalan menghampiri putri kedua dari salah satu kenalannya tersebut, untuk memberi ucapan selamat karena telah kembali beraktifitas dalam keadaan sehat.


"Terima kasih, Mr. Thomas," ucap Elena tulus. Gadis itu membungkukkan badannya sedikit demi memberi penghormatan pada beliau.


Mr. Thomas tertawa kecil lalu menepuk punggung tangan Elena. Pria berusia 50 tahunan itu kemudian berpamitan kepada mereka untuk mengejar pesawat yang akan take off satu jam lagi.


Mereka rencananya akan bekerja sama untuk menciptakan ponsel series terbaru, yang menampilkan beberapa fitur dan ciri khas salah satu artis yang bernaung di bawah agensi tersebut.


Evans hendak mengantar pria itu hingga keluar kantor, tetapi beliau menolaknya halus. Ditemani dua orang tangan kanannya, Mr. Thomas pun pergi meninggalkan ruangan Evans.


Setelah memastikan Mr. Thomas telah pergi, Evans yang sudah terlanjur datang ke kantor memilih untuk bekerja. Namun, dia meminta Jemima untuk tetap menunda jadwal hari ini menjadi esok.


"Aku ingin sedikit bersantai saat ini," kata Evans.


"Baik Tuan." Jemima pamit keluar dari ruangan kerja Evans menuju mejanya, begitu pula dengan Elena.


Tepat pukul lima sore, Evans, Elena, dan Jemima keluar dari kantor. Semula Jemima menawarkan diri untuk mengantar Evans pulang, akan tetapi Evans menolaknya.


"Aku akan pulang dengan Elena," jawab Evans.


Mendengar itu Elena langsung saja menolak. Ini sudah di luar jam kantor, jadi dia tak perlu lagi bersikap profesional. Sebisa mungkin dia harus menghindari kontak dengan pria itu, agar 'Iris' tak lagi muncul.


Namun, seperti enggan mendengar penjelasan sang adik, dia malah merebut kunci mobil yang dipegang Elena dan berjalan pergi meninggalkan kedua wanita berbeda usia itu.


"Eh, Kak!" pekik Elena. "Ya sudah, aku duluan ya Kak Jem," pamit gadis itu pada Jemima.


Jemima menganggukkan kepalanya dan berjalan ke lawan arah.


"Kakak kenapa menolak Kak Jemima dan malah memintaku mengantarmu, sih?" ketus gadis itu ketika keduanya telah sampai di dalam mobil.


"Aku tidak menyukai orang asing keluar masuk tempat tinggalku," jawab Evans santai.


"Loh, bukankah kalian sudah bersama selama bertahun-tahun? Berarti dia sudah bukan orang asing, dan lagi, aku tak percaya Kak Jemima tidak dibiarkan mengurus dirimu. Apa jangan-jangan, kalian pernah menjalin hubungan serius dan putus di tengah jalan ya? Mengingat wanita itu sudah melihat tanda lahir yang ada di sana!" seru Elena panjang lebar sembari mengerling pada dada Evans.


Evans menatap Elena dengan raut wajah bingung. Pasalnya, nada bicara Elena bukan seperti seorang adik yang kesal terhadap kakaknya, melainkan seorang gadis yang tengah cemburu pada kekasihnya.


Menyadari kesalahannya, Elena sontak terbelalak. Gadis itu membuang mukanya ke arah lain dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Jemima memang sudah bukan orang asing bagiku. Dia bahkan sudah kuanggap kakakku sendiri. Namun, bukan berarti aku membebaskan seseorang untuk turut mengatur kebutuhan hidupku."

__ADS_1


"Tidak ada korelasinya, Bodoh!" Elena hanya dapat menelan mentah-mentah makiannya tersebut.


Setelah Evans berkata demikian, suasana di dalam mobil menjadi hening sejenak. Keduanya tengah fokus dengan jalan pikiran masing-masing.


Elena sendiri kini sibuk mengatur detak jantungnya agar tetap stabil. Sementara Evans tengah sibuk memikirkan keganjilan-keganjilan yang ada pada diri sang adik.


Meski sikap Elena kentara sekali berjaga jarak dengannya, akan tetapi ada saat-saat dimana gadis itu terasa sangat dekat.


Evans sendiri tak mengerti mengapa bisa demikian.


"Sepertinya hanya perasaanku saja." Batin pria itu.


...***...


Sebelum sampai di apartemen, Evans mengemudikan mobilnya ke sebuah supermarket terlebih dahulu untuk berbelanja bahan makanan.


"Selagi ada di luar, kuharap kau tidak keberatan," ujarnya pada Elena.


"Keberatan pun percuma, kau yang menyetir mobilnya, kok!" Tatapan sinis dilontarkan Elena.


Evans tersenyum simpul. Dia enggan menanggapi kekesalan gadis itu.


Saat berbelanja, Elena tak henti-hentinya menatapi sinis para wanita-wanita yang mengagumi pria itu. Bahkan, dia terang-terangan mengusir seorang wanita yang hendak meminta nomor teleponnya dengan bertingkah seperti seorang kekasih.


"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya tak ingin mataku ternodai dengan raut-raut genit mereka. Lakukan semaumu jika tidak berada di dekatku!" seru gadis itu sembari berlalu pergi.


Evans mengerutkan keningnya sebelum mengangkat bahu, berusaha untuk bersikap apatis.


Sesampainya di apartemen, Elena tak langsung pulang, sebab Evans mengajaknya untuk makan malam dahulu.


Pria itu memberikan kaos dan celananya untuk dipakai Elena. Gadis itu merasa tidak betah karena sudah memakai pakaian tersebut selama seharian.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Elena langsung masuk ke dapur untuk membantu Evans memasak makan malam mereka.


Evans sontak terkejut, tatkala mendapati sosok Elena yang sedang memunggungi dirinya.


Pria itu menatap tubuh Elena dari atas ke bawah dengan raut wajah jenaka.


Kaos lengan panjang dan celana panjang panjang miliknya benar-benar membuat tubuh Elena tenggelam. Gadis itu bahkan harus menggulung lengan kaosnya agar tidak mengganggu.


Evans tertawa. Dia dengan sigap membantu Elena menggulung lengan bajunya serapi mungkin.


"Memang tidak ada baju lain? Baru kali ini aku lihat ada seorang gadis diberi pakaian seperti ini oleh pria. Biasanya, mereka akan diberikan baju pendek yang membuat tubuh mereka terlihat mungil dan seksi!" protes Elena.


Sentilan kecil mendarat di kening gadis itu. "Jika itu kekasihku, maka jelas aku akan memberikan pakaian tersebut." Evans berbalik dan melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


Jawaban Evans sontak saja membuat Elena meringis. "Andai saja kau tahu, bahwa aku bukan hanya sekadar kekasihmu di masa lalu," ucap gadis itu dalam hati.


Setengah jam kemudian, hidangan makan malam mereka sudah tersaji di meja makan. Elena dan Evans menikmati makan malam yang mereka buat tanpa suara.


"Kak?" panggil Elena.


Evans menelan makanannya lalu menoleh. " Apa?"


Elena mengatur napasnya sejenak. Dia benar-benar tidak tahan untuk tidak menanyakan hal demikian.


"Boleh aku mengajukan satu pertanyaan?" tanyanya.


"Silakan." Evans mengangguk, sembari sibuk memilin pastanya.


"Apa kau percaya pada reinkarnasi?" tanya gadis itu sekali lagi. Wajahnya terlihat harap-harap cemas. Dalam hati, Elena berharap Evans tidak mengejeknya gila dan bisa memberikan jawaban yang menenangkan hatinya, seperti Jenny.


Omong-omong soal Jenny, gadis itu sudah mengetahui soal Elena secara detail. Walau pada awalny Jenny menentang keras untuk mempercayai cerita Elena, tetapi setelah menyadari perubahan sikap yang terjadi pada gadis itu, membuat Jenny sedikit demi sedikit mulai mempercayainya.


Apa lagi, Elena banyak menceritakan sejarah Kerajaan Oswald yang tidak banyak diketahui orang.


Elena bukanlah pendongeng handal. Lagi pula tak ada untungnya berbohong tentang hal seperti ini. Terlebih, Jenny tahu seperti apa sahabatnya tersebut.


"Tidak." Jawab Evans. "Memangnya kenapa? Kau percaya?" tanya pria itu kemudian.


"Sangat percaya. Kau sendiri, mengapa tidak percaya?" Elena balik bertanya. Dia berusaha menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar kecewa.


"Aku menjunjung tinggi realitas. Hal-hal seperti itu, bahkan hantu sekalipun, bagiku hanya mitos belaka."


Mendengar itu, Elena refleks menarik napasnya dalam-dalam.


"Kau sendiri, kenapa percaya?" Kali ini, giliran Evans yang menanyakan alasan Elena.


"Aku tidak bisa mengatakan alasannya, tetapi yang jelas aku mempercayai reinkarnasi. Ahh ... bukankah lucu jika kita bisa mengetahui kehidupan kita di masa lalu? Mungkin saja aku dulu terlahir menjadi seorang putri kerajaan yang cantik."


Evans tertawa mendengarnya.


"Lalu, Kakak terlahir menjadi seorang panglima perang. Aku, si putri kerajaan memilih kabur dari rumah karena enggan dijodohkan dengan seorang pria dari kerajaan lain. Tanpa diketahui siapa pun, aku sebenarnya telah menjalin hubungan dengan rakyat biasa yang berprofesi sebagai pemburu. Aku merelakan gelar kehormatan hanya untuk hidup sederhana bersama dengannya, dan bekerja sebagai pemetik buah. Kemudia—"


"Kau seharusnya mengambil jurusan sastra saja," celetuk Evans tiba-tiba.


Elena sontak mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Cerita tadi cukup bagus jika kau tuangkan ke dalam tulisan. Bagaimana jika kau menjadi penulis novel?"


Elena yang mendadak emosi langsung menghabiskan pastanya dalam sekali suap, sebelum kemudian membawa piring bekas makannya tersebut ke dapur, meninggalkan Evans yang masih berada di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2