
Pagi masih sedikit berkabut tatkala Leon tiba-tiba mengajak Airlea bertemu. Selama ini mereka bisa saling berkomunikasi menggunakan panah Leon.
Pria itu akan melempar busur panahnya jika ingin mengajak bertemu ke kamar Airlea yang kebetulan berhadapan persis ke hutan.
Kini keduanya tengah duduk di sebuah bukit kecil yang berada dalam hutan, sembari menatap hewan-hewan liar kecil yang tengah berlari ke sana kemari.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Leon tanpa basa-basi. Mimik wajahnya terlihat biasa-biasa saja meski nadanya terdengar menakutkan di telinga Airlea.
"Mengatakan apa?" Airlea bertanya balik. Sebagai anggota keluarga kerajaan pastilah ada banyak sorotan yang menjadi konsumsi publik, termasuk soal perjodohan, dan Airlea yakin Leon sudah mengetahui berita tersebut. Namun, entah mengapa Airlea terlalu takut untuk jujur padanya.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Leon lagi. Wajahnya menoleh pada Airlea dan tersenyum lembut.
Senyuman yang diberikan Leon membuat perasaan bersalah di hati Airlea semakin membumbung tinggi.
Airlea tak bisa menampik lagi. Dengan sangat berhati-hati dia pun memberitahu Leon perihal perjodohannya dengan Prince Deshington yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh sang ayah, penguasa negeri ini.
Mendengar kejujuran Airlea, Leon terdiam. Satu sisi dia merasa ada hantaman keras terpusat pada relungnya. Sakit sekali!
Bagaimana tidak, mau dilihat dari segi mana pun, dia sudah pasti telah kalah telak dengan pangeran tersebut. Tak ada yang bisa dibanggakan dari seorang buruh yang hanya bisa memainkan panah dan belati saja. Salahnya sendiri mengapa harus jatuh pada pesona Airlea.
"Kalau begitu, aku harus merelakan dirimu," ujar Leon kemudian.
Benar saja dugaan Airlea. Leon sama sekali tidak berusaha menahannya.
"Kau tidak mencintaiku!" seru Airlea dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Bukan begitu, aku hanya tahu diri. Diriku bukan apa-apa dibandingkan dengan pangeran itu. Justru mengalah adalah salah satu alasanku mencintaimu." Leon mencoba memberi pengertian.
"Mengapa? Aku ingin diperjuangkan! Aku bisa meninggalkan semuanya demi dirimu! Aku muak hidup dalam sangkar emas ini. Aku ingin hidup seperti Burung Godwit yang dapat berpindah-pindah, bahkan berkembang biak di Alaska, sebelum kemudian pergi ke benua lain!" seru Airlea keras kepala.
"Jangan kau gadaikan keluargamu demi aku, seorang pria yang menghidupi diri sendiri saja tidak mampu!"
Perkataan menohok Leon membuat Airlea bungkam seketika. Sontak air mata mengalir membasahi pipi gadis itu.
"Carilah kebahagiaanmu sendiri, Princess Airlea. Demi Dewi Agung, aku merelakan hatiku teraniaya melihatmu bersanding dengan pria lain." Setelah berkata demikian, Leon bangkit dari duduknya dan berbalik pergi.
Tak ingin pembicaraan ini berakhir panas, Airlea memutuskan mengejar Leon dan memeluknya dari belakang.
"Kebahagiaanku adalah dirimu, Leon!" ucapnya tegas. "Aku tahu bagaimana tabiat Deshington. Itu lah mengapa aku tak ingin bersama dengannya. Walau dia menjadi orang baik sekali pun, hatiku sudah tertaut padamu. Jadi, jangan pernah mengusir diriku dari hatimu!"
Leon terdiam, kakinya tak mampu berpijak. Hanya helaan napas yang terdengar dari pria itu.
__ADS_1
...***...
Waktu sudah menunjukkan tepat tengah malam, ketika Leon tengah bersembunyi di sebuah semak-semak yang letaknya tak jauh dari Istana Oswald.
Setelah beberapa hari berunding dan berdebat, Leon pun mengalah. Mereka sepakat untuk kabur malam ini juga dan pergi ke tempat lain untuk memulai hidup baru.
Leon yang memang sangat mencintai Airlea sebenarnya tak sepenuhnya menentang keputusan gadis itu, dan kini dia sedang menunggu kedatangan sang kekasih.
Namun, setelah lama menunggu, Airlea belum juga muncul dari sana.
Leon sempat khawatir. Jangan-jangan, Airlea tertangkap dan tengah berhadapan dengan murka sang ayah.
Memikirkan hal tersebut, Leon pun berinisiatif keluar dari hutan untuk mengintip ke istana. Namun, kehadiran Airlea dengan napas tersendat-sendat membuat Leon mengembuskan napas lega.
"Kau baik-baik saja?" tanya Leon sembari memegang pundak sang kekasih.
Airlea mengangguk. "Aku harus mengendap-endap menuju ruang bawah tanah dulu dan bersembunyi di sana."
"Kau benar-benar yakin?" tanya Leon sekali lagi. "Hidup bersamaku berarti kau meninggalkan segalanya, Airlea. Kau mungkin akan dibenci rakyatmu sendiri."
"Itu jauh lebih baik dari pada harus menikah dengan pria tersebut." Sorot mata Airlea terlihat sungguh-sungguh saat mengatakannya.
Melihat keyakinan yang ada di dalam diri Airlea, Leon pun mengajak gadis itu pergi jauh ke dalam hutan.
Leon mengajak Airlea ke dalam sebuah goa yang biasa dia tempati jika berburu terlebih dahulu. Ternyata, di sana sudah ada kuda milik Leon yang tengah beristirahat.
"Kau tak boleh terlihat mencolok," ujar Leon sembari menyodorkan satu stel pakaian biasa pada Airlea.
Airlea menatap gaun dan mahkotanya. "Benar juga!" Batin gadis itu.
Dia pun menerima pakaian tersebut dari Leon.
Mengerti akan keraguan yang hadir di wajah Airlea selanjutnya, membuat Leon langsung memahami. "Aku akan berjaga di pintu masuk goa, sementara kau berganti pakaian."
Airlea menganggukkan kepalanya. Dia pun berbalik memunggungi Leon, begitu pula dengan pria itu yang langsung pergi menuju pintu goa.
Namun, entah bagaimana, tiba-tiba seekor anak rubah berhasil masuk ke dalam goa dan hendak menghampiri Airlea.
Tak ingin membuat gadis itu terkejut, Leon pun bergegas berbalik dan menangkap anak rubah tersebut.
Baru saja dia hendak pergi keluar, tiba-tiba tanpa sengaja matanya menangkap tubuh belakang Airlea yang belum menggunakan sehelai benang pun. Gaun yang rumit membuat Airlea sulit membuka seluruhnya. Dia memang terbiasa dibantu oleh dua pelayan pribadinya di istana.
__ADS_1
Mengetahui kesulitan Airlea, Leon lantas berdeham, setelah melepaskan anak rubah tersebut.
"Maaf aku tak sengaja mendapati dirimu kesulitan," ujarnya canggung.
Mendengar pengakuan Leon, Airlea buru-buru menutup tubuh depannya dengan gaun tersebut.
Dengan sangat berhati-hati, Leon pun menawarkan diri untuk membantu Airlea membuka gaun mewahnya dan berjanji tidak akan melakukan apa pun pada sang kekasih.
Setelah mempertimbangkannya sebentar, Airlea pun memutuskan menerima tawaran Leon.
Leon berjalan menghampiri Airlea dan meraih beberapa pengait di gaunnya.
Desir halus terasa mengguncang hati Airlea begitu merasakan embusan napas Leon yang terasa hangat.
Lapisan gaun pertama berhasil terbuka, begitu pula dengan ketiga lapisan lainnya. Leon sempat terheran-heran dan bertanya dalam hati, "serumit inikah cara berpakaian anggota kerajaan?"
"Gaun yang rumit," ujar Leon di telinga Airlea. Suara Leon yang terdengar biasa, entah mengapa menjadi sangat berbeda di telinga gadis itu.
Airlea tertawa canggung. "Tak ada yang mudah di kerajaan. Yang mudah hanya menuruti perjodohan saja."
Mendengar gurauan Airlea, Leon lantas tertawa. Tawa yang mampu mengembalikan kewarasannya lagi. Dia pun kembali fokus membantu Airlea memakai dress sederhana yang baru saja dia beli tadi siang di pasar.
Sebuah kecupan mendarat di bahu Airlea begitu Leon hampir menaikan seluruh ritsleting pada dress-nya.
"Aku mencintaimu, Airlea," ucap Leon mesra.
"Aku juga," balas Airlea tak kalah mesra.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Leon memeluk gadis itu dari belakang dan mengecupi leher Airlea. Tindakannya seolah-olah bergerak tanpa perintah.
Kecupan-kecupan itu lama kelamaan berubah menjadi gigitan kecil hingga hisapan-hisapan panas dan mengg41rahkan. Hal itu membuat leher Airlea kini sudah dipenuhi bercak-bercak kepemilikan.
Leon seolah tengah menuntut, dan Airlea yang telah terlena tanpa sadar malah menyambut Leon. Dia mulai m3ndes4hkan nama Leon beberapa kali. Gadis itu bahkan menuntun tangan sang kekasih menuju dua asetnya.
Namun, seolah ada air panas yang menyiram kepalanya, Leon tiba-tiba menjauhkan diri dari sang kekasih dan meminta maaf sejadi-jadinya.
Ini bukan waktu yang tepat. Mereka harus pergi dari sana sejauh mungkin terlebih dahulu.
Airlea yang juga tersadar hanya bisa menahan malu. Wajah keduanya sudah merah padam.
Tahu bahwa Airlea mungkin saja tengah mengutuk dirinya sendiri karena turut memancing Leon untuk melakukan hal lebih, membuat pria itu memeluknya erat. "Aku lah yang lebih dulu berbuat demikian kurang ajar. Maafkan aku," ucap pria itu tulus.
__ADS_1
Airlea hanya bisa menganggukkan kepalanya. Keduanya memang tidak pernah berbuat lebih dari itu. Setidaknya, Leon masih menjaga tangannya agar tidak menyentuh area pribadi Airlea.