
Tak sampai sepuluh menit beberapa mobil polisi dan dua unit ambulance datang. Mereka membawa Elena, Evans, dan penjahat tersebut menuju rumah sakit dahulu.
Beruntung, Evans tidak mengalami luka parah dan hanya membutuhkan beberapa jahitan saja. Sementara untuk penjahat tersebut, ia terpaksa harus terbaring di meja operasi karena b3l4t1 yang menancap di lehernya tidak bisa dikeluarkan sembarangan.
Untuk Elena sendiri, dia tidak mengalami luka fisik apa pun. Meski begitu, perasaan traumanya perlu mendapat sedikit perawatan.
Simon dan Samantha sampai di UGD rumah sakit beberapa saat kemudian. Samantha langsung menghampiri ranjang keduanya, sedangkan Simon menemui dua orang polisi yang menjaga mereka terlebih dahulu.
Samantha memeluk Evans dan Elena dengan sangat hati-hati. Elena tak lagi banyak menangis, pandangan matanya kini malah terlihat sangat kosong.
"Semua sudah baik-baik saja, Sayang, semua sudah baik-baik saja," ucap Samantha seraya mengelus-elus kepala sang putri.
Elena tidak menjawab, dia hanya menempelkan kepalanya lebih dalam di pelukan sang ibu.
Butuh waktu sehari penuh untuk Elena agar dapat menenangkan diri dan mampu memberi keterangan pada polisi beserta keluarganya. Sekaligus memberitahu alasan mengapa dia bisa berada di tempat itu.
Samantha dan Simon yang mendengar cerita Elena tentu saja terkejut dan heran. Namun mereka tidak ingin menanyakan hal tersebut lebih lanjut sampai diri sang putri benar-benar tenang.
Sementara itu, mereka juga menanyakan keberadaan Evans yang kebetulan bisa berada di tempat yang sama.
Evans mengatakan bahwa dia memang sedang keluar untuk mencari makan dan hampir selalu melewati tempat itu.
Disaat itu lah dia melihat seorang wanita tengah berlari keluar dari gang sempit dan ditarik paksa oleh si penjahat. Tanpa pikir panjang, Evans menghentikan mobilnya dan masuk ke dalam gang tersebut untuk menolong. Namun, siapa sangka jika korban yang hendak ditolong ternyata sang adik sendiri.
Kemarahan dalam diri Evans tak dapat dibendung, hingga akhirnya kejadian seperti itu pun terjadi.
__ADS_1
Evans sebisa mungkin bersikap biasa saat menjelaskan semuanya, karena tak semua yang dia katakan merupakan sebuah kebenaran.
Sebenarnya, dia sama sekali tidak sedang ingin mencari makan. Pria yang awalnya sedang sibuk berkutat dengan laptop, tiba-tiba dikejutkan oleh suara halus seorang wanita yang memanggil-manggil namanya.
Evans yang merasa salah dengar, mencoba untuk mengabaikan suara tersebut. Namun, semakin lama suara itu malah semakin keras dan lumayan mengganggunya.
Disaat itu lah tiba-tiba perasaannya berubah gelisah. Entah mengapa, satu-satunya hal yang terlintas di benak Evans hanyalah Elena.
Sayang, saat Evans mencoba menelepon sang adik, ponselnya mati seketika, padahal jelas-jelas baterai ponselnya masih sudah terisi penuh.
Demi menghilangkan kegusaran yang melanda hatinya, dia pun memutuskan ke pergi ke rumah orang tua mereka untuk melihat keadaan sang adik.
Saat melewati jalan itulah dia melihat dengan jelas ada seorang wanita tengah ditarik paksa oleh seseorang ke dalam gang sempit.
Evans yang merupakan pria skeptis tentu saja tidak dapat menerima hal aneh ini sama sekali, meski dia telah mengalaminya. Apa lagi jika dia menceritakannya ke polisi. Jadi pria itu memutuskan untuk menyembunyikan cerita yang sebenarnya dan menyimpan rapat-rapat seorang diri.
Kalau dipikir-pikir, suara wanita yang memanggil-manggil namanya itu persis dengan suara Elena.
Simon dan Samantha berlega hati. Mereka pun berterima kasih pada Evans karena sudah mau menolong Elena dan menjaganya dengan baik.
"Dia adikku, Ma, Pa," jawab Evans tatkala menanggapi perkataan kedua orang tuanya.
Samantha memeluk putra sulungnya tersebut. "Iya, Sayang. Dia adikmu, kau kakaknya. Selamanya kalian akan seperti itu," ucap wanita paruh baya tersebut.
"Maafkan aku, karena selama ini tak pernah berlaku baik kepada Elena. Aku seharusnya tahu diri. Aku hanya ingin melepaskan diri dari kalian, dan membiarkan keluarga kecil ini bahagia." Evans mengembuskan napasnya seraya menoleh ke arah Elena yang sudah tertidur.
__ADS_1
Mendengar itu, Samantha menatap sendu Evans. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Mama yang seharusnya minta maaf. Kasih sayang yang kau dapatkan mungkin tak sebesar yang didapatkan Elena. Apa lagi kau tinggal jauh di sana. Mulai saat ini, Mama mohon untuk tidak pernah lagi menganggap dirimu orang lain. Kau adalah anak kami, kakak dari Elena."
Evans menganggukkan kepalanya. Simon pun turut memeluk Evans dan menepuk-nepuk kepalanya lembut.
...***...
Satu bulan kemudian.
Keadaan Elena mau pun Evans sudah kembali pulih seperti sediakala. Tersangka yang nyaris memp*rk0s4 Elena dan menyerang Evans pun kini sedang dalam tahap persidangan setelah melalui masa pemulihan. Dapat dipastikan, bahwa ia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama, karena ternyata pria itu juga merupakan penjahat kambuhan.
Setelah insiden tersebut, Evans bersikap sedikit protektif terhadap Elena. Dia tak akan mengizinkan Elena pergi pada malam hari lagi. Kalau pun gadis itu ingin pergi, Evans akan menjemputnya saat dia pulang. Tak hanya itu saja, Evans bahkan meminta salah seorang anggota tim IT Wileen Group untuk membuat alat pelacak pada ponsel Elena yang tidak dapat dilepas atau dihapus sama sekali. Pelacak tersebut langsung tersambung ke ponselnya.
Hal itu tentu saja membuat Elena menjadi kesal dan risih. Memang, Evans akhirnya bisa melakukan peran sebagai kakak yang baik, tetapi biar bagaimana pun, dia bukan lagi seorang anak kecil yang harus dijaga seketat itu.
Beberapa kali Elena bahkan harus menahan malu ketika Jenny meledeknya dengan sebutan 'baby girl', setiap kali mereka menghabiskan waktu berdua.
Bagaimana tidak, Evans bisa menelepon gadis itu belasan kali hanya untuk memastikan dia baik-baik saja bersama dengan Jenny, padahal jelas-jelas alat pelacak sudah terpasang di ponselnya.
"Bukankah kau seharusnya senang dengan hal itu, El? Dengan begitu, mungkin saja ingatan Kak Evans perlahan akan kembali." Jenny membuka suaranya. Dalam hati, wanita itu masih tidak menyangka akan cerita Elena soal reinkarnasi mereka. Namun, dia tahu betul seperti apa sahabatnya itu.
Di satu sisi wanita itu mendukung janji Iris, sebab hatinya merasa tersentuh akan cerita tragis yang terjadi di antara keduanya. Namun, di sisi lain, Jenny juga meminta Elena untuk tidak memaksakan janji tersebut, karena kini dia dan Evans terlahir sebagai kakak beradik kandung, yang pastinya terlarang bagi mereka untuk bersatu.
"Tapi ingat, El, kini hidup kalian berubah. Kak Evans bukan lagi Leon, dan kau pun bukan lagi sepenuhnya Iris. Kalian diharamkan untuk bersama seperti dulu." Lagi-lagi Jenny mengingatkannya.
Elena tersenyum sendu. "Aku tahu. Niatku saat ini hanya ingin membuatnya mengingat janji kami satu sama lain. Kami bisa hidup bahagia sebagai adik kakak saja, itu sudah cukup bagiku."
__ADS_1
"Aku hanya ingin dia tahu, bahwa aku tak pernah mengingkari janjiku, Jen," ucap Elena dengan mata berkaca-kaca.
"Aku yakin, walau pun ingatannya tak pernah kembali, tetapi Evans dapat merasakannya, El." Jenny menepuk-nepuk punggung tangan Elena.