
Kakak sudah sampai sejak tiga hari lalu, tetapi kenapa hingga detik ini tidak pernah mengabariku? Membalas pesanku saja, tidak!
Sebaris pesan yang dikirimkan Elena kembali datang ke ponsel Evans. Ini adalah pesan kedua belas yang gadis itu kirimkan padanya, dan Evans sama sekali belum membalas pesan tersebut. Maklum saja, sejak tiba di rumah dia sudah disibukkan dengan urusan gudang dan kafe, jadi hanya bisa membaca pesan yang dikirimkan gadis itu. Bahkan, dia juga sempat melewatkan beberapa pesan lainnya.
Merasa terlalu lama mengabaikan sang adik, dia pun memutuskan untuk membalas pesannya. Namun, baru beberapa kata dia mengetik, tiba-tiba sebuah pesan baru datang dari Elena.
Hei, Evans!
Evans sontak mengerutkan kening ketika membaca sepenggal sapaan yang tidak sopan dari gadis itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kau masih hidup, kan?
Segaris senyum simpul terpatri di wajah pria itu saat membaca pesan kurang ajar yang Elena kirimkan selanjutnya.
Jangan bilang kau sudah mati, tetapi masih dapat membaca pesanku!
Kini, pria yang sedang asyik menikmati sekaleng minuman dingin bersoda itu terbelalak. Dia bahkan nyaris menyemburkan minumannya keluar.
"Sial!" celetuk Evans. Dia lupa bahwa pesan yang telah terbaca dapat diketahui dengan mudah. Salahnya sendiri mengapa sejak kemarin hanya membuka pesan tersebut, kalau memang tidak berniat langsung membalasnya.
Antara gemas dan jengkel, dia pun memutuskan menelepon gadis itu.
"Ada apa? Aku sibuk sejak kemarin dan tidak sempat membalas pesanmu." Evans langsung mengatakan hal tersebut tanpa basa-basi begitu Elena menjawab sambungan teleponnya.
Suara cibiran terdengar jelas di telinga pria itu. "Tidak apa-apa, hanya ingin mengganggumu saja," jawab Elena dari balik telepon.
"Kau memang mengganggu!" sahut Evans.
"Hah! Jadi aku mengganggu?" seru Elena marah.
Evans mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Bukankah kau yang mengatakan demikian tadi? Aku hanya mengiyakan perkataanmu saja," ujar pria itu tak mau kalah.
"Seharusnya kau menolak pernyataanku, bukan malah menyetujuinya!" Elena kembali berbicara dengan suara lantang.
"Oke, aku tarik kembali kata-kata tadi. Kau sama sekali tidak menggangguku! Puas?" Evans memutar bola matanya saat mendengar suara tawa dari gadis itu.
"Lalu, kapan kau akan kembali ke sini?" tanya Elena setelah menghentikan tawanya.
"Aku tidak bilang akan kembali ... cepat, lagi pula hidupku berada di sini," jawab Evans.
"Aku tahu." Tak ada lagi suara yang terdengar setelah Elena mengatakan hal demikian, hingga akhirnya Evans membuka suara kembali.
"Ada apa? Apa ada sesuatu? Kau baik-baik saja, kan? Papa dan Mama baik-baik saja, kan?" Pertanyaan beruntun terucap dari mulut pria itu.
Tawa merdu Elena terdengar kemudian. "Semua baik. Kalau begitu, aku akan meneleponmu kembali. Bye!"
Tanpa menunggu tanggapan dari Evans, Elena langsung menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Hal itu tentu saja membuat Evans keheranan.
Baru saja dia hendak menelepon Elena kembali, Dennis sudah memanggilnya.
...***...
Elena menatap ponselnya dengan wajah gamam. Hatinya terasa bimbang memikirkan sesuatu hal yang sebenarnya sudah sejak semalam dia pikirkan.
Elena kembali menyalakan ponselnya dan mengetik beberapa kalimat pesan singkat untuk sang kakak. Namun, detik selanjutnya dia menghapus pesan tersebut.
Hal itu dilakukan Elena sampai tiga kali, sebelum akhirnya dia menyerah dan memilih terkapar di ranjang.
Saat sedang sibuk berkutat dengan kegundahannya, tiba-tiba suara pintu kamar terbuka. Wajah sang ibu muncul dari sana dengan membawa segelas jus dingin dan cookies almond berlumuran cokelat.
Samantha meletakkan nampannya di atas nakas lalu duduk di sebelah Elena yang kini sudah terduduk.
"Ada apa Sayang? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu yang rumit," ujar sang ibu seraya mengelus pipi Elena.
Gadis itu sontak memegang wajahnya dengan raut keheranan. "Apa wajahku semudah itu terbaca, Ma?"
Samantha tertawa kecil. "Kau anak Mama, tentu saja Mama tahu."
Elena terdiam sejenak. "Apa Mama juga bisa melihat Papa dan Kakak juga?" tanya gadis itu tiba-tiba.
Samantha tersenyum simpul. "Tentu saja. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Kau bisa menceritakannya pada Mama seperti biasa."
Mendengar tawaran sang ibu, Elena bungkam. Gadis itu memang selalu mengandalkan Samantha untuk menjadi pendengarnya saat mencurahkan isi hati, dan itu sepertinya tak pernah dilakukan Elena lagi sejak lulus sekolah. Dia yang kini telah beranjak dewasa memilih memendam perasaannya dan menyimpan semua sendiri.
"Tak ada apa-apa, Ma, aku baik-baik saja." Elena membalas senyum Samantha.
Samantha menggenggam tangan putrinya sembari menepuk-nepuk lembut. "Sudah lama kau tidak bercerita tentang apa pun pada Mama. Mungkin saja ada sesuatu yang ingin kau bagi, entah soal pekerjaan atau kisah asmaramu," ujar sang ibu.
Mendengar kata terakhir sang ibu, Elena tertawa kecil. "Aku tak lagi memiliki kisah asmara setelah peristiwa terakhir kali, Ma." Perkataan Elena tertuju pada Albern, pria brengsek yang nyaris menghancurkan hidupnya.
Samantha mengangkat kedua alisnya. Wanita itu seolah memberi isyarat bahwa dia mengetahui sesuatu.
__ADS_1
"Mama kenapa?" tanya Elena penasaran. Entah bagaimana perasaan tak enak tiba-tiba hinggap di hati gadis itu.
"Kau tahu, ikatan antara ibu dan anak tidak pernah sesederhana kelihatannya. Kami para ibu tentu saja dapat menyadari jika ada sesuatu hal yang terjadi pada anak-anak kami," kata Samantha.
"Benarkah?" tanya Elena kembali.
"Tentu saja benar." Tawa anggun menghiasi wajah Samantha yang masih terlihat cantik meski telah berusia setengah abad.
Suasana di antara mereka mendadak hening seketika, sebelum sang ibu tiba-tiba mengeluarkan suaranya kembali dengan raut wajah setenang mungkin. "Jadi bagaimana, mau tetap berpura-pura hilang ingatan untuk menguji perasaan kakakmu atau mengambil langkah sendiri? Ingat Sayang, mahluk hidup bernama pria tidak akan pernah memiliki kepekaan seperti kita."
Elena yang sedang tertunduk, menatap kedua tangannya yang berada di genggaman sang ibu, terangkat seketika. Matanya sontak melebar. Raut keterkejutan tak bisa ditampik gadis itu.
" ... Ma—mama ...." Tak sanggup berkata-kata, Elena hanya bisa membalas tatapan sang ibu yang kini tersenyum padanya.
"Awalnya Mama pikir, penglihatan Mama akan kalian berdua salah. Namun, seiring berjalannya waktu, Mama akhirnya dapat melihat bahwa kedekatan kalian memang memiliki arti lain. Ingat, ikatan ibu dan anak-anaknya tidak pernah sesederhana itu, kan?" Samantha menatap putrinya penuh kasih sayang.
"Kami ... anu ... Ma ... t—tidak—"
"Tidak apa-apa, Sayang. Meski bagi sebagian orang hal ini mungkin terasa tidak benar, tetapi seharusnya tidak menjadi sebuah halangan. Apa lagi kalian tidak memiliki ikatan darah sama sekali."
Elena tak sanggup berkata-kata.
"Pergilah. Itu mungkin akan membantu kakakmu untuk memutuskan tetap menggunakan nama keluarga kita atau menggunakan identitas barunya. Hal itulah yang sejak lalu menjadi beban pikiran Evans. Dia tengah menunggu."
Elena hanya bisa tertegun. Dia bahkan baru mengetahui hal yang baru saja dikatakan Samantha. Dia tak mungkin menanyakan pertanyaan klise seperti, 'Mama tahu dari mana?', karena jawaban sang ibu sudah pasti seperti yang terdengar sebelumnya.
Setetes air mata mengalir membasahi pipi Elena. Tanpa basa-basi Elena memeluk sang ibu sembari mengucapkan belasan kata maaf dan juga terima kasih.
Namun, Elena sempat menanyakan sang ayah pada ibunya, dan beliau mengatakan bahwa Simon, ayahnya, sama sekali tidak mengetahui hal ini. Maklum saja, fokus pria paruh baya itu kini hanya tertuju pada kesehatannya saja.
Elena mengembuskan napas lega. Dia memang berharap sang ayah tidak mengetahui apa pun. Ada sedikit kecemasan akan tanggapan yang diberikan sang ayah jika mengetahui putra angkat dan putri kandungnya ternyata saling jatuh cinta.
Melihat kecemasan yang hadir pada raut wajah Elena, Samantha pun memberikan ketenangan. "Tak perlu mencemaskan apa pun, Mama akan membantu menjelaskan pada Papa, jika memang kalian benar-benar bersama."
Keharuan menyeruak di benak Elena. Dia yang tadi sempat melepaskan pelukannya, kini kembali memeluk sang ibu seerat mungkin.
...*****...
Evans terpaksa bangun dari tidur nyenyaknya kala mendengar suara bel rumah berbunyi berkali-kali, padahal waktu masih menunjukan pukul 4 pagi.
"Deniss?" terka Evans dengan raut wajah kesal. "Sepertinya dia harus diajari adab bagaimana bertamu yang baik!" Tanpa menghapus mimik wajahnya, pria itu segera turun dari ranjang dan keluar untuk memeriksa tamu yang datang.
"Dennis, ini masih pagi da—"
Mata Evans seketika terbelalak, kala menyadari bahwa gadis yang kini berada dalam dekapannya tak lain adalah Elena.
"El! Bagaimana bisa kau sampai di sini?" tanya Evans keheranan. Pasalnya, hanya gadis itu dan Jemima lah yang tahu tempat tinggalnya. Namun, Elena dalam kondisi hilang ingatan, sementara Evans sama sekali tidak mendapati jejak sang sekretaris di mana pun.
Berbagai macam pertanyaan berseliweran di dalam kepala Evans, terutama pada tingkah Elena. "Hei, apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa kemari? Kau masih dalam tahap pemulihan. Kau kabur dari rumah? Papa dan Mama t—"
Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Evans. Hanya itu satu-satunya cara yang Elena tahu dapat membuat pria tercintanya bungkam.
Benar saja, Evans kini terdiam sembari membelalakkan matanya.
"Kau—"
"Maafkan aku," ucap Elena memotong pembicaraan.
Mendengar permintaan maaf Elena, Evans pun mengerutkan keningnya. "Maaf kenapa?"
Elena menarik tangan Evans menuju sofa tamu dan duduk di sana. Dia dengan gamblang memberitahu perihal ingatannya yang tak pernah hilang.
"Kenapa?" tanya Evans dengan tatapan menuntut. Kekecewaan tercetak jelas di wajah pria tampan itu, sebab selama ini, Elena telah membohonginya.
"Aku berniat menyerah, tapi kau malah menarikku kembali. Aku tahu kau berusaha membuatku mengingat semua kenangan kita. Benar, kan?" Elena menatap Evans tajam.
Evans enggan menjawab. Dia malah bangkit dari sofa dan pergi menuju ke dapur.
Elena bergegas menyusul Evans. "Kak—"
"Kau salah sangka. Jangan terlalu percaya diri, aku hanya tak ingin hubungan kita sebagai keluarga hilang begitu saja. Oleh sebab itu, aku berusaha membuat dirimu mendapatkan ingatan kembali!" kata Evans dingin. Pria itu membuka kulkas dan mengambil sekaleng bir dingin dari sana.
Elena yang kesal dengan tingkah Evans lantas merampas minuman tersebut dan meletakkannya di atas meja pantry.
"Oke, aku sudah muak dengan segala macam omong kosong ini. Sekarang tatap aku dan katakan kau tidak mencintaiku! Dengan begitu aku akan membantumu lepas dari keluarga Wileen dan memilih identitas baru. Kau bisa bebas hidup setelahnya!"
Evans tidak menjawab.
"Aku tahu kau menunggu sesuatu saat Papa menawarimu untuk menghapus identitas baru. Kau tengah menunggu sesuatu, kan? Kau menunggu aku, kan?" desak Elena.
Evans berusaha tidak memberikan reaksi ketika Elena mengatakannya, sebab, yang dia katakan memang benar.
__ADS_1
Evans memang berniat untuk melepaskan identitas lamanya jika dia ingin bersanding dengan Elena. Dia harus keluar dari kartu keluarga. Meski mereka tidak memiliki darah yang sama, status kenegaraan tetaplah kakak beradik, dan kakak beradik tidak diperbolehkan menikah. Itu lah mengapa Evans ingin menunggu Elena dulu. Bila memang ingatan Elena bisa kembali, maka dia akan melepas nama Wileen, tetapi bila tidak, dia akan tetap menjadi kakak bagi gadis itu.
Evans tertunduk. Dia sama sekali menghindari tatapan mata Elena. Entah mengapa, mengetahui bahwa Elena sama sekali tidak melupakannya malah membuat ketakutan kembali datang.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Takdir kita akan sama? Kita akan mati tragis seperti tiga kehidupan sebelumnya? Oh, God!"
Mata Elena mulai basah. "Baiklah. Mulai sekarang lebih baik kita benar-benar tak pernah bertemu saja, agar ketakutanmu tidak perlu terbukti. Detik ini juga aku akan pergi menjauh darimu!"
Elena berbalik dan mulai pergi meninggalkan Evans.
Sementara pria itu sama sekali tidak bergerak. Kakinya tak mampu melangkah, seolah ada beban berat yang menahan dirinya.
Suara-suara yang muncul dalam kepalanya menyuruh pria itu untuk mengejar Elena, sedangkan yang lain lagi memintanya untuk tetap diam di tempat demi melindungi gadis itu.
Evans bimbang bukan main, kepalanya mulai dilanda rasa pening. Namun, kata-kata terakhir Elena tadi membuat Evans tertegun. Terlebih, janji masa lalu di antara mereka yang tiba-tiba terngiang. Janji bahwa mereka akan terus bersama walau harus melewati getirnya takdir Tuhan.
Evans tak ingin ada penyesalan. Lebih baik menghadapi takdir bersama dari pada harus melihat Elena bahagia dengan pria lain.
"Tidak! Elena bahkan tidak akan mungkin bahagia dengan pria lain, karena yang dia inginkan hanya kau, Bodoh!"
Satu suara dalam kepalanya, menghardik pria itu.
Tepat saat Elena menutup pintu depan dengan sangat keras, suara-suara tersebut hilang seketika.
Kakinya yang tadi terasa sangat berat kini kembali ringan. Sekuat tenaga dia berlari menyusul Elena.
...***...
Air mata mengalir membasahi pipi Elena. Usai sudah perjuangannya untuk dapat kembali pada Leon. Sepertinya, keputusan Evans untuk tidak kembali bersama merupakan keputusan terbaik.
Padahal bagi Elena, tidak masalah jika harus hidup seperti apa pun asal bisa bersama dengan Evans. Namun, Evans terlalu pengecut untuk menghadapi takdir mereka sekali lagi.
Elena menghentikan langkahnya. Untuk terakhir kali, dia ingin berpamitan pada Evans kendati dari jauh.
Gadis itu berbalik guna melihat rumah pria yang paling dicintainya tersebut. Namun, wajah Elena sontak terbelalak ketika ternyata pria yang baru saja menolaknya telah berdiri di sana.
Tanpa memberi kesempatan Elena untuk bertanya, Evans langsung memeluk gadis itu seerat mungkin. "Jangan salahkan aku, jika kita harus melewati siklus hidup yang sama!" ujarnya memperingatkan.
Mendengar perkataan Evans, Elena menangis terisak-isak. "Aku tidak peduli, Evans Bodoh!" teriaknya keras. Dia memukul punggung Evans sekuat mungkin, bahkan mengigit pundaknya.
Evans meringis sekaligus tertawa. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Elena penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Princess Airlea, Iris, Vanya, Bella, Elena."
Elena tertawa kala Evans menyebut semua namanya di kehidupan yang lalu. "Aku juga mencintaimu, Leon, Alex, Ward, Evans, Chris," balas gadis itu.
Evans turut tertawa. Dia memegang pipi Elena dan menghapus jarak di antara mereka berdua.
Di bawah guyuran sinar matahari yang baru saja terbit, keduanya kembali mengikrarkan janji untuk bersama hingga akhir.
...TAMAT...
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih banyak untuk para pembaca setia saya yang selalu menunggu cerita ini dan sudi membacanya sampai tamat.
Terharu rasanya saat ada yang mau membaca karya saya yang tidak seberapa ini.
Maaf jika sekiranya, selama saya menulis ada beberapa hal yang terlewat dan kurang memuaskan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi saya juga sadar, bahwa saya hanya manusia biasa yang lebih banyak lupanya dari pada ingatnya.
Kurang maksimalnya cerita ini juga mengacu pada dunia nyata yang tidak bisa saya tinggalkan. Apa lagi, akhir-akhir ini saya harus menghadapi cobaan dan membagi fokus pada kesehatan putra saya yang sempat koma dan kritis di PICU. Itu lah mengapa saya jadi jarang update. Semoga kakak-kakak dan adik-adik dapat memakluminya.
Sekali lagi terima kasih dan jangan ke mana-mana ya? Karena masih akan ada ekstra part yang hadir nanti. 😍
Satu lagi. Semoga kalian masih berkenan menunggu karya baru saya yang akan dipublish beberapa hari lagi.
Sekali lagi terima kasih banyak semua. Kurang lebihnya, saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya.
__ADS_1
Saya mencintai kalian. 🤗🤗😘❤️❤️❤️