
Elena meraih tangan kanan Evans hingga mencapai ke ujung jarinya. Perlahan, gadis itu mengambil pisau dari tangan Evans dan membuangnya jauh-jauh.
Setelah itu, Elena kembali memeluk sang kakak erat-erat sembari menangis tersedu-sedu. Melihat kemarahan Evans membuat Elena menyadari, bahwa sosok Leon masih tersisa di dalam diri sang kakak dan tidak sepenuhnya hilang.
Selain menangisi sang kakak, jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga menangisi Albern yang ternyata merupakan sosok reinkarnasi dari Benjamin. Sang Tuan tanah yang telah menghabisi mereka berdua di masa lalu.
Elena merasa sangat marah pada takdir yang tega mempermainkan mereka. Entah apa jadinya jika dia sampai berhasil mengikat tali pernikahan dengan Albern, dan berpisah dengan Evans.
Elena sulit memahami garis takdir keberuntungan yang diberikan Tuhan pada Benjamin, padahal jelas-jelas dia adalah sosok pria jahat dan bengis.
Beruntung Evans tidak memiliki ingatan masa lalu seperti dirinya. Kalau tidak, pria itu pasti sudah membvnuvhnya lebih cepat dan tanpa ampun.
Evans menggenggam tangan Elena seraya memejamkan matanya.
Rasa sakit perlahan mulai mengunci hati Evans. Belum lagi kemarahan yang masih terasa membakar dadanya.
Sekuat mungkin Evans tengah berusaha menahan air mata agar tidak jatuh membasahi pipinya, tatkala mengingat mimpi-mimpi aneh yang selama ini hadir dan mengganggunya.
Saat tengah menghajar Albern. Kilas balik akan tragedi Leon dan Iris berputar jelas bagai roll film di dalam kepala Evans.
Belum lagi, ingatan-ingatan lain soal dirinya yang merupakan mantan seorang panglima perang, dan Iris yang merupakan seorang putri kerajaan Oswald.
Evans juga bisa melihat sosok Albern yang berubah menjadi Benjamin. Itu lah mengapa, dirinya sempat gelap mata dan hendak membvnvh pria brengsek itu.
Semua ingatan masa lalunya telah kembali, termasuk perasaannya pada Iris, yang kini bereinkarnasi menjadi sosok Elena, adiknya.
Evans mengembuskan napasnya perlahan, sebelum kemudian berbalik menghadap Elena.
Pria itu menatap wajah Elena penuh kerinduan selama beberapa saat, sebelum akhirnya mendekap gadis itu erat.
Tak berapa lama, beberapa orang polisi masuk ke dalam kamar Albern dan membekuk pria yang masih pingsan tersebut.
__ADS_1
Davin, sang kepala polisi yang sejak awal membantu melakukan pencarian terhadap Elena, bergegas menghampiri keduanya.
"Maafkan saya karena tidak melaporkan hal ini," ucap Evans seraya merangkul tubuh Elena.
"Tidak masalah, Anda bisa memberikan seluruh keterangan lengkap di kantor nanti. Untuk saat ini saya bersyukur Nona Elena dalam kondisi yang baik." Davin mengangguk dan meminta dua orang petugas medis mengobati Elena.
Saat hendak berjalan, Elena memekik kesakitan. Rupanya, saat berlari menyusul Evans tadi, Elena sempat jatuh dan kakinya terkilir.
Petugas medis baru saja hendak membawa Elena menggunakan tandu, tetapi Evans ternyata sudah membopong tubuh gadis itu.
Elena refleks mengalungkan kedua tangannya pada leher Evans. Ditemani Jemima dan dua orang petugas medis lain, mereka pun turun ke lantai bawah.
...***...
Samantha berlari menghampiri Elena dan Evans yang baru tiba di rumah dengan wajah penuh air mata. Wanita paruh baya itu memeluk kedua anaknya bergantian dan menanyakan kabar mereka.
Evans terpaksa memberitahu mereka soal tragedi yang menimpa Elena pada Samantha. Namun, mereka tetap merahasiakannya pada Simon demi menjaga kesehatan beliau.
Berkali-kali Samantha memeluk tubuh Elena guna memastikan bahwa putri kecilnya dalam kondisi sehat.
Elena membalas pelukan sang ibu sekali lagi, sebelum kemudian mengajak beliau untuk masuk ke dalam rumah.
"Kakimu kenapa Sayang?" tanya Samantha begitu menyadari langkah kaki Elena yang sedikit terseok-seok.
"Hanya terkilir Ma, tapi sudah jauh lebih baik." Elena menegakkan tubuhnya dan tersenyum, guna memberi keyakinan pada sang ibu bahwa ini hanya masalah kecil.
"Ya Tuhan, putri kecil Mama." Samantha memeluk erat Elena dan memapah sang anak untuk masuk ke dalam rumah.
"Papa sedang apa, Ma?" tanya Evans kemudian. Dia menyerahkan dua buah koper miliknya pada maid mereka.
"Papa baru saja tidur, Sayang. Kemarin dadanya sempat terasa sesak dan sulit bernapas. Mama juga sudah memanggil Dokter Gerald. Besok, rencananya Mama dan Papa akan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Jawab Samantha panjang lebar.
__ADS_1
Evans menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga pun pergi menuju lantai dua untuk mengantar Elena ke kamarnya.
Mengetahui sang adik sulit menaiki anak tangga, Evans berinisiatif menggendongnya.
"Beristirahatlah Sayang, kau harus memulihkan kondisimu dulu. Nanti kita akan mengobrol panjang lebar ya," ujar Samantha.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Ini hanya luka kecil," kilah Elena.
"Mama benar, kau harus beristirahat!" Evans menimpali perkataan sang ibu.
Hal itu membuat Elena terlihat kesal dan marah. Namun, dia tak dapat berbuat apa pun selain hanya menuruti mereka.
Setelah memastikan Elena beristirahat, keduanya pun keluar dari kamar gadis itu.
Evans meminta izin pada sang ibu untuk melihat kondisi ayahnya terlebih dahulu. Namun, sebelum mereka tiba di kamar utama, Samantha memeluk Evans seerat mungkin.
"Terima kasih kalian telah kembali ke rumah dengan selamat, Sayang, dan terima kasih kau sudah mau menjaga adikmu dengan baik," ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
Evans membalas pelukan sang ibu sama eratnya. "Sama-sama, Ma. Maafkan aku, sebab selama ini selalu berlaku jahat pada Elena."
Samantha menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nak, Mama mengerti perasaanmu. Sekarang, Mama harap kita bisa hidup bahagia seperti keluarga umum lainnya ya, Sayang? Tak ada yang terpisah lagi. Hanya Papa, Mama, kau, dan Elena, adik semata wayangmu." Wanita itu mengusap-usap punggung lebar sang putra dengan penuh kasih sayang.
Evans terdiam sesaat. Ingatan masa lalu yang hadir dalam dirinya tentu saja membuat Evans tidak bisa berjanji, untuk memenuhi keinginan sang ibu angkat tercinta.
Perasaannya terhadap Elena kini jelas berubah. Dia bukan lagi sosok seorang adik di mata Evans. Namun, Evans harus menekan perasaannya sedalam mungkin. Meski mereka bukanlah kakak beradik kandung, bukan berarti keduanya bebas menjalin hubungan. Terlebih, Elena sama sekali tidak mengetahui kenyataan ini, dan Evans tidak akan pernah berniat membukanya seumur hidup.
Lagi pula, dia juga tak mengetahui, apakah Elena juga mendapatkan ingatan yang sama dengannya.
Perkataan Elena soal reinkarnasi waktu itu, tidak cukup menunjukkan bahwa dia mendapatkan ingatan yang sama. Bisa saja itu merupakan pertanyaan asal yang Elena ajukan.
Kalau pun Elena ternyata juga mendapatkan ingatan tersebut, Evans sudah memiliki rencana lain yang menurutnya jauh lebih baik.
__ADS_1
"Iya, Ma." Suara Evans terdengar yakin, meski sejatinya dia telah membohongi beliau.
Keduanya pun bergegas pergi menuju kamar utama, tempat di mana sang ayah tengah beristirahat.