Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 7 : Terhina.


__ADS_3

Tak ada yang istimewa dari hari-hari yang dijalani Elena selanjutnya. Sejak tangisan terakhir gadis itu beberapa hari lalu, Elena tak lagi mempedulikan keberadaan Evans.


Gadis itu kini menganggap Evans hanyalah sesosok mahluk tak kasat mata, yang tidak perlu dia pikirkan.


Saat ini fokus Elena hanya pada sekolah dan ujian saja, karena hari kelulusan sebentar lagi akan tiba.


Suara sorak sorai memenuhi hampir tiap ruangan kelas, tatkala wali kelas mereka baru saja mengumumkan, bahwa acara pariwisata akan dimajukan beberapa minggu lebih cepat.


Hal itu dilakukan agar waktunya tidak terlalu terhimpit dengan persiapan prom night.


"Jangan membawa barang-barang yang tidak perlu!" Sang guru memberi peringatan.


"Baik, Mr. Gerald!" jawab siswa-siswi serempak.


Rencananya mereka akan pergi mengunjungi museum sejarah kerajaan. Setelah itu, baru mereka akan mengunjungi wahana bermain yang letaknya tak jauh dari sana.


"Kenapa tidak ke wahana bermain saja ya? Kan, kita sudah tidak belajar." Jenny yang duduk di meja sebelah Elena mendengkus keras-keras setelah wali kelas mereka pergi.


"Mentang-mentang sudah tidak belajar, bukan berarti kita tidak perlu mengais ilmu lagi, Bodoh!" Elena memukul kepala Jenny main-main seraya tersenyum mengejek.


"Issh! Iya ... iya siswi yang lebih pintar dariku! Aku, kan, hanya meminta supaya otak kita diistirahatkan barang sejenak!" seru Jenny ketus.


Kikikan kecil keluar dari mulut Elena.


"Omong-omong, untuk prom night nanti kau mengajak siapa?" tanya Elena selanjutnya.


"Entahlah, aku malas memikirkannya. Ada beberapa siswa kelas lain yang mengajakku pergi. Namun, aku belum menjawab ajakan mereka." Jawab Jenny.


Elena mengangguk-anggukan kepalanya. Gadis itu sama sekali tidak terkejut dengan fakta tersebut, sebab Jenny memang salah satu siswi tercantik yang ada di sekolah mereka. Jika saja dia mau bergabung dengan kalangan siswi popular, Jenny mungkin sudah semakin terkenal.


Sayang, Jenny tak tertarik dengan kumpulan gadis-gadis yang hanya menjunjung tinggi kecantikan dan uang saja.


Suara bel sekolah berbunyi beberapa saat kemudian. Para siswa-siswi sudah mulai berhamburan keluar kelas, terkecuali dengan Elena dan Jenny.


Mereka sengaja berdiam diri di kelas dan menunggu agak sepi terlebih dahulu, agar tidak saling berdesak-desakan.


Setelah kira-kira menunggu selama sepuluh menit, keduanya pun melangkah ke luar gedung sekolah.

__ADS_1


Sesampainya di undakan tangga sekolah, awan gelap tiba-tiba datang dan hujan turun seketika. Sebagian siswa-siswi yang masih berada di sana pun terpaksa tertahan di tempat itu, termasuk Elena dan Jenny.


"Ck, hujan!" Elena menghela napas pasrah, seraya menatap langit yang tak lagi cerah.


"Albern tidak menjemputmu?" tanya Jenny.


"Tidak. Dia sedang sibuk di kantor ayahnya." Jawab Elena lesu.


"Nanti ikut aku saja. Sebentar lagi jemputanku datang." Jenny menawarkan tumpangan pada sahabatnya, yang langsung disambut dengan anggukan senang.


Beberapa saat kemudian, beberapa mobil mewah, termasuk sebuah mobil Rolls-Royce berwarna hitam, terlihat memasuki halaman sekolah dan berhenti tepat di depan gedung.


"Yuk, aku sudah dijemput," ajak Jenny ketika melihat supir pribadinya keluar dari mobil sambil membawa sebuah payung.


Elena ikut melangkah maju mengikuti Jenny.


Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti, tatkala melihat sesosok pria tampan baru saja keluar dari mobil Rolls-Royce tersebut. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Evans sebelumnya.


"Sepertinya aku juga sudah dijemput," ujar Elena sembari menjulurkan dagunya ke arah pria itu.


Jenny sontak mengikuti arah pandang Elena.


Menyadari nada suara dan ekspresi wajah Jenny berubah, Elena lantas mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Matanya kemudian bergulir menatap ke arah teman-temannya yang lain. Ternyata, mereka pun memasang ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Jenny.


Mereka bahkan mulai sibuk berbisik-bisik genit, menanyakan identitas pria tersebut.


Jenny memang pernah melihat Evans dari foto yang ditunjukkan Elena. Namun, foto itu merupakan foto candid yang sengaja Elena ambil sembarangan.


Evans sendiri sebenarnya sudah tiga kali mengantar sang adik ke sekolah, tetapi dia tak pernah keluar dari mobil.


Para siswi memekik genit saat Evans berdiri tepat di depan undakan tangga. Hanya dengan tatapan mata saja, Elena sudah dapat memahami bahwa pria itu tak ingin berlama-lama di sana.


"Aku pulang dulu ya?" pamit Elena pada Jenny.


"Oke. Hati-hati di jalan, El." Jenny melambaikan tangan pada Elena, tanpa mengalihkan pandangannya pada Evans. Tak lupa, gadis itu juga menyapa Evans dengan anggukan sopan.


Evans membalas sapaan Jenny dengan anggukan yang sama.

__ADS_1


Elena pun turun menghampiri sang kakak dan pergi meninggalkan sekolah.


Selepas kepergian gadis itu, para siswi langsung menyerbu Jenny dan menanyakan identitas pria yang baru saja menjemput sahabatnya.


"Itu kakaknya. Jangan diganggu, dia sudah bertunangan dengan model internasional!" jawab Jenny asal, seraya melenggangkan diri menuju mobilnya sendiri.


Mendengar jawaban Jenny, suara keluhan dari para siswi kontan terdengar jelas.


"Dasar gadis-gadis genit!" seru Jenny tanpa menyadari bahwa dirinya juga tak jauh berbeda dengan mereka tadi.


...***...


Tidak ada pembicaraan apa pun yang terjadi di antara keduanya dalam perjalanan ini. Elena sendiri tidak perlu repot-repot menanyakan alasan Evans menjemputnya, karena pria itu pasti diperintahkan oleh kedua orang tua mereka.


Namun, kondisi mobil yang sangat sunyi membuat Elena lama-lama merasa sangat risih. Gadis itu pun berinisiatif menyalakan musik agar suasana tidak terlalu sepi seperti sekarang.


"Siapa yang mengizinkanmu mengutak-atik mobilku?" tanya Evans dingin.


Gerakan tangan Elena terhenti. "Aku hanya ingin menyalakan musik agar tidak sepi," jawab gadis itu.


"Ini mobilku. Kau hanya diperbolehkan duduk diam di sana. Jadi, jangan pernah berani-beraninya menyentuh apa pun yang ada di dalam sini, seujung kuku pun!"


Perkataan Evans sontak menusuk jantung Elena. Gadis itu lantas menjauhkan tangannya.


Elena memilih memalingkan wajahnya, sembari *******-***** tangannya yang mulai terasa dingin. Sekali lagi dia merasa terhina. Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu.


Mobil Evans kemudian berhenti di lampu merah. Tepat di dalam halte bus yang berada di sebelah mobil Evans, terdapat dua orang pria dan wanita muda yang tampak asyik bergurau. Mereka sepertinya bukan sepasang kekasih, melainkan kakak beradik.


Elena dapat membaca gerak bibir sang pria yang berkali-kali menyebut si wanita muda, 'adik kecilku'.


Melihat betapa sayangnya sang kakak pada adiknya, membuat rasa iri timbul di benak Elena. Gadis itu berusaha menahan diri agar tidak menangis.


Setibanya di rumah, Elena langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Evans.


Evans sendiri hanya menatap kepergian sang adik dengan wajah datar. Sekilas, dia sebenarnya dapat melihat air mata yang mengalir membasahi pipi gadis itu.


"Sayang, kau sudah pulang ... loh, kenapa menangis?" tanya Samantha khawatir.

__ADS_1


Elena tidak menjawab pertanyaan sang ibu, dan memilih langsung pergi menuju kamarnya di lantai dua.


__ADS_2