
Sejak kecil Evans dikenal sebagai anak yang tidak pernah memiliki ketakutan berlebih akan sesuatu. Hal itu terus berlanjut hingga dia tumbuh menjadi pria dewasa.
Semua jalan hidup yang Evans lewati selalu dilaluinya tanpa rasa takut. Meski pernah terluka dan juga kehilangan, dia tak pernah merasa bahwa itu adalah sebuah hal yang harus ditakutkan.
Namun, semua itu berubah ketika Elena merangsek masuk ke dalam hidupnya. Terlebih, saat segala kenangan masa lalu bangkit dalam memori mereka satu sama lain.
Semua rasa takut bercampur dan mulai mengoyak batin pria itu. Terutama rasa takut akan takdir pahit yang mungkin akan terulang pada kehidupan mereka saat ini.
Evans pikir, perpisahan adalah satu-satunya cara agar mereka dapat terbebas dari belenggu nestapa akan takdir tragis di masa lalu. Namun, ternyata apa yang dia pikirkan tidak demikian.
Dia nyaris kehilangan Elena dua kali kemarin, saat kecelakaan dulu dan tragedi Albern.
Kini, kecelakaan nyaris serupa lagi-lagi terjadi pada gadis itu. Hal yang langsung menyadarkan dirinya, bahwa ketakutan terbesarnya bukan lah soal takdir pahit yang mungkin akan terulang kembali, melainkan kehilangan seseorang yang sangat dia cintai.
Dengan napas memburu, Evans berlari bak orang kesetanan di sepanjang koridor rumah sakit.
Dia tidak mempedulikan orang-orang yang tak sengaja ditabraknya hanya untuk menemui gadis itu.
Jemima yang yakin akan sosok Evans akhirnya mencari tahu alamat dan nomor telepon Destiny Cafe. Dari situ lah dia bisa menghubungi Evans yang kini merubah identitasnya menjadi Chris.
Wanita berperawakan tomboi itu tanpa takut memaki Evans dan meneriakinya di telepon. Dia yang selama hidupnya jarang menangis bahkan tanpa malu meraung-raung pada pria itu.
Evans mengenal betul bagaimana tabiat Jemima, dan dia cukup terkejut mengetahui sisi lain dari wanita itu.
Evans berhenti di depan ruang perawatan VVIP yang ada di lantai tiga rumah sakit. Matanya membaca papan nama Elena di sana.
Jantungnya berkebit tak karuan, mengingat kedua orang tuanya juga pasti tengah berada di sana. Tawa pilu terdengar dari mulut Evans. Ketakutan lain rupanya menyergap batin pria itu.
Dengan gerakan perlahan, Evans membuka pintu ruangan dan berdiri mematung di sana.
Samantha, Simon, dan Jemima yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh ke arah pintu.
Samantha bergegas bangkit dari sofa saat mendapati sosok anak sulungnya telah kembali.
__ADS_1
Meski air mata bercucuran di wajah cantiknya, sorot tajam wanita itu tak lepas dari pandangan matanya.
Evans melangkah masuk dan menutup pintu. Dia telah siap menerima apa pun konsekuensi yang didapatnya nanti.
Benar saja. Detik selanjutnya, suara tamparan keras bergema memenuhi ruang perawatan Elena.
Evans tidak menghindari tamparan sang ibu, dia bahkan membiarkan beliau mengulangi tamparannya sekali lagi.
"Apa yang terjadi di sana Evans? Apa yang sudah kau lakukan sampai adikmu pulang pagi-pagi buta tanpa pemberitahuan? Elena tak mungkin pergi begitu saja!" teriak Samantha.
Mendengar itu, Evans hanya bisa tertunduk. Sepenggal kata maaf tersusul dari mulut pria itu.
Simon berdiri menghampiri Samantha dan menjauhkannya dari putra mereka. Pria itu berusaha menenangkan diri sang istri, tetapi Samantha malah menepis keras, dan berjalan menghampiri Evans lagi.
Evans pikir, ibu angkatnya akan kembali menampar atau bahkan memukul dirinya. Namun, ternyata tidak demikian.
Sebuah pelukan penuh kehangatan diberikan Samantha pada putra sulungnya.
Sebuah pelukan yang membuat luapan emosi terpendam di diri Evans menguar seketika.
Biar bagaimana pun juga, Evans tetap lah putra sulung mereka. Dia lah yang lebih dulu hadir mengisi kekosongan hati mereka dan menambal luka Samantha. Dia lah yang lebih dulu membawa kebahagiaan pada mahligai rumah tangga mereka.
Oleh sebab itu, tak pernah terbersit sedikit pun dalam benak Simon dan Samantha untuk menepis kehadiran Evans. Tak pernah sedikit pun keduanya membeda-bedakan antara Evans dan Elena. Cinta yang mereka berikan sama besarnya.
Jemima yang turut berada di sana hanya bisa menatap keluarga tersebut dengan air mata berlinang.
...***...
Samantha memberitahu kondisi Elena kepada Evans.
Operasi yang baru saja selesai dilakukan Elena berhasil. Tak seperti dulu, kini keadaan Elena lebih stabil. Mereka hanya harus menunggu gadis itu sadar. Maka dari itu, dia diperbolehkan pindah ke ruang perawatan dengan berbagai alat medis penunjang di sana.
Selain membicarakan Elena, mereka juga membicarakan tentang hidup Evans.
__ADS_1
Dia mengakui dirinya sudah mengganti identitas. Artinya, Evans kini memiliki identitas ganda.
Simon menyuruh Evans untuk membuang identitas barunya. Namun, Evans menolak.
"Kenapa? Kau tak ingin kembali?" tanya Simon dengan raut wajah kecewa.
Evans menoleh sejenak ke arah Elena yang masih betah tertidur. "Bukan begitu, Pa. Aku hanya harus memastikan sesuatu terlebih dahulu, dan aku tidak bisa mengatakannya sebelum dapat memastikan hal tersebut."
Ucapan Evans sontak membingungkan kedua orang tuanya. Namun, mereka memilih untuk mengalah sekali lagi dan membiarkan Evans memutuskan jalan hidupnya sendiri.
Setelah berbincang cukup lama, Evans menawarkan diri untuk menjaga Elena hari ini. Semula, Samantha menolak karena takut putranya tiba-tiba hilang kembali seperti dulu.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Ma," ujar pria itu seraya mencium tangan sang ibu.
"Dulu, kau pun pernah mengatakan hal yang sama saat pamit menenangkan diri. Nyatanya, dua tahun kau menghilang, Sayang." Samantha memandangi anak sulungnya nanar.
Evans tersenyum lembut. "Maafkan aku, Ma. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi kali ini."
Setelah berhasil meyakinkan Samantha, akhirnya, mereka bersama Jemima pun pergi dari sana.
Evans juga sudah meminta maaf pada Jemima akan keputusan sembrononya yang memilih pergi dari rumah. Sebab, biar bagaimana pun, Jemima merupakan salah satu sosok terdekatnya sejak bertahun-tahun silam.
Evans kini dapat berlega hati, sebab satu masalahnya perlahan menguap. Hanya tinggal satu lagi saja, yaitu Elena.
Pria itu duduk di kursi yang berada persis di sebelah ranjang Elena. Sorot matanya menatap sendu keadaan sang adik yang masih belum sadarkan diri.
Tangannya menggapai tangan gadis itu dan mulai menciuminya. "Maafkan aku, El. Bangun lah dan tampar aku seperti yang tadi Mama lakukan." Sepenggal kalimat penuh harap terucap dari mulut pria itu.
Evans terus menciumi tangan Elena dengan lembut, hingga sebaris kalimat yang tak pernah berani dia ucapkan pun akhirnya keluar juga.
"Aku mencintaimu, Elena. Aku tak peduli lagi pada takdir pahit yang mungkin akan hadir menghantui kebersamaan kita. Asal bisa bersamamu, jalan mana pun akan senantiasa aku tempuh," ucap pria itu lirih.
"Kembalilah. Janjiku untuk membahagiakan dirimu tak akan pernah kuingkari lagi El, karena aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Evans memejamkan matanya, demi menikmati genggaman tangan yang dia berikan pada tangan Elena.
Sudah cukup Elena menderita. Kali ini, dia berjanji akan membahagiakan gadis itu dan tidak akan mengingkari hatinya lagi.