
Waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore saat Elena turun ke lantai bawah sembari membawa piring kosong miliknya.
Gadis itu mengembuskan napas lega, tatkala mengetahui keadaan rumah masih sangat sepi dari sosok ketiga keluarganya.
"Aman! Mereka mungkin saja baru akan pulang tengah malam, karena harus mengajak pria itu jalan-jalan terlebih dahulu." Elena tersenyum sumringah. Kakinya melangkah ringan menuju dapur.
"Non, seharusnya saya saja yang mengambil piring kosongnya." Lily yang sedang merapikan dapur, terkejut mendapati kedatangan nona mudanya.
"Tidak apa-apa, aku sekalian ke bawah." Elena meletakkan piring kosong tersebut di dalam kitchen sink, dan segera beranjak menuju ruang keluarga. Dia berniat mengambil beberapa novel yang belum selesai dibacanya, di rak buku pajangan.
Mereka memang tidak memiliki ruang baca, maka dari itu sang ayah memanfaatkan ruang keluarga sebagai tempat penyimpanan buku-buku juga.
Namun, langkah Elena tiba-tiba terhenti, begitu mendengar suara kedua orang tuanya.
Wajah Elena berubah panik. Gadis itu mundur dan naik kembali ke lantai dua. Sebisa mungkin, Elena harus menghindari sosok Evans dalam radius tertentu.
"El, Sayang," panggil Samantha ketika mendapati putri bungsunya tengah berada di anak tangga, hendak pergi menuju lantai dua.
Mendengar panggilan sang ibu, wajah Elena meringis. Entah mengapa, jantung gadis itu tiba-tiba berdebar keras.
"Sayang, kau belum tidur? Kalau begitu, sapa kakakmu dulu. Kalian sudah lama tidak bertemu, kan?" Suara lembut Samantha kembali terdengar, diikuti beberapa derap langkah kaki yang berjalan menghampiri dirinya.
Elena menggigit bibirnya. Dia mengatur napasnya perlahan, sebelum kemudian menyiapkan mimik wajah seramah mungkin.
Begitu Elena berbalik badan, sudah ada sesosok pria tampan bermata biru dan bertubuh tinggi tegap yang berdiri persis di hadapannya. Pria itu memandangi Elena tanpa ekspresi.
Elena kontan saja mematung. Entah mengapa, sorot mata yang ada pada diri pria itu, mengingatkannya pada mata milik seseorang.
Sejuta perasaan rindu tiba-tiba hadir memenuhi hati Elena tanpa bisa terbendung. Tangan dan kakinya tanpa disadari juga sudah mulai gemetaran hebat. Dia tengah berjuang sekuat tenaga untuk tidak menerjang tubuh sang kakak.
"Aku merindukanmu."
Suara lembut nan menyejukkan milik seorang pria, tiba-tiba terngiang di dalam kepala Elena.
Suara asing yang entah mengapa, membuat gadis itu merasa sangat merindu.
"Siapa?" Batin Elena.
Evans yang semula menatap sang adik tanpa ekspresi, seketika terkesiap saat mendapati setetes liquid bening mengalir membasahi pipi gadis itu.
Simon dan Samantha yang turut berada di sana, juga sama terkejutnya seperti Evans.
Samantha maju satu langkah. Dia hendak membuka suaranya guna menanyakan keadaan anak bungsunya tersebut. Akan tetapi, Simon dengan sigap memegang tangan sang istri, lalu menggeleng.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu. Bahkan, ketika Tuhan menutup mata dan membiarkan kekejaman ini memisahkan raga kita,"
" ... ku akan tetap mencintaimu," gumam Elena, meneruskan sepenggal kalimat yang tiba-tiba hadir diingatan gadis itu.
Evans yang sama sekali tidak mendengar perkataan Elena, hanya bisa mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tatkala melihat bibir sang adik bergerak-gerak seperti sedang menggumamkan sesuatu.
Baru saja Evans hendak mengangkat tangannya, Elena tiba-tiba tersentak dan sadar.
Gadis itu mundur selangkah sembari memegang dadanya yang mulai terasa sangat sesak.
"Ma–maaf," ucap Elena terbata. Tanpa mengucapkan sepatah kata lain, gadis itu bergegas lari menuju lantai dua dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Gadis itu sontak bersandar lemas pada daun pintu dengan napas yang terdengar memburu.
"Kenapa aku malah menangis?" tanyanya kebingungan, sembari terus menghapus air mata yang malah semakin deras membasahi pipinya.
"Hei! Berhentilah mengalir air mata brengsek!" umpat Elena kesal, begitu menyadari lelehan air mata masih terus mengalir keluar.
Alhasil, dia menjatuhkan dirinya ke lantai dan mulai menangis sesenggukan sembari memeluk kedua lutut seerat mungkin.
Sepucuk kerinduan kembali hadir memenuhi ruang hati Elena. Dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa berlaku demikian
Selama bertahun-tahun, Elena selalu merasa baik-baik saja ketika jauh dari Evans. Sebab, keduanya memang hidup bagai dua orang asing yang tidak saling mengenal. Tak pernah sekali pun dalam hidup Elena, Evans bersikap selayaknya seorang kakak.
Rindu yang terasa sangat sakit dan sangat menyiksa.
Di satu sisi, Elena menganggap orang lain itu adalah Evans. Namun, di sisi lain, orang tersebut bukan lah Evans.
Elena berusaha memahami hal aneh yang baru saja terjadi. Namun, semakin dia mencoba memahaminya, kepalanya malah semakin terasa sakit.
"Ada apa denganku?" Batin Elena histeris.
...***...
"Mungkin, Elena terlalu merindukanmu."
Itulah sebaris kalimat yang diucapkan sang ibu, selepas kepergian Elena tadi.
Evans sendiri biasanya tidak memperdulikan apa pun soal Elena. Namun, setelah melihat air mata gadis itu tadi, membuat Evans merasa sedikit tidak nyaman. Padahal ini bukanlah pertama kali Evans melihat air mata Elena.
Mungkinkah Elena sedang mencoba menarik perhatiannya, agar hubungan mereka tak lagi sedingin dulu?
"Ck!" Memikirkan hal tersebut, Evan malah terlihat sangat kesal.
__ADS_1
Pria itu memilih membuka laptopnya dan mulai mempelajari beberapa tugas kantor. Sebab, dalam dua atau tiga hari, dia akan mulai menduduki jabatan sang ayah.
Mengelola kantor keluarga sebenarnya bukan lagi hal asing dan sulit bagi Evans, karena sang ayah sering meminta bantuannya saat dia masih tinggal di luar negeri.
Simon sepertinya memang sengaja merencanakan semua sejak lama. Dia tidak akan mungkin dibiarkan tinggal terpisah dengan keluarga Wileen terus menerus.
...***...
Seberkas sinar mentari pagi menerpa kamar Elena. Gadis yang biasanya selalu memasang wajah ceria itu, kali ini tampak sedikit murung.
Sebetulnya, dia ingin sekali bolos sekolah dan menghabiskan waktu seharian dengan mengurung diri di kamar. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukan, karena hari kelulusan sebentar lagi akan tiba. Elena tentu tak ingin menodai kolom absensinya yang selalu nyaris bersih selama hampir tiga tahun ini.
Dengan langkah gontai, Elena ke luar dari kamar dan turun ke lantai satu.
Tanpa menghiraukan kejadian semalam, dia mencoba terlihat santai ketika bergabung di meja makan.
"El," tegur Samantha ketika tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut putrinya.
"Pagi Pa, Ma ... Kak," Elena mengecilkan suaranya saat mengucapkan kata terakhir.
Simon membalas sapaan Elena, sedangkan Evans hanya mengangguk singkat.
Suasana di meja makan terasa sangat asing bagi Elena. Padahal Evans tengah sibuk memakan roti panggang buatan sang ibu, tanpa memperdulikan dirinya sama sekali.
Sesekali, Elena melirik sosok sang kakak, sebelum kembali membuang muka.
Tak betah berlama-lama duduk di sana, Elena pun bergegas mengunyah roti panggangnya.
"Cepat sekali, El," tegur Simon begitu mendapati sang putri telah bangkit dari tempat duduknya.
"Ada yang harus kulakukan di sekolah, Pa. Aku berangkat dulu." Elena buru-buru mencium kedua pipi ayah dan ibunya, kemudian hendak pergi meninggalkan mereka. Namun, panggilan sang ibu membuat Elena berdecak kesal.
"Yang benar saja!" Batin gadis itu. Matanya menatap sinis Evans, yang masih sibuk menyantap potongan terakhir roti pangganggnya.
Raut wajah pria itu yang seolah tidak menyadari apa-apa, membuat Elena semakin merasa jengkel.
"Aku pergi dulu, Kak," ucap Elena. Suara langkah kaki terdengar di telinga Evans.
Pria itu terlihat menyeka mulutnya menggunakan sapu tangan terlebih dahulu, sebelum kemudian mengangkat wajahnya untuk merespon ucapan Elena.
Namun, tanpa diduga sebuah ciuman hangat tiba-tiba mendarat di pipi kanan Evans.
Wajah pria itu kontan terkejut.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Elena segera pergi meninggalkan rumah dengan langkah lebar-lebar.