Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 26 : Kondisi Elena.


__ADS_3

Malam semakin terasa dingin dan menc3k1k. Selembar selimut usang nan tipis tidak mampu melindungi Iris dari terpaan angin malam yang berembus semakin kencang.


Namun, semua itu tak lagi dipedulikan Iris yang masih tetap setia duduk di ambang pintu rumahnya, hendak menunggu kedatangan seseorang.


Beberapa kali Iris menoleh ke sana kemari dengan wajah gusar. Berharap seseorang yang sudah dia tunggu dua hari terakhir ini, berjalan dari ujung jalan sana sembari membawa hasil buruannya dengan seulas senyum yang paling dia rindukan.


Namun, nyatanya tidak demikian. Sang suami sama sekali belum pulang ke rumah. Padahal ini sudah lewat dari waktu yang biasa ditentukan Leon untuk berburu.


Semula, Elena enggan berpikiran macam-macam tentang sang suami. Namun, begitu mendengar selentingan kabar tentang seorang pemburu yang hilang di hutan, membuat kecemasan wanita itu semakin bertambah-tambah.


Kabar kehilangan itu berembus ketika ditemukannya seekor bangkai babi di pelosok hutan. Para pemburu tidak mungkin meninggalkan hasil buruannya begitu saja. Apa lagi, jika dilihat dari kondisi babi tersebut, sudah bisa dipastikan telah ditinggalkan selama berhari-hari.


Elena yang melihat kecemasan Iris ikut merasakan hal yang sama. Entah mengapa, dia seperti memahami perasaan wanita itu. Elena turut berdoa agar sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Leon.


Elena yang berdiri tepat di sebelah Iris sontak terkejut, tatkala melihat wanita itu tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya dan menutup pintu. Dia bergegas mengganti pakaiannya dengan bahan yang lebih tebal, kemudian mengambil tas linen miliknya dan mengisi tas tersebut dengan sebotol air minum, juga setangkup roti gandum.


Tak lupa, Iris juga memakai salah satu mantel milik sang suami, dan menutup kepalanya dengan kupluk mantel tersebut.


Sebilah bel4t1 milik Leon yang tersimpan di sebelah tungku perapian juga turut dibawa Iris untuk berjaga-jaga.


Merasa semua persiapan telah sempurna, Iris segera mengambil salah satu obor yang tersemat di salah satu tiang rumah. Sembari membawa obor sebagai penerangan wanita itu pun keluar dan menutup pintu.


Iris tidak bisa berdiam diri terus di sana. Kabar yang dibawa para penduduk benar-benar membuat pikirannya sedikit terganggu dan tidak tenang.


"Iris! Berbahaya malam-malam pergi keluar seorang diri!" teriak Elena seraya mengikuti wanita itu menembus keheningan malam.


"Iris!" Elena kembali berteriak. Namun, Iris sudah pasti tidak akan bisa mendengar teriakan Elena.


Tanpa rasa takut, Iris mulai membelah hutan belantara seorang diri dengan hanya ditemani cahaya obor dan rembulan yang tidak terlalu terang. Suara hewan-hewan malam yang tertangkap indera pendengarannya sama sekali tidak mengecilkan nyali wanita itu.


Meski tidak pandai menggunakan benda tajam, Iris tetap cekatan menebas beberapa ranting pohon yang menghalangi langkahnya, sekaligus memberi tanda agar dia tidak tersesat saat pulang nanti.


Wanita itu berjalan sembari mengingat-ingat ke arah mana kira-kira Leon pergi. Sebab, pria itu pernah menunjukkan padanya ketika mereka sedang berjalan-jalan berdua.

__ADS_1


Leon berkata, bahwa dia tidak akan pernah berburu ke hutan mana pun, kecuali Hutan Maxwel.


Setelah berjalan cukup jauh, Iris tiba di tempat terakhir Leon berada.


Seonggok bangkai babi hutan yang sudah tinggal tulang belulang terlihat di sana. Dari kondisinya, bangkai tersebut sudah dipastikan telah menjadi santapan hewan liar lain.


Berbekal cahaya dari obor yang dia bawa, Iris menoleh ke sama kemari demi mencari petunjuk.


Mata wanita itu memicing, tatkala menemukan sebuah benda yang tampak familiar, teronggok tak jauh dari tempatnya berdiri.


Iris segera mengambilnya dan memperhatikan benda tersebut baik-baik. "Ini kalung Leon!" pekik Iris saat menyadari bahwa yang ada di tangannya kini adalah sebuah kalung emas milik sang suami. Itu adalah kalung pemberian dari seseorang yang tak akan pernah Leon jual, sebagai tanda penghormatan pria itu pada si pemberi kalung.


Mendapati benda kesayangan sang suami ditemukan tidak bersama pemiliknya, membuat jantung Iris berdegup kencang. Hatinya yang semula gusar berubah menjadi ketakutan berlebih.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Elena. Gadis itu berharap Leon tidak mengalami hal-hal yang buruk.


"Leon!" Putus asa, wanita itu mulai berteriak memanggil nama suaminya.


Jika memang benar demikian, sudah bisa dipastikan bahwa orang-orang yang menculik Leon akan kembali lagi ke sana selama beberapa kali, guna memastikan tidak akan ada orang yang mencari pria itu.


Benar saja apa yang Elena duga! Gadis itu melihat dua orang pria tengah berjalan mengendap-endap di belakang Iris, hendak menyergapnya.


"Iris! Lari Iris!" teriak Elena. Dia berusaha menggapai Iris, tetapi tentu saja sentuhannya hanya menembus tubuh wanita itu.


"Leon!" Teriakan Iris semakin keras. Wanita itu menebas ranting-ranting pohon sembari melangkah lebih jauh ke dalam hutan.


Tidak kehilangan akal, Elena pun menggoyang-goyangkan salah satu dahan pohon yang paling besar untuk mengambil alih perhatian Iris. Namun terlambat, dua orang pria asing tersebut dengan cepat menyergapnya tiba-tiba. Mereka membekap kepala Iris dengan karung linen dan mengikat tubuhnya.


Iris meronta-ronta seraya berteriak meminta dilepaskan. Dia juga memanggil-manggil nama sang suami sekeras mungkin. Namun, semua usahanya sia-sia. Salah seorang pria memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri.


"Lepaskan sialan, lepaskan Iris!" Elena berteriak sembari berusaha memukul-mukul kedua pria tersebut. Namun, tubuhnya yang transparan membuat Elena tidak dapat menolong Iris.


Gadis itu memilih berlari mengikuti ke mana perginya pria tersebut seraya membawa Iris.

__ADS_1


...**********...


Beberapa perawat tiba-tiba panik ketika mendapati tubuh Elena mengalami kejang hebat. Simon, Samantha, dan Evans yang baru sampai di sana selama beberapa menit, kontan terkejut ketika melihat keadaan Elena dari balik kaca.


Di sana juga ada sosok Albern yang tengah berdiri di sebelah keluarga dengan wajah cemas. Dia baru bisa datang menjenguk Elena sekembalinya dari luar negeri, setelah mendapat kabar dari Simon.


Samantha sendiri bahkan sudah menangis histeris.


Dokter James masuk ke dalam ruang ICU. Dia memerintahkan salah seorang perawat untuk menutup tirai ruangan agar keluarga Elena tidak dapat melihatnya.


"Ada apa dengan Elena? Ada apa!" Samantha hendak menerobos masuk ke dalam ruang ICU, tetapi Simon, Evans, dan Albern dengan sigap menahan tubuhnya.


"Ma, tenang, Ma. Elena akan baik-baik saja," ucap Simon berusaha menenangkan, walau dirinya sendiri juga tengah dilanda ketakutan.


Simon memeluk Samantha seerat mungkin sembari membawa sang istri duduk di kursi tunggu. Pria itu membelai kepala Samantha seraya menciuminya guna memberi ketenangan.


Beberapa saat kemudian, Dokter James keluar dari ruangan ICU dengan wajah sendu. Pria itu menghampiri keluarga pasiennya tersebut untuk memberi kabar, bahwa Elena mengalami kematian batang otak. Kondisi ini mengakibatkan Elena tak hanya kehilangan kesadaran, tetapi juga tidak mampu bernapas sendiri. Dia membutuhkan bantuan pernapasan melalui pemasangan ventilator.


Hidupnya kini tergantung pada alat-alat penunjang saja, dan bisa dipastikan dia tidak akan pernah sadar kembali.


Mendengar penjelasan sang dokter, Samantha berteriak histeris. Harapan akan kesembuhan putri tercintanya pupus seketika.


Kerapuhan juga terlihat dari wajah Simon dan juga Albern, kekasih Elena. Simon bahkan sudah menangis dan memohon pada Dokter James untuk melakukan segala cara agar Elena kembali terbangun dan bisa berkumpul bersama mereka.


Sementara itu, Evans bangkit dari tempat duduknya dan berjalan gontai meninggalkan mereka. Kabar yang dibawa sang dokter membawa tamparan telak di wajah pria itu. Perasaan bersalah menggulung-gulung memenuhi ruang hati Evans.


Langkah kakinya terhenti di sebuah lorong rumah sakit yang sangat sepi. Pria itu sontak terkulai di lantai sembari menangis tersedu-sedu.


Ingatannya kembali bergulir pada kejadian-kejadian masa lalu antara dirinya dan sang adik, di mana pria itu secara kejam memperlakukan Elena semena-mena.


Tak pernah sekali pun Evans berlaku sebagai seorang kakak yang benar dengan melindungi dan menyayangi Elena. Selama ini, dia hanya berperan sebagai seorang kakak yang sangat jahat. Bahkan, hingga hari terakhir gadis itu, dia membiarkannya pergi seorang diri tanpa peduli sedikit pun.


"Maafkan aku," ucap Evans dengan suara parau. Dia memukul-mukul dinding menggunakan kepalan tangannya hingga memar.

__ADS_1


__ADS_2