
Evans tiba-tiba tersentak saat merasakan gerakan halus tangan Elena yang berada di genggamannya.
"El!" Pria itu bangkit dari tempat duduknya untuk menekan tombol call nurse yang berada dekat dengan kepala Elena.
Elena membuka matanya perlahan.
"El," sapa Evans dengan sorot mata penuh keharuan. Bersamaan dengan itu, seorang dokter dan dua orang perawat datang ke dalam ruangan tersebut.
Evans segera melepaskan genggaman tangannya pada Elena dan menyingkir dari sana untuk memberi mereka ruang.
Dari jauh pria itu memperhatikan bagaimana Dokter Michael memeriksa keadaan gadis itu sekaligus mengajaknya bicara.
Tak seperti kecelakaan sebelumnya, kali ini Elena dapat mengikuti instruksi Dokter Michael dengan baik. Dia juga dapat berkomunikasi dengan lancar tanpa terbata-bata. Hanya saja, saat gadis itu menoleh ke arah Evans, sebaris pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, membuat mereka semua sontak terkejut.
"Dok, siapa pria itu?"
Evans yang mendengar pertanyaan Elena membelalakkan matanya. Dia berjalan mendekati gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.
"Kau tak ingat siapa aku, El?" tanyanya penasaran.
Elena menggelengkan kepala.
Evans mengalihkan pandangannya pada sang dokter. "Saya kakaknya, Dok," beritahu pria itu.
"Apa Anda bisa mengingat siapa diri Anda, Nona? Bisa sebutkan nama lengkap dan identitas Anda," titah pria berkacamata itu.
"Namaku Elena Odelia Wileen, usia 21 tahun. Lahir pada tanggal 23 februari xxxx. Nomor identitasku 2637xxxxxxxxx. Aku anak tunggal dari keluarga Simon Wileen dan Samantha Huxley Wileen." Elena menjelaskan dengan lancar soal dirinya tanpa pikir panjang. Namun, yang membuat Dokter Michael heran adalah pernyataan Elena yang mengatakan, bahwa dia merupakan anak tunggal.
Evans yang mendengar penjelasan Elena terlihat sedikit kecewa.
"Kau yakin anak tunggal? Bukankah kau mempunyai seorang kakak laki-laki, Nona Elena?" tanya sang dokter sekali lagi.
Elena menganggukkan kepalanya. "Saya anak tunggal, Dok," jawab gadis itu.
Dokter Michael pun mencoba memeriksa kondisi Elena kembali. Akan tetapi, dia sangat meyakini bahwa kondisi Elena dalam keadaan baik-baik saja Tak ada efek samping atau masalah berarti pasca operasi yang dia lakukan kemarin.
Tak ingin hanya mengandalkan spekulasi belaka, sang dokter pun berkata akan melakukan pengecekan ulang pada Elena.
__ADS_1
Sementara itu, Evans hanya bisa menatap Elena dengan raut wajah sendu. Tak pernah terbersit dalam angannya bahwa Elena akan mengalami amnesia seperti ini.
...***...
Tak sampai dua jam, Simon dan Samantha tiba di rumah sakit kembali. Meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, keduanya tetap menyempatkan waktu kembali lagi ke sana.
Sebelumnya, Evans sudah menceritakan pada mereka tentang kemungkinan Elena mengalami amnesia. Jadi, pria itu meminta kedua orang tuanya tersebut untuk tidak terkejut, bila Elena tidak dapat mengenali mereka. Sebab, menurut Dokter Michael, bisa saja Elena hanya dapat mengingat nama kedua orang tuanya, tetapi tidak pada wajah mereka.
Namun, yang terjadi malah membuat Evans terheran-heran. Pasalnya, Elena bisa mengingat betul sosok Simon dan Samantha. Tak hanya itu saja, demi meyakinkan kondisinya, Samantha menunjukkan beberapa foto keluarga mereka dan juga foto Jemima.
Hasilnya? Elena dapat mengingat semua wajah keluarganya dengan baik, bahkan wajah Jemima sekali pun.
Satu-satunya orang yang tidak bisa dia kenali hanyalah Evans seorang.
Mendapati kenyataan tersebut, Evans hanya bisa termangu. Hatinya diliputi kebingungan sekaligus kekecewaan.
Simon yang menyadari hal tersebut segera menghampiri sang putra dan memegang pundaknya. "Kita tunggu hasil pemeriksaan ulang Elena. Bersabarlah," ujar pria paruh baya itu.
Evans mengangguk pelan. Pria itu tampak tak sanggup berkata-kata.
...*************...
"Pada kebanyakan kasus, amnesia hanya mengganggu memori jangka pendek. Karenanya, penderita bisa jadi masih mengingat dengan betul pengalamannya saat kecil. Namun tidak mampu mengingat tanggal dan bulan apa saat ini, apa yang dimakannya saat sarapan, atau di mana ia tinggal saat ini. Berbeda dengan demensia, amnesia seringnya tidak mempengaruhi kecerdasan seseorang."
Evans, Simon, Samantha, dan Jemima yang turut berada di sana, mendengarkan penjelasan sang dokter dengan saksama.
"Namun, seringnya aspek yang sulit diingat pada penderita amnesia tidaklah tunggal atau hanya hanya lupa pada satu orang saja. Apa lagi setelah melakukan berbagai pemeriksaan, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari kondisi Nona Elena." Dokter Michael mengakhiri pembicaraannya sejenak.
"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya, Dok? Mengapa dia bisa melupakan kakaknya?" tanya Samantha penasaran.
Dokter Michael mengembuskan napasnya sejenak. "Yang bisa saya simpulkan hanya satu, yaitu amnesia disosiatif. Jenis amnesia ini memblokir informasi tertentu dari kejadian traumatis yang pernah dia alami. Bisa jadi, Nona Elena mungkin saja pernah mengalami kejadian menyakitkan dengan Tuan Evans."
Mendengar jawaban sang dokter, tubuh Evans mendadak lemas. Dia sontak bersandar pada kursinya.
"Satu hal lagi yang bisa saya katakan, bahwa amnesia disosiatif tidak sama dengan amnesia biasa. Mereka yang menderita amnesia ini sebenarnya masih memiliki memori. Hanya saja, memori tersebut terkubur sangat dalam di pikirannya."
Tanpa mengatakan apa-apa, Evans keluar dari ruangan Dokter Michael dengan langkah gontai.
__ADS_1
Samantha yang melihat raut kesedihan putranya, berniat menyusul Evans, tetapi Simon menahan wanita itu.
"Biarkan dia menenangkan diri dulu," ujar Simon pada istri tercintanya.
Evans duduk di kursi taman sembari menengadahkan kepalanya.
Pria itu sengaja memejamkan matanya sejenak, guna mengingat-ingat kembali kebersamaan mereka beberapa waktu lalu.
Dia bahkan membiarkan rasa sakit yang dideranya semakin pekat, sebagai hukuman atas apa yang sudah dia lakukan pada Elena.
Setetes liquid bening keluar dari pelupuk mata pria itu. Sedetik kemudian, tawa sumbang keluar dari mulutnya.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan, Brengsek!" makinya pada diri sendiri.
...***...
Evans membuka pintu ruang perawatan Elena perlahan.
Kedua orang tua mereka rupanya sedang mengajak Elena berbincang-bincang, seraya menyuapi gadis itu makan.
Melihat kedatangan Evans, Elena mengerutkan keningnya. "Ma, mengapa pria itu selalu datang ke sini?" tanya gadis itu pada sang ibu.
Mendengar pertanyaan yang diajukan putrinya, Samantha tertegun sejenak.
"Karena dia kakakmu, Nak. Memorimu hanya sedikit terganggu saja. Dalam beberapa hari, kau pasti akan dapat mengingatnya lagi." Kali ini, Simon membuka suaranya.
Pria paruh baya itu pun menyuruh Evans untuk masuk dan mendekat pada mereka.
Dengan langkah ragu, Evans menuruti perintah sang ayah.
Seulas senyum sendu terpatri di wajah pria itu, ketika telah sampai di hadapan Elena.
"Maafkan aku karena tak dapat mengingatmu," ucap Elena lirih.
Evans tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada pipi gadis itu. "Tak apa. Tidak perlu dipaksakan. Kesembuhanmu jauh di atas segalanya."
Dia pun meminta izin pada mereka untuk pergi ke toilet sejenak.
__ADS_1
Elena mengangguk dan tersenyum kecil. Namun, begitu Evans berbalik, gadis itu menatap punggung sang kakak dengan sorot mata tak terbaca.