
Tepat keesokan paginya, Evans terbang kembali ke Ocean Blue City. Meski berat, Simon dan Samantha mau tidak mau melepaskan kepergian putranya.
Simon sempat berkali-kali menawarkan Evans untuk kembali pada keluarga Wileen dan menghapus identitas barunya, tetapi pria itu dengan tegas menolak dan berdalih hendak memastikan sesuatu terlebih dahulu.
Simon tak tahu apa maksud putranya. Bertanya pun tidak akan di jawab sama sekali. Jadi, dia membiarkan saja sang putra memutuskan apa yang diinginkan.
"Ka Chris!" seru Dennis begitu melihat Chris tiba di kafenya. Pria muda itu, bersama kedua pegawai lainnya berlari menghampiri Evans dengan raut wajah penuh kegembiraan.
"Akhirnya Kakak pulang juga. Aku pikir kau akan melupakan kami," ujar Dennis.
"Iya, Kak, kata Dennis kalau dalam tiga hari kau tidak juga kembali, dia akan melakukan kudeta untuk menguasai kafe dan gudang ini!" Eve memasang wajah licik saat mengatakan demikian.
Mendengar aduan gadis itu, kontan saja Dennis berkilah panik. "Aku hanya bercanda, Bodoh!"
"Cih, tidak perlu mengelak! Sewaktu mengatakannya matamu berapi-api sekali!" tukas Eve.
Mereka hampir saja berdebat sengit jika Evans tidak segera melerai keduanya. Narnia dan pegawai lainnya bahkan sering sekali dibuat sakit kepala dengan tingkah kekanak-kanakan Dennis dan Eve.
Evans tertawa kecil. Meski mereka terlihat main-main dan sering bertengkar, tetapi mereka lah yang paling kompak dan dapat sepenuhnya diberi amanah, terutama Dennis.
Suara lonceng pada pintu kafe berbunyi.
"Ada pelanggan. Ayo, kembali bekerja!" seru Evans seraya menepuk tangannya satu kali.
Tanpa diminta dua kali, mereka pun segera membubarkan diri. Sementara itu, Evans masuk ke dalam ruangannya untuk memeriksa laporan yang dibuat Dennis selama dia meninggalkan kafe dan gudang.
Tak berapa lama, Narnia mengantarkan secangkir teh hangat dan beberapa potong kue ke ruangan Evans.
"Terima kasih, Narnia," ucap Evans tersenyum.
"Sama-sama, Kak," jawab Narnia. Gadis itu masih berdiri di hadapan Evans setelah mengatakan demikian. Raut wajahnya terlihat sedikit ragu.
Evans yang menangkap raut wajah gadis itu, sontak mengangkat alisnya. "Ada apa? Katakan saja."
"Emm ... Aku dengar Kakak akan segera pindah dari tempat ini." Narnia memberanikan diri membuka suaranya.
__ADS_1
"Siapa yang mengatakannya?" Evans balik bertanya.
"Nona Jemima." Jawab Narnia.
Sewaktu Jemima mengetahui siapa pemilik Destiny Cafe, dia langsung menghubungi nomor telepon kafe. Kebetulan yang mengangkat teleponnya adalah Narnia.
Entah Jemima sudah tidak lagi menjunjung tinggi keprivasian, atau memang dia tak ingin repot-repot melakukan hal tersebut pada orang yang telah mengkhianatinya dengan pergi diam-diam, Jemima mengatakan fakta bahwa Elena merupakan keluarga Evans.
Tak hanya itu saja, Jemima juga mengatakan bahwa Evans telah kabur dari rumah.
Antara malu dan kesal, Evans mau tak mau mengiyakan pertanyaan Narnia sebelum berangkat ke tempat keluarga Wileen. Dia tak mungkin berkilah, apa lagi waktu itu pikirannya benar-benar kalut saat mengetahui kecelakaan yang menimpa Elena.
Evans tersenyum simpul. "Aku masih belum tahu. Kau tahu sendiri bahwa aku kabur dari rumah. Jadi, kembali ke rumah merupakan sesuatu yang menurutku sangat memalukan."
Narnia terdiam, bingung mau mengatakan apa, karena dia memang tidak mengetahui masalah keluarga Evans. Para karyawan hanya tahu bahwa keluarga Wileen sedang ditimpa sedikit masalah dan Evans harus segera kembali ke sana.
"Memangnya kenapa?" Evans yang bingung memutuskan bertanya.
"Tidak ada ... emm ... hanya sedikit sedih saja jika benar Kakak akan kembali ke sana. Kakak adalah atasan yang baik, rasanya sayang sekali kalau kami harus berpisah dengan Kakak. Namun, apa mau dikata keluarga Kak Chris ada di sana." Narnia menundukkan kepalanya sedikit.
Suasana hening sementara, sampai gadis itu mengangkat kepalanya dan meminta maaf pada Evans karena telah lancang berbicara.
Evans tertawa. "Tidak perlu seperti itu. Sudah kubilang, kita adalah keluarga."
Mendengar dan melihat raut wajah Evans, Narnia sontak tersenyum.
Dia pun meminta izin untuk kembali bekerja.
"Terima kasih sekali lagi, Narnia," ucap Evans.
"Sama-sama, Kak," jawab Narnia seraya pergi meninggalkan ruangan Evans.
Setelah keluar dari ruangan, Evans menyandarkan punggungnya sembari menarik menghela napasnya.
Tak ingin memikirkan hal-hal rumit seperti itu, Evans memutuskan melanjutkan pekerjaannya. Dia mengambil laptop dari dalam laci meja dan membukanya.
__ADS_1
Saat menatap pantulan dirinya di layar laptop, Evans tiba-tiba teringat akan tanda kebiruan samar yang tercetak di lehernya.
Evans refleks memegang jejak itu. Sejak tadi pagi hingga kini, pria itu masih berusaha mengingat-ingat dari mana tanda kebiruan itu didapatkannya.
...***...
Elena masih termangu di tempat tidur sembari menatap foto Evans yang masih tersimpan apik di galeri ponselnya.
Setelah tadi pria itu pamit, Elena belum lagi keluar dari kamar. Dia juga meminta Lily untuk mengantar makanan ke atas dari pada bergabung dengan kedua orang tuanya.
Banyak yang dipikirkan gadis itu, terutama soal amnesia palsu yang dia lakukan.
Terlalu lelah menghadapi sikap Evans membuat Elena sengaja melakukan hal tersebut tanpa direncanakan.
Ide tersebut tiba-tiba terlintas di benak Elena sesaat setelah melihat wajah Evans, tatkala membuka matanya Mungkin saja, dengan begitu dia bisa mengetahui isi hati Evans yang sebenarnya.
Benar saja! Tak butuh waktu lama bagi Elena sampai Evans mengungkapkan semua perasaannya, terutama saat dirinya mabuk.
Elena pikir, hatinya akan senang setelah mendengar semua perkataan Evans. Namun, hal itu malah membuat sedikit keraguan dalam diri Elena semakin membuncah.
Elena menghela napasnya pasrah. Belum lagi jika kedua orangnya tahu mereka memiliki hubungan lebih dari sekadar kakak beradik.
Bagaimana bisa seorang kakak beradik yang tidak pernah akur tiba-tiba menjalin hubungan. Mengakrabkan diri saja sudah membuat kedua orang tuanya takjub.
Ingatan tadi malam saat Evans memagutnya kembali berkeliaran di dalam pikiran Elena.
Mereka saling memagut dan membelai satu sama lain. Evans malah dengan berani menandai tulang selangkanya tanpa sadar.
Embusan napas yang memburu dari pria itu, juga membuat bulu kuduk Elena meremang seketika.
Perlakuan gila Evans tentu saja membuat pertahanan diri lama-lama Elena melemah.
Gadis itu mulai terbuai dan nyaris hilang akal. Mereka bahkan bisa saja melakukan hal yang lebih lagi, jika saja Elena tidak segera menyadarkan dirinya dan mendorong Evans jauh.
"Ish, menyebalkan sekali!" teriak Elena sembari mengacak rambutnya saat mengingat hal yang satu itu.
__ADS_1
Dia berharap, Evans selamanya tidak dapat mengingat kejadian malam kemarin, di mana dia dengan penuh semangat membalas perlakuan Evans dan ikut meninggalkan tanda kepemilikan di leher pria itu.
"Aish! Kau benar-benar memalukan Elena!" seru gadis itu aneh sendiri.