Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 64 : Sebuah Pengakuan.


__ADS_3

"Filmnya lama-lama membosankan. Boleh aku ganti saja dengan film yang lain?" Elena mengalihkan pandangan dari layar televisi kepada Evans. Padahal film sudah berjalan lebih dari setengah durasi, bahkan sudah memasuki scene yang cukup menegangkan, tetapi gadis itu sama sekali tidak merasakan hal tersebut.


Elena hanya merasakan keseruan di menit-menit pertama saja.


Evans tidak menjawab. Pria itu hanya duduk termangu di sebelah Elena sembari menatap layar televisi dengan pandangan kosong.


Elena mengerutkan keningnya ketika mendapati lima buah kaleng minuman bersoda tergeletak di hadapan Evans.


Curiga dengan minuman yang dikonsumsi sang kakak, gadis itu mengambil satu kaleng yang sudah kosong tersebut. "Alkohol!" seru Elena.


"Kak, kau mabuk? Lalu bagaimana kita akan pulang? Tubuhku belum pulih benar untuk bisa menyetir mobil!" pekik gadis itu kemudian. Tangannya mengguncang-guncang tubuh Evans setengah kuat.


Namun, bukannya menjawab atau merespon kepanikan Elena, pria itu malah menepis tangan sang adik sembari berkata-kata kasar.


Mendapat perlakuan seperti itu, Elena sedikit terkejut. Akan tetapi dia dengan cepat memakluminya, karena Evans dalam keadaan setengah sadar.


"Kak, lebih baik kita pulang saja. Biar aku pesankan taksi di bawah," usul Elena kemudian. Dia tak mau mengambil resiko akan keselamatan mereka bila garu membawa mobil sendiri.


Evans menoleh pada Elena dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu. "Kau ternyata gadis seperti itu ya?" tanya Evans sembari mengerutkan keningnya dalam-dalam.


"Hah? Apa maksudmu?" Bingung akan reaksi sang kakak, Elena lantas bertanya.


Bukannya menjawab pertanyaan Elena, pria itu malah tertawa terbahak-bahak sembari memukul pahanya sendiri berkali-kali, seolah tengah menghadapi situasi yang sangat lucu.


"Kau!" Tangannya menunjuk tepat di hidung Elena. "Kau adalah seorang penipu ulung!"


Elena menepis kasar tangan Evans. "Apa, sih, aku sama sekali tidak mengerti maksudmu!" serunya kesal.


"No! No! Kau mengerti Elena. Kau sengaja melakukan semua ini hanya untuk menghukum diriku dan membuatku menderita! Padahal tanpa berbuat seperti ini pun, aku sudah menderita, Elena!" teriak pria itu.


Elena terdiam. Gadis itu masih berusaha mencerna kata-kata Evans.


"Saat aku sedang berusaha melupakan dirimu, ternyata kau malah dengan mudah menemukan diriku. Kau mencoba menarikku kembali, meski harus menghadapi sikap dan perkataan kasar dariku." Evans menghentikan pembicaraannya sejenak, lalu beranjak ke dapur.


Elena yang dapat menebak apa yang hendak dilakukan pria itu, kontan menghalanginya. "Kak, kau sudah sangat mabuk! Lebih baik kita pulang," ujar Elena seraya menarik tangan Evans.

__ADS_1


Evans menepisnya kasar. "Tidak perlu sok peduli padaku. Jika memang demikian, seharusnya setelah aku mengikrarkan janji waktu itu, kau tidak melupakan segalanya tentang diriku. Kenapa, El? Kenapa hanya aku saja yang kau lupakan? Kau pasti berpura-pura melakukannya untuk memberi hukuman padaku, bukan?"


Mendengar ocehan panjang lebar dari mulut Evans, Elena sontak terkejut. Wajah gadis itu terlihat sedikit panik selama sekian detik, sebelum kemudian berusaha terlihat biasa.


"Jangan bicara sembarangan! Aku tak mengerti maksudmu! Ayo, bersiap, kita akan pulang." Tak peduli lagi dengan dapur yang sedang dituju Evans, gadis itu memilih mengambil tasnya dan mengajak sang kakak pergi dari sana.


Namun, baru beberapa langkah Elena berjalan, tangannya tiba-tiba ditarik paksa oleh Evans agar bisa mendekapnya erat.


"Tolong, ingatlah aku, El. Aku adalah Leon, suamimu di masa lalu, dan kau adalah Iris, istri tercintaku di masa lalu. Sebuah peristiwa pahit membuat kita terjebak dalam lingkaran setan reinkarnasi, yang penuh dengan keputusasaan," ucap Evans lirih.


Elena terdiam, tak berniat membalas pelukan Evans yang semakin mengerat.


"Aku mencintaimu, Elena. Rasa takut akan peristiwa pahit yang terulang, memaksaku untuk mengorbankan segalanya, termasuk perasaan yang sangat menyiksa ini."


Mendengar pernyataan cinta pria itu, Elena sontak membelalakkan matanya. Sebab, selama ini dia tak pernah mendengarnya secara langsung.


Seolah sedang kehilangan fokus, Elena bahkan sama sekali tidak menyadari, bahwa Evans kini tengah memagut bibirnya mesra.


...***...


Sinar matahari yang menembus jendela kamar apartemen Evans, membuat sang pemilik terbangun dari tidurnya.


"Ahh!" Dia baru ingat bahwa mereka sedang berada di apartemen sejak semalam.


Rasa frustrasi yang membelenggu membuat Evans nekat menenggak minuman beralkohol yang memang sengaja dia beli diam-diam saat keluar apartemen sebentar saat mereka sedang asyik menikmati film.


Evans mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam hingga dia sampai bisa terbaring di dalam kamarnya. Namun, semakin dia berusaha mengingat, kepalanya malah semakin terasa pening. Bahkan, perutnya kini mulai bergejolak.


Bergegas, Evans pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya sekalian membasuh diri.


Selesai melakukan aktifitasnya di kamar mandi, Evans keluar dengan wajah yang lebih segar.


Pria itu langsung pergi menghampiri Elena yang ternyata sedang memasak sarapan untuk mereka.


"Maaf, gara-gara aku, kita tidak jadi pulang ke rumah," ucap Evans begitu sampai di dekat sang adik.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Jawab Elena datar, tanpa menoleh ke arahnya.


Mendapati perlakuan ganjil dari Elena, Evans sontak mengerutkan keningnya.


"Kenapa dia? Apa jangan-jangan aku berbuat sesuatu yang salah semalam?" tanya Evans dalam hati.


Dirinya menimbang-nimbang untuk menanyakan hal tersebut atau tidak.


"Sarapan dulu, baru kita pulang. Sudah aku buatkan minuman pereda mabuk juga," ujar Elena sembari berlalu melewati Evans.


Evans mengikuti gadis itu dari belakang dan duduk di meja makan. Keduanya memulai sarapan yang kesiangan dalam suasana hening.


Sesekali, Evans melirik Elena yang sibuk memakan sandwich tuna miliknya.


"Kau tahu, aku risih ditatap terus menerus seperti itu. Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan." Ucapan Elena yang terlontar tiba-tiba, membuat Evans nyaris tersedak. Buru-buru dia menandaskan air putih yang ada di hadapannya.


"Tidak ada." Jawab Evans berbohong.


"Jangan bohong!"


Entah mengapa mendengar suara Elena membuat Evans merasa sedikit ketakutan.


"Aku hanya ... semalam aku pasti melakukan sesuatu, kan?" tanya pria itu ragu-ragu.


Elena terdiam sejenak dan mengunyah gigitan terakhir sandwich-nya. "Tidak ada, kau hanya meracau tak jelas soal film yang membosankan lalu pergi tidur. Aku beberapa kali mengajakmu untuk pulang, tetapi kau menolaknya," jawab gadis itu kemudian.


Evans mengangkat kedua alisnya. Entah mengapa jawaban Elena dirasa kurang masuk akal di pikiran pria itu.


"Kau yakin?" Evans berusaha meyakinkan.


"Besok-besok aku akan memasang CCTV agar kau tahu sendiri, bagaimana menyebalkannya dirimu itu!"


Setelah mengatakan demikian, Elena pun bergegas ke kamar mandi dan meminta Evans untuk cepat menghabiskan sarapannya, karena mereka akan segera pulang.


Evans menatap kepergian Elena hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Hatinya kini benar-benar merasa tidak tenang.


"Apa iya?" Batin pria itu.


__ADS_2