Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 29 : Elena Siuman.


__ADS_3

...PERHATIAN:...


...Harap bijak dalam menanggapi isi cerita. Scene ini dibutuhkan demi kelangsungan cerita agar dapat berjalan dengan baik dan saling berkesinambungan....


...Terima kasih....


.


.


.


Elena terbangun dari pingsannya beberapa saat kemudian. Posisi gadis itu kini tak lagi berada di tengah-tengah hutan, melainkan di sebuah tepi jurang yang sangat gelap dan dalam.


Elena terkejut dan refleks melangkah mundur. "Mengapa aku bisa ada di tempat seperti ini?" gumam Elena kebingungan. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kejadian sebelumnya.


Namun, suara teriakan seorang wanita yang menggema memenuhi hutan, membuat Elena mengalihkan pikirannya seketika.


"Iris? Itu suara Iris!" pekik Elena. Dia ingat sekarang, bahwa sebelumnya, gadis itu sedang mengikuti Iris yang sedang mencari keberadaan Leon.


Bergegas Elena menyusuri kegelapan hutan demi mengikuti ke arah mana teriakan wanita muda itu berasal. Dalam hati, Elena berharap agar Iris tidak mengalami kejadian buruk. Begitu pula dengan Leon.


Namun, harapan gadis itu ternyata sia-sia. Iris didapati tengah terbaring dengan kepala berada di mulut jurang tanpa sehelai pakaian pun.


Tak hanya itu saja, wajah dan tubuhnya bahkan terlihat babak belur. Sementara itu, Leon sedang berbaring tertelungkup di sebelah Iris. Kepala pria itu dipaksa menoleh ke arah sang istri, dengan cara dijambak keras oleh seorang pria bertubuh kurus.


Elena kontan berlari menghampiri keduanya, tetapi langkah kaki gadis itu tiba-tiba terhenti tepat beberapa meter di depan mereka, saat melihat salah seorang pria bertubuh gemuk dengan tega mulai mengg4g4hi tubuh pol0s wanita muda itu.


"Tidak!" Elena jatuh terduduk seraya menutup mulutnya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi gadis itu.


Rasa sakit, marah, dendam, tak berdaya, benci, bercampur jadi satu menguasai diri Elena. Dia hendak kembali berdiri, tetapi kakinya tiba-tiba saja tak mampu digerakkan. Seolah ada sesuatu yang tengah menahan, persis seperti saat sebelumnya.


Mengetahui dirinya tak mampu menolong Iris, Elena hanya bisa menangis meraung-raung sembari menjambaki rambutnya sendiri.


Selesai melakukan aksi bej4tnya, tanpa perasaan pria bertubuh besar itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk membvnvh mereka.


"Tidak! Jangan bvnvh mereka!" teriak Elena keras. Tahu suaranya tidak dapat didengar, Elena segera merayap menuju salah satu dahan pohon dan berniat untuk menakut-nakuti mereka.


Namun, Elena lupa bahwa intensitas dirinya tak lagi senyata lalu. Dia yang semula bisa menyentuh benda-benda mati, kini benar-benar tak dapat menyentuh apa pun.


Meski begitu, Elena tetap berusaha menggapai ranting pohon sambil memaki-maki pria tersebut menggunakan kata-kata kasar. Namun, semua usahanya tidak membuahkan hasil.

__ADS_1


Suara ayunan senjata tajam terdengar kemudian. Elena sontak mengalihkan pandangannya kembali pada Leon dan Iris.


Semua darah seolah tersedot dari tubuhnya, begitu melihat apa yang orang itu lakukan pada Leon. Dalam sekejap saja, nyawa Leon terlepas dari raganya. Elena dapat melihat dengan jelas sesuatu yang bersinar keluar dari tubuh suami Iris itu, sesaat setelah kapak tersebut menghantam telak lehernya.


Elena sontak memeluk tubuhnya sendiri yang sudah gemetaran hebat. Mata gadis itu menoleh ke arah Iris yang tengah menangis hebat sembari mengelus lembut wajah Leon yang sudah tidak berny4wa.


Elena tersentak, tatkala mendengar kata-kata Iris yang selanjutnya terdengar.


Entah mengapa, dia merasa seperti pernah mendengar semua kata-kata yang dilontarkan dari mulut wanita muda itu. "Di mana aku pernah mendengarnya?" gumam Elena heran.


Detik terakhir setelah Iris mengatakan janjinya, ayunan kapak yang sama pun dalam sekejap mengambil nyawa wanita muda itu.


Sama seperti Leon tadi, sebuah cahaya terang keluar dari dalam tubuh Iris. Namun, tidak seperti milik Leon yang mengarah ke langit, cahaya terang milik Iris malah mengarah pada dirinya.


Mata Elena refleks terpejam saat cahaya terang tersebut mulai melesat cepat menuju ke arahnya.


"Uhuk! Uhuk!"


Elena tiba-tiba terbatuk. Jantungnya bahkan berdegup sangat keras, disertai rasa sakit yang datang menyerang leher depannya secara bersamaan.


Gadis itu mulai mengerang kesakitan. Ingatan-ingatan acak tentang dirinya dan Iris kemudian bercampur menjadi satu di dalam kepalanya.


"Elena."


"Kita akan terus terlahir kembali sebagai sepasang kekasih yang selalu saling mencintai."


"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Iris."


"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Elena."


"Kak Evans," panggil Elena lirih. Suara sang kakak tiba-tiba terdengar jelas di telinga Elena, seiring dengan gelap yang mulai menguasai dirinya.


...**********...


Samar-samar, telinga Elena menangkap suara orang-orang yang cukup sibuk. Tak hanya suara orang saja, dia juga mendengar suara asing lainnya, seperti sebuah mesin.


Elena membuka matanya perlahan. Pertama kali yang dapat dia tangkap adalah cahaya lampu yang sangat menyilaukan mata.


Elena hendak menghalau cahaya tersebut menggunakan tangannya, tetapi ternyata dia tak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya sama sekali.


"Elena." Suara seseorang mengalihkan perhatian Elena. Dia menoleh ke sebelah kirinya dan mendapati sosok seorang pria berjas putih tersenyum ramah.

__ADS_1


"Anda bisa mendengar saya, Elena? Saya Dokter James, yang selama ini merawat Anda," ujar pria tersebut.


Elena menganggukkan kepalanya lemah.


"Apa yang Anda rasakan saat ini?" tanya pria itu.


"Ha ... u ... us ...," jawab Elena dengan suara super kecil. Dokter James bahkan sampai harus mendekatkan telinganya pada gadis itu.


Setelah mendengar jelas perkataan Elena, sang dokter kemudian meminta salah satu perawat untuk mengambil air putih.


Selagi menunggu air, Dokter James menginstruksikan Elena untuk mengangkat tangan kanan dan kirinya, guna mengetahui keadaan fisik sang gadis.


Elena menggeleng dan mengatakan, bahwa dia sama sekali tidak dapat mengangkat seluruh anggota tubuhnya. Hanya ujung jari telunjuk kanan saja lah yang mampu Elena gerakan.


"Jangan memaksakan diri. Kita lakukan perlahan ya?" Dokter James tersenyum menenangkan.


Perawat tersebut datang membawa segelas air putih dan membantu Elena meminumnya menggunakan sedotan.


Selesai minum, sang dokter kembali mengajukan pertanyaan lain. "Elena, Anda ingat mengapa bisa sampai berada di rumah sakit ini?" tanya sang dokter kemudian.


Elena berusaha mengingat-ingat untuk menjawab pertanyaan sang dokter, tetapi gadis itu justru meringis kesakitan karena kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit.


Dokter James sekali lagi meminta Elena untuk tidak memaksakan diri. Pria itu kemudian mengajak seseorang yang berada di sisi lain Elena bicara.


"Secara medis kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi, tetapi kita memang tidak boleh mengabaikan mukjizat Tuhan. Besok pagi, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Setelah berkata demikian, Dokter James dan beberapa perawatnya pergi meninggalkan mereka.


"El," panggil Evans seraya menatapnya lembut.


Elena menoleh membalas tatapan mata Evans. Sekelebat bayangan Leon tiba-tiba muncul di wajah tampan sang kakak.


Evans terkejut, tatkala mendapati setetes air mata mengalir membasahi pipi Elena.


"Ada apa, El? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Evans panik.


Mendapat pertanyaan demikian, Elena hanya bisa menggeleng sembari terus menangis terisak-isak.


Demi meredakan tangisan sang adik, pria itu refleks berdiri dan memeluk tubuh Elena seerat mungkin.


Elena memejamkan matanya. Aroma tubuh Leon dan Evans yang sama persis, membuat gadis itu sontak mengeraskan tangisannya.


"Aku merindukanmu, Leon!" Batin Elena menjerit.

__ADS_1


__ADS_2