
"Aku pergi dulu," pamit Leon pada sang istri tercinta. Berbekal sebuah topi berbahan jerami dan tas linen usang, juga sebuah bel4t1, pria itu akan pergi berburu kembali.
Biasanya, Leon akan melakukan perburuan selama lima malam. Namun, jika mendapat tangkapan besar, dia tak perlu menunggu lama dan langsung akan pulang ke rumah.
"Berhati-hatilah," pesan Iris.
Leon menganggukkan kepalanya seraya membawa Iris ke dalam dekapannya.
Leon pergi. Mata Iris senantiasa mengiringi langkah sang suami tercinta, sampai dia benar-benar menghilang dari pandangannya.
Setelah itu, Iris pun bersiap-siap pergi ke kebun buah sang tuan tanah untuk bekerja.
Sebenarnya dia sudah enggan bekerja di sana, sebab pernah mengalami sebuah peristiwa pahit dengan sang pemilik tanah yang menyebabkan Iris sempat dihinggapi rasa trauma. Namun, kehidupan mereka yang sulit memaksa wanita itu untuk tetap berjuang. Dia tidak bisa membiarkan Leon menanggung hidup mereka seorang diri.
Elena turut mengikuti kepergian Iris menuju perkebunan.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah, Iris mengatur napas terlebih dahulu, kemudian tersenyum lebar. Dalam hati, Elena merasa sangat salut akan sikap wanita muda itu, sebab, Iris begitu menyembunyikan kesedihannya dari Leon. Sebisa mungkin dia tak pernah ingin menampilkan raut kesedihan di hadapan sang suami.
Meski hidup mereka terbilang penuh kekurangan, tetapi cinta yang tercurah satu sama lain mampu menutupinya.
"Iris!" Bella, teman Iris, memanggil wanita itu untuk bergabung dengannya.
"Kau sudah datang sejak tadi?" tanya Iris.
"Tidak. Baru saja. Kita bersama saja. Aku ambil bagian sini, dan kau ambil bagian sana." Bella menunjuk area yang berada di sebelah Iris dan dirinya.
"Terima kasih," ucap Iris.
Bella menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum.
Keduanya, bersama beberapa pekerja wanita lain sibuk memetik hasil panen sang tuan tanah.
...***...
Elena mengerutkan dahinya ketika mendapati perubahan raut wajah Iris begitu melihat sosok sang tuan tanah berada di depan gudang penyimpanan. Pria itu tampak sedang mengawasi anak buahnya sembari memperhatikan tiap pekerja.
Iris menghentikan langkahnya dan mulai mengatur napas, sebelum mulai berjalan kembali.
__ADS_1
Melihat kedatangan Iris, Benjamin menyeringai senang. Dia bahkan memainkan lidahnya dengan cara menjijikan.
Dengan tangan sedikit gemetaran Iris menyerahkan hasil panennya pada anak buah Benjamin untuk ditimbang.
Pria bertubuh besar itu berdiri dari kursi dan menghampiri Iris.
Wanita itu sontak mundur dua langkah.
"20 pon," ujar si anak buah. Pria itu kemudian menghitung koin dan menyerahkannya pada Iris.
"Bayar dia dua kali lipat!" seru Benjamin tiba-tiba.
"Ti—tidak perlu Tuan. Hasil saya memang segini," sergah Iris. Dia tahu Benjamin akan selalu berusaha menarik perhatiannya. Kejadian saat pria itu nyaris memperk***nya masih membekas hingga saat ini, dan dia sama sekali tidak memberitahu Leon.
Benjamin menarik tangan Iris dan memegang dagunya. "Terima saja." Senyumnya kembali menyeringai menyeramkan. Beberapa pekerja yang berbaris di belakang Iris, menatap wanita muda itu perihatin. Mereka tahu Benjamin menaruh perhatian pada Iris, padahal pria itu sudah memiliki banyak istri dan simpanan, yang beberapa di antaranya memang berasal dari para pekerja.
Para gadis itu tentu saja tidak menolak, sebab bersama Benjamin hidup mereka bisa terjamin. Baru Iris lah satu-satunya gadis yang berani menolak ajakan Benjamin untuk memperistrinya.
"Tidak Tuan, itu bukan hak saya. Saya hanya akan menerima upah dari hasil pekerjaan saya." Iris memberanikan diri berkata demikian. Kepalanya mengangguk hormat, meski kedua tangannya sudah gemetaran hebat.
"Kau memang selalu berani membantah setiap perkataanku ya? Entah mengapa, semakin kau menolak, aku malah semakin menginginkanmu." Benjamin berbisik ke telinga Iris, sebelum kemudian menjauhkan diri.
Dengan berat hati Iris melangkah pergi. Bertahan lebih lama di sana juga tidak baik baginya.
Elena hanya bisa bertanya-tanya dalam hati saat melihat itu semua. Ketakutan apa yang pernah dihadapi Iris dari pria bertubuh besar itu? Apa dia juga menyembunyikannya dari Leon?
...**********...
Evans memandangi sosok Elena dari balik kaca. Hampir setiap hari setelah pulang kerja, dia akan mampir untuk menjaga sang adik hingga tengah malam.
Ini adalah hari keenam Elena koma. Dokter baru saja mengatakan bahwa Elena sudah melewati masa kritisnya. Namun, mereka sendiri juga bingung kenapa Elena belum terbangun juga.
"Apa yang kau tunggu? Apa kau sengaja menunggu penyesalanku semakin besar, El?" gumam Evans lirih.
...***...
Menjelang tengah malam, Evans pulang ke rumah. Pria itu langsung menuju ke kamar karena kedua orang tuanya pasti sudah beristirahat.
__ADS_1
Sejak tadi siang, Evans sama sekali belum makan. Namun, meski perutnya perih dan meronta untuk minta diisi, dia tetap mengabaikannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Evans pun merebahkan diri dan mulai memejamkan matanya.
...**********...
Sesosok pria berpakaian lusuh tengah sibuk membidik hewan incarannya yang tampak berlari ke sana kemari. Ia tak berani melangkah lebih dekat, karena takut hasil buruannya kembali kabur.
Setelah memastikan bahwa hasil buruannya terkunci, dengan sigap ia melempar bel4t1 yang sudah disiapkan.
Suara pekikan babi hutan yang tertvsvk bel4t1 milik pria itu, menggema memenuhi keheningan malam.
Pria itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan raut wajah bahagia, ia mengikat babi gemuk itu menggunakan tali dan menutup tubuhnya dengan kain linen, lalu menyeretnya.
Butuh tiga hari mengintai babi itu dan usahanya ternyata tidak sia-sia. Meski harus ditinggalkan kedua temannya yang sudah mendapat buruan terlebih dahulu, ia tidak menyesal.
"Mereka pasti menyesal tidak mau bersabar menunggu," gumam sang pria.
Saat baru saja menariknya beberapa meter, tiba-tiba muncul beberapa orang berkuda yang menghadang jalannya.
Ia pikir, mereka adalah para pemburu lain yang mencoba merampas babi hasil buruannya. Namun, ternyata tidak. Beberapa pria itu malah mengh4j4r tengkuknya hingga tak sadarkan diri.
...***...
Pria itu terbangun dari pingsannya dalam kondisi tangan dan kaki terikat di sebuah kursi usang.
Ia memandang sekeliling tempatnya berada saat ini. Dari yang terlihat, ini merupakan sebuah gudang penyimpanan bawah tanah yang dibuat khusus untuk menyimpan minuman ker4s.
Hanya satu orang yang memiliki tempat seperti ini di tempat tinggalnya dan itu ...
"Kau sudah bangun rupanya." Seorang pria bertubuh besar turun bersama tiga orang pria lainnya.
Ia mengerutkan keningnya tatkala melihat pria-pria itu membawa berbagai macam senj4t4 t4j4m di tangan mereka.
"Tuan Benjamin? Ada apa ini?" tanya pria itu kebingungan. Pasalnya, ia tak pernah memiliki masalah dengan tuan tanah itu. Jangankan bermasalah, kenal saja tidak.
Ia hanya sekadar tahu bahwa Benjamin adalah bos dari sang istri tercinta.
__ADS_1
Benjamin tersenyum sinis.