Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku
Bab 16 : Air Mata Elena.


__ADS_3

Sementara itu, Jemima hanya bisa menatap Elena dari balik kaca jendela. Dia tidak mengerti akan apa yang terjadi pada hubungan keduanya, hingga membuat Evans terlihat begitu membenci gadis itu.


"Apa Tuan Simon mengetahui hal ini?" gumam wanita itu.


...***...


Setelah membersihkan tumpahan kopi, Elena mulai mempelajari beberapa berkas terkait produk-produk yang dibuat Wileen Group, dan juga beberapa surat perjanjian kerja sama dengan perusahaan lain.


Meski bukan termasuk siswi paling pintar di sekolah, tetapi kecerdasan Elena patut diacungi jempol. Dalam waktu singkat dia sudah dapat mencontohkan presentasi sederhana di depan Jemima.


"Bagus sekali," puji wanita itu.


"Kupikir, sekretaris itu kerjanya hanya merangkum hasil rapat dan mempersiapkan bahan-bahan rapat saja," ujar Elena.


"Tidak sesederhana itu, El. Kita ini seperti parasit yang harus menempel dan mengikuti atasan ke mana-mana. Bahkan, banyak dari sekretaris yang mengurus hidup bos mereka juga," kata Jemima.


Elena mengangkat alisnya. "Kenapa kesannya jadi tidak berbeda jauh dengan pengasuh bayi."


Celetukan sang gadis membuat Jemima tertawa kecil.


"Ya sudah, aku mau menghampiri Tuan Evans dulu. Ini sudah jam makan siang. Pastikan selalu menanyakan menu makan siang apa yang ingin dimakan Tuan Evans." Jemima mengingatkan.


"Ok!"


Jemima tersenyum. Dia mengetuk pintu ruangan Evans dan masuk ke dalam. "Sudah jam makan siang Tuan, Anda ingin makan apa?" tanya wanita itu kemudian.


"Aku ingin makan di sini saja," jawab Evans.


"Baiklah, saya akan menelepon restoran cepat saji yang biasa dipesan." Jemima mengambil ponselnya dan hendak menelepon, tetapi Evans segera menahan wanita itu.


"Suruh Elena masuk," titah pria itu.


Jemima menatap Evans bingung. Namun, dia sama sekali tak berani menanyakan apa pun, dan memilih untuk menuruti perintah sang atasan.


Begitu Elena masuk ke dalam, Evans segera memerintahkannya untuk pergi membeli makan siang di restoran cepat saji yang berada tepat di depan kantor.


"Tuan, kita tidak menelepon saja?" tanya Jemima.


"Tidak. Terlalu lama!" jawab Evans. Matanya kemudian bergulir pada Elena.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Kak, sekalian aku juga mau beli makan untuk diriku sendiri." Elena tersenyum manis.


"Baiklah, kutemani ya?"


"Jangan!" sergah Evans saat mendengar tawaran Jemima untuk menemani Elena. "Sembari menunggu makan siang, kau bantu aku memeriksa file-file ini." Evans menunjuk laptop yang ada di atas meja kerjanya.


Elena menghela napas pasrah. Dia memasang senyum simpul pada Jemima yang terlihat mulai khawatir.


Tanpa banyak bicara, Elena bergegas pergi menuju restoran yang dimaksud.


Di sepanjang perjalanan, dia memikirkan menu apa yang sekiranya ingin dimakan oleh Evans, sebab pria itu membebaskan Elena membeli apa pun. Hanya saja untuk minumannya, dia meminta dibelikan cola.


Elena segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Jam istirahat membuat gadis itu harus rela berhimpit-himpitan di dalam lift, karena sebagian besar karyawan Wileen Group akan turun ke kantin lantai bawah atau keluar kantor untuk makan siang.


Bersama beberapa karyawan lainnya, Elena memasuki restoran cepat saji dan memesan tiga porsi burger berukuran besar dan juga tiga cola. Evans yang super sibuk pasti lebih memilih makanan yang tidak merepotkan. Lagi pula, dia tidak meminta makanan yang spesifik.


Selesai membeli, gadis itu kembali menuju kantor dan naik lift sampai ke lantai 20. Setelah mengetuk pintu, Elena masuk ke dalam ruangan Evans dan meletakkan tiga porsi burger beserta minumannya ke atas meja tamu.


Evans yang sedang duduk di sana bersama Jemima, sontak memeriksa isi kantong tersebut.


Pria itu mengambil satu buah burger dan langsung melemparnya ke arah Elena.


Beruntung Elena dengan sigap menangkap burger pemberian sang kakak. "Terima ka—"


"Ta–tapi, Tuan ...," Elena tak mampu meneruskan perkataannya begitu melihat sorot mata Evans yang begitu dingin dan mencekam.


Melihat itu, Jemima hanya bisa memandang Elena dengan tatapan sendu. Selama ini, Evans dikenal tidak memilih-milih makanan. Dia menerima makanan apa pun yang dibelikan Jemima tanpa banyak protes.


Wanita itu tentu tidak dapat melakukan apa pun untuk membela Elena saat ini.


"Baik, Anda ingin makan apa Tuan? Apa mau saya belikan spaghetti?" tanya Elena seramah mungkin.


"Terserah!" Jawaban Evans cukup memberikan Elena sedikit petunjuk. Dia pun bergegas pergi keluar menuju restoran tadi.


Meski perutnya sendiri sudah keroncongan, tetapi dia harus menahannya demi mengutamakan atasan sekaligus kakaknya dulu.


Butuh waktu lima belas menit bagi Elena untuk bolak balik ke sana. Dengan wajah memerah dan napas tersendat-sendat, dia meletakkan seporsi spaghetti di hadapan Evans.


Melihat Evans mulai membuka Spaghetti-nya dan mengaduk-aduk spaghetti tersebut, Elena sontak bernapas lega. Dia pun hendak pamit undur diri.

__ADS_1


"Makanan ini sudah dingin. Belikan yang lain!" seru Evans tiba-tiba sembari menyingkirkan makanan tersebut dari hadapannya. "Waktu yang kau butuhkan adalah lima belas menit. Kau harus tiba di sini dalam waktu kurang dari sepuluh menit agar makanan yang aku minta tidak cepat dingin. Sekarang, cepat pergi!


Elena terdiam. Keringatnya belum juga mengering, tetapi dia harus kembali berlarian demi membelikan makanan yang diinginkan Evans.


Kali ini, tanpa berkata apa-apa Elena segera pergi meninggalkan ruangan sang kakak. Sebelum kakinya lecet, dia menukar sepatu kerjanya terlebih dulu dengan sandal bulu yang memang sudah dipersiapkannya.


Sepanjang perjalanan menuju lobby Elena berusaha untuk tidak mengeluarkan air maya ya setetes pun. Namun, ternyata gagal. Setetes demi setetes liquid bening mengalir membasahi pipi gadis itu.


Elena sama sekali tidak peduli pada beberapa karyawan menyadari air matanya, saat mereka berpapasan.


Elena memukul dadanya beberapa kali demi meminimalisir rasa sakit yang lagi-lagi ditanamkan Evans.


"Sepertinya, dia memang tidak menginginkanku menjadi adiknya. Cih! Lagi pula, siapa juga yang mau menjadi adik dari pria brengsek itu? Aku hanya sial saja ditakdirkan memiliki darah yang sama dengannya!" seru Elena seraya menghapus air matanya berkali-kali.


"Nona Elena," sapa salah seorang security yang melihat Elena hendak pergi keluar. Dia sebenarnya menyadari sosok Elena yang sedari tadi bolak balik untuk membeli makanan.


"Saya lihat Nona mondar-mandir membeli makanan? Untuk siapa?" tanya security tersebut.


"Ahh, untuk Tuan Evans. Beliau kurang cocok dengan menu yang saya bawakan." Jawab Elena tersenyum.


"Memang beliau ingin makan apa, Nona?" tanya security itu lagi.


"Spaghetti, tapi aku harus cepat-cepat agar tidak keburu dingin."


Setelah berpikir sejenak, security tersebut pun menawarkan diri untuk membantu Elena dan menyuruhnya menunggu di atas.


Merasa terbantu, Elena pun menyerahkan sejumlah uang dan melebihkannya untuk pria itu dengan nominal terbesar.


"Saya ikhlas membantu Nona," sergah sang security.


"Saya pun ikhlas memberikannya pada Bapak. Terima kasih sebelumnya ya, Pak." Elena tersenyum ramah.


Security berusia tiga puluh tahunan itu menerima kebaikan Elena dengan canggung. Dia pun bergegas pergi menuju restoran, sementara Elena kembali ke atas dan menunggu tepat di depan lift lantai 20.


Benar saja! Tak sampai sepuluh menit kemudian, security berbadan kekar itu berhasil mengantarnya sampai ke atas.


Elena berterima kasih sekali lagi, sebelum akhirnya berlari menuju ruangan Evans.


Namun, yang dilihat gadis itu sangatlah menyakiti hatinya. Refleks dia menghentikan langkah kakinya dan tertegun.

__ADS_1


Evans rupanya sedang asyik mengunyah burger pesanan pertamanya, sembari sibuk memperhatikan Jemima yang sedang memeriksa pekerjaan di laptop milik pria itu.


Melihat sang adik datang, Evans tanpa merasa bersalah menyuruhnya pergi. Dia berdalih tak bisa menahan lapar jika harus menunggu Elena lebih lama.


__ADS_2