
Operasi yang dijalani Elena berhasil dilakukan. Tidak ada kendala berarti. Pendarahan pada otaknya dan patah kaki yang dia alami berhasil ditangani.
Namun, bukan berarti kondisi gadis itu terbilang membaik. Elena masih belum melewati masa kritisnya dan harus dirawat secara intensif di ruang ICU, agar dokter bisa memantau langsung perkembangan gadis itu.
Samantha hanya bisa menatap sosok Elena yang baru saja keluar dari ruang operasi tanpa bisa menyentuhnya. Beberapa peralatan medis yang tidak diketahui Samantha, terlihat menempel di tubuh putri bungsunya tersebut.
Air mata mengalir deras membasahi pipi Samantha, tatkala melihat wajah pucat sang anak. Simon yang terlihat lebih tegar, mengambil alih tubuh Samantha dari putranya, lalu memeluk sang istri seerat mungkin.
"Dia pasti bisa melewati semua ini. Gadis kecil kita adalah gadis yang kuat," ujar Simon mencoba menenangkan.
Mendengar perkataan sang ayah, rasa bersalah Evans kian membuncah. Secara tak langsung, kecelakaan yang menimpa Elena merupakan kesalahannya juga. Andai saja dia menawarkan diri untuk mengantar gadis itu ke bengkel, Elena mungkin tidak akan mengalami tragedi memilukan seperti ini.
...*************...
Seberkas cahaya bulan dan embusan angin dingin, menerpa tubuh Elena yang tengah berbaring. Gadis itu sontak membuka matanya.
Seperti kejadian sebelumnya, dia ternyata berada di hutan yang sama dan dalam posisi yang sama.
Elena tidak lagi terlalu terkejut. Gadis itu malah bergegas lari menuju tempat yang sebelumnya pernah dia kunjungi, yaitu rumah Iris dan Leon.
Ditemani cahaya rembulan membuat kondisi hutan tidak terlalu gelap dan menakutkan.
Entah sudah berapa lama Elena berjalan, dia akhirnya sampai di depan rumah Iris.
Wanita muda itu sepertinya baru saja selesai menjamu tamu, terlihat dari beberapa orang pria berjubah yang mulai menaiki kuda mereka dan menjauh dari rumahnya.
Iris memegang dadanya yang berdegup kencang sembari masuk ke dalam rumah. Elena sontak mengikuti langkah Iris.
Wanita muda itu berjalan menuju pojok ruangan. Tepat pada peti usang yang waktu itu sempat dia lihat.
Iris menyeret peti tersebut dan membawanya ke atas tempat tidur. Dengan mata berkaca-kaca, wanita itu mengelus lembut peti berwarna kecoklatan tersebut sebelum kemudian membukanya.
Elena yang duduk di hadapan Iris menatap takjub sebuah benda yang baru saja wanita itu keluarkan. Matanya sontak berbinar-binar.
Sebuah mahkota kecil nan cantik berwarna keemasan, ternyata rersimpan apik di dalam peti usang milik Iris. Tak hanya itu saja, sebuah gaun berwarna silver keemasan dan sebuah jubah transparan juga berada di sana.
Elena menatap sumringah ketiga benda yang tersimpan di peti usang itu. Namun, satu hal terlintas di benak Elena seketika.
"Mengapa dia memiliki itu semua? Dari mana dia mendapatkannya?"
"Maafkan aku," bisik Iris lirih, sembari mencium gaun tersebut dan meletakkannya kembali ke dalam kotak dengan sangat hati-hati.
"Semua keputusan yang sudah kuambil tidak dapat diubah lagi. Aku mencintai Leon, suamiku, dan aku telah mengucap janji sehidup semati dengannya."
__ADS_1
Mendengar Iris berkata demikian, Elena sontak mencengkeram dadanya kuat-kuat. Entah mengapa, rasa sakit pada kepalanya datang bersamaan.
Di sela-sela rasa sakit itu, sepenggal ingatan akan sosok seorang gadis cantik yang sedang menari di keramaian, tiba-tiba menghinggapi isi kepala Elena.
Gadis yang wajahnya tidak dapat terlihat jelas itu tampak menari dengan lincah di dalam sebuah bangunan mewah. Diiringi musik klasik yang terdengar ceria, ia mengayun-ayunkan gaun silvernya.
Beberapa orang mulai bertepuk tangan, termasuk sepasang suami istri yang tengah memperhatikan dirinya dari atas singgasana.
Namun, kehadiran sesosok pria tampan berpakaian mewah yang bergabung bersamanya, membuat gadis itu menghentikan gerakan tarinya.
Sorot mata gadis itu berubah. Meski kebencian samar tersirat, ia masih sudi memberi penghormatan pada pria tersebut.
Pria tampan tersebut turut memberi penghormatan padanya, sebelum kemudian meminta diri untuk mengajak sang gadis berdansa.
Alunan musik berubah. Gerakan dansa mereka begitu harmonis dan selaras, meski beberapa kali gadis itu terlihat enggan merapatkan tubuhnya.
"Kau harus menikah denganku, Airlea," ucap si pria sembari mendekap paksa gadis itu.
Hentakan kakinya terhenti. Mereka terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya sang gadis melepaskan tautan mereka. "Maaf." Hanya itu yang dapat dikatakan olehnya sebelum pergi.
Kepergian sang gadis di tengah-tengah dansa mereka, membuat harga diri pria tersebut sedikit tercoreng.
Gadis cantik itu terus berlari menuju hutan belantara yang berada di belakang bangunan tersebut.
Gadis itu hendak melangkah, tetapi si pria dengan tegas melarangnya.
Alhasil, dari jauh gadis itu hanya dapat menyampaikan pesan, agar si pria mau menunggu sebentar lagi. Tak lupa sebaris kalimat cinta juga diucapkan gadis itu.
...***...
Elena tersentak. Sakit pada kepalanya mendadak hilang. Iris ternyata sudah meletakkan peti tersebut di tempat sebelumnya.
"Ingatan apa yang baru saja kualami? Siapa gadis itu? Mengapa wajahnya tampak tidak asing," gumam Elena. Dia mencoba mengingat-ingat bagaimana rupa gadis yang muncul di pikirannya tadi, tetapi Elena sama sekali tidak bisa mengingatnya kembali.
...***...
Jemima menutup pintunya kembali. Ini sudah ketiga kalinya wanita itu menawarkan makan siang pada Evans. Namun, pria itu lagi-lagi menolak dengan alasan tidak lapar dan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Jemima memahami betul apa yang tengah dirasakan Evans. Sebab, rasa itu kurang lebih juga dialami oleh Jemima.
Kabar soal kecelakaan Elena sontak mengguncang jiwanya. Bagaimana tidak, dia lah yang pertama kali menawarkan tumpangan untuk mengantar Elena ke bengkel.
Andai dia memaksa gadis itu untuk ikut dengannya, pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Lokasi kecelakaan yang berada tepat di depan kantor, membuat berita tersebut langsung tersebar ke mana-mana. Banyak dari para karyawan yang turut mendo'akan kesembuhan bagi pewaris kedua Wileen Group tersebut. Pasalnya, ini adalah hari kedua Elena dalam keadaan koma.
Samantha bahkan harus melakukan perawatan intensif di rumah, karena mengalami syok berat.
Beruntung, meski Simon memiliki masalah pada jantungnya, tetapi dia lah yang terlihat paling tegar.
Jemima berdiri dari tempat duduknya begitu melihat Evans keluar dari ruangan tanpa mengenakan jasnya.
"Batalkan pertemuan hari ini. Aku akan pergi ke rumah sakit," titah pria itu.
"Baik, Tuan. Mau saya antar?" tanya Jemima.
"Tidak perlu," tolak Evans. Pria itu berjalan gontai menuju lift.
Sebelum lift benar-benar tertutup, Jemima tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam lift. "Jas Anda, Tuan."
Tanpa menunggu jawaban dari sang atasan, Jemima memakaikan jas tersebut. Dia yang mengkhawatirkan kondisi Evans, bersikeras mengantar pria itu ke rumah sakit, lalu kembali lagi ke kantor.
Evans tidak memiliki tenaga untuk menolak. Dia akhirnya memilih diam saja dan membiarkan sekretarisnya itu berbuat sesuka hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca sampai sini. Aku mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengambil genre lain. Mudah-mudahan tidak terlalu aneh dan membosankan.
Soal kekurangan pastinya masih banyak terdapat di novel ini. Saya tidak berani menjanjikan novel ini memiliki jalan cerita yang bagus dan menyenangkan, tetapi saya harap kakak-kakak atau adik-adik semua masih berkenan membacanya.
Terima kasih. 🙏🙏😇❤️
__ADS_1