
...Chris adalah Evans, Evans adalah Chris. Jadi kalau aku pakai nama salah satunya, tidak apa-apa ya? Mereka orang yang sama kok. 😁...
^^^.^^^
.
.
.
Jemima meletakkan nampan berisi dua cup es krim dan kue di hadapan mereka. Setelah urusannya dengan Dennis selesai, gadis itu belum mau beranjak dari sana dan ingin menikmati suasana sore.
"Kata Dennis, matahari terbenam di sini sangat indah, Nona," ujar Jemima.
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan menghabiskan es krim dan kue ini, lalu pergi ke tepi pantai." Dengan wajah sumringah, Elena menikmati kudapannya yang lezat, sembari melihat-lihat sekeliling.
Jika dilihat dari luar, kafe berlantai dua ini memang tampak kecil dan sederhana. Namun, begitu masuk ke dalamnya, orang-orang pasti cukup tercengang, sebab ternyata tempat tersebut sangat luas dan nyaman.
Dari meja yang diletakkan di sana, Elena menaksir tempat tersebut mampu menampung hingga tiga puluhan orang di satu lantai. Dekorasinya pun cukup mewah dan elegan.
Belum lagi, suasana di sana terasa sangat menenangkan. Membuat gadis itu betah berlama-lama di sana.
Sayang sekali, jarak dari kota kemari cukup jauh dan melelahkan.
Meski begitu, Elena sudah bertekad untuk berkunjung ke tempat ini sekali lagi, sebelum dia pulang nanti.
...***...
Chris atau Evans, keluar dari kafe melalui pintu belakang. Hari ini dia memang berniat untuk pulang lebih cepat ke rumah mungilnya yang berada tak jauh dari kafe. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit jika berjalan kaki dari sana.
Elena yang baru selesai menikmati es krimnya, turut keluar dari kafe. Wanita itu merenggangkan tubuhnya sembari menghirup dalam-dalam aroma laut yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Kepala wanita itu menoleh ke sekeliling kafe, sebelum kemudian terhenti pada sosok pria bertubuh tinggi tegap yang tengah sibuk membenahi tempat sampah kafe.
Elena memicing menatap pria bertopi itu. Wajahnya tidak terlalu jelas terlihat, tetapi bisa dipastikan bahwa pria itu memiliki janggut dan kumis tipis.
Melihat pria itu tampak sedikit kerepotan merapikan tempat sampah, Elena berinisiatif menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Elena pada Chris yang sedang berjongkok membelakangi gadis itu.
Mendengar suara Elena, Evans sontak terkejut. Buru-buru pria itu berdiri dan menurunkan topi yang dia pakai, agar bisa menutupi hampir seluruh wajahnya. Meski kini Evans menumbuhkan janggut dan kumis, tetap saja pria itu takut Elena akan dapat mengenali dirinya.
__ADS_1
Evans berdiri membelakangi Elena dan menggelengkan kepala.
Melihat tingkah aneh pria itu, Elena sontak mengerutkan alisnya.
Bagaimana tidak, bukannya menjawab dengan suara, pria aneh itu malah menggelengkan kepala. Di bahkan terus memunggungi Elena dan enggan berbalik.
"Aku yakin dia bisa bicara," gumam Elena.
Penasaran akan pria yang baru saja dia temui itu, Elena pun melangkah kakinya ke depan Evans.
Tahu jika Elena sedang berusaha melihat wajahnya, Evans buru-buru memutar tubuhnya dan kembali memunggungi gadis itu.
Tidak menyerah, Elena terus berusaha melangkah ke depan pria itu. Namun, pria itu sama sekali tidak memberinya kesempatan.
Jika dilihat orang lain, tentu saja kedua orang dewasa tersebut terlihat sangat aneh, karena terus saling memunggungi sembari berputar-putar tidak jelas.
Sadar akan tingkah konyolnya, Elena pun berhenti lalu bertolak pinggang. "Dasar pria aneh dan tidak sopan! Padahal aku menawarkan diri untuk membantumu. Kalau tidak mau, kau bisa mengatakannya langsung, bukan malah membelakangiku seperti ini!"
Evans yang masih memegangi topinya, berdiri tegak dan memutar tubuhnya hingga Elena dapat melihat sosok pria itu dari samping.
Dia membungkuk guna meminta maaf, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Elena ke sebrang jalan. Pria itu kemudian masuk ke dalam sebuah gang kecil dan menghilang dari sana.
"Dasar pria aneh! Kau membungkuk dan meminta maaf padaku atau pada dinding kafe ini, hah!" serunya jengkel.
Evans tiba di rumah mungil miliknya. Setelah masuk ke dalam, dia bergegas mengunci pintu.
"Syukurlah," gumam pria itu penuh kelegaan. Hampir saja dia tidak bisa lolos dari Elena.
Bisa-bisa semua hidupnya selama dua tahun ini sia-sia jika dia bertemu lagi dengan Elena.
Evans menatap langit-langit rumah kala mengingat suara Elena yang terdengar kesal.
Suara tawa kemudian terdengar dari mulut pria itu. "Meski sudah dewasa, ternyata marahnya sama saja."
Dia pun memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian.
...***...
Empat hari sudah Elena berada di kota ini, dan sekarang, waktunya dia untuk kembali pulang.
"Terima kasih, Kakak Sayang!" pekik Elena sembari menerjang Jemima yang sedang membereskan kopernya di atas ranjang.
__ADS_1
Mereka hampir saja terjerembab ke lantai jika saja Jemima tidak sigap menahan kakinya.
"El, berat!" pekik wanita itu kesal.
Elena melepaskan pelukannya dan tertawa lepas. Maklum saja, dia sedang dilanda kesenangan karena baru diizinkan untuk tinggal lebih lama di tempat ini oleh sekretaris pribadinya itu.
Terlalu banyak berkutat dengan pekerjaan membuat Elena tak pernah mengambil cuti selama dua tahun belakangan ini. Oleh sebab itu, dia pun mengajukan cuti dadakan selama beberapa hari pada Jemima.
Berkat kepiawaiannya dalam melancarkan serangan maut, atau memelas, Jemima pun luluh.
"Dari pada dia kabur diam-diam, lebih baik izinkan saja!" Batin Jemima saat itu.
"Tapi ingat untuk selalu menghubungiku, dan jangan pernah mematikan ponselmu. Oke?" kata Jemima seraya bertolak pinggang.
"Oke!" Elena memeluk tubuh Jemima sekali lagi.
Jemima pun tersenyum lalu membalas pelukan gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
Bersama Jefry dan para petinggi Wileen Group, Jemima pun pergi meninggalkan Elena seorang diri. Gadis itu juga berkata pada sang paman untuk tidak mengkhawatirkan dirinya.
Selesai mengantar mereka, Elena pun bersiap mengemas barangnya. Gadis itu berencana untuk pindah ke sebuah penginapan sederhana di dekat pantai dan menyewa kendaraan di sana. Semalam, dia sudah membayar penginapan tersebut sampai empat hari ke depan.
Sebisa mungkin, Elena akan memanfaatkan waktu liburannya dengan baik dan menyenangkan.
...***...
"Terima kasih, Nak Chris," ucap Mrs. Amber setelah Evans selesai membantu menyusun daging dan ikan segar ke dalam chiller miliknya.
"Sama-sama, Mrs. Amber," jawab Evans. Pria itu memandang sekeliling tempat penginapan milik Mrs. Amber yang tampak ramai. "Sepertinya kali ini kamar penuh semua," ujarnya.
"Benar. Bahkan akan ada satu lagi tamu yang akan datang dari luar kota. Sudah lama tidak mendapat tamu jauh, membuatku bersemangat menyambutnya," jelas Mrs. Amber sumringah.
"Semoga tamu-tamu Anda merupakan orang yang menyenangkan dan baik, Mrs. Aku pergi dulu." Evans membungkukkan badannya dan pergi keluar.
Mrs. Amber mengantar pria itu sampai ke depan pintu. "Nanti malam, mampir dan makan malam lah di sini ya, Nak Chris?"
"Dengan senang hati, Mrs," jawab Evans sembari masuk ke dalam mobil pick up-nya.
Bekerja sebagai pemasok daging beku membuat Evans mengenal baik para warga Blue Ocean City. Tak jarang, pria itu sering memenuhi undangan makan malam beberapa warga, yang salah satunya adalah Mrs. Amber, pemilik penginapan di sini.
Tepat ketika mobil Evans pergi, sebuah taksi datang dan berhenti di depan penginapan milik Mrs. Amber.
__ADS_1
Elena turun dari taksi, diikuti oleh sang supir. Dibantu supir tersebut, Elena mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi mobil.
Setelah membayar ongkos taksi, gadis itu pun berjalan menuju pintu penginapan, di mana Mrs. Amber masih terlihat berdiri di sana.