
Suara-suara hewan yang saling bergaung memekakkan telinga, membangunkan Elena dari tidurnya.
Cahaya matahari langsung tertangkap indera penglihatan gadis itu saat dia membuka matanya. Elena sontak memgalihkan pandangannya dengan menatap sekeliling.
Namun, dia malah mendapati tempat asing yang sama sekali tidak dikenalinya.
"Ini di mana?" gumam Elena kebingungan.
Sejauh matanya memandang, hanya ada semak belukar dan pohon-pohon tinggi menjulang di sana. Belum lagi, suara-suara hewan yang terdengar menyeramkan.
"Hutan?" Batinnya keheranan. Elena mencoba melangkah lebih jauh guna memastikan tebakannya.
Benar saja! Semua tampak sama. Dia tidak menemukan apa pun selain dua hal tersebut di sana.
"Hah, ini di hutan! Aku benar-benar berada di hutan? Bukankah aku tadi sedang berdiri di depan kantor untuk menunggu taksi?" Kepalanya berusaha mengingat-ingat kejadian tak masuk akal yang baru saja dia alami. Namun, semakin dia mengingat, kepalanya malah semakin terasa sangat sakit.
Elena mencubit tangannya sendiri sekeras mungkin.
"Aw!" teriak Elena seketika. Ketakutan kontan menerpa hati gadis itu, tatkala menyadari bahwa dia memang benar-benar sedang berada di hutan belantara seorang diri.
"Ini bukan mimpi?" gumamnya dengan raut wajah horor. Elena lantas berlari sekencang mungkin sembari berteriak meminta tolong. Berharap ada seseorang yang tidak sengaja berpapasan dengannya, dan bisa dimintai pertolongan.
Suara tawa seorang gadis tiba-tiba terdengar samar dari kejauhan. Elena refleks menghentikan langkah kakinya.
Dengan raut wajah penuh kelegaan, dia menghampiri arah sumber suara. Suasana yang masih siang membuat Elena memberanikan diri memeriksa suara asing tersebut.
"Syukurlah!" pekik Elena saat mengetahui bahwa suara itu berasal dari seorang gadis bergaun sederhana, yang tengah asyik memetik daun, akar, dan tanaman, lalu menaruhnya di dalam sebuah keranjang anyaman.
Elena tak dapat melihat wajah gadis itu, sebab posisi sang gadis membelakangi dirinya. Tanpa banyak berpikir, dia pun menghampiri gadis asing tersebut.
"Permisi," ucap Elena begitu sampai persisi di belakang si gadis.
Elena mengerutkan kening. Pasalnya, gadis itu sama sekali tidak merespon panggilan dirinya.
__ADS_1
Sekali, dua kali Elena memanggil, tetap tidak ada tanggapan juga dari gadis itu, hingga dia akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh pundak sang gadis
Namun, apa yang terjadi kemudian membuat Elena benar-benar terkejut. Tangannya kontan saja berubah transparan setiap kali dia berusaha menyentuh gadis itu. Padahal dia bisa merasakan sakit saat dicubit. Belum lagi, goresan-goresan di kakinya yang terkena beberapa ranting pohon saat berlari kemari. Namun, untuk menyentuh tubuh gadis asing itu, Elena benar-benar tidak bisa melakukannya.
Elena ketakutan. Ingatannya tiba-tiba bergulir pada sebuah mobil SUV hitam yang hilang kendali menabrak tubuhnya hingga terpental sejauh tiga meter. Setelah menabrak dirinya, mobil tersebut masih menabrak tiang lampu dan berhenti di sana.
Wajah Elena berubah pucat pasi. "Apa aku sudah mati?" Batinnya panik.
Gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya. Jika dia memang sudah mati, lalu mengapa dia bisa merasakan sakit?
Elena menelisik penampilan gadis pemetik daun tersebut yang tampak sangat sederhana dan sedikit lusuh. Kalau dipikir-pikir, dia juga mengenakan gaun yang sedikit aneh dan tampak kuno.
"Aku tidak mungkin berada di akhirat!" seru Elena. "Lalu, aku di mana?" sambungnya hampir menangis.
Elena berniat ingin menyentuh gadis asing tadi untuk lebih meyakinkan dirinya. Namun, ketika dia hendak mengangkat tangannya, tiba-tiba sang gadis menegakkan tubuhnya dan berbalik badan.
Elena tentu saja terkejut bukan main.
"Iris!" pekiknya tak percaya. Pasalnya, gadis yang selama ini hanya bisa dia lihat di dalam mimpi, entah mengapa bisa muncul di depan matanya sendiri.
Mengetahui kepergian gadis itu, Elena refleks mengikutinya.
"Iris!" panggil Elena. Dia melangkah mundur di hadapan Iris sembari melambai-lambaikan tangannya di wajah sang wanita muda.
"Iris, kau bisa lihat aku tidak? Ini aku, Elena! Gadis yang selalu memimpikan dirimu!" jerit Elena seraya mengacak rambutnya.
Namun, bagai sesosok hantu, Iris sama sekali tidak menyadari keberadaan gadis yang akan memasuki usia 19 tahun itu.
"Hari ini aku mendapat banyak tanaman obat. Ini bisa aku tukar dengan sedikit gandum dan setangkup roti asin," gumam Iris senang. Bergegas wanita itu berlari kecil menuju satu-satunya tempat yang bisa mendapatkan kedua makanan tersebut, yaitu pasar.
Elena yang terlalu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, memutuskan untuk mengikuti langkah Iris terlebih dahulu. Mungkin saja, sembari berjalan dia bisa menemukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
"Iris, apa yang kau bawa?" tanya Joan, salah satu pedagang langganan Iris.
Iris tersenyum sembari mengangkat sekeranjang penuh tanaman liar tersebut.
"Wah, panen rupanya," kelakar Joan.
Iris terkikik.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Joan kemudian.
Tanpa berpikir, Iris mengatakan dua makanan yang memang jadi niatannya tersebut.
"Oke!" Joana mengambil keranjang Iris dan mengosongkannya. Lalu, dia mengambil cangkir yang terbuat dari tembaga untuk menyerok gandum dan meletakkan ke dalam keranjang Iris. Tak lupa, dua tangkup roti asin paling besar dan dua buah tomat masak diberikan untuk wanita muda itu.
"Ini terlalu banyak, Jo!" seru Iris tak enak hati.
"Tidak apa. Kau bisa membuat bubur gandum dengan tomat untuk suamimu tercinta." Joan tersenyum seraya mengulurkan paksa keranjang kepada sang pemilik.
Setelah berdebat kecil, Iris akhirnya mengalah. Dia pun berterima kasih sebanyak-banyaknya untuk Joana, dan berdoa agar dagangan gadis baik hati itu selalu laris manis.
Elena yang melihat interaksi manis mereka tersenyum simpul. Entah mengapa hatinya berubah kalem dan lembut.
Selesai dengan transaksi tersebut, Iris kemudian melangkah menuju mata air jernih satu-satunya yang terdapat di sana. Dari mata air itu lah para penduduk bisa hidup dengan memanfaatkannya menjadi air minum mau pun untuk kebutuhan lain.
"Sudah penuh rupanya." Iris mengambil dua buah gerabah besar miliknya yang sengaja diletakkan di bawah lubang, tempat mata air keluar.
Dengan susah payah, Iris mengambil gerabah satu persatu dan meletakkannya di sebuah papan beroda. Sebelum pergi, dia menyempatkan waktu untuk mencuci wajahnya agar segar kembali dan meminum air tersebut langsung dari tangannya. Baru setelah itu, Iris pergi dari sana sembari mendorong papan beroda miliknya.
Melihat perjuangan Iris yang menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan, membuat hati Elena merasa tersentuh.
Dia tak tahu hidup yang dijalani Iris berada di tahun berapa, tetapi yang jelas, itu jauh sebelum jaman modern hadir dan memudahkan kehidupan mereka dengan berbagai teknologi.
Seraya berjalan, Elena memandang sekelilingnya. Rumah-rumah penduduk di sana terbuat dari batu-batu dan papan yang disusun sedemikian rupa.
__ADS_1
Pakaian orang-orang yang berada di sana pun, tampak tak jauh berbeda dengan yang dikenakan Iris.
Rasa penasaran kembali timbul. Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang harus dia lakukan sekarang?